Yuk, Santai di Pantai Ambon (Tulisan 1)

Takpernah terlintas dalam pikiran bahwa sosok itu akan bisa menjejakkan kaki di Indonesia bagian timur. Mungkin belum sampai berdiri di ujung paling timur, tetapi paling tidak Pulau Ambon adalah titik pertama saya bisa menyesap udara di pulau yang pertama kali melihat matahari terbit, dua jam sebelum akhirnya bisa disaksikan oleh warga Jawa Barat.

Mengenal Ambon sudah pasti harus mengenal Maluku. Mengenal Maluku, tentu harus mengenal salah satu pahlawannya yang terpampang pada pecahan uang seribu rupiah. Di luar pro kontra agamanya apa, Kapiten Pattimura adalah pahlawan nasional yang berhasil mengusir penjajah dari Pulau Ambon, jauh sebelum pertempuran dahsyat di Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Menurut cerita seorang kawan di Ambon, Pattimura bahkan membuat penjajah tidak bisa merapatkan kapalnya di pantai. Hampir seluruh kapalnya karam dan meninggalkan warna laut yang berubah menjadi merah karena darah. Beliau hanya menyisakan anak-anak dan perempuan untuk tetap hidup.

Mengapa Maluku begitu membuat banyak penjelajah dunia terkesima sehingga bersusah payah untuk didatangi? Tidak hanya penjajah dari Eropa, para pedagang Gujarat pun sering mampir. Hal itu tidak lain karena rempah-rempahnya yang begitu melegenda. Sebut saja cengkeh, pala, dan lada hingga Maluku dikenal sebagai ‘spice of islands’. Rempah telah menjadi saksi perkembangan dan pasang surut peradaban bangsa Indonesia, khususnya Maluku. Kuliner, pengobatan, ritual, dan bahkan bahan pengawet menggunakan rempah-rempah. Bisa jadi, inilah yang menyebabkan Ambon tidak memiliki kuliner yang kaya rempah karena hasil buminya tidak boleh dikonsumsi secara pribadi dan langsung diambil oleh orang luar.

Meski begitu, Ambon tetap layak menjadi tujuan wisata. Papeda, ikan asap, maupun sukun goreng dengan sambal khasnya selalu dirindukan oleh para wisatawan. Kekayaan baharinya jangan ditanya. Sosok itu meski saat ini berdomisili di Bandung namun masa kecilnya dihabiskan di tepi pantai Jakarta. Dia sering bermain dengan anak-anak nelayan dan karena itulah kulitnya makin menghitam sehingga berbeda dengan mayoritas saudara-saudara kandungnya. Jadi kalau ke Ambon, jangan lewatkan wisata baharinya. Namun kalau waktunya sekejap dan dananya terbatas, buang jauh-jauh rencana wisata ke Pantai Ora, Sawai, atau Banda Neira yang letaknya memang jauh dari Bandara Pattimura plus berbiaya mahal. Cukuplah berkeliling di Pulau Ambon dan sila menikmati keindahan pantai yang sudah jarang ditemukan di Pulau Jawa dengan harga yang masih bersahabat dan tidak terlalu jauh dari bandara.

GENERASI PESONA INDONESIA

Berbicara soal Ambon, sudah pasti akan bersinggungan dengan beberapa artis penyanyi yang memiliki darah sana. Jumlahnya pun tidak bisa dibilang sedikit. Harvey Malaiholo, Ruth Sahanaya, Glenn Fredly, dan lain-lain hingga amat wajar kalau kota Ambon pun memiliki julukan sebagai City of Music. Tulisan raksasa itulah yang menyambut sosok itu di Negeri Hatiwe Besar setelah keluar dari bandara, lalu menyisir Teluk Ambon melewati Jl. Dr. J. Leimena dan Jl. Ir. M Putuhena hingga akhirnya bertemu dengan Jembatan Merah Putih. Jembatan yang diresmikan pada April 2016 ini telah menjadi ikon kota Ambon dan mempersingkat perjalanannya dari Bandara Pattimura menuju pusat kota Ambon. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, dia meminta izin pada sopir untuk berhenti sejenak dan berfoto sejenak di atas jembatan.

Julukan kota musik memang tepat karena sopir mobil yang dinaiki langsung memutarkan beberapa lagu khas Ambon dengan bangga. Di beberapa jalan kota juga sering ditemui karaoke dan restoran/kafe yang menyajikan pertunjukan musik. Kalau ditanya pada warga Ambon, pasti mayoritas akan menjawab, “Beta paling suka menyanyi.” Pantas saja. Oya, perlu diketahui bahwa Ambon adalah kota yang panas, dengan banyak jalan satu arah dan diisi oleh angkot, becak, dan tentu saja motor. Sosok itu menyempatkan diri untuk naik becak, paling tidak merasakan suasana kotanya. Tempat pertama yang dituju adalah sudah pasti penginapan yang telah di-booking jauh-jauh hari sebelumnya, minimal buat menyimpan barang berat, meluruskan badan, dan menyegarkan badan setelah penerbangan jauh plus melelahkan.

Beres dari Hotel Ammans alias Ambon Manise, sosok itu langsung bergegas ke Hotel Amaris karena di sanalah calon-calon kawan baru dari Maluku akan bersua. Siang hingga malam adalah acara teoretis tentang dunia pariwisata. Jujur, sejak berkenalan dengan orang-orang Kementerian Pariwisata dirinya makin cinta pada Indonesia. Ada banyak hal yang awalnya tidak tahu jadi lebih tahu bahwa pariwisata itu harus begini dan begitu. Paling tidak sekarang jadi lebih aware untuk memajukan pariwisata Indonesa dan mengajak sebanyak-banyaknya kawan untuk mencintai dunia traveling. Dia kemudian semakin dekat dengan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) yang menurutnya bisa juga berarti Gerakan Nasional (untuk) Pariwisata Indonesia. Dan malam itu, terpilihlah secara voting Koordinator GenPI Maluku, yaiu Glenn Huibb Wattimury.

Keesokan harinya bertemulah (kembali) sosok itu dengan kawan-kawan baru dari Maluku di Lapangan Merdeka Ambon yang sedang berlangsung pameran sebagai bagian dari Hari Pers Nasional 2017. Ada banyak stand di sana dan berisi banyak informasi berharga tentang Ambon dan Maluku. Di sana pula dia bisa bertemu Mas Didik, blogger paling aktif dari Bojonegoro, termasuk berfoto bersama dengan kawan-kawan Kompasianer Amboina. Saat siang bergeraklah rombongan kawan-kawan baru menuju Kole-Kole, sebuah tempat makan yang tidak terlalu jauh dari Lapangan Merdeka. Di sanalah dia bisa merasakan sukun goreng yang dicocol sambal setelah sebelumnya mencicipi pisang goreng dicocol sambal semalam. Unik. Menu lainnya yang dicoba adalah Mie Kuah Cakalang dan Sate Tuna. Semuanya serba ikan. Yummy!

Perut kenyang, sosok itu bersama lima orang kawan bersiap naik 3 motor. Dia bersama Frenda, Olnes bersama Makmur (GenPI Aceh), dan Rey bersama Mbak Jhe (GenPI Lombok Sumbawa). Yang disebutkan paling belakang adalah yang dibonceng. Tiga motor langsung meninggalkan Kole-Kole, melaju ke arah barat menembus jalan beraspal yang masih mulus. Pertama menyusuri Jl. Dr. GA Siwabessy dan Jl. Nona Saar Sopacua yang masih terbilang padat karena masih bagian dari kota Ambon, setelahnya memasuki Jl. Dr. Malaihollo yang mulai sepi. Petualangan pertama bersama kawan-kawan Ambon akan segera dimulai, dan tempat pertama yang dituju adalah Pintu Kota.

MENYESAP SUNYI DI PINTU KOTA

Bagi yang sudah tahu, tentu amat mengenal Museum Negeri Siwalima, sebuah museum yang tidak boleh dilewatkan kalau berkunjung ke Ambon. Selain peninggalan budaya, museum ini juga menampilkan rangka ikan paus berbagai ukuran. Nah, rombongan pun melewati museum tersebut di ujung Jl. Dr. Malaihollo, tepatnya di Taman Makmur, Negeri Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, yang berjarak sekira 5 km dari pusat kota. Setelah itu barulah mereka menyisir pantai Teluk Ambon di Jl. Amanhuse, sampai kemudian bertemu dengan jalan berkelak-kelok, naik-turun, karena melewati perbukitan ke arah selatan. Pintu Kota terpampang di pantai selatan Pulau Ambon yang langsung berhadapan dengan Laut Banda, tepatnya di Negeri Airlouw, Kecamatan Nusaniwe.

Pintu Kota memiliki keunikan berupa karang besar yang memiliki lubang besar di tengahnya. Lubang itulah yang dianggap sebagai ‘pintu’ oleh warga sekitar. Pantainya sendiri juga memiliki banyak karang sehingga setiap pengunjung harus berjalan berhati-hati. Bagi yang belum menyadari, posisi tempat parkir motor berada tepat di atas pintu tersebut sehingga pengunjung harus bersusah payah menuruni tangga yang curam. Sudah dapat dibayangkan bagaimana melelahkan saat pulangnya nanti. Meski begitu, kondisi Pintu Kota yang sepi memberikan nuansa yang menenangkan. Para pecinta sunyi akan betah berlama-lama di sini, apalagi jika didukung oleh cuaca yang cerah. Dari tempat parkir saja, dia sudah disuguhi oleh pemandangan Laut Banda yang begitu luas. Sedangkan bagi yang suka menyelam, ada spot bagus dengan pemandangan terumbu karang yang luar biasa. Perjalanan normal selama satu jam dan biaya parkir sebesar Rp10.000 per motor seolah-olah tergantikan dengan lunas.

Hujan gerimis turun begitu saja, memaksa mereka yang sedang asyik berfoto di Pintu Kota langsung bergegas meninggalkan pantai dan berteduh di sebuah saung yang memang ada. Sambil menunggu, mereka memesan kelapa muda yang perbutirnya dihargai Rp12.000 sambil makan dodol Garut yang memang sengaja dibawa dari Bandung. Pastinya Olnes, Rey, dan Frenda merasa exciting bisa merasakan makanan khas Jawa Barat. Taklama Olnes turun ke laut dan menyelam, bukan snorkeling karena ombaknya tidak tenang. Penasaran dengan apa yang ada di bawah laut di Pintu Kota, sosok itu turut serta menyusul. Ada banyak karang tajam dan ombaknya besar. Ada rasa jerih di awal dan sempat ragu, namun rasa itu menghilang bak pasir ditiup angin hanya karena rasa penasaran yang begitu besar. Dia pun langsung berenang dan akhirnya setelah di tengah langsung menyelam. Indah. Luar biasa. Pengalaman yang takakan pernah dilupakan. Meski ombaknya besar, dia merasa puas dan sekaligus belajar bagaimana menyelam yang baik di lautan.[]

Baca juga tulisan keduanya ya…. ^_^

Advertisements

4 thoughts on “Yuk, Santai di Pantai Ambon (Tulisan 1)

  1. Pengeeen bangettttt bisa ke ambon. Mudah2an tahun depan beneran jadi kesana :D. Selain kuliner aku tuh pgn ngeborong perhiasan besi putihnya mas. Terkenal banget itu :D.

    >> Amiiiin. Iya, semoga tercapai yaaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s