GERMAS: Sehat Itu Mudah, Kok!

Kemping adalah aktivitas yang menyehatkan

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat — Sehat itu mahal. Namun tidak banyak orang yang menyadari tentang hal ini. Mereka baru merasakan setelah mengalami apa yang dinamakan dengan … sakit. Biaya pengobatan tiba-tiba saja membengkak tanpa bisa ditawar-tawar. Belum lagi masalah administrasi yang bagi sebagian orang berkesan ribet. Siapa sih yang mau sakit? Itulah yang terjadi dengan masyarakat Indonesia saat ini. Padahal, jika mereka mau usaha sedikit saja dan melakukan aktivitas yang sederhana dan kontinyu, insya Allah pasti bisa menjaga kesehatan dan tidak perlu sakit. Dan cara ini tidak mahal, kok.

Sedih dan ngeri kalau membaca berita tentang dunia kesehatan di media massa. Bagaimana saat ini, katanya Indonesia tengah menghadapi tantangan serius berupa beban ganda penyakit. Selalu saja media massa itu, dan bahkan di lingkungan RT/RW, ada kabar tentang orang yang masuk rumah sakit (termasuk meninggal) karena sakit seperti stroke, jantung, dan kencing manis. Penyakit yang terbilang ngeri, padahal ketiga penyakit itu termasuk penyakit tidak menular (PTM). Padahal kalau diingat-ingat, dahulu penyakit yang dianggap menyebabkan kematian atau sakit parah adalah penyakit menular seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), Tuberkulosis (TBC), dan Diare.

Ya, telah terjadi pergeseran pola penyakit, dan ini diakibatkan oleh perubahan gaya hidup masyarakat. Gemar makan junk food alias fast food, kebanyakan micin atau bumbu makanan yang berlebihan, kurang olahraga, dan masih banyak lagi. Tanpa disadari, semua itu mengakibatkan beban pada pembiayaan kesehatan negara. Bu Nila Farid Moeloek, Menteri Kesehatan, sampai mengatakan bahwa sumber daya yang dibutuhkan untuk mengobati PTM selain membutuhkan biaya tinggi juga membutuhkan waktu yang panjang. Wow!

Makan sehat itu murah, kok

URANG BANDUNG DUKUNG GERMAS

Lalu apa yang harus kita lakukan? Sosok itu dan #BloggerBDG sungguh beruntung bisa diundang oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI pada hari Jumat kemarin (21/4/2017). Bertempat di Hotel Savoy Homann, mereka memperkenalkan sebuah program yang disebut dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). GERMAS adalah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama. Oleh siapa? Tentu saja oleh seluruh komponen bangsa yang melibatkan pemerintah dan masyarakat. Semua itu harus dilakukan dengan penuh kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat (hanya) untuk meningkatkan kualitas hidup.

Hal ini jelas menjadi tanggung jawab bersama. Ya, minimal bagi diri sendiri. Misalnya saja sosok itu harus bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri, jangan membebankan pada keluarganya. Ini yang harus dipahami. Pelaksanaannya sudah pasti dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat. Jika keluarga pada sehat, tentu akan mengimbas pada masyarakat yang sehat, dan imbas terbesarnya adalah Indonesia menjadi negara yang sehat. Untuk itulah GERMAS menjadi momentum bagi masyarakat guna membudayakan pola hidup sehat. Atas dasar ini, Blogger Bandung mewakili masyarakat Bandung dengan sepenuh hati mendukung GERMAS. Yup, Urang Bandung Dukung GERMAS. Dan caranya juga sederhana.

Blogger Bandung bersama Kementerian Kesehatan RI

Untuk tahap awal, cukup melakukan 3 (tiga) kegiatan saja. Apa saja itu? Satu, melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari. Yang dimaksud adalah berolahraga. Tidak usah yang berat-berat, asal rutin dilakukan setiap hari. Kuncinya adalah konsisten. Dua, mengonsumsi buah dan sayur. Tidak usah buah-buahan yang mahal atau sayuran yang sulit dicari. Seketemunya saja, asal rutin. Dan ketiga, memeriksakan kesehatan secara rutin minimal 6 bulan sekali. Fungsinya adalah untuk mendeteksi penyakit secara dini. Jangan takut ke dokter atau rumah sakit karena periksa kesehatan itu mudah dan mudah, beda dengan berobat. Pasti bisa, lah.

Kalau sudah melakukan tiga aktivitas dasar itu, bisa dilanjutkan dengan aktivitas lain sebagai penunjang. Ini juga mudah asal dilakukan secara massif. Bulatkan tekad dari diri sendiri, lalu ajak anggota keluarga, dan akhirnya ajak para tetangga. Itu saja. Setelah rajin berolahraga, mengonsumsi sayur dan buah, dan rajin periksa kesehatan, tambah lagi aktivitasnya dengan tidak merokok (atau menjauhi lingkungan para perokok), tidak mengonsumsi alkohol (cukup pesta minum orson saja atau soda susu juga sama meriahnya hehe), membersihkan lingkungan yang bisa dimulai dengan kerja bakti setiap minggu, dan gunakan jamban/kakus yang sehat (tidak di sembarang tempat, memangnya binatang?).

Bersepeda itu sehat!

SEHAT TIDAK SELAMANYA PERLU OBAT

Oya, para pembicara yang hadir pada hari itu ada drg. Oscar Primadi MPH (Kepala Biro Komunikasi Pelayanan Masyarakat), Indra Rizon (Kepala Bagian Hubungan Media dan Lembaga Kemenkes RI), dan Uus Sukmana (Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat). Sosok itu senang sekali karena mendapatkan ilmu yang luar biasa setelah sekian lama tidak lagi belajar soal kesehatan. Ilmu kesehatan bukan ilmu eksklusif. Semua orang berhak mengetahui dan mempelajarinya. Jika para dokter atau pelaku kesehatan harus mempelajarinya dengan biaya mahal, masyarakat umum bisa mempelajarinya dengan biaya murah. Kuncinya … asal mau belajar, lalu menerapkannya pada kehidupan sehari-hari.

Dia jadi teringat dengan masa-masa kuliahnya di lingkungan Farmasi ITB. Tidak semua gejala penyakit itu memerlukan obat, lho. Misalnya saja batuk. Daripada langsung membeli obat batuk secara bebas di warung, lebih baik mengenali lebih dahulu apa itu batuk. Batuk adalah reaksi refleks dari mekanisme pertahanan tubuh. Batuk terjadi karena ada gangguan dari luar, bisa karena ada rangsangan pada simpul saraf penerima rangsangan, yang letaknya di organ saluran napas dan paru-paru. Rangsangan itu lalu diteruskan ke pusat batuk di otak, kemudian dilemparkan lagi ke organ saluran napas. Muncullah batuk.

Rangsangannya sendiri bisa berupa rangsangan mekanik, kimiawi, suhu, bahkan peradangan. Ada banyak faktor. Bisa karena penyakit atau bahkan bisa karena salah makan, atau salah obat. Sebetulnya, batuk itu juga punya sisi baik. Ia bermanfaat membersihkan saluran napas dari udara kotor dan beracun, mengeluarkan dahak yang menumpuk, melegakan napas, dan mengeluarkan makanan atau minuman saat kita tersedak. Cara sederhana sebelum ke dokter atau langsung membeli obat adalah cobalah untuk bernapas teratur, minum air putih hangat, hindari lingkungan pencetus batuk, dan hindari makanan pencetus batuk (es dan gorengan). Setelah itu, bisa dicoba dengan mengonsumsi vitamin C dosis tinggi dan istirahat cukup.

Memilih obat juga jangan sembarangan, apalagi kalau sudah termakan iklan ada obat yang bisa menyembuhkan segalanya. Misalnya saja obat untuk menyembuhkan batuk dan flu. Memang bisa? Yuk, ditelaah lebih dalam lagi. Obat flu mengandung mentol dan zat ini menyebabkan berkurangnya fungsi bulu hidung (silia) dalam menyaring debu atau partikel yang masuk ke tubuh lewat hidung. Tuh, kan? Bicara soal flu juga harus hati-hati. Flu dan influenza itu beda, lho? Flu bisa disebut dengan selesma. Flu/selesma disebabkan oleh virus umum, yang banyak bertebaran di udara, sedangkan influenza disebabkan oleh virus influenza A. Influenza gejalanya lebih berat tapi jangan khawatir karena Indonesia bukan endemis influenza, jadi jarang terjadi di sini.

Selesma bisa disembuhkan tanpa harus menggunakan obat. Caranya cukup dengan beristirahat total. Setelah keadaan membaik, jangan buru-buru menyalakan AC atau ke tempat yang ada AC-nya. Dan jangan pula ke tempat yang berdebu. Tujuannya agar saluran napas tidak terganggu. Ingat, ada orang yang alergi dingin (AC) dan alergi debu, dan kedua hal ini mengganggu saluran napas. Kalau ingin diterapi, bisa menggunakan resep tradisional larutan garam jenuh sebagai antiseptik untuk membersihkan tenggorokan dengan cara berkumur. Itu saja. Kembali ke masalah batuk tadi, cobalah belajar untuk mengenali batuknya. Apakah berdahak atau tidak, karena penanganannya berbeda. Kalau ingin mencoba obat tradisional, cobalah jeruk nipis, jahe, kencur, daun sirih, belimbing wuluh, kunyit, cabe jawa plus madu, daun kayu putih, asam jawa plus gula merah, atau jahe merah.

Yuk ah, beryoga di tempat yang teduh

BLOGGER BANDUNG DUKUNG GERMAS DENGAN BAHASA

Ada sesi menarik di ujung acara Temu Blogger Kesehatan 2017 di Bandung kemarin. Selain sebagai kelanjutan dari program nasional setelah peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52 pada 12 November 2016 dengan tema Indonesia Cinta Sehat, maka sudah seharusnya kalau tahun ini ditingkatkan lagi. Tujuannya agar masyarakat Indonesia semakin banyak yang sadar akan kesehatan. Dan Bandung yang dipilih menjadi kota penyelenggara acara tersebut tentu memiliki potensi bagus sebagai role model GERMAS. Infrastruktur kota dibangun dengan tujuan terciptanya warga Bandung yang sehat, misalnya banyaknya taman dan trotoar yang nyaman, lalu disambung dengan program-program dari Dinas Kesehatan kota Bandung yang begitu mendukung program GERMAS.

Sesi menarik yang dimaksud adalah pelatihan bahasa yang dilakukan oleh Anwari Natari. Beliau adalah jurnalis andal dari media massa terkemuka. Mas Away (panggilan akrabnya) berbagi kepada #BloggerBDG tentang pentingnya menyajikan tulisan dengan bahasa yang baik. Bahasa yang baik itu syaratnya adalah dapat dimengerti oleh para pembaca. Harapannya tentu saja agar tulisan para blogger yang menjadi mitra bagi Kementerian Kesehatan itu bisa menyampaikan informasi yang mudah dipahami. Mas Away menekankan bahwa pada dasarnya pekerjaan menulis itu merupakan pekerjaan melayani pembaca. Jadi blogger jangan asal menulis, tapi menulislah yang baik.

Bahasa adalah intisarinya. Bahasa adalah senjata pamungkas para blogger. Blogger akan menjadi bukan siapa-siapa kalau tulisannya tidak memberikan manfaat. Maksudnya baik, tapi caranya salah. Ini yang harus diperhatikan. Bukannya memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan, malah memberikan pertanyaan baru yang tidak jelas dimana harus mencari jawabannya. Benar-benar melelahkan dan membuang waktu. Jangan lagi mengindahkan bahasa kalau ingin terlibat di dunia blogging. Okelah blog itu semacam catatan harian dengan gaya bahasa yang dibebaskan. Akan tetapi sebebas-bebasnya gaya bahasa yang digunakan, syarat utamanya tetap harus mudah dipahami oleh pembaca. Itu.

Blogger adalah seorang kreator. Namun itu saja tidak cukup. Ia juga harus menjadi editor bagi tulisannya sendiri. Dengan begitu, saat seorang blogger ingin memberikan informasi soal GERMAS ini, makin banyak pembaca yang paham pentingnya kesehatan. Kalau sudah begitu, percayalah bahwa peran blogger itu amat penting. Ia telah menjadi jembatan emas bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia. Jika Masyarakat Hidup Sehat, Indonesia Kuat.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s