Asian Africa Carnival 2017 yang Spektakuler

BANDUNG – Siang itu begitu terik, tangan-tangan terangkat ke atas, menutupi sebagian wajah. Beberapa orang lebih memilih mencari bayang-bayang terdekat. Pepohonan, bangunan, atau bahkan bus Bandros yang terparkir tepat di depan Hotel Grand Preanger. Meski begitu, mayoritas peserta Asian Africa Carnival 2017 tetap menunjukkan sikap semangat dan murah senyum saat beberapa kamera mengarah pada mereka. Termasuk bocah kecil berusia tujuh tahun dengan pakaian khas tradisional Jawa dengan simbol Pakualaman di dadanya, tetap semangat dan murah senyum menyapa siapa pun yang ditemuinya. Termasuk tidak sungkan diajak foto bersama di bawah matahari yang sinarnya begitu panas menyengat kulit.

Kiri: Sosok itu dan Adik Anin bersama RM Syailendra | Kanan: Damai dan DedeW

Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Barat yang diwakili Dede Waluya, Damai Wardani, dan Bang Aswi (Koordinator GenPI Jabar) sungguh beruntung mendapatkan undangan langsung dari KPH Wiroyudho, menantu KGPAA Paku Alam IX Al-Haj dan juga Ketua Himpunan Kerabat dan Paseduluran Pakualam (HKPA) Notokusumo. Semua itu bisa terjadi atas prakarsa Shafigh P. Lontoh (Koordinator GenPI Jateng) yang turut hadir dan masih memiliki trah Kadipaten Pakualaman. Atas penghargaan tersebut, GenPI Jabar pun langsung meramaikan Asian Africa Carnival 2017 di media sosial. Foto-foto yang didapat oleh ketiga anggota tersebut langsung disebar di grup WA GenPI Jabar untuk dijadikan bahan oleh anggota yang tidak bisa hadir. Bahkan beritanya langsung masuk di situs Kaskus sementara paradenya saja belum selesai.

GenPI Jabar bersama Shafigh (GenPI Jateng) dan KPH Wiroyudho + istri

Bersama kerabat dan paseduluran Pakualam Notokusumo, mereka pun berjalan menyusuri jalan Asia Afrika, mendampingi RM Syailendra, sang bocah, yang begitu asyik mengangkat tangan, bergerak ke kanan dan kiri. Bocah kecil tersebut begitu antusias menyambut masyarakat Bandung yang berkerumun di sepanjang jalan. Lebih antusias lagi saat dirinya melihat sang ayah, KPH Wiroyudho, yang duduk di tribun penonton VIP, bersama Ridwan Kamil (walikota Bandung). Sementara di barisan belakang beberapa anak berusia belia dari Sanggar Seni Budaya dan Olah Raga Eco Bambu Cipaku memperagakan jurus silat khas Jawa Barat. Pada barisan paling belakang, para pemain bela diri wushu memperlihatkan jurus silat menggunakan kipas merah. Penonton yang menyaksikannya langsung bertepuk tangan dengan gemuruh.

Keluarga Pakualaman, Dhara Shang bertopi merah

Damai sempat berbisik, “Meski sempat cemas memikirkan pakaian adat, tapi semua terbayar saat melihat wargi Bandung sangat antusias menyaksikan sepanjang jalan Asia Afrika. Sebuah kehormatan untuk GenPI Jabar, bisa diundang dan berpartisipasi dalam Pawai Budaya Keraton ini.” Dhara Shang yang menggandeng RM Syailendra juga begitu cantik dengan busana ala Eropa-Jawa. Mojang kota Bandung 2015 dan Puteri Indonesia Persahabatan Jawa Barat 2016 itu masih memiliki trah Kadipaten Pakualaman. “Dhara sangat bahagia dan bangga bisa berpartisipasi dalam acara yang luar biasa ini bersama para raja, ratu, pangeran, putri, dan seluruh yang mulia. Semuanya dan masyarakat Bandung yang rela berdesak-desakan di sisi jalan terlihat begitu antusias,” katanya.

Bersama delegasi Afghanistan dan kostum yang cerah berwarna-warni

Pada hari Sabtu, 13 Mei 2017, rombongan Kadipaten Pakualaman itu memang menjadi bagian dari puluhan peserta parade untuk memperingati Konferensi Asia Afrika (KAA) 2017 ke-62. Tema yang diangkat adalah “Celebrating Culture, Celebrating Differences” dengan tujuan mengumumkan bahwa perbedaan budaya maupun adat istiadat tidaklah menjadi hal yang sangat penting untuk diperdebatkan. Justru sebaliknya, hal tersebut haruslah menjadikan alat persatuan sehingga keberagaman ini akan menjadi sesuatu yang akan mempererat hubungan antarnegara. Takheran, meski Kadipaten Pakualaman berada di DI Yogyakarta, mereka juga mengajak beberapa kerabat dari Jawa Barat dengan menampilkan aksi Wushu yang notabene dari Tionghoa.

Kang Emil dan Teh Atalia

“Saya terkesan sekali terhadap Pemerintah Kota Bandung terutama Pak Walikota yang sudah sangat maksimal mewujudkan terlaksananya Festival Keraton dan Masyarakat Adat Nusantara IV (FKMA IV) ini. Keterlibatan Pakualaman dalam parade ini adalah semata-mata untuk turut memeriahkan dan menyemarakkan festival ini,” ujar KPH Wiroyudho di sela-sela acara. “Pakualaman ingin memperlihatkan kepada masyarakat luas bahwa Pakualaman bukan hanya milik masyarakat Kadipaten Pakualaman, tetapi juga milik seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang suku, adat, ras dan agama. Yang tampil dalam parade bukan saja para kerabat Pakualaman yang berasal dari Jogja dan sekitarnya, tetapi banyak juga dari Tanah Priangan ini,” lanjutnya.

Keberagaman yang mempersatukan di Asian Africa Carnival 2017, Bandung

Ada 27 negara turut terlibat pada acara tersebut, beberapa diantaranya tidak hanya dari negara-negara Asia Afrika, yaitu Spanyol, Turki, Yunani, Italia, Finlandia, Australia, Chili, dan Amerika. Kepala negara dan para pemimpin keraton se-Indonesia yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Se-Nusantara hadir semua. Poin pentingnya adalah semangat dan jiwa dasasila Bandung demi mewartakan nilai dan pesan kebaikan. Tidak hanya pawai budaya tetapi juga ditutup dengan kegiatan “Dasa Sila Bandung Rendezvous” yang akan dilaksanakan di Balai Kota Bandung dengan menghadirkan Raisa untuk menghibur masyarakat. Mengenai hal ini, Kang Emil menyatakan, “Indonesia datang dari keberagaman dan semangat yang luar bisa, berbeda-beda tapi satu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bandung menjadi rumah bersama, tahun depan mudah-mudahan bisa hadir kembali.”[]

Advertisements

4 thoughts on “Asian Africa Carnival 2017 yang Spektakuler

  1. kerenn bangettt…
    ini beda ya acara nya sampa jember festival?
    di jember festival kan ada juga tuh pameran kostum warna warni yg heboh bgt gitu..

    seru dong ya di undang acara besar kaya gini. ketemua dari berbagai negara pula.. wew

    >> Jelas beda, meski dengan format yang agak mirip.
    Alhamdulillah seru bangets ^_^

  2. Kayaknya pas acara ini, saya lagi di sekitaran Asia-Afrika. Pas mau beli kopi aroma di Banceuy. Ternyata acaranya rame pisan euy. Saya ada outbound di Lembang waktu itu, tapi melipir bentar buat beli kopi doang hehehe 🙂

    >> Pas waktunya ya, jadi sayang gak bisa berlama2 lihat paradenya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s