Sudah Bersyukurkah Kamu Hari Ini?

“Bi, kapan atuh kita lebaran ke Jakarta?”

Entah sosok itu harus menjawab apa atas pertanyaan Adik Anin itu. Sepertinya mudah saja tinggal menjawab, “Insya Allah, Dek. Mudah-mudahan Abi ada rezeki.” Atau jawaban lain yang jauh lebih mudah seperti, “Kemarin kan sudah bertemu dengan semua keluarga di Serang.” Namun itu semua tidak akan memuaskannya. Ya, bagi seorang anak, lebaran itu bukan bermakna hanya sekadar bisa berkumpul dengan keluarga besar. Bukan. Bisa jadi ia lebih berharap akan banyaknya uang lebaran dari pakde, pakle, atau mbah-mbahnya yang memang banyak tinggal di sana. Bisa jadi. Hati anak siapa yang tahu meski orangtua sudah bisa menebak yang (katanya) betul. Wallahu’alam.

Lebaran kali ini memang jauh berbeda. Jauh banget perbedaannya. Sosok itu merasa ada banyak kehilangan. Entahlah. Jika Rasulullah saw. pernah mengalami tahun duka atau ‘aamul husni atas wafatnya Abu Thalib (pamannya) dan Khadijah (istrinya), almarhum Bapak pun mengalaminya pada 21 tahun lalu atas wafatnya Ibu Siti Kumayah (istrinya) dan beberapa bulan kemudian disusul Pakde Dar (kakaknya). Pada tahun itu pula sosok itu mendapatkan pukulan yang luar biasa sehingga kuliahnya agak terbengkalai. Sudah jauh dari keluarga, sang ibu harus pergi untuk selama-lamanya. Manusia memang hanya bisa berencana, hanya bisa berusaha.

Pada 2014, bapak mertua wafat. Jelas sang belahan jiwa begitu amat kehilangan setelah sembilan tahun lalu kehilangan ibunya. Sosok itu? Tidak usah ditanya bagaimana dirinya merasa kehilangan, apalagi dia bersama istrinya turut menjaganya selama dirawat. Kehidupan seolah berbalik kembali, saat kecil dirawat oleh orangtua akhirnya nanti berganti mereka yang merawat orangtuanya. Tapi perlu dicatat bahwa hal itu tetap tidak bisa menggantikan kebaikan orangtua, tidak akan pernah bisa. Sosok itu hanya bisa bersyukur bahwa dirinya bisa mendampingi saat akhir hayatnya. Dua tahun kemudian, rasa kehilangan kembali menghampirinya, sang Bapak harus pergi. Dan seminggu kemarin, dia kembali kehilangan sang Kakak yang telah dianggap sebagai orangtua kedua.

Keluarga Lareng Chryssanto dan Siti Kumayah

PADA AKHIRNYA … APAKAH KITA SUDAH SIAP?

Semua peristiwa itu seolah berulang kembali. 21 tahun lalu sosok itu sendirian naik bus ke Jakarta malam-malam demi mengejar bisa menshalatkan jenazah Ibu. Namun dia tidak beruntung karena hanya bertemu Bapak dan Mas Edy. Alhamdulillah dia berkesempatan bisa menshalatkannya di Madiun. Ya, hanya Sang Maha yang bisa membalikkan keadaan bahwa mobilnya lebih dahulu sampai dibanding ambulance meski awalnya sudah jauh tertinggal hampir 7 jam. Kebahagiaan dan kesedihan seolah bercampur saat bisa menyaksikan wajah Ibu untuk terakhir kalinya, lalu mengikhlaskannya dengan menshalatkan dan menguburkannya. Gerimis menjelang maghrib seolah mewakili suasana hatinya.

Selepas acara roadblog di Bandung setahun lalu, lagi-lagi sosok itu harus mengejar malam demi menemani Bapak yang kritis di RS Mitra Kemayoran. Beruntung ada kawan-kawan baik dari Excite yang mau mengantarkannya sampai depan rumah sakit, setelah sebelumnya bingung harus naik apa agar bisa datang tepat waktu. Saat datang, ibu sambung sedang tertidur sementara Mas Heru entah di mana. Dirinya tidak bisa melihat Bapak karena berada di ruangan ICU. Tidak sampai 30 menit kemudian, perawat datang tergopoh-gopoh mengabarkan bahwa Bapak sedang melewati masa kritis. Semua tertidur. Dia pun langsung menghampiri Bapak. Haru melanda dirinya, namun dikuatkan diri agar bisa mentalkinkan Bapak bersama Mas Heru yang datang kemudian.

Tengah malam itu ada yang berbeda dari dua malam tersebut, dia tidak sendirian. Ada tiga perempuan yang dicinta bersamanya. Saat umat Muslim beritikaf pada malam ke-23, sosok itu bersama sang belahan jiwa dan 2 buah hatinya harus naik bus malam menuju Serang. Dia lagi-lagi, hanya berharap bisa memandikan dan menshalatkan jenazah Mas Heru. Ya, pukul delapan malam tadi, kakaknya itu wafat di RS Siloam Tangerang. Kilatan peristiwa seolah kembali pada beberapa peristiwa bahagia maupun sedih. Keikhlasan kembali dilangitkan dari hatinya demi mengharap keridhaan-Nya. Doa-doa diterbangkan saat itu juga.

Jika berbicara soal kesedihan, sosok itu tidak sendiri. Masih ada orang-orang yang jauh lebih dekat dengan Mas Heru, yaitu anak-anak dan istrinya. Merekalah penerus generasi yang harus kehilangan sang panutan keluarga. Apalah sosok itu yang hanya mengetahui kehidupan Mas Heru di permukaannya saja. Begitu pula Fitri, sang adik, yang juga menangis saat dirinya memastikan benarkah bahwa Mas Heru telah wafat. Fitri sempat menulis di instagramnya, “Tahun lalu, tepatnya tgl 15 Mei 2016 Mas Heru memimpin shalat jenazah almarhum Bapak, memandu, dan mengazankan Bapak. Dan semalam, tgl 17 Juni 2017, Mas Heru telah meninggalkan kita. Usia adalah misteri Illahi. Innalillahi wa innailaihi raaji’uun. Selamat jalan, Mas, engkau adalah pejuang keluarga.”

Keluarga Besar Djaidi dan Nunung Rahwati

SYUKUR DAN SABAR ADALAH KUNCINYA

Iyha, anak pertama Mas Heru, menulis, “Assalaamu’alaikum, Pak. Mas yakin kalau Allah lebih sayang sama Bapak. Bapak meninggal dunia di bulan dan di malam yang sangat suci. Untuk Bapak, Ramadhan kali ini Bapak tidak bisa melihat dan mendengarkan Mas ketika menjadi imam shalat Tarawih secara langsung, tapi Mas yakin kalau Bapak bisa melihat dan mendengarkan Mas menjadi imam shalat Tarawih dari sana. Kita yakin bahwa Allah menempatkan Bapak di sisi-Nya. Amiin yaa Rabbal ‘aalamiiin.”

Didit, anak kedua Mas Heru, menulis, “Assalamu’alaikum, Pak. Innalillahi wa innailaihi raji’uun. Pak, nanti waktu Didit bete atau bengong, ga ada yang jailin nyubit-nyubit Didit lagi dong. Ga ada yg support waktu Didit lagi waktu susah, ga ada yang becandain sampe ketawa-ketiwi semuanya dong, Pak. Maafin Didit ya kalo banyak salah sama Bapak, sering nyusahin Bapak, Mas Iyha, dan juga Ina. Kita semua bakal jaga Mamah dengan sepenuh hati layaknya Bapak menjaga dan menafkahi kita semua. Semua sudah ikhlas dan ridha atas kepergian Bapak. Selamat tinggal Bapak selamat jalan. Kita semua di sini selalu berdoa yang terbaik buat Bapak. Semoga Bapak khusnul khotimah dan mudah-mudahan semua amal ibadah serta kebaikan Bapak diterima di sisi Allah Swt. Amiiin.”

Ina, anak ketiga Mas Heru, hanya memposting sebuah gambar seorang ayah yang sedang menggendong anak perempuannya. Ada tulisan besar di sana, “Daddy, did I ever tell you (that) you’re my hero?” Yup, Mas Heru is a HERO to all of them. Buat keluarga besar Lareng Chryssanto. Satu persatu anggotanya pergi. Mas Tri yang saat ini harus bekerja di Madinah juga tidak berkesempatan melihat Bapak dan Mas Heru untuk terakhir kalinya. Yang bisa dilakukannya hanya shalat ghaib. Sosok itu masih ‘terbilang’ beruntung dibanding kakaknya itu. Mas Tri sendiri hanya bisa berpesan, “Mbak, Adik-adik, ikhlaskan saja Mas kita, Heru Rahmanto bin Lareng, menghadap Allah. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya. Amiiin.”

Generasi penerus yang harus diperhatikan dan dijaga

Nah, jelas sosok itu tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana Adik Anin di paragraf pertama. “Bi, kapan atuh kita lebaran ke Jakarta?” Ada beberapa alasan yang tidak semuanya bisa diceritakan di sini. Paling tidak beberapa cerita di atas bisa mewakili. Lebaran kali ini jauh berbeda. Setelah shalat Ied di lapangan RT 05/14 GBA Barat, dia dan sang belahan jiwa bersilaturahim dengan para tetangga di lingkungannya. Makan ketupat hasil kiriman tetangga karena memang tidak memasak, lalu bersiap-siap ke Papanggungan. Sampai di sana kembali bersilaturahim dengan para kerabat terdekat. Menjelang siang berangkat ke Laswi hingga kemudian kembali lagi ke Binong. Akhirnya mencuci pakaian yang luar biasa beratnya.

Sosok itu dan keluarga kecilnya memang tidak bisa ke Jakarta, bersilaturahim dengan kerabat terdekatnya yang memang banyak tinggal di sana, lalu sowan ke Tangerang dan Serang. Setelah itu bersama-sama ke Cilegon untuk melihat rumah baru Mas Heru yang alhamdulillah telah jadi. Kepergian Mas Heru seolah telah disiapkan semuanya karena beliau pergi setelah semuanya sudah sempurna. Mas Iyha yang telah siap menjadi kepala rumah tangga bagi Mamah dan adik-adiknya, juga rumah baru di Cilegon pengganti rumah lama di Suralaya yang akan dirobohkan PLN. Sosok itu hanya bisa bersyukur atas semuanya. Dia pun bersyukur atas lebaran kali ini, masih bisa berkumpul lengkap dengan keluarga kecilnya. Ada pesan dari Mba Roh (istri Mas Heru), “Bersyukurlah bahwa kamu masih memiliki keluarga utuh, Gus. Meski pasangan kita sering bikin sebal, sering bikin kesal, dan beberapa kali bikin marah, terimalah apa adanya. Setiap masalah selalu ada jalan keluarnya. Tetapi kalau pasanganmu sudah tidak ada, di situlah kamu baru merasakan arti kehilangan. Tidak bisa apa-apa lagi.”

Ya, apalagi yang bisa dilakukan oleh seorang hamba Allah selain bersyukur dan bersabar atas semuanya? Bukankah dibalik itu Sang Maha akan menyiapkan ‘hadiah’ yang jauh lebih besar? Mungkin mata fisik kita belum bisa melihatnya, namun mata batin kita bisa diasah untuk mempercayainya. Bersyukurlah akan hari ini karena di luar sana … masih banyak manusia yang hidupnya tidak seberuntung kita. Akhir kata, sosok itu hanya bisa berdoa, “Innalillahi wa innailaihi raji’un. Ya Rabb, ampunilah dosa Bapak Lareng Chryssanto, Ibu Siti Kumayah, Bapak Djaidi, Ibu Nunung Rahwati, dan Mas Heru Rahmanto. Terimalah keimanan dan keislaman mereka semua. Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihi wafu’anhum. Lapangkan dan terangkanlah kubur mereka. Jadikanlah alam kubur mereka semua sebagai surganya. Berilah rasa syukur dan sabar bagi mereka yang masih hidup. Amin.”[]

Advertisements

2 thoughts on “Sudah Bersyukurkah Kamu Hari Ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s