Ketika Kakak Kangen

Selasa, 25 April 2017

Tau gak? Kakak pengen kembali lagi (jadi) kecil. Jadi bisa di rumah lagi bareng-bareng kalian lagi. Kangen masakan Ummi. Kangen omelan Ummi dan Abi. Kangen dibangunin sama Ummi dan Abi. Kangen dianterin ke sekolah. Kangen dijemput. Kangen nonton TV. Kangen makan bareng. Pokoknya kangen semua. Pengen pulang tapi impossible kalau sekarang. Oh iya lupa, kangen naik motor berempat! Tapi udah mustahil kalau sekarang soalnya Kakak dan Adik udah gede. Pengen gitu setiap hari ada Ummi dan Abi di samping Kakak, yang selalu ngebantuin ngerjain PR kalau gak bisa.

Malam hari dengan hujan deras. Beberapa kali ada petir, mati lampu, nyala lagi, lampu mati. Dan kebetulannya, tadi Kakak sama temen-temen lagi cerita film horor ‘Danur’. Waktu teman Kakak bilang, “Terus siapa yang matinya?” Jlebb! Lampunya mati. Kita langsung keluar dari kelas (soalnya kita lagi di dalam kelas). Ya Allah. Terus yang kedua kalinya pas-pasan teman Kakak lagi bilang, “Nanti ah mau bikin film hantu, tapi lagunya Manuk Dadali.” Dan jlebb! Mati lampu lagi. Sebelll ih.

Selalu saja di sini tuh hujan. Kalau gak hujan, mati lampu. Di sini … bisanya cuman ngedengerin rintik hujan di atas genteng sambil nulis-nulis gak jelas di buku diary dan … TIDUR. Setiap hari selalu saja begitu. Bosen. Kalau di GBA gitu gak, Mi/Bi? Kalau cuaca lagi gini ya, biasanya di rumah nyetop mie tek-tek atau nasi goreng atau apalah yang anget-anget. Atau gak … bikin “kopi!” buat kalian semua. Terus makannya/minumnya sambil nonton TV. Betul sekali. Rindu kalian … syawqun.

Rindu kalian semua….
I miss you!

Kamis, 18 Mei 2017

Yeyy … besok Ummi mau ke sini, tapi … gak sama Abi dan Adik. Tetep weh sedih.
Abi, kenapa sih gak ikut terus ke sini? Kalau Adik sih … sekolah. Kalau Abi?

Selalu menyenangkan dan menyegarkan di Cilawu dan Salawu

PERJALANAN SERU LEWAT CIJAPATI

Semua di luar perkiraan. Sampai hari Sabtu (22/4/2017) belum jelas apakah jadi ke Singaparna atau tidak. Oya, tulisan ini dibuat pada hari Senin (24/4/2017) di buku diary Kakak setelah berhasil sampai di Singaparna dan mengajak Kakak menginap semalam di kamar sewaan. Abi dan Ummi gak punya uang, tapi Abi yakin insya Allah ada rezeki meski pas-pasan. Sampai hari Sabtu maghrib alhamdulillah sudah ada uang tapi pas banget, dan malamnya (alhamdulillah lagi) ada rezeki nomplok sampai 2x lipat. Nggak minjem loh, Kak. Yang penting kan usaha terus.

Minggu pagi masih males-malesan. Ummi masih sakit, setelah kemarin demam dan gak enak badan. Adik juga ogah-ogahan mau ikut. Tapi bismillah, kami akhirnya jalan dengan naik motor sendiri. Jalurnya pun diubah dari biasanya, gak lewat Rancaekek dan Nagrek, tapi lewat Sapan dan Cijapati. Jadi … dari Bojongsoang lewat Jl. Cikoneng (tempat kita biasa sepedaan ke Timbel Ummi). Kanan kiri cuma sawah, indah sekali, bikin seger pernapasan dan penglihatan. Setelah itu belok kanan ke arah Sapan. Asyiknya jalan sudah dibeton dan mulus, meski ada beberapa bagian lagi belum selesai.

Di Sapan kami sampai lewatin 3 (tiga) jembatan yang air sungainya dalam. Lagi banjir karena Sabtu kemarin memang hujan deras. Beberapa meter Abi harus menjaga keseimbangan karena melewati beberapa genangan yang dalam. Untung saja memakai sepatu karet sehingga saat terpaksa menyentuh aspal, tidak masalah meski basah. Abi tetap harus hati-hati agar motor tidak mati. Beres dari Sapan langsung masuk ke Majalaya, lumayan macet karena ada pasar kaget (yang selalu ada setiap hari Minggu) dan melewati alun-alun yang lebih padat, lalu pasar lagi.

Sang Belahan Jiwa saat pemberhentian pertama di Cijapati

Suasana menyegarkan di Leles, Garut | Inset: Kebun Cabe di Cijapati

Akhirnya masuk deh ke Jl. Raya Cicalengka dan langsung menembus ke Cijapati setelah belok kanan. Jalurnya naik terus dan berkelak-kelok. Adik sampai pusing (padahal naik motor) dan terpaksa berhenti karena ia sudah tidak kuat, lalu muntah. Sambil menunggu Adik merasa enak, Abi sama Ummi foto-foto. Ada beberapa pembuatan kompos dari kotoran sapi di kanan kiri jalan. Baunya begitu khas. Begitu alami. Makin ke puncak pemandangannya makin bagus. Masya Allah. Akhirnya berhenti kembali di salah satu warung sambil foto-foto lagi hehehe. Turunnya juga sama, belak-belok dan bikin ngeri. Abi harus hati-hati karena rem motornya tidak terlalu pakem. Akhirnya sampai juga di jalan utama di daerah Leles, Garut. Seterusnya ya lanjut ke Singaparna melewati Kampung Naga, Salawu. Seru pisan![]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s