Anak Kecil di Puncak Carstensz

Minggu siang itu, sosok itu menatap bocah yang duduk di depan. Sekilas, tidak ada yang istimewa dengan dirinya. Ia seperti anak-anak kebanyakan, cenderung pendiam dan memiliki sifat yang susah diajak bicara. Namun dibanding saat pertama kali melihatnya tiga tahun lalu, tubuhnya sudah jangkung. Hampir saja sosok itu tidak mengenalinya yang begitu santai dengan kaos abu-abu bercorak batik. Untung saja dia begitu kenal dengan sosok ayah dan ibunya yang beberapa kali pernah lari bersama, baik itu di Bandung maupun di Bekasi. Satu hal yang dia tangkap dari Matthew Tandioputra (11 tahun), bocah tersebut, adalah semangat pantang menyerah yang akan disajikan pada cerita di bawah ini.

DARI LARI HINGGA MENDAKI GUNUNG

Hidup Matt, panggilan akrabnya, memang mengalir begitu saja. Ia mengikuti apa yang sudah diarahkan oleh ayah dan ibunya. Salah satunya adalah saat ia pada akhirnya senang dengan olahraga lari yang ditekuni oleh kedua orangtuanya. Bersama Dave, adiknya, ia pun menjadi ketagihan lari. Selain lari, ia juga suka bersepeda, khususnya untuk beraktivitas ke sekolah. Lari begitu sederhana, hanya pakai sepatu dan langsung lari. Tidak perlu alat tambahan atau bahkan lapangan khusus. Di mana saja bisa. Semua orang bisa melakukannya, dari anak-anak hingga lanjut usia. Sosok itu mengenal Aki Niaki yang mulai lari saat usianya sudah mencapai 50 tahun. Jelas modalnya hanya niat yang kuat.

“Mampukah aku menaklukkannya?” – Matt

Sekarang Matt sudah duduk di kelas 1 SMP, tetapi ia lebih memilih belajar dengan sistem homeschooling. Alasan ayahnya agar Matt tidak merasa terbebani oleh tugas sekolah atau perizinan yang katanya rada ‘ribet’ kalau di sekolah formal, berkenaan dengan aktivitasnya belakangan ini yang harus berhari-hari jauh dari rumah. Ia lari sejak kelas 3 SD akhir. Dari hanya sekadar lari bersama keluarga atau bersama kawan-kawan komunitas yang ada di Bandung. Lari juga butuh persiapan, lho. Sama seperti olahraga lainnya, sebelum lari ia harus melakukan pemanasan. “Ya, gerakannya seperti layaknya senam, yang ringan-ringan saja. Intinya merelaksasi beberapa otot kaki, tangan, leher, dan tubuh. Katanya, sih, biar tubuh tidak kaget. Hingga kemudian hari, Matt diajak ayahnya untuk lari di pegunungan.

“Sambil belajar dan mengenal nama-nama gunung,” ujar Joel, sang ayah, pada sosok itu. Paling mudah ya lebih baik mendakinya. Kalau mampu lari, ya lari, kalau nggak mampu, jalan juga tidak apa-apa. Kebetulan ada kawan-kawan di komunitas pelari alam bebas atau Bandrex (Bandung Trail Runner Explorer) yang memang fokus untuk berlari di pegunungan. Istilah kerennya lari trail. Bersama mereka, Matt mulai rutin latihan lari di pegunungan. Joel kemudian menyusun target agar Matt bisa mendaki tujuh gunung di sekitar kota Bandung, 7th Summits of Bandung. Gunung pertama yang didaki adalah Gunung Puntang yang memiliki ketinggian 2223 mdpl (meter di atas permukaan laut). Ia mendakinya pada 7 Juni 2014. Ia pun berhasil mendaki tujuh gunung, yaitu Gunung Haruman, Gunung Malabar, Gunung Burangrang, Gunung Bukittunggul, dan terakhir Gunung Tangkuban Parahu. Matt menyelesaikannya pada 26 Juni 2014.

7TH SUMMITS OF JAVA DAN 7 PUNCAK NUSANTARA

Selesai mendaki tujuh gunung tertinggi di sekitar kota Bandung, Joel langsung menyusun rencana untuk mengajak anaknya mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa. Bisa jadi ini adalah obsesi sang ayah dan anak hehehe. Matt menjadi begitu bersemangat karena ia suka berjalan-jalan di alam yang masih segar. Akhirnya pada 17 Desember 2014 ia mengawali ekspedisi ini dengan mendaki Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3676 mdpl. Oleh karena sudah terbiasa mendaki, Matt tidak terlalu kesulitan untuk mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Tubuhnya sudah begitu mudah beradaptasi. Meski begitu ia membutuhkan perjuangan yang ekstra untuk sampai ke puncaknya. Di sinilah ia mulai diperkenalkan dengan beberapa peralatan mendaki yang sebenarnya.

Perjalanan hidup terus bergerak hingga pada akhirnya Matt secara berturut-turut kembali berhasil mendaki Gunung Lawu, Gunung Ciremai, Gunung Welirang, Gunung Arjuno, Gunung Sumbing, dan terakhir Gunung Slamet yang memiliki ketinggian 3428 mdpl. Ia berhasil menyelesaikan 7th Summits of Java pada 26 September 2015. Sebuah pengalaman yang luar biasa bagi seorang anak yang masih duduk di kelas 4 SD. Sosok itu saja belum pernah. Perjuangan terus berlanjut. Matt telah mendaki salah satu gunung tertinggi di Indonesia, sehingga langkah berikutnya adalah mendaki 7 Puncak Nusantara. Pada saat kelas 5 sampai 6 SD, ia pun bisa mendaki gunung di luar Pulau Jawa. Ia berhasil menaklukkan Gunung Kerinci, Gunung Latimojong, Gunung Binaiya, Gunung Bukitraya, Gunung Rinjani, hingga akhirnya Gunung Carstensz di Papua Barat pada 25 Maret 2017.

Puncak Carstensz adalah segalanya bagi Matt. Inilah titik tertinggi di Indonesia yang di puncaknya masih diselimuti oleh salju abadi. Ia ingin sekali memegang salju di sana. Oleh karena ekspedisi ini begitu mahal dan berat, sang ibu dan adiknya tidak bisa ikut. Pada pendakian sebelumnya, mereka berdua selalu turut serta meski tidak mengikuti sampai ke puncak. Kali ini ia hanya ditemani ayahnya dan kakak-kakak pendaki yang sudah pengalaman. Untuk mencapai ke sana, tentu saja ia harus naik pesawat terbang menuju kota Timika. Setelah memenuhi semua kebutuhan pendakian, perjalanan dilanjutkan ke Lembah Kuning. Dari sini, Matt sudah bisa melihat kemegahan Pegunungan Jayawijaya dengan puncak-puncaknya yang seperti deretan gigi hiu.

Puncak Carstensz hanyalah salah satu dari empat puncak utama di Pegunungan Jayawijaya. Ya, kompleks pegunungan karang ini juga memiliki Puncak Soekarno, Soemantri, dan Carstensz Timur. Puncak Carstensz tercatat sebagai titik tertinggi Indonesia (4.884 mdpl) dan menjadi salah satu tujuh puncak dunia. Lokasinya terletak di Taman Nasional Lorentz, yaitu taman nasional terbesar di Asia Tenggara dan ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Puncak tertinggi tersebut pertama kali ditemukan tahun 1623 oleh Jan Carstenszoon, seorang penjelajah Belanda. Bentuknya yang mirip piramida itulah yang membuatnya disebut Carstensz Pyramid. Penduduk lokal menyebutnya dengan istilah “Nemangkawi” yang berarti mata panah berwarna putih.

CARSTENSZ PYRAMID, SANG MATA PANAH PUTIH

Orang yang pertama kali menaklukkan Puncak Carstensz adalah Heinrich Harrer pada tahun 1963. Puncak tersebut dinilai sebagai gunung yang paling sulit didaki karena jalurnya berupa dinding granit yang curam. Untuk mendakinya diperlukan teknik pendakian khusus. Berbeda dengan negara tropis lainnya, puncak Pegunungan Jayawijaya diselimuti oleh salju abadi, yaitu salju yang tidak pernah mencair. Hanya saja kini tidak ada lagi salju abadi di Puncak Carstensz kecuali saat hujan salju saja. Salju abadi hanya ditemukan di Puncak Soekarno, Soemantri, dan Carstensz Timur.

Para pendaki biasanya akan memulainya dari pos Danau-Danau, namun Matt memulainya dari pos Lembah Kuning. Ada tiga alternatif untuk menuju pos tersebut. Pertama menggunakan jalur tracking alias berjalan kaki selama 6 hari atau lebih melalui Sugapa, Kabupaten Intanjaya. Di Sugapa, tinggal memilih mau memulainya dari Desa Suanggama, Desa Ilaga, atau Desa Ugimba. Alternatif kedua adalah melalui PT Freeport Indonesia. Semua dijamin oleh perusahaan swasta tersebut dari saat mendarat di Bandara Timika, menuju Tembagapura, lalu lanjut ke Garsberg. Perjalanan ini hanya ditempuh dalam waktu enam jam melewati kompleks perusahaan, lalu setelah itu sedikit tracking sekira lima jam dari Garsberg ke Lembah Kuning. Hanya saja untuk memakai jalur tersebut, harus mendapatkan izin khusus yang sulit didapat.

Hujan salju di Teras Besar

Sosok itu sendiri pernah mendengar bahwa ada sekelompok mahasiswa pecinta alam yang begitu sulit mendapatkan izin dari PT. Freeport. Bisa berbulan-bulan, lho? Alternatif ketiga adalah dengan menggunakan helikopter. Jelas mahal, tetapi waktu yang ditempuh juga begitu singkat. Hanya 60 menit penerbangan dari Timika ke Lembah Kuning. Jadwal penerbangannya harus pagi dan saat cuaca dalam keadaan cerah. Tinggal pilih mau menggunakan alternatif yang mana kalau ingin mendaki Pegunungan Jayawijaya. Semua harus dipikirkan dana dan waktunya. Fisik juga begitu. Matt sendiri sudah melatih tubuhnya untuk menghadapi Puncak Carstensz tersebut, salah satunya adalah dengan latihan berdiam diri di dalam ruangan pendingin bersuhu nol derajat selama berjam-jam.

Di pos Lembah Kuning, ia melakukan pemanasan, olahraga ringan, dan menginap semalam. Istilah kerennya adalah aklimatisasi, yaitu penyesuaian diri terhadap lingkungan baru. Fungsinya adalah agar tubuh tidak kaget dengan kondisi lingkungan yang bisa jadi ekstrem. Latihan yang sudah dijalani Matt sebelumnya amat membantu proses aklimatisasi itu. Dari pos itu, ia sudah bisa melihat Puncak Soekarno-Soemantri. Setelah bersiap-siap dari pukul 3 dini hari, ia akhirnya berangkat pada pukul 4 subuh. Petualangan baru sudah di depan mata. Sejam kemudian ia sampai di pos Ujung Tali. Inilah titik awal pendakian yang sebenarnya. Disebut demikian karena dari pos ini ia harus memanjat tanpa lepas dari tali.

Menyusuri Burma Bridge dan Carstensz Ridge

Matt melihat jalurnya memang agak lurus ke atas. Menegangkan. Ada perasaan deg-degan dan hatinya sempat berbisik, “Bisa gak?” Udara dingin dan jalur yang sulit mencoba mengendurkan semangatnya. Di tengah pendakian, ia sempat berhenti, lalu berbalik badan untuk istirahat. Jalurnya masih miring sehingga memaksanya untuk berbaring di tebingnya. Ia melihat di sebelah kanan ada Puncak Carstensz Timur sementara di depan ada Puncak Soekarno-Soemantri dengan salju abadinya. Indah sekali. Inilah pemandangan yang selalu ia idam-idamkan sehingga suka sekali dengan aktivitas pendakian. Hari sudah mulai agak terang. Untuk sesaat, Matt begitu menikmati semua peristiwa menakjubkan itu.

Setelahnya, ia bersemangat untuk melanjutkan pendakian. Ia pun berhasil sampai di pos Teras Kecil pada sekira pukul tujuh. Ia tersenyum bahagia saat mendapatkan hujan salju di sini. Meski dingin, rasa bahagia itu menghangatkan tubuh. Momen ‘me time‘ kembali mengepungnya. Tanpa istirahat, ia melanjutkan pendakian hingga sampai ke pos Teras Besar. Disebut teras karena areanya yang agak mendatar. Kecil dan besar untuk membedakan ukuran luasnya. Biasanya para pendaki akan beristirahat di dua pos ini. Matt sampai di Teras Besar hampir pukul delapan. Oya, dari Ujung Tali sampai ke Teras Besar ia mendaki dengan menggunakan teknik jumaring, yaitu memakai ascender atau pegangan pada talinya.

Bahagia menemukan salju dan perjuangan yang takpernah usai

Dari sini, pendakian semakin bertambah berat. Di depannya sudah ada tebing Carstensz Ridge yang menjulang tinggi, seperti gedung. Matt harus memanjat tebing itu di jalur Summit Ridge dengan ketinggian mencapai 25 meter. Tenaga dan napasnya benar-benar dikuras habis, apalagi kandungan oksigen sudah makin menipis. Langkah demi langkah begitu berarti. Benar-benar penuh perjuangan. Ia bersyukur bisa sampai di ujungnya pada pukul setengah sepuluh. Setelah itu, sebuah jurang menganga di hadapan. Inilah pos Kandang Babi. Satu-satunya cara untuk menyeberang jurang itu adalah dengan menggunakan Burma Bridge, yaitu jembatan tali besi yang terdiri atas tiga tali. Satu tali untuk injakan dan dua tali lainnya untuk berpegangan. Di sebelahnya juga ada jembatan Tyrolean, tetapi sudah jarang digunakan karena sulit. Cara menyeberangnya: hanya bergantungan pada satu tali besi dan berjalan mundur bertumpukan pada tangan dan kaki saja.

Setelah pos Kandang Babi, Matt meniti tebing yang lumayan terjal. Ia harus hati-hati dan tidak boleh lengah. Ada celah jurang juga dengan lebar 1-2 meter. Ia bisa meloncatinya tetapi jurang yang dalam bakal membuat mental jadi ‘drop‘. Ayahnya saja butuh waktu lama untuk bisa melompatinya. Pada akhirnya ia berhasil sampai ke Puncak Carstensz pada pukul 12.30. Ada rasa haru dan bangga. Matt masih duduk di kelas 6 SD, tetapi sudah berhasil menaklukkan puncak tertinggi di Indonesia. Matt tersenyum bahagia. Di puncak itu ada penanda nama puncak dari Surveyor Indonesia, juga plang memoriam atas meninggalnya Hartono Basuki Wibowo, pendaki dari Mapala UI. Ia membayangkan banyak hal keindahan selama di sana. Matt harus berbangga, karena ia adalah anak pertama Indonesia (bahkan dunia) yang ada di Puncak Carstensz.[]

NB: Semua foto milik Joel Tandionugroho

Advertisements

2 thoughts on “Anak Kecil di Puncak Carstensz

  1. Wah keren ya, kalau semua orang tua memberi dukungan seperti itu kepada anaknya, pasti mereka memperoleh prestasi sesuai dengan minatnya masing2. Tidak terbebani dengan tugas2 sekolah, dan pelajaran2 yang tidak mereka sukai sama sekali.

    >> Yup, dukungan dari orangtua itu amat penting dan perlu, demi perkembangan prestasi anak.

  2. Mantap tuh, salut sama fisiknya, bisa ndaki gunung yang medannya tegak kayak gitu, salut juga sama orang tuanya yang tidak memksakan pendidikan formal 😁

    >> Luar biasa kece badai lah ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s