After Weekend di HAU Citumang

Awalnya sosok itu berpikir bahwa Pangandaran begitu-begitu saja: jalan-jalan di pantai, berenang-renang ke tepian, berkunjung ke pasir putih atau goa di area cagar alam yang memisahkan pantai barat dan timurnya, atau berleha-leha di hotel/vila di kolam renang pribadinya. Jangan dulu bercerita soal Green Canyon atau Cukang Taneuh ya, karena dia sendiri belum pernah ke sana dan kepengen banget mau ke sana. Next trip lah! Selama hampir dua tahun tinggal di Desa Wonoharjo saat KKN dulu, dia hanya main di pantai, mencuri cokelat dari kebonnya Mbak Tutut, dan mengajar anak-anak kampung. Termasuk saat piknik bersama keluarga dua tahun sekali, ya hanya melakukan yang sudah disebutkan di atas.

Untunglah ada kesempatan untuk melihat ‘wajah lain’ dari Pangandaran, tepatnya di suatu tempat agak ke dalam di daerah Parigi. Sosok itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana setelah kabur dari peradaban kota, dirinya langsung terhipnotis oleh keasrian alam yang benar-benar masih alami. Sesuatu yang amat didambakan. Berangkat dari Bandung hari Minggu pukul 16.00, tepatnya dari Buah Batu Regency, dia mencoba menghabiskan after weekend di tempat yang belum pernah dikunjunginya itu. Di tengah perjalanan, mereka berdua sempat shalat Maghrib dan makan malam di Ciawi, lalu bermacet-macet ria dari Tasikmalaya hingga Ciamis, hingga akhirnya sampai Pangandaran pukul 23.00, dan baru sampai di HAU Citumang pukul 23.30.

HAU CITUMANG ECOLODGES

Bagi yang sudah mengenal Citumang Body Rafting, tentu akan mudah ke area yang akan dituju oleh sosok itu. Ya, di sanalah memang akhir perjalanannya, yaitu menuju titik akhir dari aktivitas menantang dengan hanya mengandalkan tubuh yang dibalut pelampung di sungai yang mengalir deras. Sungai Citumang sudah dikenal sebagai lokasi wisata untuk berenang dengan fasilitas goa, air terjun mini, dan ikan nilamnya (disebut sebagai ikan terapi). Adalah Pak Ade Sahili alias Ade Banjir yang memulainya. Mantan atlet voli itu melihat peluang akan bisnis wisata tersebut sejak 13 tahun yang lalu. Penuh perjuangan pasti, namun hasilnya sudah bisa dinikmati hingga kini. Ada puluhan jaket pelampung yang ada di Pos Parkir 1.

Melihat hal tersebut, Pak Hendra, salah satu komisaris di Lishan Group, tidak tinggal diam. Perlahan namun pasti, berdirilah resort miliknya sendiri, HAU Citumang Ecolodges. Lokasinya tepat di samping Pos Parkir 1, pas di sisi Sungai Citumang. Konsepnya sederhana, yaitu bagaimana para tamu yang ingin menjajal ‘body rafting‘ juga bisa beristirahat tanpa harus kembali lagi ke pusat Pangandaran. Yang membuat sosok itu salut, adalah seminimal mungkin tidak menebang pohon-pohon yang sudah ada, bahkan menambah lagi pohon-pohon baru agar lingkungan lebih hijau lagi. Jadilah sebuah hunian unik di sana. Saat ini ada 10 (sepuluh) kontainer atau peti kemas yang siap ditinggali. Kotak besi raksasa itu menjadi pemandangan mencolok karena berada di antara rerimbunan pohon.

Sosok itu sempat heran, bagaimana tim Pak Hendra bisa mengangkut semua peti kemas itu ke sana, sementara jalan desa yang dilewatinya hanyalah berupa jalan kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja. Ternyata kuncinya adalah kreativitas. Buat saja langsung di tempat. Maka jadilah HAU Citumang Ecolodges yang berlokasi di Desa Bojong, Parigi. HAU sendiri mengandung 3 (tiga) filosofi. Filosofi pertama, HAU merupakan singkatan dari ‘How Are U‘ yang berarti ‘Bagaimana kabarmu’? Ini adalah pertanyaan sopan dan bersifat kekeluargaan. Sang penanya merasa bahagia bertemu seseorang sehingga ia dengan senyuman manisnya bertanya dengan baik-baik. Begitu pula yang ditanya akan merasa dihargai sehingga ia pun menjawab kembali dengan sopan.

Filosofi kedua, HAU berasal dari bahasa Tionghoa, yang berarti baik. Tampaknya HAU Citumang ingin menjadi tempat yang siap menerima para tamu dari mana saja, lalu bertanya, “How are you?” dan kemudian memberikan kenyamanan agar mereka semua baik-baik saja selama di sana. Sedangkan filosofi ketiga, HAU adalah ucapan khas Sunda untuk menyebut ‘hawu‘. Adalah kompor tradisional yang menggunakan tanah liat dan kayu bakar lalu membesarkan apinya dengan ditiup-tiup menggunakan bambu. Alat masak ini ada di belakang rumah, yaitu dapur, yang jelas merupakan bagian terpenting dari sebuah rumah. HAU Citumang lagi-lagi ingin menempatkan diri sebagai tempat yang penting di hati semua tamunya.

Pada saat sampai di lokasi, sosok itu dibuat terperangah. Bagaimana tidak? Di dalam peti kemas itu ada ruangan yang benar-benar nyaman untuk ditinggali. Dengan kapasitas satu tempat tidur besar dan satu tempat tidur kecil bisa memuat tiga orang dewasa. Fasilitasnya pun tidak main-main, yaitu TV dengan channel satelit dan kamar mandi yang eksklusif. Untuk mengatasi rasa pengap dan panas karena unsur peti kemas yang serbabesi, diletakkan sebuah AC. Sejuuuk sekali meski sebenarnya juga tidak perlu-perlu amat. Mengapa? Karena lokasi HAU Citumang berada di daerah yang tidak seperti di Pangandaran. Malam itu terasa dingin hingga sosok itu harus tidur menggunakan selimut ditemani suara gemericik air dari Sungai Citumang.

BODY RAFTING TAKTERLUPAKAN KHAS CITUMANG

HAU Citumang Ecolodges sudah dilengkapi area alami yang membuat siapa pun menjadi lupa waktu. Spot foto tersebar di mana saja. Mau yang alami di sisi sungai atau di daerah bendungan dengan air derasnya, silakan saja. Atau di beberapa spot buatan yang tetap tidak meninggalkan sifat alaminya, misalkan saja ayunan besi di dahan pohon yang tergantung pas di atas sungai, di beberapa jamur yang terbuat dari baskom, atau bersandar di dinding peti kemas. Semuanya menarik. Berenang di tepi bendungan juga masih terbilang aman. Atau duduk saja di kursi malas sambil mendengarkan legenda Citumang dengan berbagai versi yang terdengar indah dan menakjubkan.

Selepas sarapan keesokan harinya, sosok itu sudah tidak sabar mencoba aktivitas yang bisa dipesan di HAU Citumang. Dengan menambah biaya Rp150.000 atau bahkan lebih murah lagi dari harga itu kalau rombongannya banyak, maka dia bersama Dedew pun akhirnya kesampaian untuk body rafting. Dia diberi jaket pelampung, lalu berjalan kaki menuju titik awal rafting sekira kurang dari 30 menit. Lamanya adalah asyik berfoto di beberapa tempat yang memang instagramable. Oya, harga itu sudah termasuk makan siang. Asyik kan setelah capek berenang langsung makan siang ala kampung dengan menu nasi liwet dan ikan bakar. Fiuh. Satu hal yang menarik, sebelum membasahkan diri di sungai, sosok itu diminta terlebih dahulu memasukkan kakinya di kolam yang penuh dengan ikan nilam.

Nah lho?! Keterkejutan terjadi. Ikan ini adalah ikan yang biasa digunakan sebagai alat terapi. Dengan nafsunya, mereka langsung menggigiti kulit-kulitnya hingga terasa geli dan sedikit sakit di beberapa bagian. Ikan tersebut konon memakan sel kulit manusia yang mati, namun hati-hati jangan membiarkan kulit yang luka masuk ke dalam air. Pertanyaannya adalah … apa hubungannya dengan Sungai Citumang? Ternyata oh ternyata ikan ini habitatnya memang di sungai tersebut. Jadi, dengan terbiasa digigit-gigit geli di kolam tadi, diharapkan sosok itu tidak kaget kalau saat berenang kakinya tiba-tiba saja digigit oleh ikan nilam tersebut. Hihihihi, seruuu kan? Jadi semakin tidak sabar.

Efek kejuatan lainnya adalah sosok itu ditantang untuk naik ke atas tebing setinggi 7 (tujuh) meter melalui akar pohon yang sudah melekat pada tebing batu. Ini jelas tantangan yang mengasyikkan. Melompat ke dalam air di mulut goa jelas takada duanya. Goa Taringgul yang bagi beberapa warga juga menyebutnya dengan Sanghyang Tikoro adalah goa yang dilalui oleh Sungai Citumang. Dengan hulu yang katanya berasal dari mata air di daerah Banjarsari Gunung, alirannya masuk ke dalam goa dan keluar lagi di tempat yang dijadikan ajang uji mental tersebut. Naiknya mudah, meski harus berhati-hati dengan berpegangan kuat dan mencari pijakan yang ajeg. Namun saat di atas tebing, ada rasa jerih saat melihat ke bawah.

Lutut tiba-tiba saja lemas dan perasaan maju mundur menguasai diri. Alhamdulillah sosok itu mampu melewatinya dengan langsung melompat dan terjun ke dalam air yang dingin. Posisi kaki yang lurus dan tangan memegang kerah jaket pelampung jelas menjadi kunci keamanan agar tubuh tidak terasa sakit. Posisi tubuh yang salah saat menceburkan diri akan membuat beberapa bagian tubuh terasa sakit, dan hal ini terjadi pada beberapa orang. Dan memang, selalu ada yang mau-mundur-maju-mundur-cantik karena takut untuk melompat. Asyik. Berenang di dalam goa juga takkalah asyiknya. Dengan kegelapan yang semakin paripurna, berenang di sana jelas memberikan sensasi luar biasa. Air yang dingin dan suara yang bergema memberikan efek yang tidak terkatakan. Seru bangeeet!

HOW TO GET THERE?

Sungai Citumang memiliki air yang jernih, dimanfaatkan oleh warga setempat untuk pengairan di sawah dan juga kebutuhan sehari-hari. Ada banyak legenda tentang sungai ini. Misalnya saja tentang buaya buntung atau pusat kerajaan gaib. Lalu tentang Cocok Gawul yang dipercaya ada tempat air yang menyumbat air sungai di dekat Jembatan Citumang (berada tepat di samping HAU Citumang) sehingga membentuk semacam kolam yang kedalamannya mencapai 4 meter. Di luar semuanya, sosok itu merasa bahagia dan damai saat ber-body rafting menyusurinya. Pohon-pohon tua yang teduh, melompat dari dua air terjun mini, naik ke pohon lalu melompat lagi ke dalam sungai, dan kalau punya mental besar bisa naik tangga tali ke atas pohon yang tingginya 12 meter lalu melompat ke dalam sungai.

Sosok itu sementara ini belum berani melakukannya. Mungkin lain waktu. Tetapi yang jelas semua itu makin menyempurnakan liburannya pada after weekend di HAU Citumang Ecolodges. Sayang untuk dilewatkan bagi siapa pun yang ingin hidup di alam dan mencoba mengeluarkan adrenalin yang lama dibiarkan mengendap. Untuk menuju ke sana, ambil Jl. Raya Cijulang, dari arah Pangandaran langsung menuju ke barat menuju ke arah Batu Karas atau Green Canyon. Sekira 19 km, tinggal belok ke kanan dengan patokan sebuah mini market bercat biru. Tanyakan saja pada warga di sekitar letak Citumang. Mudah mencarinya dan tidak terlalu jauh. Setelah itu melewati jalan desa yang sudah bagus melewat hamparan sawah yang begitu indah. Menyegarkan.

Oya, kalau ingin menginap di HAU Citumang, rate per peti kemas (istilah pengganti kamar hehehe) adalah Rp750ribu (weekday) atau Rp1juta (weekend) untuk kapasitas tiga orang dewasa. Jelas mengasyikkan kalau mengajak keluarga tercinta. Sementara ini memang baru ada 10 kontainer, yang ke depannya akan ditambah lagi. Handuk dan persabunan sudah disiapkan layaknya hotel berbintang empat. Kalau ingin reservasi dan nanya-nanya dulu, sila hubungi nomor 082116602374. Berminat?[]

Advertisements

6 thoughts on “After Weekend di HAU Citumang

  1. Sepertinya seru nih, tapi klo nggak bisa renang sepertiku, takut juga meski sudah ada pelampung hihi *emak2 penakut πŸ˜€

    >> Beberapa di antara yang ikut juga tidak bisa berenang. Kan ada jaket pelampung jadi aman lah

  2. Tempatnya menyenangkan banget. Cocok buat refreshing bareng keluarga. Tapi kalau membawa anak kecil kudu dijaga nih. Ngeri2 juga kalau main air.
    Makasih sudah berkunjung ke blog saya, Bang Aswi.

    >> Ya, cocok banget buat keluarga.
    Kemana-mana memang kalau bawa anak kecil harus hati2 hehehe

  3. Aku paling suka body rafting. Kalau pas sepi gini seru, tapi sekalinya keluar dari berendam langsung menggigil πŸ˜€

    >> Makanya terus kecipak kecibung biar gak kedinginan, Mas

  4. ikan nilam? saya tahunya yang buat terapi itu garra rufa. Baru tahu.
    Selain instagrammable, kualitas fotonya emang kece sih, saya suka. Tempatnya juga asyik buat sekeluarga, keliahatan aman nyaman.

    >> Wah, malah saya baru tahu ada ikan dengan nama garra rufa hehehe. Tapi memang orang lokal menyebutnya dengan ikan nilam, bukan nilem ya….

  5. tempat yang pantas dibayar mahal, spotnya cantik-cantik, airnya juga bersih ya. Soalnya aku agak fobia air yang agak butek berlumut, tapi di Hau Citumang mah kayanya asik banget. Mudah2an bisa kesana nanti kalau anak-anakku sudah besar

    >> Dibilang mahal juga tidak. Asyiiik … ditunggu ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s