Merayakan Hari Kemerdekaan di Tapal Batas

Merayakan hari Kemerdekaan di tapal batas memang menjadi pengalaman istimewa bagi sosok itu. Pengalaman yang membuka matanya bahwa dunia ini berbatas, meski memang bahwa Bumi itu bulat. Indonesia dengan ribuan pulau dan laut yang begitu luas, ternyata tetaplah ada batasnya. Okelah dia tidak bisa melihat mana batas negara di atas laut, namun saat melihat dengan mata kepala sendiri bahwa daratan Indonesia itu juga berbatas, dia takjub. Pulau Sebatik adalah salah satu pulau yang berbatas itu: sebelah utara sudah masuk ke wilayah Malaysia sedangkan sebelah selatan milik Indonesia. Bahkan ada salah satu rumah di sana yang halaman depannya berada di Indonesia sementara halaman belakangnya berada di Malaysia. Butuh paspor gak ya untuk bisa menyeberanginya?

Keberangkatannya ke ujung utara Indonesia itu juga unik dan takdinyana. Selepas diundang sebagai pembicara di Aula Janaka Purwakarta, dia langsung diajak oleh Pak Fajar Tri Suprapto, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Kemendes PDTT, untuk melihat langsung kehidupan masyarakat desa di Pulau Sebatik. Katanya, “Akan ada ribuan paskibra yang siap mengibarkan bendera merah putih di sana dan bakal memecahkan rekor MURI.” Sosok itu langsung mengiyakan. Selaku blogger yang secara nurani memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan informasi bermanfaat, tentu kesempatan langka itu tidak boleh diabaikan. Harus cepat diambil keputusan.

MENUJU PULAU SEBATIK, KALIMANTAN UTARA

Dia memang pernah ke Jepang, tetapi tidak pernah melihat bagaimana tapal batas yang sebenarnya di daratan. Yang ada, sosok itu terbang dengan pesawat terbang dan tahu-tahu sudah ada di Taiwan. Terbang lagi setelah jalan-jalan gak jelas di Bandara Taoyuan yang luas itu dan lagi-lagi sudah sampai di Bandara Fukuoka, Jepang. Semua berkelebat begitu saja. Pemeriksaan paspor pun dilakukan di bandara. Sesuatu yang jamak terjadi jika berkunjung ke luar negeri. Di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, semua yang jamak itu melebur menjadi hal yang istimewa.

Senin malam (14/8), sosok itu berangkat dengan sangat riweuhnya dari Bandung menuju Bandara Soekarno-Hatta. Dia tidak terlalu mempersiapkannya dengan matang karena serba mendadak. Berangkat naik ojek pada pukul 21:00 dari rumah ke Batununggal sangat berharap dapat tumpangan bus Primajasa pada pukul 22:00. Namun kekecewaanlah yang didapatkannya karena tidak ada keberangkatan pada jam tersebut sementara bus yang berangkat pada pukul 23:00 sudah penuh. Duh! Untunglah petugasnya cekatan dan sigap membantu dengan mengatakan, “Dari Caringin saja, Pak. Kalau mau, nanti saya pesankan untuk keberangkatan jam 11 malam.” Dia langsung menggangguk.

Waktu berkelebat hingga dia pun sampai di Bandara Soetta pada pukul 02:00 dini hari. Lebih cepat dari yang diperkirakan setelah sebelumnya buru-buru naik ojek yang mahal untuk mengantarkannya dari Batununggal ke Caringin. Setelah foto-foto buat pamer di media sosial, sosok itu bertemu dengan rombongan dari Kemendes PDTT alias Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang diwakili oleh Pak Rohdiat. Di belakangnya, rombongan wartawan dari berbagai media juga turut serta. Lega rasanya setelah akhirnya bisa naik pesawat terbang menjelang Subuh.

Satu hal yang juga berkesan dalam perjalanan ini adalah sosok itu naik pesawat Garuda Indonesia Explore Jet jenis Bombardier CRJ1000 Next Gen. Secara fisik ya memang mirip pesawat jet dengan bodi ramping, naiknya pun langsung lewat tangga pesawat yang hanya setinggi satu meter. Dalamnya hanya berisi dua baris kursi dengan masing-masing dua kursi di kanan dan kiri. Bagasinya pun kecil dan atap yang juga rendah. Konon, pesawat ini diluncurkan pada 19 Februari 2007 dengan kapasitas 100 kursi. Dia pun untuk pertama kalinya shalat Subuh di atas pesawat ini yang kecepatannya begitu wushhh dibanding pesawat Garuda lainnya. Sayang saja gak bisa nonton film dan bingung mau ngapain selama 2 jam di udara.

Suasana di Pelabuhan Tengkayu dan Buah Lay

PERJALANAN ASYIK DARI TARAKAN KE SEBATIK

Perjalanan selama dua jam jelas terasa membosankan sehingga yang ada hanya tidur ayam dan melihat pemandangan di jendela orang, tetapi fenomena menyaksikan sunrise dari atas pesawat jelas momen yang takterkatakan. Pukul 07:49 WITA sosok itu sampai di Bandara Juwata, Pulau Tarakan. Inilah pulau di Kalimantan Utara yang bandaranya sudah berlabel internasional, padahal bukan ibukotanya. Gerimis menyambutnya, bersama belasan taksi dengan merek sama di pintu keluar bandara. Sambil menunggu rombongan wartawan lain dari Balikpapan, dia sempat memakan buah Lay, durian mini (hanya sebesar kepalan tangan) khas Kalimantan Utara. Oya, harga makanan/minuman di sini mahal, kopi sachet saja dikenakan tarif Rp15K.

Beres shalat jamak Zuhur-Ashar dan makan sayur rawon, dia bersama rombongan naik taksi menuju Pelabuhan Tengkayu. Uang sewanya terbilang mahal, yaitu Rp100K dengan jarak tempuh sekira 2-3 km saja. Rencananya sosok itu akan naik kapal Sinar Baru Express, kapal kayu berkapasitas 45 orang dengan harga tiket Rp230K per orang. Perjalanan dari Pulau Tarakan ke Pulau Sebatik ditempuh selama 2 jam, jelas melelahkan, namun membuat tidur terasa nyenyak karena melewati laut yang tenang dan berwarna hijau. Warna ini mungkin karena daerah sekelilingnya dipenuhi oleh hutan bakau. Rombongan baru sampai pada pukul 15:00 WITA di Dermaga Batu Desa Sei Pancang. Inilah dermaga yang apa adanya, butuh uluran tangan untuk bisa naik dari kapal ke dermaganya, khawatir jatuh hehehe.

Ciri khas Kalimantara Utara, khususnya di sekitar Pulau Tarakan adalah banyak sungai, hutan bakau, dan pulau-pulau kecil. Takheran kalau daerah ini banyak terpampang foto monyet khasnya yang dijadikan maskot oleh tempat wisata di Ancol, yaitu Bekantan. Dermaga Batu memiliki ciri khas panjang hingga 3 km, bersebelahan dengan Dermaga Posal. Katanya sih sebagai petunjuk batas negara karena di seberang sudah tampak Kota Tawau yang lebih modern, dan sudah masuk wilayah Malaysia. Kalau mau ke sana, jelas harus bawa paspor. Di dermaga inilah yang nantinya akan dijadikan titik utama upacara penaikan bendera merah putih lusa nanti.

Alhamdulillah, sosok itu tidak henti-hentinya bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di Pulau Sebatik. Mayoritas penduduknya berasal dari suku Bugis, terbukti dari perkataan “Iyek” bukan “Iya” yang sering didengarnya. Bupati Nunukan yang cantik jelita dan masih muda, Asmin Laura Hafid, juga katanya berdarah Bugis Bone. Ah, tidak sabar untuk bertemu muka dengannya, kalau ada kesempatan. Beliau baru berusia 31 tahun, lho, dan katanya lahir di Tawau, Malaysia. Tuh, dari namanya saja sudah mirip hehehe. Itu pertanda kalau mereka berdua itu jo … mplang.

REKOR MURI DI PULAU SEBATIK

Sosok itu menjadi saksi bahwa warga Pulau Sebatik layak mendapatkan penghargaan. Berjalan kaki menyusuri dermaganya itu lumayan melelahkan, apalagi saat sinar matahari bersinar begitu terik. Total ada sekira 79 tiang lampu yang akan dijadikan tempat untuk menaikkan bendera di sepanjang dua dermaga itu. Satu tiang ada 15-20 anggota paskibra yang berasal dari kalangan pelajar, warga sipil, organisasi masyarakat setempat, pemerintahan, Polri, dan juga pihak TNI. Bendera utama akan dikibarkan di kapal tongkang yang mengapung di tengah-tengah dermaga, yang nantinya bakal diserahkan oleh Mendes PDTT, Pak Eko Putra Sandjojo.

Merayakan hari Kemerdekaan di tapal batas benar-benar istimewa bagi sosok itu. Akhirnya upacara bendera pada 17 Agustus 2017 di Pulau Sebatik tercatat di Museum Rekor-Dunia Indonesia karena memegang rekor upacara dengan anggota paskibra terbanyak, yaitu ada 1.474 orang dengan 79 bendera. “Ini membuktikan masyarakat perbatasaan juga bisa, mereka bahkan juga memecahkan rekor MURI dengan jumlah pengibar bendera terbanyak di Indonesia,” ujar Pak Eko. “Acara ini tidak hanya memecahkan rekor Indonesia tapi juga dunia,” lanjut Senior Manager MURI, Awan Rahargo, yang juga hadir.

Dia sendiri bersenang-senang dengan mengambil foto dari berbagai sudut. Berlari-lari di tengah dermaga, mencoba berbagai posisi, dan turut serta naik speed boat sehingga bisa menyaksikan semua tiang bendera. Tidak kalah dramatisnya saat dirinya bisa naik ke kapal tongkang dan melihat dari dekat upacara penaikan bendera dilaksanakan dengan hikmat oleh anggota paskibra, Polri, dan TNI, meski pada ruang yang sempit. Bayangkan saja, satu meter di belakang mereka adalah laut. Angin kencang pun memberikan efek drama yang eksotis sehingga bendera berkibar dengan sempurna. Luar biasa.

Pak Eko sendiri mengaku bangga dengan para pemuda yang berada di perbatasan Indonesia Malaysia itu. Mereka akhirnya bisa memiliki prestasi memecahkan rekor MURI setelah sebelumnya sempat gagal saat ingin mengibarkan bendera raksasa. Ini bukti bahwa pemuda di desa juga mempunyai kesempatan yang sama dalam hal prestasi, tidak hanya monopoli pemuda kota. “Saya sangat kagum dan bangga, ternyata anak-anak di Sebatik mampu berprestasi. Artinya desa juga punya kesempatan yang sama untuk berprestasi. Saya juga mau mengucapkan terima kasih kepada TNI dan Polisi yang telah membantu,” ujarnya.[]

Advertisements

One thought on “Merayakan Hari Kemerdekaan di Tapal Batas

  1. Setuju, Bang, harus jadi Blogger yang selalu mengemban amanat menulis yg bermanfaat (*self reminder juga ini..). Barakallahu, semoga kali lain diajak jalan2 ke luar batas, ya Bang hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s