Bukit Pamoyanan Nan Cantik

Bukit Pamoyanan Nan Cantik terus memperelok Jawa Barat. Dunia pariwisata bumi Pasundan makin berkembang. Sosok itu sebagai bagian dari warga Bandung dan Jawa Barat patut berbangga. Pembenahan dan perbaikan terjadi di berbagai sektor, salah satunya adalah di tingkat desa. Meski belakangan ini kabar tidak enak terjadi karena adanya oknum kepala desa yang menyabotase dana desa, namun peran masyarakat luas bisa mencegah hal tersebut. Blogger pun juga tidak ketinggalan. Sebagai orang-orang yang paham dengan dunia tulisan di internet dan menyebarkan informasi bermanfaat plus pamer jalan-jalan, tugas blogger adalah menjaga desa, lho. Caranya ya bisa dibaca tulisan pada link tersebut.

Hari Sabtu kemarin (26/8) sosok itu menjadi saksi bagaimana Bukit Alam Endah Pamoyanan terus berbenah agar menjadi tujuan wisata baru yang menjanjikan. Selepas lebaran tahun ini, makin banyak orang yang berduyun-duyun mendatanginya. Tujuan mereka hanya dua, yaitu menikmati keindahan kota Subang dari ketinggian dan berfoto sendiri (selfie) atau bersama kawan/saudara. Tidak ada yang lebih nikmat dari kedua hal tersebut. Padahal sebelumnya, bukit yang berpunggung rata itu hanya dikenal oleh beberapa kelompok pecinta alam yang suka berkemah. Hingga kemudian para pemuda Desa Kawungluwuk yang berada di bawah payung karang taruna berinisiatif membangun dua menara bambu. Hasilnya fantastis. Diperkirakan ada 2000-an pengunjung yang datang setiap minggunya.

SEJARAH BUKIT ALAM ENDAH PAMOYANAN

Sosok itu suka dengan sejarah. Takheran kalau dia pun mencari tahu bagaimana kisah dari bukit tersebut. Salah satu sumber menyebutkan bahwa bukit tersebut dulu katanya adalah tempat berjemur (moyan) berbagai macam hewan, salah satunya macan (maung). Wajar saja, karena memang tidak ada pepohonan rindang di sana. Dijamin kepanasan kalau berada di sana saat siang hari. Menurut Pak Syafei (45), KaUr Pemerintahan Desa dan Wakil Ketua Kompepar, ada cerita mistis yang berkaitan dengan tempat tersebut. “Pada malam tertentu sering terdengar suara gamelan oleh warga kampung terjauh. Katanya sih sumber suara berasal dari Bukit Pamoyanan,” katanya. Ia pun menunjuk pada satu tempat, “Di sana ada batu besar yang dipeluk oleh akar pohon tua.” Entah apa maksudnya.

Menurut cerita Kang Budiana Yusuf di KotaSubang.com (15/5/2017), penggiat Komunitas Bingkai Fotografi Subang, keindahan Bukit Alam Endah Pamoyanan bisa dinikmati dari malam hingga pagi hari, pas cuaca cerah. Datang saja pada sore atau malam hari, dan pasang tenda di sana. Tenda bisa membawa sendiri atau menyewa pada warga setempat (Rp60 ribu per 4 orang atau Rp30 ribu per 2 orang). Sambil menunggu pagi, ngopi dan ngobrol bersama kawan seperjalanan di depan api unggun akan terasa nikmat. Pemandangan kerlap kerlip lampu nun jauh di perkampungan bawah bukit begitu memanjakan mata. Lewat tengah malam, kabut tipis mulai terbentuk di bawah bukit, lalu secara perlahan menutupi semua perkampungan. Puncaknya, menjelang pagi (sekira pukul lima) kabut tersebut semakin tebal membentuk lautan awan putih. Yang terlihat hanyalah ujung dua buah tower provider di kejauhan.

Pada saat matahari terbit, sinarnya memancarkan warna jingga, membuat sebagian gumpalan-gumpalan awan putih terpapar sinar keemasan. Suasana begitu tenang, hanya suara alam yang terdengar dengan keindahan lukisan yang tersaji di depan mata. Setelah hari terang, barulah terlihat suasana di sekitar Bukit Alam Endah Pamoyanan. Di sebelah barat, terlihat Gunung Canggah yang menjulang. Warga sekitar biasa menyebutnya dengan Gunung Aseupan. Sementara nun jauh di sebelah timur terlihat Gunung Tampomas. Sayangnya sosok itu hanya bisa menyaksikan keindahan Bukit Pamoyanan saat terik, bukan saat malam menjelang subuh. Namun pesonanya tetap tidak berkurang. Mungkin nanti bakal ada yang menemani dirinya sambil menghangatkan tubuh dengan api unggun.

TUGAS BLOGGER ADALAH MENJAGA DESA

Desa Kawungluwuk terus berbenah, khususnya akan potensi wisata yang dimilikinya. Berkenaan dengan itu, pemerintah membantunya dengan memberikan dana yang tidak sedikit. Melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, ada 4 (empat) program prioritas yang harus dikembangkan yaitu Produk Unggulan Desa/Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (PrUDes/PrUKaDes), Badan Usaha Milik Desa/Badan Usaha Bersama Milik Desa (BUMDes), Cekungan Penampung Air (Embung Desa), dan Sarana Olahraga Desa (Raga Desa). Tampaknya Prudes/Prukades lah yang sedang dikembangkan oleh Desa Kawungluwuk. Nah, tentu blogger sebagai bagian dari masyarakat juga bisa terlibat dengan menjaga aliran dana desa tersebut.

Kepala desa Kawungluwuk, Tatang, mengatakan, “Dari dana desa yang masuk, difokuskan untuk pengembangan kawasan wisata yang telah menjadi produk unggulan kami. Sejak bulan Ramadhan hingga saat ini, kami sudah mulai melakukan konsep penataan untuk kawasan Bukit Pamoyanan dengan biaya yang berasal dari dana desa,” katanya. Besaran dana desa yang digelontorkan untuk mengembangkan Bukit Pamoyanan adalah 300 juta lebih dari 800 jutaan untuk akses jalan dan kantor sekretariat serta MCK. “Sementara, MCK sudah selesai dibangun. Akses jalan sudah diaspal sepanjang 225 meter. Ke depan, akan diperpanjang jalan aksesnya dan masih banyak lagi yang perlu ditata di kawasan Bukit Pamoyanan ini,” lanjut Tatang.

Menurut warga setempat, dahulu tempat ini juga sudah pernah ditata termasuk dibangunnya fasilitas MCK. Namun kemudian terbengkalai karena tidak ada yang mengelola. Saat ini dengan menggeliatnya pariwisata di Subang, tempat ini akan dikelola kembali oleh Karang Taruna setempat. Tatang berharap, dengan ditentukannya Bukit Pamoyanan sebagai kawasan wisata, bisa menambah pendapatan asli desa dan membantu mensejahterakan masyarakat desa. Aksesnya pun sudah begitu mudah. Dari Jl Cagak, melewati Tugu Nanas ke arah Wado (Sumedang), masuk ke Jl. Raya Kasomalang melewati Pabrik Aqua, Alun-alun Cisalak, lanjut ke Jl. Raya Tanjungsiang. Nah, sebelum Kantor Desa Kawungluwuk belok ke kanan atau setelah SPBU Ganghui. Jalan sejauh 2K akan sampai di gerbang, kemudian 1K lagi untuk sampai puncak.

Dan terakhir, perlu perjuangan untuk berjalan nanjak 45 derajat sekira 200-300 meter sebelum finish dan leha-leha. Jangan khawatir dengan masalah perut keroncongan karena ada banyak warung yang jualan. Mulai dari goreng-gorengan hingga sekadar ngopi atau makan mie rebus. Nikmatlah. Dan sosok itu kembali lagi (meski panas-panasan) menaiki jembatan bambu di atas bukit dan menikmati pemandangan kota Subang. Bambu yang dirangkai menyerupai gardu pandang dan jembatan inilah, menjadi dua spot andalan para pengunjung untuk berfoto.[]

Advertisements

4 thoughts on “Bukit Pamoyanan Nan Cantik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s