Tour de Sabang-Jakarta 3000K

Lelahnya tidak jauh berbeda dengan keletihan para pesepeda. Selama di jalan, dia harus memikirkan angle dan background foto sementara pesepeda tidak boleh terganggu. Ya, pekerjaan #TravelBlogger kali ini begitu berat. Tidak mudah menjalankannya.

Minggu pagi, 15 Oktober 2017, sosok itu telah bersiap diri di depan Asrama Haji Banda Aceh. Lima sepeda sudah dinaikkan ke atas mobil, sisanya dinaiki oleh pemiliknya masing-masing (katanya mau diboseh terlebih dahulu mampir ke Museum Tsunami). Dia menarik napas panjang. Tanpa disadari dirinya sudah berada di Tanah Rencong selama 3 (tiga) hari. Padahal baru kemarin dia melakukan perjalanan 16 jam dari Bandung ke Pulau Weh. Mulai dari naik Bus AKAP, ojek online, pesawat, kapal ferry ekspres, dan bus jemputan. Akan tetapi dia begitu menikmati setiap momen yang dijalaninya karena itulah petualangan dan kehidupan yang dipilihnya. Setiap perjalanan selalu menyisakan kenangan takterlupakan, dan kali ini juga begitu.

Baca juga:
Menuju Indonesia Bersepeda
Bersepeda Bugarkan Jantung

Pendaratan pesawat yang agak terganggu oleh angin kencang di Bandara Sultan Iskandar Muda, sehingga meski akhirnya berhasil mendarat toh ketegangan akibat turbulensi itu masih terasa. Begitupun saat menaiki kapal Express Bahari 2F dari Pelabuhan Ulee Lheue (Banda Aceh) ke Pelabuhan Balohan (Sabang), cuaca masih menangis dengan angin wush-wush. Hingga akhirnya bisa tenang saat menunaikan Shalat Jumat di Masjid Agung Babussalam, sampai terbawa mimpi. Setelah rapat teknis berjam-jam, kemudian sosok itu disuguhkan trek sepeda yang lumayan yahud saat menuju penginapan. Dia beristirahat di The Pade Dive Resort, Jl. Balik Gunung, Gampong Iboih, Pulau Weh. Di pantainya, ada sebuah kapal kargo berbendera Indonesia yang kandas. Pataya III terdampar pada 11/8/2016 menjelang subuh. Katanya kapal tersebut diseret arus besar dan didorong angin muson saat berangkat dari Belawan ke Padang.

Dia menarik napas panjang lagi. Perjalanan seru menemani para pesepeda dari Titik Nol Kilometer di Sabang hingga Banda Aceh masih teringat jelas di otaknya. Dan kini dia harus menuju Rumah Sakit Kesehatan Daerah Militer (Kesdam) Iskandar Muda sebagai titik awal hari kedua menuju Calang. Ya, dia siap menemani kawan-kawan pesepeda mulai dari Banda Aceh menuju Calang, Meulaboh, Subulussalam, Kabanjahe, dan finish di Tebing Tinggi. Ini dalam rangka Tour de Sabang-Jakarta 3000K #IndonesiaSehat yang diadakan oleh Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) dengan klub gowes Komunitas Kesehatan Indonesia (Koseindo). Etape Sabang-Tebing Tinggi akan menempuh jarak 935,7 km selama seminggu (14-20 Oktober 2017).

HARI PERTAMA SABANG – BANDA ACEH

Tidak ada yang tahu bagaimana degup jantungnya saat dirinya terpilih untuk event ini, saat pemberangkatan, hingga perjalanan menuju Banda Aceh dan Pulau Weh. Ada perasaan tidak percaya dan suara hati yang terus saja bertanya, “Apakah dia mampu menjalankan misi ini?” Hingga akhirnya kehadiran seorang kawan bernama Mas Anjar yang menemani di awal perjalanan membuat hatinya sedikit tenang. Ya, tempat baru dan orang-orang baru memang selalu membuat dirinya menjadi serba salah. Obrolan ringan dan sederhana semakin memantapkan diri sosok itu untuk memberikan yang terbaik. Terpaksa menginap di Bandara Halim Perdanakusumah seolah-olah menjadi bumbu penyedap dari perjalanan panjangnya yang begitu eksotis.

Bumi Swarnadwipa paling ujung adalah mimpinya. Dia entah kapan sudah berharap sangat untuk dapat menjejakkan kakinya dan menjelajah setiap jengkal tanahnya, mencoba meresapi keindahan alam dan budayanya yang terus bergelora di pikirannya. Alhamdulillah mimpi itu terwujud. Meski dalam waktu yang luar biasa menyejarah, 16 jam perjalanan yang menyenangkan dilewati untuk mengantarkan dirinya dari Bandung menuju Pulau Weh. Kota yang ada dalam lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” berhasil disinggahinya. Momen shalat Jumat di Masjid Agung Babussalam di pulau vulkanik paling ujung itu adalah momen terindah dan khusyuk yang sulit dihilangkan dari ingatan. Begitu pula saat dirinya menyaksikan sunset di tepi pantai depan The Pade Dive Resort.

Tugu Titik Nol Kilometer adalah awalnya. Di sanalah Wakil Walikota Sabang, Drs. Suradji Yunus, mengibaskan bendera start pada hari Sabtu (14/10) itu. Beliau merasa bangga bahwa di tugu tersebut akhirnya sebuah acara nasional digelar. Beliau mengucapkan terima kasih dan berharap akan timbul kesadaran untuk hidup sehat bagi masyarakat Sabang. Sementara itu, Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, dr. Anung Sugiantono, M.Kes, mengatakan bahwa tour sepeda ini contoh implementasi nyata dari Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2016 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Sebanyak 12 orang tim inti (termasuk Ketua Panita Tour Sabang-Jakarta, Kol. DR. dr. Sutrisno, SH. MARS.) dan puluhan pegowes pendukung mengawali group etape A Sabang – Tebing Tinggi akan menempuh sebanyak tujuh etape sejauh 935,7 kilometer.

“Tim inti merupakan anggota Komunitas Kesehatan Indonesia (Koseindo) yang pengalaman menggowes ribuan kilometer. Mereka bukan hanya Duta Koseindo, tetapi Duta Kesehatan yang mengkampanyekan program kesehatan,” ujar Ketua Umum Koseindo – IndoHCF, Brigjen TNI (Purn.) Dr. dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS. yang turut melepas peserta. Beliau menjelaskan bahwa selain etape A ini, Tour de Sabang-Jakarta 3000K juga akan ada etape B (Tebing Tinggi – Jambi) dan etape C (Jambi – Jakarta) yang total perjalanannya akan diselesaikan dalam waktu sekitar 3-4 minggu. Tim A direncanakan akan singgah ke beberapa puskesmas dan rumah sakit sebagai titik perhentian, diantaranya RS Lilypori Sabang dan RS Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh pada hari pertama ini.

Baca deh:
Ngaboseh di IDR 2014
Menjadi Marshal Pelari Bandung-Jakarta

Benar saja, jalur naik turun yang lumayan ekstrem kemiringannya siap menghadang para peserta. Baru start langsung berhadapan dengan tanjakan yang benar-benar menguras banyak energi/emosi. Untunglah ada doa di awal perjalanan sebagai bagian takterlupakan sebelum drama-drama yang terjadi kemudian: tanjakan edan meski sepeda sudah pakai tenaga NGOS, rantai putus, hingga belokan tajam. Sosok itu sendiri begitu bersemangat mengejar atau menunggu momen para peserta menyelesaikan perjuangannya dengan menggunakan motor. Alam Sabang dengan jalur naik-turun itu jelas unik dan indah karena konturnya memang pegunungan dimana puncak tertinggi pulau ini adalah sebuah gunung berapi fumarolik dengan tinggi 617 meter. Salah satu tempat pariwisata yang dilewati adalah Danau Aneuklaot. Alhamdulillah semua dilalui dengan baik oleh peserta gowes. Jarak 27,5 km dari Tugu Titik Nol Kilometer ke RSAL Lilipory ditempuh dalam waktu 1’5-2 jam.

MELEBUR DENGAN TARIAN KHAS ACEH

Satu hal yang tidak boleh dilewatkan dari masyarakat Aceh adalah budayanya. Amat sayang kalau perjalanan ke Serambi Mekah itu tidak menceritakan budayanya yang khas dan tentu saja unik. Begitu pula dengan gelaran Tour de Sabang-Jakarta 3000K ini. Paling tidak itulah yang ingin diperlihatkan oleh warga Aceh saat ada pendatang sehingga peluang dakwah dan memperkenalkan budayanya tersampaikan dengan baik. Pada saat pembukaan dan pelepasan peserta gowes di Tugu Titik Nol Kilometer, rombongan mahasiswa kesehatan setempat juga sudah mempersiapkan Tari Rateb Meuseukat dengan iringan Rapa’i dan Geundrang sebagai musik tradisional.

Tarian ini adalah salah satu metode dakwah pada masanya. Syair-syair yang dilantunkan adalah syair dakwah dalam bahasa Aceh, dengan gerakan tangan, bahu, dan kepala sebagai kedinamisan yang menarik untuk disaksikan. Kecantikan dan gemulai gerakan tubuh 8 (delapan) penari wanita seolah-oleh menghipnotis semua orang di situ, termasuk sosok itu. Sepinta memang mirip dengan Tari Saman tetapi gerakannya sedikit berbeda. Sungguh beruntung dia dapat menyaksikan tarian tersebut. Begitu pula saat finish di RSAL Lilypori Sabang, tiga orang wanita sudah siap menyambut dengan tarian lain. Itulah tarian selamat datang khas Aceh.

Sumber foto: Menatap Aceh dot com

Tari Ranup Lampuan memang sering diselenggarakan pada acara penerimaan tamu-tamu penting di Aceh. Tujuannya adalah untuk menghormati kedatangan para tamu. Pada pesta pernikahan, tarian ini juga sering ditampilkan untuk menghormati mempelai pria. Hanya sayang sekali musik pengiringnya berasal dari rekaman, tentu akan lebih menarik jika musik seurunee kale bisa ditampilkan secara live. Rombongan pesepeda yang sudah sampai disambut oleh tiga orang penari wanita yang masing-masing memegang cerana yang di dalamnya berisi ranub (sirih). Ranub itulah yang kemudian diberikan kepada para goweser sebagai bentuk penghormatan. Makna yang begitu dalam.

Kedua tarian itu tentu memberikan semangat bagi peserta Tour de Sabang-Jakarta 3000K. Beres makan siang dan bersenda gurau, perjalanan dilanjutkan dengan rute yang tidak terlalu susah. Lebih banyak turunan sambil menikmati lalu lintas Sabang yaang semakin padat karena makin mendekati Pelabuhan Balohan. Target pesepeda pun tercapai dengan baik, berhasil mencapai pelabuhan dan tidak tertinggal kapal lambat sehingga bisa menyeberang ke Banda Aceh. Amat berbeda dengan tim pendukung yang menyusul dengan kapal cepat, sehingga mendarat di Pelabuhan Ulee Lheue dengan waktu yang hampir bersamaan.

Darah sosok itu mendidih. Bukan kepanasan, tapi gatel karena melihat asyiknya para pesepeda membabat tanjakan dan turunan. Begitu indah. Tugasnya memang mendokumentasikan kegiatan touring ini tetapi darah gowesernya terus berontak. Beruntung, dari Pelabuhan Ulee Lheue dia berkesempatan ngaboseh hingga Masjid Raya Baiturrahman menggunakan sepeda Ketua Umum Koseindo. Aseli, sepedanya enakeun. Paling tidak sosok itu tercapai keinginannya untuk ngaboseh di Aceh meski hanya dari pelabuhan ke masjid raya. Oya, di RSAL Lilypori pihak Kemenkes menyerahkan secara simbolis paket Germas berisi informasi dan edukasi hidup sehat. Tour Sabang-Jakarta 3000K ini memang bertujuan mengampanyekan hidup sehat sekaligus memeriahkan Hari Kesehatan Nasional ke-53.

Benar, tour sepeda dengan pesan Indonesia Sehat ini menggandeng banyak sekali pemangku kepentingan kesehatan baik di daerah maupun pusat. Diantaranya adalah Kementerian Kesehatan RI, BKKBN, BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan TNI (AD, AL) & POLRI, RS TNI, RSUD, RS Swasta, Pemda/Dinas Kesehatan setempat serta beberapa Kodam dan Polda. Pagi itu di RS Kesdam Iskandar Muda, juga diresmikan pengukuhan Klub Gowes KOSEINDO Banda Aceh sekaligus acara funbike. IndoHCF selaku panitia utama sendiri merupakan organisasi nirlaba independen sebagai bentuk kontribusi swasta dalam PPP (Public Private Partnership) guna mendukung pelbagai program kesehatan di Indonesia. Organisasi ini adalah perwujudan corporate social responsibility dari PT IDS Medical Systems Indonesia, sebuah korporasi penyedia peralatan dan perlengkapan kesehatan terkemuka di Asia.[]

Advertisements

4 thoughts on “Tour de Sabang-Jakarta 3000K

  1. keren sekali ya bisa ikutan acara ini, dan itu foto senja harinay keren

    >> Alhamdulillah bisa terlibat di acara yang keren ini ^_^
    Hatur nuhun

  2. Kang Aswi kapan lagi ada event seperti ini, aku pengen ikutan hhh.
    Tapi kayaknya aku harus resign kerja dulu huhu

    >> Target selanjutnya kata pihak Koseindo adalah Banda Aceh – Merauke atau Jakarta – Merauke. Menarik ya?
    Iya hahaha … harus resign biar tenang di perjalanan (seperti yang saya lakukan hehehe)

  3. Alhamdulillah fotonya keren2. Saya lho yang ngasih ijin pakai sepeda pak Ketua Koseindo saat di Pelabuhan Banda Aceh.. dan kita sempat gowes “fun” bareng ya… he he…

    >> Iya, Bu Lia, saya masih ingat. Makanya saya menunggu kepastian diperbolehkan menaikinya. Hatur nuhun pisaaan ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s