Bersepeda dari Tapaktuan ke Tebing Tinggi

Perjuangan tidak pernah berhenti.
Setiap perjalanan selalu menyisakan pengalaman yang berbeda.
Meski rute dan treknya rada mirip,
selalu saja ada kejadian unik dan tentu saja pemandangan berbeda.

Sosok itu menarik napas panjang lagi. Ingatannya dipertajam tentang apa yang sudah dilakukan selama seminggu menjelajah Bumi Serambi Mekah hingga ke Sumatera Utara. Momen-momen indah bisa meliuk-liuk di sepanjang jalan Lintas Barat Sumatera adalah kebahagiaan takterkira. Meski tidak bisa ngagowes bersama para peserta Tour de Sabang-Jakarta 3000K, tetapi menyaksikan mereka dan turut membantu tim logistik plus merekam gambar, seolah-olah dirinya juga turut bersepeda. Frekuensi emosinya sama. Kalau ada yang lambat, turut menjaga. Kalau ada yang bermasalah di jalan, langsung berhenti dan mencari tahu ada apa. Yang pasti, dia berusaha agar tidak ada yang tertinggal dan finish bersama-sama.

Baca dulu deh tulisan sebelumnya:
Tour de Sabang-Jakarta 3000K
Bersepeda dari Banda Aceh ke Tapaktuan

HARI KELIMA DARI TAPAKTUAN KE SUBULUSSALAM

Ya, perjuangan tidak pernah berhenti, dan setiap perjalanan selalu menyisakan pengalaman yang berbeda. Bagi sosok itu, inilah tantangan dan sekaligus rasa kebahagiaan yang sebenarnya. Perasaannya seolah menyatu dengan perasaan para pesepeda yang terus berjuang menyelesaikan target per harinya. Setelah dilepas di RSUD dr. H. Yuliddin Away, Tapaktuan, jalan menanjak langsung hadir di hadapan. Meski demikian, keindahan lingkungan sekitar, terutama pantai di sebelah kanan memberikan kebahagiaan tersendiri. Untuk itulah para pesepeda menyempatkan diri untuk mampir di Bukit Hatta. Mengabadikan momen yang tidak boleh disiakan.

Bukit Hatta terletak di atas sebuah bukit yang langsung berhadapan dengan laut. Inilah jejak proklamator Bung Hatta pada masa awal-awal Indonesia merdeka berupa gubuk kecil yang biasa disebut dengan Jambo Hatta. Lokasinya ya sekira 8 km dari Tapaktuan, ibukota Aceh Selatan. Meskipun letaknya di atas bukit, jambo tersebut dibangun menyerupai rumah panggung. Secara keseluruhan, gubuk itu terbuat dari kayu yang di beberapa bagian tampak terkelupas. Arsitekturnya memiliki gaya klasik khas Aceh Selatan. Pesepeda dan juga tim pendukung tampak tidak mau melepaskan momen langka untuk berfoto di Bukit Hatta. Setelahnya adalah jalan berkelak-kelok di sisi tebing yang mengasyikkan karena bisa menyaksikan Samudera Hindia dengan ombak besar yang pecah di bebatuan.

Ada tiga puskesmas yang dilewati pada hari Rabu (18/10/2017) itu, yaitu Puskesmas Plus Kluet Utara (setelah 2 jam bersepeda dari titik start), Puskesmas Krueng Luas (setelah 3,5 jam bersepeda dari puskesmas pertama), dan Puskesmas Sultan Daulat (2 jam kemudian). Selepas Puskesmas Plus Kluet Utara, perjalanan cenderung lurus tetapi terpaan sinar matahari begitu terik sehingga memaksa pesepeda untuk beristirahat sejenak di Pantai Bakongan Timur. Ini pantai yang masih asri dan bersih dengan dua pulau takberpenghuni terlihat di kejauhan. Ah, andai saja dalam waktu yang santai, mungkin sosok itu bakal meminta nelayan untuk menyeberangkannya ke sana. Pesepeda menikmati makan siangnya di tepi pantai dan shalat wajib di atas rerumputan, sambil disaksikan kerbau, kambing, dan ayam.

Matahari yang begitu terik dan angin yang berhembus perlahan, menggoda para pesepeda untuk memejamkan mata di bawah bayang-bayang pohon. Apalagi perut baru diisi oleh nasi dan buah-buahan. Namun perjuangan belum selesai karena tempat tujuan masih jauh. Harus dipaksa beres-beres dan melanjutkan perjalanan. Dan kembali … setelah trek yang lurus dan membosankan, trek menanjak dan menurun kembali menghadang di area perkebunan sawit milik PT Asdal. Bayangkan saja fisik pesepeda yang sudah lima hari, terus dihadapkan pada tanjakan tanpa akhir. Emosi bisa saja tersulut oleh ‘hanya sekadar’ salah bicara. Semangat harus terus dipompakan oleh tim pendukung. Maghrib pun tiba saat rombongan sampai di Puskesmas Sultan Daulat. Bagi sebagian pesepeda, ini adalah oase karena nantinya langsung berhadapan dengan tanjakan dengan kondisi sudah gelap. Luar biasa.

Sosok itu sendiri jadi tegang karena tugasnya pun otomatis harus mendampingi mereka. Takjarang dia harus turun dan menemani pesepeda berjalan kaki (TTB) karena sudah taksanggup lagi ngaboseh. Salah satu pesepeda yang harus ditemani adalah Pak Leo. Semangatnya luar biasa. Beliau tidak mau di-loading. Otomatis dia harus menemaninya agar semangatnya tidak kendor. Pada akhirnya rombongan Etape A, pada hari kelima, berhasil finish di RSUD Kota Subulussalam pada pukul 21:25. Ini adalah kebahagiaan taktergantikan karena itulah bukti bahwa hari itu target telah tercapai dengan total jarak tempuh adalah 166.3 km. Subulussalam adalah kota terakhir di Aceh Selatan karena inilah titik perbatasan dengan Sumatera Utara. Meski begitu, panitia lokal begitu hebat karena menyediakan penginapan di Hotel Hermes One dan juga upacara Peusijuek saat rombongan baru sampai di RSUD Kota Subulussalam.

HARI KEENAM DARI SUBULUSSALAM KE KABANJAHE

Upacara Peusijuek adalah sebuah tradisi peninggalan sejak zaman dahulu di Aceh. Jadi, peserta gowes yang didudukkan di bangku paling depan disiram dengan menggunakan beras dan air. Yang menyiramkannya adalah orang-orang penting di Subulussalam, dari walikota, direktur rumah sakit, hingga tokoh daerah. Nah, “sijuek” itu artinya dingin, jika digabung dengan awalan “peu” artinya adalah pendingin atau membuat sesuatu menjadi dingin. Tujuannya adalah untuk memberkati atau mendoakan orang yang akan di-peusijuek. Bahan-bahan yang digunakan ada dedaunan/rerumputan sebagai lambang keharmonisan, keindahan, dan kerukunan; yang diikat menjadi satu sebagai lambang dari kekuatan. Ada beras dan padi sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan semangat. Ada air dan tepung sebagai lambang kesabaran dan ketenangan. Plus juga ada nasi ketan sebagai lambang persaudaraan.

Pada hari keenam, tantangan terberat adalah tanjakan dan hutan. Rute ini memang melewati pegunungan yang merupakan bagian dari Bukit Barisan. Setelah membuang keringat yang luar biasa plus jalan yang tidak terlalu bagus, peserta Tour de Sabang-Jakarta 3000K akhirnya sampai juga di perbatasan Aceh-Sumut, tepatnya antara Subulussalam dan Pakpak Barat. Di sana terdapat patung Gajah Putih yang siap menerima dan melepas pesepeda melanjutkan turingnya ke Sumatera Utara. Panas menyengat dan tanjakan yang takpernah berhenti, hingga akhirnya rombongan berhenti sejenak di Pos Lantas Sibande sekalian makan siang dan shalat. Di sini ada mamak-mamak yang nyereh sambil jualan gambir (Rp2.500/butir).

Dan perjuangan mereka berlanjut di Bukit Barisan. Jalan rusak, takada turunan, hingga akhirnya dilampiaskan dengan berdansa diiringi lagu Maumere di bawah Pohon Beringan. Kebersamaan takterkatakan demi menggenjot semangat. Hingga akhirnya bisa melewati Puskesmas Sukarami dan Batang Beruh. Di Puskesmas Sukarami, tim pendukung (logistik dan kesehatan) yang terus mengiringi dari Banda Aceh akhirnya memohon pamit. Keharuan merebak. Para pesepeda merasa kehilangan dr. Resty yang begitu baik (dan cantik #ehm), sementara tim pendukung dari Sumatera Utara telah siap menggantikan. Ya, perjalanan yang berat, meski hanya beberapa hari, tampaknya telah menjadikan semua personel dalam rombongan Tour de Sabang-Jakarta 3000K Etape A ini menjadi satu keluarga. Sosok itu begitu bahagia menjadi bagian dari keluarga besar itu.

Rute Subulussalam – Kabanjahe adalah medan yang berat, meski belum sampai Medan. Waktu pun tampak takterkejar dan energi sudah semakin habis. Rombongan pesepeda akhirnya dipecah menjadi dua. Yang kecepatannya tinggi langsung menuju RSUD Kabanjahe diiringi Patwal. Yang agak lambat mampir lebih dahulu ke Puskesmas Batang Beruh untuk menyerahkan paket GERMAS. Setelah Bukit Barisan, turunan pun dianggap bonus oleh Gus Ariyanto (pesepeda Aceh) yang lebih dahulu sampai di RSUD Kabanjahe pada pukul 20:00. Sementara yang lain rupanya tertinggal. Dingin menusuk dan pesepeda yang tertinggal terpaksa di-loading karena hari sudah gelap dan hawa dingin yang tidak bersahabat.

HARI KETUJUH DARI KABANJAHE KE TEBING TINGGI

Pada pagi harinya, kawan-kawan pesepeda bercerita tentang serunya trek pada hari Kamis. Kecuali Kang Gus, semua peserta terpaksa di-loading, namun tidak berkurang bahagianya karena disambut oleh panitia lokal dengan menyantap makan malam dengan menu makanan tradisional dan seafood. Luar biasa. Bahkan, setelahnya langsung dijamu dengan menginap di Hotel Sibayak Berastagi, sementara di sana telah ada Pak Trisno yang siap kembali bersepeda. Start tidak dimulai dari RSUD Kabanjahe, tetapi langsung dari Puskesmas Berastagi. Jumat (20/10/2017) adalah trek bonus karena berupa turunan yang panjang dari Berastagi hingga Medan. Namun turunan panjang dan berkelak-kelok itu ternyata tidak memberikan kenyamanan karena lalu-lintas yang terbilang ‘ngeri’. Kata mereka, “Ini, Medan, Bung!” Mayoritas pengendara tidak mau bersabar dan memilih ‘berusaha’ membalap sehingga membahayakan pesepeda.

Meski demikian, pemandangan yang indah terlihat begitu memesona karena Berastagi berada di ketinggian yang hampir sama dengan Lembang. Amat sulit bagi sosok itu untuk memotret para peserta. Dia tidak bisa membalap peserta karena jalan yang sempit, kelokan yang tajam, dan pengendara lain yang sulit diantisipasi. Rombongan akhirnya sampai di Puskesmas Pancur Batu untuk memberikan tanda mata berupa bingkisan program GERMAS dan paket lainnya. Budaya Batak makin terasa di sini meski rasa itu sudah dirasakan setelah Subulussalam. Kain Ulos dan kopi Sidikalang menjadi oleh-oleh berharga bagi peserta gowes. Hal itu sudah dirasakan para peserta saat mampir di Puskesmas Sukarami dan Batang Beruh. Horas, Bah! Mejuah-juah.

Rasa haru dirasakan oleh semua rombongan termasuk sosok itu saat memasuki Medan. Alhamdulillah perjuangan hampir selesai meski harus berhadapan dengan teriknya panas sang mentari plus jalanan yang macet luar biasa dan ucapan salam dari beberapa pengendara kendaraan bermotor yang ‘ugal-ugalan’. Wuih! Jalur kota Medan terbilang sebagai jalur penyiksaan. Pesepeda sempat mampir ke RSUP H. Adam Malik untuk bertemu dengan pesepeda lokal yang siap menyambut. Lalu dilanjutkan ke Puskesmas Plus Perbaungan dan bertemu dengan rombongan Pak Pri (plus bertemu kembali dengan panitia inti dari Jakarta). Shalat Jumat di Masjid Ar-Rasyid jelas memberikan ketenangan tersendiri, yang berada tepat di samping puskesmas. Beres makan siang dan bersendagurau, pesepeda Etape A kembali berangkat. Semua bahagia dan semua bersemangat kembali. Perjalanan panjang dan panas seolah takdirasakan dalam perjalanan ke Tebing Tinggi. Ini rute terakhir sehingga Etape A pun dianggap selesai saat finish di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane pada pukul 15:30. Alhamdulillah.[]

NB: Sosok itu merasa bukan tujuh hari menemani para pesepeda Tour de Sabang-Jakarta 3000K khusus untuk kelompok Etape A dari Sabang hingga ke Tebing Tinggi. Ia merasa sudah berminggu-minggu melakukan perjalanan itu. Keluarga baru tercipta. Ada yang sudah pulang kembali ke Aceh, dan ada yang baru kenal di Medan. Jelas ada keharuan saat berada di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane. Di satu sisi dia merasa bahagia karena kawan-kawannya telah berhasil menyelesaikan Etape A yang berjarak total hampir 1000K, tetapi di sisi lain dia bersedih karena harus berpisah. Ya, dia harus meninggalkan Medan menuju Bandung kembali. Beberapa pesepeda juga harus kembali ke Makassar, ke Jakarta, dan ke Malang. Sisanya kembali meneruskan di Etape B. Esok paginya, sebelum pulang ke Bandung, dia pergi ke RS Hermina Medan untuk menjadi saksi mata peresmian pembentukan komunitas gowes Koseindo Medan. Tabik!

Advertisements

10 thoughts on “Bersepeda dari Tapaktuan ke Tebing Tinggi

  1. Tq P Aswi..atas pendampingan dan pelbagai tulisannya… šŸ‘šŸ‘šŸ‘šŸ‘šŸ‘šŸ‘
    smg tetap bersedia kerja sama dg Koseindo…

    >> Sama-sama, Pak. Semoga berkenan.
    Insya Allah SIAP!

  2. Wow! Keren banget gowes dari Tapaktuan Tebing Tinggi…Bacanya terkagum-kagum sambil bayangin rutenya. Karena saya pernah beberapa tahun tinggal di Langkat, jadi familiar dengan nama kota dalam cerita…Saluut, Mas!

    Btw, blognya ketjee…! saya sukaa..saya sukaa:)

    >> Hatur nuhun ya sudah mampir ^_^

  3. wah perjalanan pakai sepeda yang keren dg melewati alam yang asyik juga

    >> Iya, worth it. Capek tapi puasss!

  4. Bang Aswi, walau pun kita bertemu hanya sebentar tp sy senang bisa mengenal penulis yang menjiwai perjalanannya dg amat baik. Terus berkarya agar semua tahu indahnya Indonesia dan guyubnya masyarakat kita… Terima kasih atas nama Koseindo dan teman-teman kesehatan . Lia GP

    >> Iya, Bu Lia. Saya pun senang sekali dapat bertemu dengan Bu Lia dan kawan-kawan. Insya Allah kita dapat berjumpa lagi di lain acara. Hatur nuhun atas kesempatannya….

  5. Saya baru follow blog ini, mas.. Salam kenal… kyaknya benar2 seru ya bila capek pun tidak terasa kalau sama2.. šŸ˜€

    >> Iya, secapek apapun kalau memang hobi dan seneng ya asyik-asyik aja hehehe

  6. Kaban Jahe, pernah nulis dan nginput nama daerah itu, huhuuhuu masa laluh. Adekku sekarang juga seneng ikut komunitas sepeda sampai ngerakit sepeda buat orderan temen-temennya

    >> Masa lalu yang indah ya, Teh?
    Wah, hobi yang menghasilkan tuh…

  7. Asyik dan seru pasti ya, sambil melihat pemandangan alam yang menyejukan. Aku sebatas pesepeda dalam kota atau dalam desa šŸ™‚

    >> Di manapun tempatnya yang penting enjoy bersepeda, Teh ^_^

  8. semangat nya bang aswi ruar biasa ini sepedaan segitu jauhnya, aku yg running seminggu sekali masih suka males-malesan *sedih*
    berhubung stay di jember, kegiatan sepedaan gini jadi inget tour de ijen yang diadain di banyuwangi

    >> Dinikmati aja, Mbak.
    Alon-alon asal klakon, lama2 keasyikan ngagowes ya jadi jauh juga hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s