7 Tips Membuka Warung

Ceu Jutek lagi jaga warung. Seperti biasa, dia asyik main hape. Jajang, pemuda kampung sebelah datang, lalu celingukan. Ceu Jutek tahu ada yang datang. Dia melihat sebentar. “Ya?” katanya. Jajang membuka mulut, “Anu … eee.” Dia diam, menggaruk-garuk kepalanya. “Eh, gak jadi.” Lalu pergi meninggalkan warung Ceu Jutek. Sementara itu Mpok Murse lagi membersihkan dagangan warungnya dengan kemoceng. Warungnya gak terlalu jauh dari milik Ceu Jutek. Jajang ternyata datang ke warungnya, celingukan.

Mpok Murse tersenyum, “Mangga, Jang. Bade meser naon?” Jajang ikut tersenyum, “Ini, Mpok, mie goreng sambal matah.” Mpok Murse segera mengambil barang tersebut, lalu menyerahkannya. “Jang, Mpok mah kalau makan mie goreng resep pisan ngangge ndok. Raosss pisan. Udah gitu Mpok mah kudu ngangge sambel bangkok. Rasanya … uhhh edunnn lah.” Wajah Jajang sumringah, “Serius, Mpok?” Mpok Murse mengangguk. Taklama, Jajang keluar dari warung sambil membawa keresek berisi mie goreng, telur, dan sambal bangkok. “Hatur nuhun ya, Jang!” teriak Mpok Murse.

Sebelumnya baca ini dulu ya….
Berbagi Berkah Ala AMITRA
Kebhinekaan di Mata Blogger

Sosok itu tersenyum. Kurang lebih seperti itulah Kang Yogie memberikan ilustrasi bagaimana pelayanan pemilik warung yang begitu berbeda. Meski warungnya memiliki produk yang sama, tetapi hasilnya berbeda karena di sana ada unsur “pelayanan” yang tidak boleh dilupakan. Dia jadi paham mengapa Kang Yogie memulai acara dengan meneriakkan slogan, “Selalu ceria di mana saja. Ting!” Dan disambut oleh tertawaan para peserta Pelatihan Manajemen Ritel di Gudang Alfamart Bandung 2. Ilmu yang bermanfaat di hari yang barokah. Beruntung sekali dia bersama 9 (sembilan) #BloggerBDG lainnya bisa hadir pada hari Jumat (24/11/2017) itu di Jl. Nanjung.

Khidmat menyanyikan lagu “Indonesia Raya” sebelum memulai acara

TRAINING MANAGEMENT RITEL

Training Management Ritel for UMKM yang diselenggarakan oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk cabang Bandung 2 ini benar-benar mengarah pada sasaran. Ada sekira 30 peserta yang diundang, dan mereka adalah para pelaku usaha mikro yang biasa berdagang di halaman ritel Alfamart atau warung-warung pilihan yang merupakan binaan Alfamart. Mengapa harus mereka? Nah, di sinilah kuncinya. Sebelum lanjut, ada baiknya sosok itu menjelaskan apa itu ritel. Ritel adalah sistem perdagangan yang langsung berhubungan dengan konsumen (end user). Pedagang kaki lima atau warung adalah termasuk ritel. Paham, kan? Sebagai perusahaan yang telah memiliki lebih dari 13 ribu retail di seluruh Indonesia, tentu Alfamart berkewajiban memberikan ilmu pada ritel-ritel kecil ini.

Namanya dagang, tentu harus berhubungan dengan kondisi perekonomian saat ini. Bagaimana nasib ritel sekarang? Membaik atau sebaliknya? Data BPS per Agustus 2017 menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil di Kuartal II adalah 2,5%. Angka ini ternyata turun banget jika dibandingkan dengan Kuartal I yang mencapai 6,63%. Bahkan pada Kuartal II tahun lalu juga mencapai 6,56%. Imbasnya adalah beberapa retail bangkrut dan tutup. Tahu sendirilah adanya beberapa retail raksasa yang harus akhirnya tutup satu persatu atau obral barang besar-besaran. Tentunya efek ini juga mengenai ritel-ritel tradisional. Seperti yang diungkapkan salah satu peserta, “Biasanya saya dapat 1,5 juta per hari, sekarang cuma 1 juta.”

Lalu solusinya apa? “Inovasi,” kata Yogie Septiyana Rochman, Branch Trainer PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Berinovasilah agar bisnis yang dijalankan tetap survive dan bahkan menguntungkan. Steve Jobs sendiri mengatakan, “Inovasi membedakan antara pemimpin dan pengikut.” Inovasi itu membebaskan cara berpikir agar mampu mengerucut pada keuntungan usaha yang dijalankan dengan cara yang sehat. Inovasi bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti yang dilakukan Mpok Murse atau hal-hal besar lainnya. Kalau butuh kata-kata motivasi, Bob Sadino menambahkan, “Bisnis apa yang bagus? Bisnis yang dijalankan, bukan bisnis yang ditanyakan terus.” Lalu apa inovasi dari para retail ini? Kang Yogie menjelaskan ada beberapa poin yang bisa dijadikan inovasi.

7 TIPS MEMBUKA WARUNG

1. Memahami Produk. Ini sudah pasti, bahwa pedagang yang baik adalah ia yang memahami benar apa barang yang dijualnya. Tukang bubur ayam yang baik adalah ia yang tahu bagaimana meramu buburnya agar disukai pembeli. Tentang hal ini, Alfamart memiliki sebuah rahasia dalam melihat identitas sebuah produk, yaitu adanya sistem KeJU 2MBER. Ini singkatan, yaitu Kemasan (pembungkus produk seperti kardus, botol, tetrapack), Jenis (bahan dasar produk seperti cair, batang, krim, gel, spray), Ukuran (satuan isi atau berat seperti kg, gr, ml, liter), Merek (nama/identitas produk), Manfaat (kegunaan produk), Barcode (kode barang), Expired date (kadaluarsa), dan Rasa (sifat, cita rasa, atau warna). Pelajarilah semuanya dengan baik.

2. Menata Dagangan. Pada dasarnya manusia itu begitu teratur. Segalanya harus terkoordinasi dengan baik. Tujuan, tentu saja agar mempermudah pekerjaannya. Dengan menata dagangan, tentu akan mempermudah pedagang mencari atau mengambil barang tertentu, plusnya … pembeli juga bisa melihat apakah ia merasa nyaman dengan penataan barang seperti itu. Ingat lho bahwa manusia juga mencintai keindahan, khususnya secara visual. Seorang pembeli, selain mencari barang yang mau dibeli, ia juga secara otomatis menilai keindahan barang-barang yang ditata. Tolong catat beberapa hal penting ini: Atur dengan rapi; Usahakan barang terlihat banyak/penuh (bisa menggunakan cermin); Semua merek terlihat; dan Cek tanggal kadaluarsa.

3. Pelayanan. Sosok itu menggarisbawahi poin ini sebagai yang paling utama. Percayalah bahwa ada survey yang mengatakan kalau 55% pembeli berani membayar lebih mahal jika pelayanannya memuaskan. Apa yang dilakukan Mpok Murse pada ilustrasi di atas adalah bagian dari pelayanan yang baik, berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Ceu Jutek. Mpok Murse selain murah senyum, siap menolong (dan pastinya gemar menabung), telah berhasil melakukan apa yang dinamakan merayu konsumen dengan produk pelengkap. Bisa saja ternyata mie goreng sambal matahnya tidak ada, lalu dia berkata, “Duh, Jang, nuju seep. Tapi jangan khawatir, Mpok masih punya stok mie goreng sambal rica-rica. Tah, ieu pedesnya juara, bikin lidah menari-nari.” Inilah yang dinamakan merayu konsumen dengan produk substitusi/pengganti.

Ya, ada banyak cara untuk merayu calon pembeli. Inilah bagian dari pelayanan. Untuk memahaminya, tentu harus mengetahui apa harapan calon pembeli. Biasanya mereka itu melihat dan memperhatikan apakah … lingkungan dan produknya terjaga kebersihannya? Apakah pedagang menyapa dan tersenyum? Apakah pedagang memahami produknya dengan baik? Apakah pedagang siap membantu dengan senang hati? Apakah pedagang mengucapkan terima kasih setelah selesai? Tolong dijaga poin ketiga ini dengan baik. Kadang, tempat yang kotor jadi terabaikan oleh pembeli saat ia mendapatkan pelayanan yang baik. Dan sering sekali pembeli menyerahkan kembaliannya karena mendapatkan pelayanan yang baik.

4. Memilih Tempat. Meski bukan hal yang utama, tetapi tempat yang strategis jelas penting. Takheran kalau harga jual atau sewa rumah/toko dengan tempat strategis jauh lebih mahal. Inilah rupanya yang dilakukan oleh Alfamart saat membuka retail baru. Mereka benar-benar melihat situasi di sekiranya. Salah satu syaratnya adalah apakah dalam radius satu kilometer ada 2.500 kepala keluarga? Lebih jauh lagi, menurut Pak Ardi Sulardi, Branch Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, mereka mendata setiap KK itu apa pekerjaannya dan berapa pengeluaran belanja per harinya. Survey itu tidak boleh diabaikan.

5. Lakukan Promo. Meskipun seorang pedagang tidak mendapatkan tempat strategis yang diinginkan, ia bisa melakukan promo. Alfamart sering sekali membagi-bagikan flyer tentang produk-produknya. Mereka pun memajang banner besar-besar di depan tokonya tentang bonus atau diskon yang sedang berlangsung. Ya, warung juga bisa memperlakukan hal itu. Misalnya saja pembeli yang sudah jadi langganan diberikan diskon setiap berbelanja. Produk-produk yang mau kadaluarsa, didiskon besar-besaran. Untuk produk musiman semacam sirup (menjelang lebaran) atau jas hujan (musim hujan) dipromosikan menjelang musim yang dimaksud. Pasang plang atau informasi atau promo tertentu dengan jelas di tempat-tempat yang strategis.

6. Anggap Diri sebagai Karyawan. Poin ini digarisbawahi oleh Pak Lardi, karena sering diabaikan. Ya, sering sekali pemilik warung tidak memedulikan dirinya sendiri. Ia begitu asyik berdagang tanpa memedulikan apakah dirinya perlu digaji atau tidak. Mostly … tidak. Jangan dianggap sepele, anggaplah diri sebagai karyawan dengan gaji tertentu setiap bulan. Menghargai diri itu penting dan hal ini menjadi mudah nantinya saat akan menambah karyawan (yang sesungguhnya). Keuntungan warung pun akan jelas dan menganggap diri sebagai karyawan tentu membuat pengelolanya jadi lebih menghargai waktu dan tenaga yang terpakai. Alfamart memberlakukan hal itu sehingga setiap retail bisa menghidupi dirinya sendiri.

7. Waktu Buka/Tutup yang Konsisten. Ingat ya bahwa calon pembeli atau konsumen itu melihat warung dengan jeli. Salah satunya adalah kapan bukanya dan kapan tutupnya. Mereka akan lebih mudah datang ke warung sesuai rencana. Jadi, jangan sampai ada konsumen yang datang tapi kecewa karena warungnya tutup. Selalu pasang pengumuman kalau warung akan tutup pada jadwal yang tidak semestinya. Meski sepele dan meski ‘hanya’ warung rumahan usahakan selalu konsisten saat membuka dan menutup dagangan.

Peserta pelatihan melakukan games yang seruuu!

Baca lagi:
Berkenalan dengan Forex Trading
Bandung Princess Cake: Kue Artis ala Syahrini

HANUPIS DARI BLOGGER BANDUNG

Sosok itu sebagai perwakilan dari Blogger Bandung merasa mendapatkan kehormatan karena sudah diundang oleh pihak Alfamart untuk mengikuti pelatihan ini. Ilmunya benar-benar josss gandosss. Bahkan saat pulang diberi goodie bag dengan wadah tas belanja dari bahan kain daur ulang. Ini benar-benar keren, apalagi setelah tahu bahwa Alfamart peduli pada masalah lingkungan hidup. Pak Lardi pernah mengatakan pada saat peluncuran tas belanja tersebut bahwa mereka mendukung program go green. Harga tas belanja tersebut kalau mau beli adalah Rp9.000 dan bisa dipakai berkali-kali. Ia mengaku untuk satu kantong plastik yang diproduksi, Alfamart mengeluarkan ongkos produksi lebih kurang Rp300. Dalam sehari, satu toko Alfamart rata-rata bisa menghabiskan 350 kantong plastik.

Secara nasional, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk memiliki 33 cabang plus 1 cabang di Filipina. Di Bandung sendiri ada dua cabang (di Gedebage dan Nanjung). Sedangkan toko ritelnya, ada 13K lebih di Indonesia. Anggap saja ada 13.000 toko ritel. Jika dikalikan dengan jumlah kebutuhan plastik, 350 x 13.000 = 4.550.000 plastik dalam sehari. Cost-nya 4.550.000 x Rp300 = Rp1.365.000.000. Wow! Biaya untuk memproduksi plastik dalam satu hari bisa mencapai 1,365 miliar rupiah. Jelas sekali kalau kebijakan tas belanja yang go green akan banyak memotong biaya produksi kantong plastik yang selama ini terjadi, plus mengurangi beban Bumi menerima sampah plastik. “Sangat banyak bahaya yang ditimbulkan oleh limbah plastik selama ini,” lanjut Pak Lardi.[]

Advertisements

6 thoughts on “7 Tips Membuka Warung

  1. Nah bener tuh bang, posisi tempat, pelayanan dan promosi bikin warung/bisnis terus berjalan.. Kalo pelayanannya jutek wlw produknya enak, saya mah males balik lagi hihi

    >> Yups, pelayanan menentukan segalanya, Teh

  2. penasaran dari dulu.. sebenarnya kalo kita mau buka usaha frc alfamart itu berapa sih modalnya?

    >> Wah kalau itu harus ditanyakan langsung ke Alfamart

  3. Pokoknya mah, pelayanan itu nomor satu kang. 😀
    Sebagus apapun tokonya, selengkap apapun barang dagangannya, kalau pelayanannya buruk ya mana laku~ 🙂

    >> Iyess. Dan harus didukung oleh nomer dua dan seterusnya….

  4. Baca kalimat pembukanya saya sempat mengira ini cerpen. Ternyata bukan hehe

    Bener banget mas, sebagus dan semewah apapun tampilannya, yang namanya berjualan, apapun itu pelayanan nomor 1. Konsumen yang merasa dilayani dan dihargai dengan baik akan jadi konsumen loyal yang dengan senang hati akan kembali lagi bahkan sukarela menjadi “tim marketing” yang mengundang konsumen lainnya

    >> Hehehehe … saya memang suka menggabungkan artikel dengan fiksi. Asyik aja.
    Ya, harus dijaga pelayanan ini. Makanya SDM harus diperhatikan benar karena merupakan aset. Di setiap perusahaan yang menerapkan hal itu cenderung akan berhasil.

  5. Kemarin pas pulangnya ngebakso. Terus pelayan di warung baksonya jutek gitu. Kita-kita jadi ngedumel : mereka kudu ikutan pelatihan managemen ritel nih.

    >> Hahahaha … yang penting baksonya enak ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s