Dua Mojang Bandung di Sunsilk Hijab Hunt 2018

Cantik sebenarnya relatif, bergantung pada pembandingnya. Menyebut cantik dan tidak cantik juga begitu subjektif, bergantung pada pengalaman dan lingkungan orang yang menilainya. Jadi kalau ada ajang kecantikan, pasti panitia sudah mempersiapkan beberapa kategori sehingga pemenangnya layak dinobatkan sebagai putri kecantikan. Nah, sosok itu sendiri kebetulan pada hari Sabtu kemarin, 12 Mei 2018, menyengajakan datang ke Ballrooom Masjid Agung Trans Studio Mall (TSM) untuk melihat kegareulisan mojang-mojang Bandung. Ratusan mojang berduyun-duyun dari berbagai penjuru demi memperebutkan dua kursi menuju grand final Sunsilk Hijab Hunt 2018 nanti di Jakarta pada awal Juni ini. Ada yang dari Tangerang, Bogor, hingga kota-kota Priangan di timur Bandung.

Yaaa … selama di sana tiba-tiba saja dia merasa lupa bahwa dirinya sudah menikah hehehe. Melihat banyaknya mojang geulis yang rela antri di basement Masjid Agung TSM, membuatnya kalap untuk memotret dan kemudian mengajak ngobrol (dengan alasan wawancara) beberapa diantara mereka. Mayoritas mengatakan bahwa mereka mencari pengalaman. Sebenarnya ambigu juga dengan jawaban ini. Pengalaman hidup? Kurang lebih seperti itu. Akan tetapi kalau menurut sosok itu ya … mereka mencari pengalaman berkompetisi. Pengalaman untuk melatih mental mereka: berbicara, bernyanyi, atau berakting di depan juri; dan tentu saja mempersiapkan diri untuk menerima kekalahan. Ya, kompetisi akan melahirkan mental-mental pejuang. Dari yang baru ikut sampai ada yang sudah berkali-kali ikut.

Sunsilk Hijab Hunt 2018

Banner_007

Sebagai contoh adalah Peavy yang kali ini ikut untuk kedua kalinya. Pada tahun 2017 ia berhasil masuk ke 50 besar. Namun mojang yang baru berusia 20 tahun itu kandas pada babak berikutnya. Paling tidak pengalaman kalah pada tahun sebelumnya tidak membuatnya jatuh, malah makin semangat untuk ikut lagi di tahun ini. Hal yang sama dilakukan oleh Amanda. Tidak tanggung-tanggung, mojang belia yang berusia sama dengan Peavy itu, bahkan sudah mengikuti #SunsilkHijabHuntBDG yang ke-4 kalinya. Wow! Pantang menyerah pantas disematkan pada mojang-mojang Bandung yang terus saja berkompetisi meski jatuh berkali-kali. Ya, sosok itu pun setuju bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Dan mereka semua adalah mojang-mojang yang sudah berhasil, hanya saja memang selalu ada yang lebih baik lagi.

Lalu ada Lisna Novita yang ditemui sosok itu setelah menjalani proses pemotretan. Ia memiliki misi tersendiri yang agak berbeda dengan peserta lainnya. Mojang Bandung berusia 22 tahun ini mengaku aktif sebagai motivator dan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam. Alumnus UIN Bandung itu berharap bahwa dirinya bisa menjadi motivator bagi para perempuan agar terus meningkatkan kemampuannya di segala bidang. Ia pun bercerita tentang pengalaman terburuknya saat rela menanggalkan hijabnya demi sebuah pekerjaan presenter di Jakarta. “Saat menunggu bus kota di panas terik, seluruh kulitku yang terbuka diterpa angin. Ada orang-orang lewat dan melihatku tidak pakai hijab, aku di sana merasa sangat hina dan rendah. Aku merasakan fase terendah dalam hidupku.”

Sunsilk Hijab Hunt 2018

Selain Peavy, Amanda, dan Lisna, masih ada Ajeng (19 tahun), Sari (22 tahun), Fey (17 tahun), Eka (23 tahun), dan Ayesha (20 tahun) yang baru pertama kali mengikuti ajang Sunsilk Hijab Hunt 2018. Mereka berharap dengan mengikuti kompetisi ini dapat memaksimalkan kemampuan mereka, mendapatkan pengalaman (berkompetisi), dan siapa tahu bisa menjadi ustadzah gaul seperti yang dicita-citakan Fey. Melalui pesan pribadi di IG, sosok itu sempat bertanya pada salah seorang peserta, Ira Ary Monica, apa definisi cantik itu. Menurutnya, “Cantik itu bukan hanya dari fisik. Cantik sejati itu datengnya dari hati. Inner beauty. Akhlak, attitude yang baik, dan yang pasti dia taat pada Rabbnya, (serta) mampu menebarkan hal positif di sekitarnya. Itu baru wanita cantik sejati.” Setuju.

Banner_008

Dari ratusan pendaftar, hingga mengerucut menjadi 20 besar, jelas menjadi tugas yang berat bagi panitia. Mereka berjibaku berjam-jam demi mencari 20 mojang yang siap diadu di panggung. Biodata, pemotretan, hingga tes bakat di beberapa ruang interview menunjukkan bahwa panitia begitu berhati-hati dalam memilih. Syarat untuk menjadi peserta memang sederhana, hanya ada 3 (tiga) poin, yaitu muslimah berhijab berusia 15 – 28 tahun, Warga Negara Indonesia dan berdomisili di Indonesia, serta memiliki bakat. Pada akhirnya, dari 20 Finalis, Nycta Gina dan Bella Almira selaku juri memutuskan Sabine Fatimah Sayyidina dan Ira Ary Monica yang berhak mewakili Bandung untuk Grand Final Sunsilk Hijab Hunt 2018. Selamaaat!

Sunsilk Hijab Hunt 2018

Sabine sebenarnya belum terlalu lama berhijab, yaitu kurang dari dua tahun. Meskipun kedua kakaknya sudah memberikan contoh yang baik dalam berhijab, mojang Bandung ini masih terlalu asyik dengan main game dan olahraga. Titik baliknya terjadi saat perjalanan umrah pada 2016. “Setelah pulang umrah aku malu. Sudah dipanggil Allah ke sana, kok pulang-pulang nggak tutup aurat?” ujarnya. Dalam ajang ini, ia menunjukkan kebolehannya menyanyikan lagu blues sambil bermain gitar. Ia tampaknya ingin mengubah pandangan dan memotivasi semua muslimah bahwa hijab jangan dijadikan halangan. Dan ia berhasil menunjukkannya.

“Kerennn! Siang-siang gini mulai ngantuk dengar penampilan Sabine jadi seger lagi. Belum ada yang tampil dengan blues sampai saat ini,” puji Gina. “Parah, keren banget. Tadi kelihatannya lugi dan malu-malu. Tapi begitu nyanyi pecah banget sih!” kata Bella.

“Alhamdulillah senang sekali, sangat bersyukur pada Allah Swt yang sudah memberikan kesempatan kepada saya bisa masuk ke grand final di Jakarta. Semoga nanti saya bisa menunjukkan yang terbaik. Saya tidak berharap untuk menjadi yang juara tetapi saya bisa menunjukkan yang terbaik, untuk keluarga dan teman-teman semua,” katanya selepas terpilih mewakili Bandung. Sosok itu pun kemudian mengusut siapa Sabine ini dan mengapa selalu menyebut kedua kakaknya yang sudah berhasil. Ternyata, kakak keduanya adalah Tamara Aisyah Sayyidina, Juara III Hijab Hunt 2017. Sedangkan kakak sulungnya adalah Rachel Maryam Sayyidina. Keren, kan?

Ira berhasil lolos setelah monolog tentang wanita pejuang yang sekaligus pendamping setia Teuku Umar mampu menghipnotis para juri. Mojang Bandung yang aslinya berdarah Jambi ini mampu berubah wujud menjadi Cut Nyak Dien yang berbahasa Aceh. Perjalanannya memakai hijab bukan tanpa rintangan. Teman yang berkomentar sinis bahwa dirinya lebih cantik tanpa hijab dan ada teman yang pura-pura tidak kenal saat bertemu di jalan. Proses kepindahannya ke Bandung pun berhasil menciptakan lingkungan baru, yaitu membuat dirinya yakin untuk istiqomah berhijab. “Saya pikir kamu orang Aceh karena logatnya Aceh banget. Ternyata bukan. Bagus,” ujar Gina.

“Suasana (hati) aku senang banget sudah masuk dua besar mewakili Bandung. Semoga aku bisa kasih penampilan yang lebih maksimal dan lebih menginspirasi lagi. Aku pokoknya luar biasa banget deh hari ini. Kalau aku bisa bener-bener menjadi pemenang Hijab Hunt, aku ingin banget jadi muslimah yang bener-bener menginspirasi dan bisa mengingatkan lagi kepada temen-temen untuk makin deket lagi sama Allah, semakin cinta sama Allah, dan selalu bersyukur.” Ira Ary Monica

Sosok itu sendiri kemudian mengirimkan pesan singkat persiapan apa yang akan Ira lakukan menjelang final nanti? Katanya ia ingin mematangkan konsep. Kostum akan diperhatikan benar, baik selama karantina sampai ajang final. “Itu (semua) dipikirkan (dan) dipersiapkan. Kesehatan juga,” lanjutnya. Dia pun penasaran bakat apalagi yang akan ditampilkan Ira nanti, dan ternyata ia menjawa ingin memainkan monolog lagi. Ceritanya sendiri tentang hari spesial untuk umat Muslim yang kebetulan tanggalnya berdekatan dengan tanggal final. “Bismillah akan dipersiapkan dengan baik dan maksimal,” tutupnya. Oke, sukses selalu ya, Teteh-teteh gareulis.[]

Advertisements

5 thoughts on “Dua Mojang Bandung di Sunsilk Hijab Hunt 2018

  1. Wooii..Bang..
    Inget Umi..dah berbuntuut..
    Hahahhaha…ampe lupa dah nikah, mentang2 lagi berada diantara mojang gareulis.
    Ahh, moga Teh Ira dan Teh Sabine menang di Grand Final yaaa..

    >> Pastinya selalu ingat Umi
    Ini kan hampir lupa, bukan lupa hahaha

    Amiiin….

  2. Oow, geulis-geulis pisan 🙂 aku 2 kali ngedeketin cewek Bandung, gagal total. Hahaha. *ini komen macam apaaa coba, kok ya malah tjurhat

    >> Lagian niatnya cuma ngedeketin doang hahaha

  3. Cantik memang bukan hanya luarnya aja, ya, Bang. Cantik dari dalam malah akan memancarkan aura positif ke luar. Akhlak yang baik, attitude yang baik juga penting.

    Waah…sampai ada yang ikutan sampai 4 kali, ya..? Kereen!

    >> Setuju banget.
    Iya, pantang menyerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s