Destinasi Digital: Glampacking ala Orchid Forest Cikole

Nomadic Tourism adalah
solusi sementara sebagai solusi selamanya

~ Arief Yahya

Sekali lagi, sosok itu menyesap kopi susu yang ada di genggamannya. Uap panas masih mengebul di permukaannya. Hangat menjalar ke kerongkongan, lalu masuk ke dalam lambungnya. Nikmat sekali. Kemudian, dia menghirup udara dalam-dalam, lalu melepaskannya dengan amat perlahan. Segaaar, begitu menyegarkan. Cericit burung dan desahan dedaunan pinus yang digerakkan angin telah menyempurnakan paginya di kaki Gunung Tangkuban Perahu. Alam yang begitu bersahabat. Tenda-tenda biru berjejer rapi. Di dalamnya terdapat tiga buah kasur dengan empat buah bantal beserta sleeping bag-nya. Semalam tidur di sana begitu nyenyak meski baru bisa memejamkan mata begitu larut karena keasyikan berdiskusi bersama kawan-kawan di depan api unggun. Kemping di dalam tenda tetapi beralaskan kasur tebal, siapa yang tidak bakal nyaman?

Itulah Glampacking ala Orchid Forest Cikole. Kemping yang terbilang berbeda dari kemping biasanya di pegunungan. Jika kemping biasa hanya berupa tenda dan matras, maka glampacking di Orchid Forest sudah ditambahi dengan kasur. Dari Kamis siang hingga Jumat pagi ini (23-24 Agustus) dirinya bersama beberapa kawan GenPI Jawa Barat mendapatkan kesempatan untuk menginap di sana. Istilah ‘glampacking’ sebenarnya berasal dari turunan ‘glamping‘ dan ‘backpack‘. Glamping sendiri adalah bentuk kata sederhana dari glamorous camping atau kemping yang mewah. Backpack adalah tas punggung dan biasa digunakan oleh mereka yang senang berjalan-jalan dan menginap. Personalnya biasa disebut dengan backpacker. Nah, sebelum mengejawantah pada pengertian ‘glampacking‘, ada baiknya fokus pada backpacker.

Destinasi Digital

Banner_023

Menurut Pak Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI, backpacker di seluruh dunia itu mencapai 39,7 juta orang. Jumlah itu terbagi menjadi (1) Flashpacker (digital nomad), yaitu wisatawan yang menetap sementara sambil bekerja. (2) Glampacker (millenial nomad) adalah wisatawan yang berkelana ke berbagai destinasi wisata yang instagrammable. (3) Luxpacker (luxurious nomad) adalah wisatawan yang ingin menghindar dari hiruk-pikuk aktivitas kesehariannya. Dari segi biaya, yang ketiga ini jelas lebih mahal dibanding kedua pertama. Nah, berdasarkan itulah Pak Arief mengusulkan perlunya merangkul golongan Millenial Nomad atau Nomadic Tourism ini. Caranya bagaimana? Tentu saja dengan pembuatan konsep glamping, homepod, dan caravan. Inilah program Kemenpar dalam memenuhi tuntutan pasar wisata untuk mengatasi keterbatasan tersedianya amenitas di daerah tujuan wisata.

Nomadic Tourism adalah gaya berwisata baru dimana wisatawan dapat menetap dalam kurun waktu tertentu di suatu destinasi wisata dengan amenitas yang portable (dapat berpindah-pindah). Nomadic tourism itu wisata yang bersifat temporer (akses maupun amenitasnya). Hal ini diterapkan demi menjangkau destinasi alam potensial di Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau. Sosok itu mencoba mencari tahu apa arti ‘nomad‘. Di sebuah kamus didapatkan bahwa no.mad adalah kelompok orang yang tidak mempunya tempat tinggal tetap, berkelana dari satu tempat ke tempat lain, biasanya pindah pada musim tertentu dengan keperluan kelompok itu. Hidupnya hanya berkelana. Untuk menarik wisatawan yang berjenis nomadic tourism ini, apakah hanya dengan membuat glamping, homepod, atau caravan saja? Tidak. Cara lainnya adalah dengan pengadaan sea-plane (pesawat yang dapat mendarat di atas air) dan live on board (seperti kapal-kapal di Labuan Bajo).

Orchid Forest

Alhamdulillah sosok itu dibukakan pikirannya oleh Pak Arief yang juga hadir di Orchid Forest Cikole pada Jumat pagi. Beliau meresmikan Orchid Forest Cikole sebagai Destinasi Digital (wisatawan nusantara) dan Nomadic Tourism (wisatawan mancanegara). Katanya, “Destinasi digital itu adalah destinasi yang bagus di kamera. Dari awal, destinasi digital didesain harus bagus atau indah di kamera. Misalnya saja saat Wisnutama berhasil membuat opening ceremony Asian Games 2018. Instagrammable. Kedua adalah trending topic. Value tertinggi dari destinasi digital bukan direct revenue/return, tetapi dari media value (indirect revenue/impact). Nilainya bisa 5x lipat. Contohnya Traveloka yang bisa jadi (saat ini) masih merugi secara direct return, tapi value-nya tinggi sekali.”

Memang benar, itulah mengapa Orchid Forest Cikole dipilih sebagai destinasi digital. Tempat ini memiliki tiga konsep yang akan dikembangkan. Pertama sebagai kawasan wisata pendidikan, misalnya pengunjung mampu berinteraksi dengan alam dan memperlakukannya dengan benar seperti tidak membuang sampah sembarangan. Kedua sebagai kawasan olahraga. Iya, dari pintu gerbang ke pintu keluar itu jalannya menurun sekira 1 km. Kalau mau balik lagi ya kudu nanjak. Benar-benar olahraga hiking. Capek yang menyenangkan. Ketiga sebagai kawasan eco tourism seperti kampung seni yang mewadahi pekerja seni.

Orchid Forest Cikole

Dirut Orchid Forest, Maulana ‘Barry’ Akbar menjelaskan bahwa areal hutan seluas 12 hektar ini didesain dengan berbagai spot foto yang indah dilihat. “Luasan hutan masih dikembangkan hingga 24 hektar,” katanya. Jadi gak heran, semua sudut tuh instagrammable. Dengan teknologi media sosial, gak heran kalau setiap bulannya Orchid Forest rata-rata dikunjungi oleh 1.000 orang. Bahkan saat lebaran kemarin ada 12.000 orang yang rela datang ke Orchid Forest dalam satu hari. Fantastis. Para wisatawan lokal yang datang sudah pasti ingin berfoto-foto demi eksis di media sosialnya. Apalagi lokasinya di tengah alam, di tengah hutan pinus. Tidak perlu bersusah-payah jalan kaki naik gunung, sudah bisa foto bagus. Ada wood bridge, garden light, lampu warna-warni, jembatan pohon, dan masih banyak lagi spot foto yang bakalan bagus di media sosial.

Semalam, sosok itu itu sudah menjadi saksi bahwa kemping di Orchid Forest Cikole itu begitu menyenangkan. Ya, tempat wisata ini siap memperkenalkan konsep #NomadicTourism yang tentu saja mengasyikkan. Keren banget tempatnya dan alhamdulillah semalam semesta mendukung dengan cerahnya langit dan takterlalu dingin, meski ya pas Subuh sampai juga di titik 16 derajat celsius. Permainan lighting semalam memang romantis dan memberikan nuansa berbeda. Kamu … harus ke sini untuk menyaksikan sendiri. Cahaya warna-warni menyorot ke arah batang-batang pinus yang usianya sudah ratusan tahun. Ada garden of light, instalasi taman lampu yang interaktif, mirip bunga yang berganti-ganti warna. Ada taman neon yang asyik banget dipandang.

Nomadic Tourism

Destinasi Digital

Orchid Forest Cikole memang telah berhasil menyulap hutan pinus sebagai bagian dari pilot project Nomadic Tourism dan Ecotourism Kemenpar. Pembangunannya pun ramah lingkungan karena tidak menggunakan alat-alat berat dan mempekerjakan warga setempat. Tidak ada pohon pinus yang ditebang. Semua masih utuh, kecuali beberapa pohon yang sudah sangat tua dan dikhawatirkan tumbang, sehingga membahayakan pengunjung.

Banner_024

Kemenpar sudah berkali-kali mengingatkan bahwa pariwisata itu harus mencakup unsur 3A, yaitu Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas. Di sana bakal ada pertunjukan yang mengandung unsur budaya (culture), alam (nature), atau buatan manusia (manmade). Tinggal pilih mana yang ingin ditonjolkan. Pak Arief Yahya mengatakan dalam sambutannya, “Nomadic tourism itu lahirnya kecelakaan. Jabatan menpar itu usianya hanya 5 tahun. Jika membuat 10 Bali baru, jelas membutuhkan waktu 20-25 tahun. Gak bisa. Pasti saya frustasi, sehingga lahirlah nomadic tourism.”

“Pada saat saya menjabat jadi komisaris Telkomsel, saya meluncurkan kartu prepaid. Kartu ini sebenarnya hanya sementara tetapi mendapatkan keuntungan besar. 90% pelanggan Telkomsel adalah pemakai kartu prepaid. Kartu prepaid inilah yang saya ubah menjadi nomadic tourism. Jadi, nomadic tourism adalah solusi sementara sebagai solusi selamanya. Nomadic tourism harus mudah dipindah-pindah karena kecenderungan wisatawan itu senang dengan hal-hal baru. Kalau ada ruangan tanpa pintu, pasti membuat orang-orang yang ada di ruangan ingin keluar. Kalau ada satu pintu, maka mereka akan berusaha keluar dari pintu itu. Kalau ada banyak pintu, mereka bakalan tidak mau keluar, bahkan ingin lebih lama tinggal di dalam ruangan itu. Nah, Indonesia memiliki ribuan pulau, transportasinya jelas butuh yang fleksibel. Misalnya butuh pesawat yang bisa mendarat di atas air.”

Glampacking Orchid Forest

Indonesia menjadi negara yang memiliki spesies anggrek terbanyak setelah Brasil. Di Orchid Forest, ada 6.000 spesies dengan 20.000 jenis anggrek berada di sekitar kawasan dan di rumah anggrek. Itulah mengapa saat baru masuk dari pintu masuk, pemandangan yang pertama dilihat adalah adanya beberapa jenis anggrek yang menempel pada pohon pinus. Anggrek adalah tumbuhan epifit, meski bukan parasit. Artinya, anggrek perlu inang untuk pertumbuhannya tetapi tidak membunuh inangnya. “Di sini tersedia 150 jenis anggrek langka yang bisa disaksikan di rumah anggrek,” kata Kang Barry. Rumah anggrek ini didesain dengan menggunakan dinding kaca. Ada jembatan kayu yang indah, sementara di bawahnya terdapat kolam ikan dengan suara gemericik air. Syahdu sekali.[]

Tertarik mau ke sini? Orchid Forest terletak di Cikole Lembang, tepat sebelum ke Tangkuban Perahu kalau dari arah Lembang. Jam operasionalnya adalah pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Kalau akhir pekan, tutup pada pukul 19.00 WIB. Biaya masuk hanya dikenakan Rp30.000 per orang.

GenPI Jawa Barat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s