Mau Aman Belanja Online?

Beberapa tahun lalu, sosok itu pernah bertransaksi secara online. Produknya sih peralatan dapur dan saat itu Sang Belahan Jiwa tergoda dengan harganya yang murah. Setelah pembayaran, masa menunggu barang adalah hal yang menjemukan. Alhamdulillah barang sampai, tetapi … bukan kebahagiaan yang didapatkan melainkan kekecewaan. Ada bagian yang patah. Meski baru pengalaman pertama dan sudah seharusnya dicoba lagi, namun dia kapok. Dia meneyerah dan cukup sampai di situ. Dia pun jarang membeli barang secara online kecuali membeli tiket perjalanan yang memang sangat mudah.

Bagi sebagian orang yang tahu akan berkembangnya teknologi internet, wajar saja jika memiliki kekhawatiran kalau harus belanja online. Mereka takut dan khawatir karena begitu rentannya masalah informasi dan penipuan di internet. Seperti pengalaman sosok itu yang mendapatkan barang yang tidak sesuai sehingga uang sudah keluar tetapi barang tidak dapat digunakan. Beberapa bahkan kecewa karena niatnya ingin membeli kaos singlet untuk pria dewasa yang didapatkan malah daster mirip singlet. Atau ingin membeli karpet berukuran jumbo yang datang malah karpet mini. Dan ada banyak sekali kasus yang terjadi.

Banner_016

Sosok itu mendapat sedikit pencerahan saat hadir di Graha Pos Jumat kemarin (21/9/2018) karena Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia mengadakan Forum Sosialisasi Belanja dan Jualan Online dengan tagline Murah, Cepat, dan Aman. Slamet Santoso yang mewakili Kominfo Jabar
memberikan data bahwa pada 2018 terdapat hampir 150 juta pengguna internet dari 226 juta penduduk Indonesia. Fenomena ini seperti pedang bermata dua, bisa merugikan dan bisa menguntungkan. Penggunaan medsos dianggap yang tertinggi dan pemakaiannya harus berhati-hati. Pak Slamet mengatakan agar sharing-lah atau berbagilah hal-hal yang bermanfaat karena tidak ada yang tahu seperti apa orang-orang yang bermain di sana. Internet itu sama seperti pembuatan santan dari kelapa, harus disaring.

Namun, keberadaan internet juga harus disyukuri karena membuka peluang usaha, dari jualan offline ke jualan online. Tanpa modal besar seperti harus memiliki toko, siapapun bisa berdagang langsung di sana. Dari sisi positifnya, terdapat hampir 150 juta orang yang bakal jadi calon pembeli. Teknologi Informasi Komunikasi atau TIK inilah yang harus dimanfaatkan oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia. Pada kesempatan tersebut Kemenkominfo mengadakan pelatihan serta fasilitasi dan simulasi jualan online untuk mengajak pengusaha UMKM turut serta membangun dan menggerakkan usaha e-commerce di Indonesia, mengingat potensi besar akan perkembangan transaksi online di Indonesia.

Kredit Pro

UMKM Go Online! Data tahun 2014 jumlah UMKM di Indonesia baru 56,5 juta orang. Jumlah itu dibagi menjadi 1) Bisnis Luar Jaringan (pasar tradisional) 2) Bisnis Online Dasar (via DM) 3) Bisnis Online Menengah (ada website) 4) Bisnis Online Lanjutan (misal Blibli dst). Kominfo memiliki Visi Go Digital 2020, yaitu untuk mendukung pertumbuhan dari ekosistem e-commerce dan juga membuat pondasi dasar yang kuat sebagai energy digital Asia. Indonesia memiliki beberapa program yang diselenggarakan dengan target yang spesifik dalam mewujudkan visi Go Digital 2020. Kemenkominfo memilik target besar, yaitu 1.000 Gerakan Nasional Startup (Technopreneur), 1.000.000 petani dan nelayan go digital, 8.000.000 UMKM go digital, dan 500 desa broadband terpadu di daerah 3T.

Kemenkominfo menggandeng IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), Asosiasi Fintech Indonesia, Google, Blibli serta Kredit Pro untuk mengedukasi UMKM terkait penggunaan e-commerce. Mereka berharap bahwa para pelaku UMKM dapat semakin terstimulasi untuk memaksimalkan e-commerce guna mengembangkan usaha online-nya. Indonesia dinilai memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia, mengingat saat ini terdapat penetrasi pengguna internet yang mencapai lebih dari 132 juta.

Tahukah kamu? Ada 6 alasan mengapa para pelaku online harus belanja online: 1. Minim modal, 2. Minim biaya operasional, 3. Untuk pengenalan produk, 4. Jangkauan pasar luas, 5. Fleksibel, 6. Keuntungan berlipat. Nah, jika mindset pemilik toko itu adalah chat > medsos > e-commerce > map > situs web. Maka bagi calon pembeli, mindset-nya terbalik. Untuk itu segera tentukan target: 1. Menemukan pelanggan baru, 2. Meningkatkan penjualan, dan 3. Mengembangkan usaha.

Banner_017

Tampaknya inilah yang dilihat dari Kredit Pro sehingga mau membantu para pelaku UMKM. Konsepnya sederhana saja, yaitu mereka siap membantu menghubungkan pelaku usaha dengan solusi akses pendanaan dengan transparansi dan cepat, sehingga pemberian modal menjadi lebih mudah. Kredit Pro memiliki program Dana Komunitas karena semua orang memiliki kesempatan untuk melangkah menuju kesejahteraan. Kalau ada yang ingin tahu apa itu Kredit Pro, ini adalah perusahaan fintech (financial technology) dari Indonesia dengan sistem Peer-To-Peer Lending (P2PL), yaitu platform yang digunakan untuk mengajukan dan memberikan pinjaman secara online.

Ya, meski untuk melakukan usaha online tidak memerlukan modal besar, tetap saja kebutuhan uang untuk memulai usaha atau agar usaha tetap berjalan dibutuhkan dana segar. Banyak manfaatnya. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan beberapa tools yang sudah ada di internet. Irwan Maulana, Project Officer Google Gapura Digital, menjelaskannya secara gamblang. Dunia online atau internet tidak bisa dihindarkan. Hampir semua orang telah menggunakan internet. 3 dari 4 orang memakai internet dan 7 dari 10 orang mengaksesnya dari ponsel. Melihat kenyataan ini, Google memberikan jalan keluar, namanya Google Bisnis. Bayangkan saja bahwa seluruh android harus memiliki Gmail.

Workshop Online

Irwan memberikan kisi-kisinya dengan sederhana. 1. Bagaimana pelanggan mencari bisnis para pelaku online. 2. Di mana pelanggan mencari lokasi bisnisnya? 3. Tindakan apa yang dilakukan pelanggan dengan info bisnis tersebut. Nah, Google Bisnis mengisi ruang kosong itu. Semua pengguna internet pasti menggunakan jasa mesin pencari, dan Google Bisnis ada di sana. Terdapat potensi besar yang wajib digali di Indonesia, karena jumlah masyarakat yang memiliki akses terhadap internet memungkinkan Indonesia untuk menjadi pasar transaksi online terbesar di Asia. Pada tahun 2020 mendatang, transaksi e-commerce di Indonesia ditargetkan mencapai US$ 130 milyar. Hal ini dapat tercapai, jika UMKM juga turut terlibat dalam membangun pasar dari sisi penyedia barang.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s