We Are Big Family of 94nesha

Sudah H-2 saja nih, menuju #ITBUltraMarathon170K dan sosok itu kebagian di Tim 3 #Relay16 94nesha Runner. Fiuh. Deg-degan? Gak usah ditanya. Apalagi bagi dirinya yang baru pertama kali mengikuti Ultra Marathon. Jujur, bukan jarak total yang dikhawatirkan atau hanya sekadar 10K rute yang bakal ditempuh. Bukan. Jarak segitu nantinya bakal biasa dengan rutin latihan meski dengan pace lambat, kalau sendirian. Justru yang dikhawatirkan adalah ini kerja tim. Kerja 16 pelari. Bahkan kerja banyak orang kalau ditambahi dengan tim support.

Tidak mudah mengumpulkan 16 orang yang mau lari saling estafet dari Jakarta ke Bandung. 16 alumni ITB yang bisa jadi tidak saling kenal, dan kalau pun kenal hanya tahu muka atau nama saja. Dari ke-16 orang itu, apa semuanya pelari tulen? Atau sederhananya menjadikan lari sebagai hobi? Dia kira tidak. Paling hanya 1% atau taruhlah 10% saja yang benar-benar senang lari. Sisanya … hanya sekumpulan alumni yang begitu senang bisa kumpul bareng setelah lebih dari 20 tahun, baru pertama kali lari, kembali merasakan semangat “We Shall Overcome Someday” sehingga “Gaudeamus Igitur” (karenanya marilah kita bergembira).

94nesha Relay 16That’s it. Sosok itu sendiri baru semangat lari dua bulan lalu. Butuh perjuangan keras agar bisa berlari nonstop sampai 5K, terus naik lagi sampai 10K, lalu diulang-ulang, apalagi ditambah penyakit asma yang menempel seumur hidupnya. Bisakah? Inilah ‘magical word‘nya … KEBERSAMAAN. Bukan perkara mudah melawan kemalasan dan obesitas pada usia 42 tahun untuk mau berlari. Sulit. Teramat sulit. Namun entah ada energi dari mana dia bisa tiba-tiba saja … pada pagi hari yang dingin (cocok untuk bermalas-malasan), memakai sepatu, lalu bismillah lari dengan jarak tertentu. Energi yang pastinya teramat istimewa. Energy of ITB.

Dia yakin bukan karena faktor akademis energi itu lahir. Berapa orang sih yang mau lari dari jurusan yang sama? Dirinya sebagai alumni Farmasi ITB mencatat hanya enam orang saja dari angkatan 94. Sisanya beda jurusan. Beberapa bahkan baru dikenalnya. Okelah akademis bisa dicatat sebagai salah satu faktor. Namun di luar itu ada ospek gabungan, kegiatan ekstrakurikuler, asrama atau ngekos bareng, dan sisanya bersyukur dapat pasangan hidup sesama alumni satu atau beda angkatan. Dia yakin, tempat bernama Kampus ITB adalah kata kuncinya.

Sebenarnya dia begitu menjaga jarak dengan istilah reuni. Bukan apa-apa, pengalaman mengajarkan bahwa ‘reuni’ cenderung memojokkan seseorang, meski tidak diniatkan seperti itu. Pekerjaan, kehidupan pribadi, dan materi bisa menjadi racun yang membahayakan bagi ajang reuni, disadari atau tidak. Namun entah mengapa ketika ada grup WA alumni ITB 94 yang bahasannya fokus pada olahraga, dia tertarik ingin gabung. Alasannya sederhana … sosok itu ingin sehat.

94nesha Runner

Mayoritas senang dan pengen lari, sisanya senang bersepeda, senang renang, dan ada juga yang senang memanjat. Gak masalah. Intinya adalah olahraga. Ingin sehat. Energi kebersamaan ini alhamdulillah memberangus kepenatan hidupnya. Fokusnya teralihkan pada proses lari yang benar. Fokus ingin sehat. Persaingan kemudian ada, tetapi lebih pada prestasi larinya, sehingga bikin sebal dan cemburu, lalu berusaha untuk tidak tertinggal jauh. Meski lambat, dia ingin terus berlari.

Bagi penderita asma, berlari itu berat. Satu hingga dua kilometer awal adalah perjuangan yang begitu menyiksa. Saluran pernapasan yang mengecil, lendir yang susah dikeluarkan, belum cairan yang terus-terusan keluar dari hidung. Gak nyaman banget. Setelahnya … volume paru-paru mengembang, tubuh menghangat, dan sebuah keajaiban kalau kemudian asmanya berkurang atau menghilang begitu saja. Namun tidak hanya sekali saat kondisi asma memburuk, dia berhenti lari, ruku dengan napas ngos-ngosan, batuk hebat, berusaha mengeluarkan lendir yang begitu erat menempel di tenggorokan. Kadang-kadang matanya sampai berair, dengan pandangan yang agak berkunang-kunang.

ITB Ultra MarathonItulah proses. Perjuangan untuk hidup lebih sehat lagi. Dia tidak boleh berhenti. Kehidupannya sekarang tidak semata pada dirinya sendiri. Itu egois. Sosok itu harus sehat. Kalau dia sehat, keluarganya pasti bahagia. Kawan-kawannya gak usah ditanya. Sedih kalau teringat pada kawan yang sudah mendahului, tetapi begitu gembira saat bertemu kawan lama, sealmamater pula. Apalagi ditambah dengan ajang BNI Ultra Marathon 170K. Dia seolah-olah menjadi keluarga inti. Kalau dia tidak ada, bagaimana dengan pencapaian timnya? Diskualifikasi? Tidak. Hal itu tidak boleh terjadi. Targetnya adalah ‘happy ending‘.

Maka seberat apapun proses latihan yang harus dijalaninya, dia akan terus berlari sambil tersenyum. Sambil terus berstrategi latihan yang sehat. Sosok itu bukan atlet. Fokusnya hanya ingin sehat. Sehat bareng-bareng dan nantinya ketawa bareng-bareng. Hanya saja dirinya tidak ingin menjadi beban kawan-kawan nanti pas hari H. Dia hanya berusaha untuk tidak tertinggal jauh. Targetnya … meski lambat, dia ingin terus berlari. Berlari bersama-sama. Bersama mereka yang kini telah menjadi Big Family. Lalu nantinya … 88 orang 94nesha Runners beserta tim support akan tertawa bahagia saat tiba di garis finish. Menjadi dokumentasi terindah yang bakal dikenang oleh siapapun yang menjadi bagian dari kehidupan mereka. Bismillah.[]

Advertisements

One thought on “We Are Big Family of 94nesha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s