Travel Blogger dan Tour de Singkarak 2018

Mendengar kata ‘Minangkabau’ sudah pasti akan langsung merujuk pada sebuah provinsi di Swarnadwipa alias Andalas alias Pulau Sumatera. Bagi sosok itu, ciri khas yang mudah didapatkan dari provinsi ini dari kulinernya adalah rendang. Dan mimpinya kalau bisa menginjakkan kaki di buminya adalah bisa melihat langsung dari dekat dan mengabadikan Rumah Gadang. Minang, Rendang, dan Rumah Gadang adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan. Kecantikan Minangkabau jelas tergambar dari kebudayaannya yang begitu kaya. Begitu pula dengan kecantikan uni-uni di sana. Mata lelakinya tidak bisa menampik. Perpaduan kecantikan manusia dengan kreasi budayanya adalah kekayaan yang harus dijaga.

Wisatawan lokal Indonesia dan mancanegara yang terbiasa bertualang pasti akan mencarinya. Bersamaan dengan diadakannya Tour de Singkarak 2018, inilah peluang yang harus diambil Pemprov Sumbar untuk mengabarkannya pada dunia. Ratusan pembalap internasional tidak hanya saling berburu podium tetapi juga akan menikmati kecantikan Minangkabau. Ya, ajang balap sepeda internasional Tour de Singkarak (TdS) kembali digelar. Event yang memadukan sport dan tourism ini akan diadakan pada 3-11 November 2018. Sebanyak 20 tim dari dalam dan luar negeri (15 diantaranya merupakan tim internasional) dipastikan ambil bagian dalam event akbar yang bakal melintasi 16 kabupaten/kota di Sumbar sepanjang 1.267 km.

Rumah Gadang

Istano Baso Pagaruyuang

Ada 8 etape yang akan dilalui pembalap selama 8 hari. Semua etape dilaksanakan di sekeliling Danau Singkarak, salah satu dari dua danau terbesar di Sumatera Barat. Sungguh beruntung sosok itu berkesempatan meliput Tour de Singkarak 2018 khusus etape 1 (4/11/2018), yaitu yang mengambil titik start di Lapangan Kantin Wirabraja Bukittinggi dan finish di Gedung Pancasila Sijunjung. Total jarak yang ditempuh pada hari pertama tersebut adalah 140,5 km. Dimulai dari Lapangan Kantin Wirabraja, peserta TdS akan melewati Panorama, Pasar Banto, Jalan Raya Bukittinggi Payakumbuh, hingga menikmati tanjakan di Baso. Setelah itu mereka akan melewati daerah pesawahan di Batusangkar, kemegahan Istano Pagaruyung, lanjut ke Saruaso, Sitangkai, Tanjung Ampalu, dan Gambok. Pada akhirnya para pembalap ini semakin beradu cepat di Muaro Tobi, Tanah Badantuang, Lintas Sumatera, Perkampungan adat, dan selesai di Gedung Pancasila Sijunjung.

Banner_025

Catat ya … seharusnya ini tidak terjadi pada seorang travel blogger. Sekali lagi, tidak boleh terjadi. Namun apa daya karena nasi sudah menjadi bubur dan kejadian tersebut adalah pengalaman terkonyol dirinya. Bagaimana tidak? Sosok itu sudah mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Pada saat tahu bahwa dirinya harus meliput TdS 2018, dia pun langsung memesan tiket Bus Primajasa jurusan Bandung ke Bandara Soetta. Pukul 23:05 bus berangkat dengan jumlah penumpang yang tidak penuh. Kabar tidak mengenakkan bahwa macet di Tol Cikampek membuatnya was-was. Kata keneknya bisa sampai 7 jam! Kalau berangkat pukul 23 maka diperkirakan sampai bandara adalah pukul 6, sedangkan pesawatnya berangkat pada jam yang sama. Nah lho! Untunglah saat bus melakukan inspeksi penumpang di Rest Area 125 sebelum Padalarang, diputuskan kalau jalur yang akan digunakan adalah Jonggol.

Bus pun keluar dari Padalarang dan perjalanan berkelok dilewati di daerah Cipatat dan Citatah. Setelah melewati Rajamandala, bus berbelok ke kanan, menuju Jonggol. Sosok itu tidak mau tahu, setelah berbisik nama Sang Maha, dia memaksakan diri untuk istirahat. Mata terpejam. Pada pukul 3 dini hari, matanya membuka dan tubuhnya menggeliat. Bus baru saja melewati Cileungsi dan siap memasuki pintu tol Cibubur. Agak tenang. Setelah di dalam tol, dia merasa was-was karena bus berhenti agak lama. Entah macet karena apa. Doa dipanjatkan lagi … dan untungnya hanya sementara. Jiwanya makin tenang saat bus sudah masuk ke area Cengkareng. Sampai di Terminal 3, waktu menunjukkan pukul 3:45. Alhamdulillah ya, Rabb. Dia pun langsung menuju toilet untuk bebersih, setelah itu ke Mushala Pria yang ada di sebelahnya. Azan Subuh bergema. Hatinya terasa tenang.

Tiket Garuda

Dua tiket Garuda? Jangan sampai terjadi!

Beres shalat, WAG Tour de Singkarak sudah mulai berisi. Beberapa kawan seperjalanan dari GenPI mulai berdatangan. Dia pun segera check-in dan turun ke bawah. Gate 14 adalah tempat berkumpul lima orang yang memang berangkat bareng. Ada Kang Bondan selaku PIC, Kang Widi, Kang Jalu dari Jogja, dan Kang Dika. Pukul 6 mereka semua bersiap-siap di depan gate. Ternyata ada pengumuman delay kira-kira setengah jam. Tiga kawan memilih menuju ke smoking room. Sosok itu dan Kang Bondan memilih mencari makanan kecil. Makan pastel terasa nikmat sambil ngobrol ngalor-ngidul. Taklama sebuah telpon masuk, mengabarkan bahwa tiga kawan pemuja asap sudah di dalam pesawat. Lho! Ini kan baru 15 menit! Keduanya langsung bergegas ke Gate 14, meninggalkan secangkir teh panas yang belum sempat disesap. Setelah sampai di depan petugas tiba-tiba saja di sekelilingnya semua warna memudar menuju pucat. Ada apa?

Sosok itu terpekur. Tidak bisa berkata-kata lagi. Kang Bondan juga demikian. Jawaban petugas gate terngiang kembali, “Mohon maaf, pesawatnya sudah berangkat. Silakan menuju counter tiket di lantai atas.” Duarrr! Warna pucat yang menyelimuti dirinya meledak. Oke, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Tiba-tiba saja hati ini seperti berpindah dan masuk ke dalam petualangan Elsa di film Frozen. Brrr! Jalan kaki, naik lift, mata berputar mencari counter yang tepat, tidak ada dialog saat melakukan semuanya. Akhir kata … beli tiket lagi untuk penerbangan selanjutnya. Dan memang, selalu ada orang-orang yang ikut mengantri kembali membeli tiket ke kota tujuan karena terlambat, apa pun alasannya. Okelah anggap saja gak masalah kalau tertinggal karena masalah kemacetan yang tidak bisa diprediksi, tetapi yang terjadi pada diri #SangPejalan kali ini adalah … KONYOL banget! Gak banget dan gak mau terulang kembali. Titik.

Travel Blogger

Hikmah dari keterlambatan adalah
bertemu Gio dan Shasya yang mau ke Batam hahaha

Banner_026

Lupakan kejadian tidak bisa mencicipi penerbangan GA 160 pada pukul enam dan malah berganti dengan penerbangan GA 148 pukul sembilan. Hufh! Matahari belum berada di titik kulminasinya, tetapi ciri khas cuaca di Bandara Internasional Minangkabau sudah terasa. Panas. Aura Tour de Singkarak 2018 sudah terlihat di setiap sudut. Spanduk, baliho, bahkan iring-iringan mobil official terlihat mondar-mandir di jalan utama. Beberapa pembalap sepeda juga terlihat sedang latihan sebagai bagian dari adaptasi rute. Di Lembah Anai, satu tim pembalap sedang mengadakan briefing. Jiwa sosok itu meruah. Destinasi impian sudah ada di sekelilingnya. Inilah bumi yang sering didengar dalam sebuah lirik lagu daerah, “Kampuang nan jauh di mato.” Meski bukan dalam rangka piknik, tetapi baginya … perjalanan ke mana pun dan tugas apapun adalah piknik.

Wajar jika TdS 2018 menjadi ajang balap sepeda dunia karena melihat dengan mata sendiri rute Padang – Lembah Anai – Padang Panjang – Bukittinggi, pembalap tidak hanya ditantang untuk menempuh jalan mulus yang berkelok-kelok, menanjak dan menurun, tetapi juga disuguhi oleh pemandangan indah khas Sumatera Barat. Air terjun Lembah Anai saja yang begitu menggetarkan jiwa terletak tepat di sisi Jalan Raya Padang Bukittinggi. Itu baru sebagian kecil rute dari delapan etape. Sepuluh tahun penyelenggaraan TdS tentu membuat Pemprov Sumbar dan Kemenpar RI semakin siap dan terus menyempurnakannya. Lebih dari duapuluh negara menjadi saksi atas tim pembalap yang dikirimnya. Robert Muller, Paerapol Chawchiangkwan, Amir Kolahdouz, Ricardo Garcia, dan Jamal Hibatulloh atau Dadi Suryadi siap bersaing menjadi yang terbaik. Siapakah di antara mereka atau pembalap lain yang bakal memakai kaos kuning?

Tour de Singkarak

Sesampainya di Bukittinggi, sosok itu dan rombongan GenPI meletakkan barang di Hotel Primadini. Ini hotel syariah, lho. Lokasinya berada di Jl. Yos Sudarso, tidak jauh dari ikon terkenal Sumatera Barat, yaitu Jam Gadang. Sudah terbayang dalam pikirannya untuk berlari dari hotel, melewati Jam Gadang, Monumen Bung Hatta, dan pastinya memotret di sana. Gerimis membasahi aspal jalan. Dia pun bergegas ke Taman Panorama, objek wisata dimana terdapat Lobang Jepang dan Ngarai Sianok. Cuci mata dulu sebelum bertugas. Setelah itu langsung ke Lapangan Kantin Wirabraja untuk melihat bagaimana persiapan dari opening ceremony yang bakal diluncurkan malam harinya. Hujan mengguyur begitu lebat saat azan maghrib. Shalat berjamaah di masjid Kodim 0304 Agam Bukittinggi begitu menggetarkan jiwa. Dirinya memang begitu ingin bisa shalat di masjid-masjid yang ada di seluruh Indonesia.

Acara pembukaan TdS pun dimulai. Terlihat Ucok Baba yang begitu piawai menjadi MC. Pada acara puncaknya, seluruh pembalap dibawa masuk ke depan panggung utama diiringi Marching Band Gita Jam Gadang. Bendera negara seluruh peserta berkibar dengan megah meski cuaca dingin terasa menusuk tulang. Lagu Indonesia Raya kemudian bergema, membuat kagum dan bangga masyarakat Bukittinggi yang telah hadir sejak sore. Tarian khas Sumatera Barat menjadi pelengkap bahwa kebudayaan provinsi ini begitu mempesona. Staf Ahli Bidang Multi Kultural Kementerian Pariwisata, Bu Esthy Reko Astuti, mengatakan pada sambutannya bahwa Tour de Singkarak adalah pionir lomba balap sepeda di Indonesia. Jumlah penontonnya terbanyak. Amauri Sport Organisation (ASO) mencatat bahwa TdS selalu mampu menyedot lebih dari satu juta penonton dan layak menduduki peringkat ke-5 dunia dengan 550 ribu penonton. Masih di bawah Tour de France, Giro de Italia, Vuelta a Espana, dan Santos Tour Down Under.

Opening Ceremony

Hak cipta foto milik GenPI

“Ini sangat pas. Event sport tourism TdS 2018 memberikan dua dampak sekaligus. Yakni dampak langsung pada ekonomi masyarakat (direct impact economic value) dan media value yang tinggi terhadap promosi pariwisata Sumbar secara nasional dan internasional,” lanjut Bu Esthy. “Kemampuan pengembangan pariwisata akan menimbulkan multiplier effect. Perkembangan pariwisata akan sejalan dengan pertumbuhan fasilitas pendukung pada konsep pariwisata. Dengan pesatnya pertumbuhan pariwisata, maka pertumbuhan sektor lainnya langsung mengikuti. Inilah pariwisata. Kemenpar akan terus mendukung perhelatan TdS.” Pada akhir acara, sebagai simbolisasi, beberapa pejabat memukul gandang tasa bersama-sama bahwa Tour de Singkarak 2018 telah dibuka.

Masyarakat Bukittinggi ikut bahagia karena setelah itu Andra and The Backbone langsung memeriahkan panggung. Lagu pamungkas “Sempurna” seolah-olah sebagai doa agar Tour de Singkarak 2018 ini bisa terselengara dengan sempurna. Sosok itu dan rombongan yang turut bekerja sejak siang kemudian berkumpul dan makan Sala Lauak, yaitu makanan gorengan khas Pariaman berbentuk bola yang berisi teri atau udang halus. Sala lauak mirip comro di Jawa Barat tetapi tidak keras. Tekstur di dalamnya lembek dan renyah di permukaan. Nikmat sekali.[]

Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat dari angle yang berbeda (Foto: Kang Jalu GenPI)

Bersambung ke Nagari Tuo Pariangan dan Kawa Daun

Advertisements

One thought on “Travel Blogger dan Tour de Singkarak 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s