Nagari Tuo Pariangan dan Kawa Daun

Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya membaca dulu Travel Blogger dan Tour de Singkarak 2018 ya.

Hari Ahad, 4 November 2018, semua pembalap telah bersiap sedia di titik start di depan Lapangan Kantin Wirabraja. Pembukaan yang meriah dengan Tari Piring dan tambahan atraksi ala debus menjadi penghangat pagi. Bagaimana tidak, pecahan piring dijadikan pencuci muka macam tidak ada lagi air di sana. Etape 1 akan dimulai dari titik tersebut sampai ke Gedung Pancasila di Kabupaten Sijunjung. Jarak total adalah 140,5 km. Sosok itu sudah survei rute bahwa setelah start para pembalap akan melewati Panorama (Ngarai Sianok), Pasar Banto, Jalan Raya Bukittinggi Payakumbuh, Baso, Batusangkar, Istano Pagaruyuang, Saruaso, Sitangkai, Tanjung Ampalu, Gambok, Muaro Tobi, Tanah Badantuang, Lintas Sumatera, dan Perkampungan Adat. Sampai Jalan Raya Bukittinggi Payakumbuh jalan cenderung datar dan masih daerah perkotaan sehingga mereka tidak akan mengalami kesulitan.

Banner_028

Nah, di daerah Baso, para pembalap akan melewati jalan kecil dan berkelok-kelok, dan naik turun karena menyisiri perbukitan. Indah pemandangannya menatap Gunung Marapi di sebelah kanan, lalu jalan menurun setelah Baso langsung dimanja oleh pemandangan di kanan-kiri Jalan Raya Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar. Kehidupannya tiba-tiba merasa tenang saat memandang pesawahan itu. Wajar saja, perjalanan supercepat dari Bukittinggi hingga ke tempatnya berada segera meningkatkan hormon adrenalinnya. Sajian kopi susu semakin menambah nikmat suasana. Perbedaan dua jam lebih dulu dengan start para pembalap sepeda bertujuan untuk mencari spot foto yang kece. Targetnya adalah di sekitar Istana Basa Pagaruyung. Pesawahan di sekitarnya memang menyegarkan, tetapi tidak ada ciri khas Minangkabau. Beres menyesap kopi susu, dia melanjutkan perjalanan ke Batusangkar, ketemu pertigaan lalu lanjut ke Jl. Sultan Alam Bagagarsyah. Tujuannya adalah Istana Basa Pagaruyung.

Ranah Minang

Pesawahan di tepi Danau Singkarak (Foto: Ivan GenPI)
Inset: Orang Minang membawa anjing untuk berburu (Foto: Bang Aswi)

Oya, sejak turun dari Pasar Baso dan nongkrong di pesawahan Sungai Tarab, sosok itu melihat banyak sekali pemotor yang membawa anjing. Beberapa mobil pickup juga membawa banyak anjing. Termasuk saat selesai liputan TdS 2018 dan nongkrong di tepi Danau Singkarak, banyak pemotor yang lewat membawa anjing. Merekalah anjing pemburu yang siap mengejar babi hutan. Pelatihannya jelas ada, salah satunya di Jorong Baso, Nagari Tabek Panjang, Kecamatan Baso. Unik, kan? Dan budaya ini ternyata sudah bertahun-tahun lamanya dilakukan oleh masyarakat Sumatera Barat. Satu lagi budaya yang begitu menarik untuk diceritakan. Lanjut lagi … sebelum sampai, sosok itu melihat ada dua rumah gadang milik pribadi, yaitu milik Aminuzal Amin Datuk Rajobatuah Gudam dan Istana Silindung Bulan. Rumah gadang pertama hanya memiliki satu rangkiang, sedangkan yang kedua sudah memiliki dua rangkiang.

Istana Baso Pagaruyung

Sampai di depan Istana Basa Pagaruyung, dia menangkap kesan bahwa tempat itu tidak bagus dijadikan latar foto. Namun sosok itu tetap masuk dengan tiket Rp15.000 untuk mengabadikan beberapa sudut istana dengan pengunjung yang memakai baju daerah. Gerimis pun turun dan beberapa petugas polisi tampak mensterilkan jalan. Warga mulai menumpuk di pinggir jalan. Tempat tersebut tidak bagus untuk latar foto. Akhirnya disepakati untuk stand by di depan Istana Silindung Bulan. Lokasinya terlihat lebih menarik. Marshal motor terlihat beberapa kali lewat, tanda para pembalap makin dekat. Kecepatan mereka memang luar biasa. Dua pembalap lewat dan diikuti rombongan pertama. Entah siapa itu, bisa jadi Khalil Khorshid dari Tabriz Shahrdary Team Iran yang menjadi juara umum TdS 2017. Rombongan kedua lewat kemudian, disusul rombongan ketiga dan akhirnya iring-iringan mobil panitia. Angin berembus kencang. Ada 114 pembalap yang berasal dari Korea Selatan, Jepang, Cina, Iran, Laos, Filipina, Kamboja, Malaysia, Jerman, Australia, dan Indonesia.

Tour de Singkarak

Inset: Seorang Uni memandang di jendela Istana Basa Pagaruyung
Para pembalap melewati Istana Silindung Bulan

Tugas memotret selesai saat petugas terakhir memberitakan melalui pengeras suara, mengucapkan terima kasih pada warga yang telah bekerjasama dengan baik. Rencana yang baik dijamin akan menghasilkan foto yang baik. Beberapa jam kemudian para pembalap berhasil finish di Gedung Pancasila Sijunjung. Ternyata pemenang pertama adalah Jamalidin Novardianto (Indonesia) dari Tim PGN. Ini kabar yang membahagiakan. Ia berhak mengenakan kaos kuning (juara umum), kaos hijau (juara sprint), dan kaos merah polkadot (juara tanjakan). Indonesia (memang) juara! Sosok itu kemudian kembali mengukur jalan setelah sebelumnya mengisi perut dengan nasi kapau. Tiga kali sehari makan rendang selama tiga hari. Luar biasa. Hidupnya memang di jalan. Dari hari kedatangan hingga selesai liputan, dia hanya muter-muterin Gunung Marapi. Dari Padang Panjang – Bukittinggi – Batusangkar – Padangpanjang. Meski akhirnya sampai juga di Padang.

Kabar terakhir didapatkan bahwa Jesse Ewart (Australia) dari Sapura Cycling Team berhasil meraih juara umum, diikuti oleh Nikodemus Holler (Jerman) dari Bike Aid dan Ariya Phounsavath (Laos) dari Thailand Continental Cycling Team. Untuk kategori tim, peringkat pertama berhasil diraih oleh Thailand Continental Cycling Team, lalu Bike Aid di peringkat kedua, dan Indonesia KFC Cycling Team di peringkat ketiga. Oleksandr Polivoda (Ukraina) dari Ningxia Sports Lottery-Livall Cycling Team keluar sebagai King of Mountain (KOM) alias Raja Tanjakan dan sekaligus Raja Sprint sehingga berhak mengenakan jersey hijau dan jersey polkadot.

Banner_027

Bukittinggi dan Padang. Dua nama yang begitu terukir dengan indah di dalam hati. Siapa yang bakal menyangka bahwa sepeda bisa membuat banyak manusia berduyun-duyun ke Sumatera Barat, termasuk dirinya. Tidak hanya masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara memaksakan diri datang untuk menyaksikan lomba balap sepeda Tour de Singkarak 2018. Bersepeda menjadi bukti bahwa tidak hanya tubuh yang menjadi sehat, alam pun bakal sehat karena tidak terkena polusi, dan masyarakat merasakan dampak kunjungan wisatawan dari mancanegara maupun lokal. Jadi … hayuklah bersepeda dengan riang gembira dan sebarkan manfaatnya yang begitu menyehatkan.

Sore hari di Danau Singkarak, akhirnya baru sampai di Padang pada pukul sembilan malam. Ditemani hujan deras, badan terasa lemas setelah perut disiram Mie Rebus Lokan. Hari-hari yang melelahkan. Meski demikian, sosok itu masih menyempatkan diri untuk lari pagi 5K di Bukittinggi dan Padang. Berusaha sehat sambil meraba daerah dengan kakinya sendiri, terasa lebih menyentuh daripada hanya melihat dari dalam mobil. Hidup di jalan, pada akhirnya membawa sosok itu menikmati dua hal unik di Minangkabau, yaitu Nagari Tuo Pariangan dan Teh Kawa Daun. Kalau sudah ke Sumatera Barat, takelok rasanya kalau tidak datang melihat dan merasakan aura di Nagari Tuo Pariangan alias Desa Pariangan sambil mencicipi minuman hangat Kawa Daun. Kedua hal ini adalah simbol bahwa sosok itu telah sempurna menapaki kakinya.

Nagari Tuo Pariangan

Darimano asa titiak palito,
Di baliak telongnan Batali.
Darimano asa niniak moyang kito,
Dari lereang Gunung Marapi.

Ya, ada sebuah perkampungan di lereng Gunung Marapi yaitu Nagari Tuo Pariangan yang berada di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Travel Budget, sebuah media pariwisata berpengaruh di dunia, bahkan menjatuhkan pilihan pada Nagari Pariangan sebagai desa terindah di dunia. Perkampungan nan sejuk ini mampu bersanding dengan keindahan Desa Wengen dari Swiss, Desa Eze dari Prancis, Niagara on The Lake di Kanada, serta Desa Cesky Krumlov dari Republik Ceko. Luar biasa, bukan? Sudah pasti ada banyak kriteria dalam menjatuhkan pilihan, di antaranya adalah keasrian dan warisan leluhur yang masih terjaga apik. Inilah yang menjadi ciri dan identitas budaya Sumatera Barat. Nagari Tuo Pariangan dapat ditempuh sekitar tiga jam dari Padang atau berjarak sekitar 14 km dari Kota Batusangkar.

Desa seluas 17.92 kilometer persegi ini secara administratif di bawah Kecamatan Pariangan dan terletak di bawah lereng Gunung Marapi. Suasananya sejuk dengan memiliki dua sumber air yang berbeda, air panas dan air dingin. Terdapat sebuah mesjid terbesar yang berusia ratusan tahun di sana, yaitu Masjid Ishlah. Masjid tersebut memiliki gaya arsitektur Dongson ala dataran tinggi Tibet. Sosok itu melihat di desa tersebut juga masih terdapat bangunan rumah gadang dengan dinding anyaman rotan atau kayu berukiran. Atapnya juga masih ada yang terbuat dari ijuk atau seng. Konon, Nagari Tuo Pariangan merupakan desa kuno yang melahirkan sistem pemerintahan khas masyarakat Minangkabau, yang populer dengan nama nagari. Nagari Tuo Pariangan juga dikenal sebagai asal-mula masyarakat Minangkabau.

Masjid Ishlah

Di sana, dia berkenalan dengan Hj. Rosmaniar, yang baru kemarin katanya ulang tahun. Lupa angka pastinya, tapi masih sub 70 alias di bawah 70 tahun. Masih segar dan ramah pisan. Beliau gak tahu berapa usia dari Nagari Tuo Pariangan ini. Neneknya saja juga gak tahu. Terlihat pada foto kalau bangunan di belakangnya adalah Masjid Ishlah. Kontur tanah di sana itu naik turun, tidak landai. Rumah Hj. Rosmaniar ada di atas, jadi untuk shalat beliau harus turun tangga. Mau pulang ya harus naik tangga lagi. Tidak sadar bahwa setiap hari beliau berolahraga. Suasana alamnya segar dan sejuk. Di sana juga ada pemandian umum, untuk laki-laki maupun perempuan dengan ruangan terpisah. Ada air segarnya dan air panasnya. Komplit. Gak heran kalau selalu saja ada warga dari luar Nagari Tuo Pariangan hanya untuk menumpang mandi.

Menjelang maghrib, perjalan dilanjutkan kembali dan mobil berhenti di sisi jalan di daerah Batusangkar. Tepatnya di sebuah warung Kawa Daun Marsya, berhadapan dengan pesawahan dan tanaman bawang. Di sinilah dia melihat dan bisa merasakan nikmatnya sebuah minuman khas Ranah Minang, yaitu Kawa Daun. Kawa Daun adalah minuman mirip teh yang terbuat dari racikan daun kopi. Wadah minumnya juga unik, yaitu terbuat dari batok/tempurung kelapa dengan tatakan bambu sebagai penyeimbang. Dari cerita sang pemilik warung, Kawa Daun merupakan minuman nostalgia para leluhur di Minangkabau yang subur oleh tanaman kopi. Namun pada masa penjajahan Belanda, masyarakat biasa tidak bisa menikmati minum kopi dari biji. Hal ini terjadi karena semua biji kopi diambil oleh penjajah untuk dikirim ke luar negeri. Kopi adalah layaknya minuman para dewa yang tak terjangkau tangan.

Teh Kawa Daun

Namun demikian, timbullah ide kreatif untuk membuat minuman dengan menyeduh daunnya. Demi dapat mencicipi rasa kopi yang harum itu. Dapat dipastikan bahwa ide ini terinspirasi dari cara mengolah daun teh menjadi minuman karena proses pembuatan Kawa Daun tidak jauh berbeda. Daun kopi dikeringkan atau disangrai selama 12 jam di perapian. Setelah kering, diseduh dengan air dingin lalu dimasak kembali sampai mendidih. Kawa Daun bisa disajikan dengan tambahan gula putih, gula merah, ataupun susu kental, sesuai selera. Minum setempurung Kawa Daun yang hangat/panas makin paripurna jika ditemani gorengan panas. Di sana telah tersedia pisang goreng atau tahu/tempe goreng. Rasanya? Seperti teh dengan aroma kopi, mirip rasa jejamuan. Unik dan nikmat. Kelat-kelat sedikit tak apalah.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s