Risiko Saat Berhubungan dengan Fintech

Selasa, 13/11/2018, #BloggerBDG belajar soal fintech alias financial technology di Atmosphere Resort Café Bandung. Teknologi semakin berkembang dan mudah didapatkan, hanya dengan sentuhan jari di atas layar smartphone. Kemudian, meminjam uang pun tidak lagi seribet dulu karena dengan modal smartphone dan aplikasi yang banyak tersebar di Play Store, meminjam uang jadi lebih mudah. Namun, meski katanya mudah, tetap harus hati-hati ya. Kurang lebih itulah yang bisa disimpulkan dalam diskusi yang seru dan panas di siang hari yang berangin. Fintech yang legal alias di-acc OJK baru sekitar 70-an, sementara yang ilegal alias nackal sudah mendekati angka 300 dan pastinya terus bertambah. Wuih! Lalu gimana tahunya ya aplikasi ini dan itu legal sementara di playstore sama sekali gak terbaca?

OJK atau Otoritas Jasa Keuangan terus mengeluarkan atau meng-update daftar fintech legal. Kalau gak salah setiap dua bulan sekali atau sesuai kebutuhan. Berikut adalah tabel (sila klik gambar untuk versi lengkapnya) perusahaan fintech lending berizin dan terdaftar di OJK per Oktober 2018. Dalam daftar tersebut, terlihat bahwa sampai hari ini ada 73 perusahaan yang berizin/terdaftar. Sisanya yang ratusan itu sudah pasti ilegal. Nah, dibanding data per Agustus 2018 tampak sudah ada penambahan sembilan penyelenggara fintech, yaitu Maucash, RupiahOne, Pohon Dana, Dana Cita, DANAdidik, TrustIQ, Danai, Pinduit, dan SmartCapital. Menurut data tersebut, baru satu perusahaan yang berizin, yaitu Danamas. So, jadilah calon nasabah yang cerdas. Berhati-hatilah kalau mau meminjam uang melalui fintech. Meski katanya mudah meminjam tanpa agunan tetapi efek setelahnya bisa jadi jauh lebih berbahaya. Kuy ah melek digital.

Daftar Fintech Legal

Banner_031

Sosok itu jadi teringat sendiri bagaimana dia bisa berhubungan dengan bank. Tidak disengaja tetapi memang sudah kebutuhan dan alhamdulillah memang jalannya harus seperti itu, yaitu saat mengambil rumah sederhana di daerah Bandung Selatan. Kejadiannya pada 2004, dua tahun setelah menikah. Beruntung sekali pengurusannya begitu mudah meski pastinya repot juga harus memepersiapkan ini-itu dan uang muka yang tidak sedikit. Meski sampai sekarang masih ada hutang ke bank karena terus nambah untuk kepentingan renovasi dan lain-lain, rumahnya sudah bisa ditempati dan ada kebanggaan bagi anak-anak kalau mereka sudah memiliki rumah sendiri. Hubungan dengan bank untuk kedua kalinya adalah saat harus mencari tambahan modal untuk usaha. Dari beberapa bank, terpilihlah satu bank BUMN. Ribetnya cuma di awal, setelahnya dana langsung cair dan tinggal memenuhi kewajiban untuk menyicil hutang. Dua kali dia berhubungan dengan bank untuk modal tambahan usaha, dan alhamdulillah sudah beres semua alias sudah lunas.

Kalau dipikir-pikir, pinjam uang ke bank itu memang sedikit ribet dan harus ada agunannya. Makin besar nilai agunannya semakin besar pula uang yang bisa dipinjam. Agunan yang bisa dipakai saat dia mengambil rumah adalah SK pengangkatan pegawai. Ini lebih efektif dan mudah. Yang kedua adalah Sertifikat Tanah milik orangtua. Ini juga mudah, tetapi tanggung jawabnya besar. Dia juga sempat ganti bank karena ingin sertifikat rumahnya ada di tangan, dan rencana itu mulus. Sungguh beruntung saat ingin memiliki kendaraan bermotor, dia diberikan rezeki sehingga tidak harus memakai agunan meski harus nyicil. Kini semuanya sudah lunas. Nama baiknya di dunia perbankan masih baik dan sering mendapatkan tawaran untuk meminjam lagi atau tawaran kartu kredit. Oiya, dia memang gak pernah mau memakai kartu kredit. Titik.

Berhubungan dengan pihak bank, kalau tidak tepat waktu dalam pembayarannya pasti akan repot dan menyebalkan. Penagihan yang terus-menerus akan terasa seperti teror takberkesudahan dan tentunya hal itu akan berefek pada kacaunya sistem keuangan di dalam rumah tangga. Oleh karena itulah dalam meminjam dana ke bank, harus dipikirkan dengan matang-matang. Meskipun lagi butuh banget, ya jangan bernafsu juga. Paling tidak pastikan harus meminjam pada bank yang sudah punya nama baik, lalu pinjamlah sesuai kebutuhan dan maksimal 30% dari penghasilan. Setelah itu pastikan untuk melunasi cicilan tepat waktu agar tidak ada denda, serta akhirnya jangan pernah melakukan gali lubang dan tutup lubang. Meski awalnya mudah, tetapi pada kenyataannya bakal berujung pada ketidakmampuan untuk melunasi semuanya. Percaya deh.

Ngobrol Tempo

Nah, balik lagi ke soal diskusi tentang Fintech di atas. Tempo Media Group menyelenggarakan Ngobrol Tempo dengan tema “Sosialisasi Program Financial Technology Peer to Peer Landing, Kemudahan dan Risiko untuk Konsumen.” Seru banget. Permbicaraan dimulai dari perkenalan, apa itu fintech, bagaimana cara berhubungan dengannya, dan akhirnya risiko apa yang melingkupinya. Ya, perkembangan pesat teknologi informasi mendorong munculnya banyak perusahaan start up di sektor keuangan. Keberadaan industri financial technology atau fintech berbasis peer to peer (P2P) Lending memberikan alternatif kepada masyarakat untuk layanan peminjaman uang selain produk konvensional. Fintech pada dasarnya sederhana. Asal punya smartphone, lalu unduh aplikasinya, maka seseorang sudah bisa memiliki akses untuk meminjam uang. Segampang itu.

Jumlah pemain yang banyak dan dukungan aturan resmi yang dibuat OJK membuat P2P lending menjadi salah satu sektor fintech yang tumbuh cepat di Tanah Air, selain sektor pembayaran dan e-money. Namun, perlindungan konsumen menjadi hal yang penting dalam menjalankan bisnis fintech berbasis P2P Lending. Dikutip dari situs OJK, sampai 19 Oktober 2018 jumlah perusahaan fintech P2P Lending yang terdaftar atau berizin OJK baru mencapai 73 perusahaan. Padahal di luar sana atau di Play Store yang ada di smartphone, tercatat sudah ada ratusan perusahaan fintech. Nah lho?! Jangan sampai terjadi lagi berita takmengenakkan dari sistem fintech ilegal, seperti terjadi pada beberapa warga Kota Bandung yang merasa jadi korban sistem penagihan peminjaman uang di perusahan fintech. Mereka sampai mendatangi kantor OJK Regional II Jabar, Bandung, untuk mengadukan nasib setelah terlilit utang plus mendapat teror penagihan dengan cara mengirim SMS ke semua kontak telpon di ponsel pengguna. Gak banget kan?

Banner_032

Sampai dengan Agustus 2018, jumlah rekening penyedia dana (lender) P2P lending mencapai 150.061 entitas atau meningkat 48,66 persen. Sedangkan jumlah rekening peminjam (borrower) mencapai 1.846.273 entitas atau meningkat 611,10 persen. Total penyaluran pinjaman hingga Agustus 2018 sebesar Rp 11,68 triliun atau meningkat 355,73 persen. Tampak jelas pada data tersebut bagaimana perkembangan fintech di Indonesia. Begitu pesat dan masif. Kalau tidak diimbangi dengan kehati-hatian tentu akan merugikan investor maupun nasabah fintech. Padahal dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016, diatur kewajiban bagi penyelenggara P2P Lending untuk segera mendaftar ke OJK. Namun baru 73 perusahaan fintech yang terdaftar dan telah dipublikasikan OJK di laman resminya.

Sosok itu kemudian tertarik untuk membahas Modalku, yang perwakilannya kebetulan juga hadir sebagai pembicara. Modalku adalah brand fintech dari PT Mitrausaha Indonesia Group yang sudah terdaftar dengan nomor S-2493/NB.111/2017 pada 31 Mei 2017. Di Indonesia, Modalku sendiri telah menyalurkan lebih dari Rp 1,1 triliun dan berhasil menjangkau jauh lebih banyak UMKM di Indonesia dan Asia Tenggara selama 2018. Menurut Sigit Aryo Tejo, Head of Micro Business Modalku, “Di Indonesia, UMKM memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung perekonomian Indonesia. Modalku sangat bangga dapat mendukung perkembangan sektor ini.” Modalku juga menyediakan layanan peer-to-peer (P2P) lending. UMKM lokal yang berpotensi dapat memperoleh pinjaman modal usaha tanpa agunan hingga Rp 2 miliar didanai oleh pemberi pinjaman platform (individu atau institusi yang mencari alternatif investasi) melalui pasar digital.

Blogger Bandung

Dari sejak berdiri, Modalku telah meraih Pendanaan Seri A dan Seri B terbesar bagi platform P2P lending di Asia Tenggara, masing-masing sebesar Rp 100 miliar dan Rp 350 miliar. Pendanaan Seri B Modalku, yang diumumkan April 2018, didukung oleh SoftBank Ventures Korea, Sequoia India, Alpha JWC Ventures Indonesia, serta Golden Gate Ventures. Modalku sendiri telah menerima berbagai prestasi di tahun 2018, termasuk dipercaya sebagai salah satu partisipan di Konferensi Internasional NextICorn (Next Indonesian Unicorns) oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia dan Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo). Asyik kan kalau bisa berhubungan degan fintech yang legal. Itu juga kalau cicilannya aman dan terkendali.

Jangan sampai deh kejadiannya seperti yang terjadi pada perempuan berinisial L yang tak pernah membayangkan dirinya akan nekad menenggak minyak tanah untuk mencoba mengakhiri hidupnya. Semua itu berawal dari persoalan utang senilai Rp500 ribu dari sebuah aplikasi fintech. Perempuan berusia 40 tahun ini awalnya hanya meminjam duit Rp500 ribu dari salah satu aplikasi. Dana pinjaman yang cair hanya Rp375 ribu tetapi ia harus mengembalikan beserta bunganya lebih dari Rp600 ribu dalam dua pekan. Dihitung-hitung ternyata bunga yang harus dibayarnya cukup besar, yaitu sekitar 20 persen. Oke, awalnya ia merasa sangat terbantu dengan adanya aplikasi itu. Uang cair begitu cepat tanpa proses yang rumit. Modalnya hanya memberikan nomor Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan memfoto wajah sendiri bersama kartu identitas. Akhirnya, demi menutupi utang tersebut, perempuan itu malah meminjam lagi pada aplikasi fintech lainnya, hingga kemudian … ada sembilan aplikasi pinjaman uang yang digunakan.

“Jadi saya kayak gali lobang tutup lobang. Mungkin itu karmanya riba ya, uang abis dimakan jin dan setan,” katanya sambil mulai menitikan air mata. Bunga dari tiap aplikasi taksama dan beberapa fintech bahkan sudah tidak sesuai dengan perjanjian awal. Uang yang dia putar pun mencapai puluhan juta rupiah, dari pinjaman awal yang taksampai Rp1 juta. Jangan ditanya soal teror yang harus diterimanya melalui telepon, WhatsApp, dan SMS.

Tips Meminjam di Fintech

Nah, karena itulah OJK memberikan tips meminjam di Fintech Peer to Peer Lending, yaitu (1) Pastikan meminjam pada perusahaan yang terdaftar/berizin di OJK, (2) Pinjam sesuai kebutuhan dan maksimal 30% dari penghasilan, (3) Lunasi cicilan tepat waktu, (4) Jangan lakukan gali lubang dan tutup lubang, (5) Ketahui bunga dan dendanya sebelum meminjam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s