Lois, Denim Everyday and Everywhere

The best way to have a good idea
Is to have a lot of ideas
and Denim is always a good idea

Menjadi seorang travel blogger tidak hanya membutuhkan stamina dan materi yang kuat, tetapi juga mental dan outfit yang mumpuni. Ini bukan main-main. Sosok itu merasakannya sendiri semenjak suka jalan-jalan lebih jauh lagi. Tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga merambah ke seantero Nusantara dan termasuk ke luar negeri. Seiring dengan usia yang semakin terus bertambah, tentu membuatnya sadar akan nikmat sehat. Perlahan tapi pasti, dia mulai menggemari dan mencoba konsisten untuk menjadikan lari sebagai olahraga kesehariannya. Soal materi, bisa disiasati dengan jejaringnya yang luas. Alhamdulillah untuk beberapa trip traveling, dia tidak perlu mengeluarkan dana dan bahkan dibayar. Artinya … semua itu bisa terjadi karena faktor pengalaman dan jejaring yang luas. Stamina dan materi sudah teratasi, maka fokusnya diarahkan pada mental.

Hati manusia tidak ada yang tahu. Penampilan sangar dan berkesan parlente alias ‘berada’ tidak menjamin seseorang mau diajak jalan. Begitu pula sebaliknya. Jadi, don’t judge a book by it’s cover. Sosok itu pun mengakui masalah mental ini harus dilatih. Mentang-mentang sering jalan atau diajak jalan, tidak menjadikan seseorang berani untuk jalan sendiri. Dia pun kemudian melatih dirinya dengan melakukan ‘solo traveling‘ bersepeda dari Bandung ke Jakarta atau sebaliknya. Tidak mudah. Selain harus menguatkan tenaga, masalah mental juga memegang peranan penting. Untuk beberapa trip, dia juga memberanikan untuk jalan sendiri. Pada akhirnya, dia berhasil mengatasi masalah mental ini, paling tidak terus berproses. Lalu … seberapa penting outfit dijadikan faktor utama untuk traveling? Jelas, amat penting. Supaya tidak ribet, biasanya dia suka dengan celana yang bisa dipakai jalan, lari, bersepeda, tanpa harus diganti-ganti.

Toko Lois BIP Bandung

Nyaman dan kuat tentu harus melekat pada celana pilihannya. Biasanya sosok itu menggunakan celana gunung atau sejenisnya. Jenis celana tersebut sudah begitu dikenal, sehingga tidak heran kalau lagi jalan, ada saja orang-orang yang menggunakannya. Di luar itu, ada celana jeans. Namun dia tidak begitu suka karena salah satu faktornya adalah agak kaku dan susah untuk bergerak. Namun kemarin … dia ditunjukkan pada salah satu momen untuk mencoba celana jeans lagi, bahannya pun dipilihkan yang ‘stretch‘ alias bisa melar. Orang Sunda mah menyebutkanya, “Meral.” Dia begitu terkejut dan sumringah. Wow! Tiba-tiba saja dia seperti anak kecil yang langsung berlari di tengah lapang, mencoba berbagai macam permainan yang ada di sana. Jongkok, melompat, berlari, berjalan, atau berputar-putar. Tidak terasa kaku. Begitu nyaman meski modelnya ‘skinny fit‘ atau model pensil. Dan percayalah … kelak, dia akan begitu suka dengan celana denim yang bagai keajaiban telah hadir di depan matanya itu.

Banner_036

Pagi menjelang siang, sosok itu berjalan di pekarangan Stasiun Bandung. Menunduk memperhatikan hape dan sesekali membelah barisan mobil yang diparkir. Jumat (7/12/2018), dia telah bersiap untuk kembali traveling ke Jakarta. MPR RI mengumpulkan para blogger dari 11 provinsi untuk berkumpul bersama, merumuskan deklarasi yang dianggap penting akan perkembangan dunia internet dan media sosial (medsos) yang begitu dahsyat. Targetnya sih bagaimana bisa memberikan pemahaman agar bijak dalam bermedsos dan tentu saja tidak menyebarkan berita bohong. Dia beruntung karena menjadi bagian dari empat orang pilihan dari Jawa Barat yang diutus. Sebagai rasa bersyukur, dia pun jalan dengan memakai Lois jeans plus dua outfit sebagai atasannya. Ya, dia baru saja memborong celana denim, t-shirt, dan kemeja dari brand Lois.

Jeans? Denim? Ini nih yang sering menjadi perdebatan yang tidak terlalu sengit. Apakah jeans dan denim itu sama? Jadi, sebenarnya denim itu adalah nama bahan kainnya. Bahan denim dibuat di sebuah kota di Perancis, bernama Nimes. Para penenun dari Nimes berusaha untuk membuat replika dari ‘cotton corduroy‘ yang membuat kota Genoa di Italia terkenal. Namun, setelah terus mencoba dan tetap gagal, mereka akhirnya malah menemukan sebuah jenis tekstil baru yang disebut ‘Serge de Nimes‘. Untuk memudahkan penyebutan, disingkat saja menjadi ‘de Nims’ atau denim. Nah, denim merupakan material kain yang kokoh, terbuat dari katun twill. Teksturnya mirip karpet namun lebih tipis dan halus. Pertama kali diciptakan, denim hanya memiliki satu warna yaitu indigo. Tapi seiring berkembangnya zaman, dibuatlah warna-warna lain seperti hitam, abu-abu, putih khaki, dan warna-warna terang lainnya.

T-Shirt LoisJeans sendiri merupakan sebutan khusus untuk celana denim. Pertama kali diciptakan oleh Jacob Davis dan Levi Strauss pada 1873. Awalnya jeans didesain untuk para koboi dan pekerja kasar pada era 50-an. Ya, para penambang emas Amerika mencari pakaian yang mempunyai daya tahan kuat dan tidak mudah rusak. Levi’s menjawab pencarian panjang itu. Rivet pun ditaruh pada daerah-daerah dari pakaian tersebut yang mudah sobek, supaya lebih kuat. Pada 1930-an, banyak film layar lebar menampilkan cowboy atau koboi yang sering memakai celana jeans. Ini membuat denim jeans sangat terkenal dan kemudian banyak yang mulai memakainya. Produksi jeans sempat menurun karena adanya Perang Dunia Kedua. Namun para prajurit Amerika membuatnya terkenal lagi dengan memakai celana jeans sebagai pakaian santai saat sedang tidak bertugas. Usai perang, muncullah berbagai perusahaan kompetitor yang membuat celana dari bahan denim juga seperti Wrangler, Lee, dan Lois.

Asyik kan belajar tentang sejarah denim dan celana jeans. Kesimpulannya, bahan kain denim jelas lebih tua usianya jika dibandingkan dengan celana jeans. Denim itu bahan kain sementara jeans itu celana berbahan denim. Lanjut ya … awal lahirnya, Lois dimulai pada tahun 50-an, saat dua bersaudara dari Valencia di Spanyol memulai sebuah usaha pakaian. Awal yang tidak mudah sehingga usaha mereka baru berkembang pada 1962, yang awalnya dikenal sebagai merek jeans untuk kelas pekerja. Di bawah bendera perusahaan garmen Saez Moreno Group, Lois makin berkembang sebagai merek Eropa yang sangat diperhitungkan, termasuk di Inggris dan Perancis. Di Indonesia sendiri, Lois masuk di bawah bendera PT. Intigarmindo Persada pada 1978. Dengan bahan denim yang berkualitas, Lois menempatkan diri di kalangan para pecinta celana jeans dan turunannya sebagai brand yang patut diperhitungkan. Wajar kan kalau sosok itu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat dan mencoba Lois sebagai celana denim pria pilihannya. Asyeeek.

Banner_037

In contrast to other great jeans brands of that time we focussed on a fashionable and sexy pair of jeans. Soon, young people all over the world recognised that we were their perfect fit. And although we have been around for quite some time now, we never grew old. It’s our positive and proud Valencian spirit that makes us timeless.

Pertama kali memasuki Toko Lois di BIP Bandung pada hari sebelumnya, dirinya bimbang. Benarkah dia bakal mau memakai lagi celana jeans dengan usia yang tidak lagi muda? Namun ini tantangan … dan siapa tahu ada petualangan baru seperti halnya dia begitu menyukai dengan hal-hal yang berbau petualangan. Sosok itu begitu lama memilih, khawatir kalau pilihannya bakal salah. Biasanya memang begitu, meski ukurannya benar, bahannya ternyata kaku dan tidak nyaman kalau harus jongkok atau shalat. Bismillah. Untunglah wanita sang penjaga toko begitu sabar dengan berbagai macam pertanyaannya. Dia pun dijelaskan tentang bahan stretch dan warna hitam yang cenderung kurang elastisitasnya. Pada akhirnya dia memilih Lois Jeans bernomor 34. Ini keajaiban karena beberapa bulan sebelumnya nomor celananya adalah 36. Begitu pula dengan t-shirt dan kemeja yang juga turun menjadi L, bukan XL. “Ahhh … inikah tanda-tanda keberkahan?”

Celana Denim

Sosok itu kemudian pulang dengan hati bungah. Bahagia rasanya membawa tas belanjaan dari BIP. Entah sudah berapa tahun dia tidak berbelanja di sana. Keesokan harinya … adalah hari yang begitu amat ditunggu-tunggu. Sang Belahan Jiwa yang begitu mengenalnya luar dalam langsung ternganga, “Asa aneh sih lihat Abi pakai celana jeans lagi. Udah lama pisan. Tapi … pantes kok, Bi. Gagah.” Dia tidak percaya, “Beneran nih, Mi?” Pada saat dirinya memposting foto yang sudah memakai celana jeans, t-shirt, dan kemeja dari Lois, Sang Belahan Jiwa malah berkomentar, “Duh, laki gue bakal tebar pesona neh di Jakarta.” Ya Rabb … segini kerenkah dia? Ahh, sudahlah. Pada prinsipnya dia merasa nyaman dengan celana denim yang dikenakannya. Bahan stretch-nya memudahkan dia bisa jongkok, jalan, bahkan lari tanpa harus terganggu. Aktivitas ekstrem atau travelingnya dijamin bakal mengasyikkan.

Selama di Jakarta, dia memakai Lois Jeans setiap hari. Tiga hari berturut-turut, kecuali kalau tidur saja. Rasanya ya nyaman saja dan merasa lebih energik. Dari foto-foto yang dihasilkannya selama berkegiatan tampak bagus dan keren. Ada beberapa tanggapan dari beberapa kawannya bahwa sosok itu jadi lebih muda dan asyik banget. Maksudnya tidak ada hal yang aneh, kecuali keren dan keren. Cocoklah dan gak usah dibahas lagi. Begitu pula saat dirinya memakai outfit atasan berupa t-shirt sebagai dalaman dan kemeja pada pembukaan acara di hotel. Meski berbahan denim, itulah pakaian casual yang pantas-pantas saja meski di acara resmi sekalipun. Begitu pula saat dirinya hanya memakai t-shirt saja lalu berdiri di tepi kolam dengan membawa ban pelampung. Menurut ngana, cocok gak sih? Jadi … menurutnya benar kalau Lois memiliki taglineDenim Everyday and Everywhere‘.[]

Lois Jeans

Advertisements

4 thoughts on “Lois, Denim Everyday and Everywhere

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s