2019 Pakai ZenBook S UX391UA

2019 pakai ZenBook S UX391UA yang baru saja di-launching, bismillah. Tidak ada yang ‘impossible‘ kan? Yang penting semua keinginan itu harus diupayakan. Sama halnya dengan anak-anak yang belajar tekun demi mendapatkan nilai baik dan semoga mereka bisa masuk ke sekolah yang diidam-idamkannya. Sang Maha sendiri dalam firman-Nya juga menekankan bahwa yang dilihat dari seorang hamba adalah prosesnya, bukan hasilnya. Manusia hanya diminta untuk berusaha dan berupaya sebaik-baiknya, sedangkan hasilnya biar Sang Maha yang menentukan. Sang Maha tidak mewajibkan seseorang untuk kaya, tidak pula mewajibkannya miskin, tapi mewajibkan seorang hamba agar halal dalam mencari nafkah.

Liburan akhir tahun kemarin, alhamdulillah sosok itu diberikan rezeki bisa berkunjung ke Jogja. Tidak hanya berlibur, tetapi juga bisa bersilaturahim dengan banyak kawan dari berbagai daerah, sambil bekerja tentu saja. Ujung-ujungnya dia pun diberi ganjaran bisa berkunjung lagi ke sana bersama keluarga tercinta. Tempat wisata yang dicita-citakan olehnya dan anak-anak untuk dikunjungi pun bisa disambangi, yaitu Candi Borobudur. Kerja keras yang benar akan bermuara pada hasil yang istimewa. Jadi tidak ‘impossible‘ baginya bahwa pada tahun 2019 ini pekerjaannya akan ditemani oleh laptop baru, kan? Laptop lamanya sudah menemani lebih dari 6 (enam) tahun, otomatis kinerjanya makin menurun.

ZenBook S UX391UA

Banner_001

Akhir November 2018, sosok itu berkesempatan menyambangi Studio Alam Gamplong yang terletak di Dusun Gamplong, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Semua itu dalam rangka pekerjaannya, yaitu meliput Jogja-NETPAC Asian Film Festival atau disingkat JAFF. JAFF kali ini membawa 124 film Asia yang coba diperkenalkan pada masyarakat Indonesia (dan dunia). Festival ini pada akhirnya memberikan ruang terbuka untuk memahami seni, budaya, dan pariwisata. Nah, bicara soal film tentu tidak akan lepas dari tempat syuting. Di Studio Alam Gamplong inilah, Hanung Bramantyo membuat film “Sultan Agung” dan “Bumi Manusia”.

Pada saat hendak menyeruput kopi luwak yang baru saja dihidangkan, di salah satu set Kedai Cina yang dijadikan warung, hape ASUS-nya bergetar. Sosok itu segera mengangkat, “Bang, lagi di Gamplong ya?” tanya sebuah suara merdu di ujung sana. Dia tampak hafal. “Assalamu’alaikum, Zen ya?” tanyanya. “Eh, wa’alaikumsalaaam. Punten, lupa ngasih salam hehehe. Iya, ini Zen. Bang Aswi lagi di Studio Alam Gamplong ya? Soalnya Zen baru lihat IG Abang.” Zen menyerocos begitu saja. Sosok itu tersenyum, “Iya. Kenapa memangnya?” Zen menjawab, “Kebetulan, Zen lagi di Rumah O-Glek, melihat nenek-nenek yang lagi menenun tikar menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).”

“Di mana itu Rumah O-Glek?” tanya sosok itu penasaran. “Deket kok dari Studio Alam,” jawab Zen, “Masih di Gamplong juga. Ya udah, Abang tunggu aja ya di sana, kebetulan Zen sudah beres. Nanti Zen mampir.” Sosok itu menatap layar hapenya yang makin meredup. Pertemuan takterduga. Sebelumnya dia hanya melihat ZenBook Flip S saat Menghadiri Pernikahan ASUS dan Microsoft, belum mengenalnya sama sekali. Setahun kemudian dia menjadi akrab dengan Zen (panggilannya) saat Peluncuran ZenFone Max Pro M2 dan ROG Phone di Hotel Pullman Jakarta. Dan sekarang … pucuk dicinta ulam tiba. Liburan makin asyik, neh.

Studio Alam Gamplong

Kopinya hampir tandas saat dua wanita cantik nan menawan memasuki kedai. Dua wanita yang memiliki raut wajah begitu mirip. Salah satunya sudah pasti Zen. “Abaaang … apa kabar? Ih, meni seneng ketemu Abang di Jogja,” Zen langsung membuka percakapan. “Alhamdulillah, kamu sendiri gimana kabarnya? Ini … siapa?” Zen memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi, “Alhamdulillah sehat jugaaa. Oya, ini ZenBook S atau panggil saja Jenni, adik kembarku.” Sosok itu memperbesar matanya, “Kembar?” Zen dan Jenni tertawa. Mereka berdua kemudian duduk. Zen memilih duduk di samping Sang Pejalan, sedangkan Jenni duduk di seberangnya. Gelas dan teko tanah liat menjadi saksi akan pertemuan mereka bertiga. Cerita pun mengalir begitu saja.

Singkat cerita, obrolan mereka tidak berhenti di Dusun Gamplong. Ada banyak kisah yang ingin diutarakan Zen tentang saudari kembarnya itu. Jenni pun juga ingin memberikan informasi yang sebenarnya tentang dirinya. Mereka kemudian sepakat untuk melanjutkan perjalanan secara bersama-sama ke arah utara Jogja. Perut sudah berteriak untuk diisi. Sasarannya adalah Warung Kopi Klotok di Jl. Kaliurang Km 16 Pakem. Sosok itu sering mendengar dari para Travel Blogger kalau makanan di sana itu ‘uenak tenan‘ meski bernuansa ndeso, apalagi bagi yang suka banget dengan sayur lodeh, sayur asem, tempe, dan telor dadar krispi. Kopi Klotok dan pisang gorengnya juga jos gandos. Gak sabar, deh!

Banner_002

“Aku tuh orangnya gak bisa diem, Bang,” ujar Jenni sambil mengunyah pisang goreng. “Aku itu slim, stunning, dan supreme. Cari sendiri deh artinya di kamus. Aku juga canggih dan elegan sehingga begitu mudah menyentuh hati siapapun dan sekaligus dapat meningkatkan prestisenya. Kalau diibaratkan laptop, aku tuh bersifat portabilitas. Ringan dibawa tapi tidak membebani. Kinerjaku kuat dan memiliki konektivitas tanpa kompromi. Gak ada istilah repot dan sudah pasti tanpa drama. Aku juga didesain menarik dengan menggabungkan engsel ErgoLift yang unik. Pokoknya, siapapun yang membawaku dijamin nyaman, deh.”

ZenBook S

Sosok itu hanya bisa manggut-manggut mendengar cerita Jenni. Dia percaya banget dengan semua yang diutarakannya. Zen sendiri sudah memiliki kelebihan yang tidak ada duanya. Dan Jenni adalah penyempurnaan dari Zen, meski keduanya tidak bisa dibandingkan. Sama-sama cantik dan bisa menjadi pendamping yang mumpuni. “Jenni, kamu adalah angled for creative power,” ujar dia menunjuk, seolah-olah memberi simpulan. Jenni tersenyum renyah. Sosok itu kemudian menatap pesawahan, “Satu bulan lagi tahun baru, ada pengharapan lebih pada tahun 2019 nanti. Saya begitu ingin mendapatkan pendamping yang cocok menemani saya melanglang buana. Menemani saya berlibur seperti saat ini, begitu menyenangkan. Mungkinkah pendamping itu di antara kalian berdua?”

2019 Pakai ZenBook

Zen dan Jenni tiba-tiba saja menundukkan wajahnya. Tampak jelas di wajah mereka yang terlihat merona. Sifat-sifat keduanya sudah begitu gamblang diceritakan di blog ini. Sifat-sifat yang begitu menggoda siapa saja yang mengharapkan pendamping setia pada tahun 2019. Pendamping yang siap memudahkan pekerjaan hingga menghasilkan karya yang monumental di kemudian hari. Tidak terkecuali sosok itu. Slim. Ringan. Didesain untuk kenyamanan yang paripurna. Sebuah seni yang begitu ‘perfecto‘. Tidak merepotkan. Tanpa drama. Cantik luar dalam. Tahan lama. Tidak mudah panas. Mampu bersosialisasi dengan baik. Cepat dan tepat. Bersuara merdu. Pandai mengingatkan. Kuat dan tahan banting. Siapa yang tidak bakal naksir? Dan sosok itu kemudian mengedip pada Jenni alias ZenBook S UX391UA.[]

Advertisements

2 thoughts on “2019 Pakai ZenBook S UX391UA

  1. Laptopnya keren, elegan, dan ringan. Dan tentu saja bikin ngiler.
    Beberapa tahun terakhir ASUS memang sangat bergerak cepat untuk berinovasi dalam hal Ponsel Pintar dan Laptop. Keren sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s