Hari Ini, Keluarga Cemara Tayang di Bioskop

Selamat pagi Emak
Selamat pagi Abah
Mentari hari ini berseri indah

Ara mengikuti seleksi penulisan dan pembacaan puisi dalam rangka Festival Seni memperingati ulang tahun kota kabupaten tempat kelahirannya. Baru sekali ini diadakan lomba secara besar-besaran. Seleksi ini untuk memilih siapa yang berhak maju ke final, yang diselenggarakan di gedung kesenian. Menurut kabar, Bapak Walikota akan hadir. Tampil sebagai finalis saja cukup membanggakan.

Ara siap tampil. Berbeda dengan beberapa peserta lain yang bisa menjadi gugup kalau berada di depan penonton, Ara mampu menguasai diri. Caranya? Seperti yang dikatakan Abah: tarik napas dalam-dalam. Ara bahkan siap membaca tanpa teks. Tapi kali ini konsentrasinya sedikit terganggu. Karena temannya, biasa dipanggil Aik, dinyatakan gagal.

“Giliranmu, Ara,” kata Kakak Pelatih. “Kalau kamu bisa membaca dengan baik, kamu masuk final.” Ara mengangguk. Lalu maju ke tengah. Kertas puisi di tangannya dipegang, tapi tak dibaca. “Desaku, Tanah Kelahiranku….” Suara Ara mantap. “Karya Cemara….” Suasana senyap. “Desaku, makin ramai tapi terasa sepi. Tak ada nyanyian tupai, diganti tangis. Desaku masih subur, tapi terasa gersang. Tak ada senyum luhur, karena tanahnya telah dijual. Desaku, o desaku….”

Ara terhenti, menoleh kiri-kanan. Memandang Aik yang masih memegangi puisinya. Lembaran kertas yang diberi tanda silang oleh Kakak Pelatih. “Boleh baca, Ara…,” kata Kakak Pelatih. “Ara hafal… tapi Ara terganggu. Kenapa puisi karya Aik tak diberi nilai?” Kakak Pelatih mendengus. “Puisi karya Aik tak dinilai karena tidak memenuhi syarat. Yang dilombakan adalah puisi ‘Desa Kita’, tapi Aik menulis tema yang lain.” Suara Kakak Pelatih meninggi.

“Kalau kamu ikut bandel, kamu juga tak akan lolos seleksi.” Suaranya makin meninggi. “Pilih mana?” Ara berpikir. “Tapi….” Kakak Pelatih terlihat kesal, “Kamu gagal, Ara.” Ara menghembuskan napas, “Tak apa. Tapi Aik ingin membacakan puisinya.”

Aik maju. Menahan napas. Konsentrasi. Suaranya lembut, tidak berteriak. “Tanahku Basah oleh Aik Atmanagari. Tanahku basah oleh ari mata. Hujan menjauh, sekan musuh. Tanahku melepuh, bagai kapal tanpa sauh. Ke mana kumengeluh?” Seluruh pendapa jadi senyap. Suara lembut Aik, dan terutama sekali caranya melantunkan, memang syahdu. Meskipun terasa getir.

“Kalah, Teh?” tanya Agil. Ara mengangguk. “Kata Abah, kalah atau menang dalam lomba tak perlu disesali,” ujar Agil mencoba menyemangati. “Saya tidak menyesal. Saya tidak sedih.” Ara kembali merenung. Ia masih penasaran. Kenapa puisi Aik yang selama ini dianggap bagus tidak diberi nilai? Kenapa dianggap tidak sesuai dengan tema?

Pohon Sinyal

Banner_003

Hehehe … maaf ya, kisah di atas memang bukan cuplikan dari film “Keluarga Cemara” yang hari ini akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia. Kisah di atas adalah penggalan dari salah satu cerpen karya Arswendo Atmowiloto yang pernah dimuat di Majalah Anak INA. Cerpen berjudul “Bunga Pengantin” itu kemudian diterbitkan oleh Penerbit Gramedia pada Mei 2001. Oya, kalau gak salah cerita ‘Keluarga Cemara’ juga sempat ditayangkan secara bersambung di Majalah Hai.

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Sosok itu mengenal sekali dengan kisah Emak, Abah, Euis, Ara, dan Agil karena di kemudian hari dijadikan sinetron yang ditayangkan pada tanggal 6 Oktober 1996 hingga tamat pada tanggal 29 Agustus 2004. Sinetron ini pada awalnya ditayangkan oleh RCTI, kemudian dilanjutkan penayangannya oleh TV7. Saat itu Novia Kolopaking yang berperan sebagai Emak sedangkan Adi Kurdi yang menjadi Abah. Inilah sinetron yang paling berkesan di era 90-an karena meski tidak menampilkan kemewahan, intrik, konflik yang terlalu dibuat-buat, atau mengandalkan pemain yang cantik dan ganteng. Kesederhanaan sebuah keluarga yang begitu diidam-idamkan oleh banyak keluarga Indonesia.

Meski hidup sederhana, Abah dan Emak selalu menanamkan pentingnya pendidikan kejujuran dalam keluarga. Abah digambarkan sebagai kepala keluarga yang hangat, sabar, dan penuh teladan bagi istri dan ketiga anaknya, meski sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain. Emak, selalu sabar dan nrimo dengan kehidupannya yang pas-pasan. Untuk menambal perekonomian keluarga, Emak membuat opak yang kemudian dijual oleh Euis, Ara, dan Agil. Ketiga anak-anaknya inilah yang juga menjadi kunci dari keberhasilan sebuah keluarga. Bagi mereka semua, keluarga adalah harta yang paling berharga.

Nobar Keluarga Cemara

Sosok itu sungguh beruntung bisa pergi ke Jogja pada akhir November 2018 untuk meliput kegiatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival alias JAFF. JAFF adalah festival film Asia yang rutin digelar tiap tahun dan pada gelaran ke-13 ini mengusung tema “Disruption”. Artinya, sudah banyak perubahan yang melanda benua Asia dalam satu dekade terakhir (bencana alam, kemelut politik, tragedi kemanusiaan dan perubahan teknologi). Perubahan yang pasti adalah betapa tiap manusia saat ini sudah tidak bisa lepas dengan gadget, termasuk anak-anak. Keharmonisan sebuah keluarga otomatis mendapatkan tantangan yang luar biasa.

Banner_004

Salah satu film yang ditayangkan saat acara JAFF dan paling ditunggu oleh sosok itu adalah ‘Keluarga Cemara’. Beruntung sekali dia berhasil menontonnya di Empire XXI pada hari Kamis, 29 November 2018, pukul 19:00. Film besutan sutradara Yandy Laurens itu tetap mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan dan kehangatan seperti yang ada dalam sinetron televisinya, tetapi diawali oleh perjuangan yang menguras air mata. Bagi Yandi, ‘Keluarga Cemara’ adalah film terpanjang yang pernah digarapnya. Wajar saja, karena Yandi lama berkecimpung di beberapa film pendek dan pernah meraih Piala Citra untuk film pendek terbaik, yaitu Wan An (2012).

Ada banyak perubahan antara versi sinetron dan filmnya, yang paling terlihat adalah waktu kejadian. Jika versi sinetron terjadi pada masa 80-90an dan mengambil setting di desa dimana Abah mencari nafkah dengan nge-becak maka pada versi filmnya setting terjadi di kota Jakarta saat ini. Abah pun digambarkan sebagai seorang pemimpin proyek besar yang kemudian ditipu oleh adik iparnya sendiri sehingga terpaksa hijrah ke desa. Berbagai pekerjaan dilakoninya mulai dari menjadi kuli bangunan hingga akhirnya jadi tukang ojeg. Ya, zaman telah berganti. Meski demikian karakter Emak, Abah, Euis, dan Ara tetap membuat para penonton tertawa dan menangis.

Anggia Kharisma, selaku produser, mengakui bahwa proses pembuatan film ‘Keluarga Cemara’ cukup panjang yaitu sampai dua tahun. “Saya, Gina, dan Angga itu kan sudah ibu-ibu dan bapak-bapak. Sudah jadi orangtua. Obrolan kita bertiga saat awal-awal itu ya … mau bikin film apa? Bikin film keluarga tapi keluarga yang bagaimana? Nah, teringatlah pada kisah keluarga yang nilai-nilai keluarganya masih melekat, yaitu Keluarga Cemara,” ujar Anggia. Nah, tantangan menariknya adalah bagaimana mengadaptasi agar kisah di sinetron itu masih relevan dengan masa sekarang. Setelah itu tantangan berikutnya adalah mencari karakter yang benar-benar cocok dengan Emak dan Abah. Siapa ya?

Keluarga Cemara

Pada versi filmnya, Emak diperankan oleh Nirina Zubir sedangkan Abah diperankan oleh Agus Ringgo. Saat ditemui di Jogja, Nirina mengatakan, “Saya dipilih sebagai Emak tetap melalui proses wajar, yaitu screen test. Terus bertemu dengan Yandi dan ngobrol. Awalnya ragu apalagi lawan mainnya adalah Agus Ringgo, sehingga sempat berpikir bahwa ini adalah film komedi. Proses berjalan dan skenario terus mengalami perubahan, dari yang awalnya berkesan komedi sampai kemudian ternyata … ini tuh film keluarga yang serius. OMG! Di kemudian hari, anak-anak sudah berhasil beradaptasi, nah tinggal Abah dan Emaknya belum. Saya dan Ringgo sempat kebingungan karena saya megang tangannya aja aneh, gimana harus mencium jidatnya? Hahaha. Pada akhirnya saya dan Ringgo harus sering jalan bareng saat ‘reading‘ agar bisa menemukan ‘chemistry‘nya, termasuk membiasakan diri memanggil Ringgo tuh ‘Abah’ dan dia memanggil saya ‘Emak’.”

Ada satu adegan dimana sosok itu tidak bisa menahan air matanya untuk tumpah, yaitu saat Emak memberikan hasil ‘testpack‘ ke Abah di meja makan. Ya Allah … dengan datangnya masalah yang begitu berat bagi keluarganya, tiba-tiba saja Emak memberi petir yang menggelegar … bahwa Emak hamil! Namun kehadiran Ara dan ucapannya yang polos berhasil meredam emosi Abah dan bahkan menjadikan momen itu sebagai bukti bahwa keluarga adalah segalanya. Bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga, bukan materi. Sosok itu mengacungkan jempol buat Yandi dan timnya. Anggia sendiri menambahkan bahwa pada saat mulai menggarap ‘Keluarga Cemara’, Yandi belum berkeluarga. Ia berusaha melihat dari sudut lain tentang makna keluarga.

“Kami membuka ruang diskusi selebar-lebarnya dengan cara mendengar terlebih dahulu tentang keluarga. Kami berusaha membuat film ini lebih manusiawi dimana Abah tidak hanya bisa menangis tetapi Abah juga bisa marah,” ujar Anggia. Yandi sendiri mengatakan, “Saya mendalami naskah dan sinetron ‘Keluarga Cemara’, lalu menangkap satu nilai bahwa film tersebut memunculkan sifat saling memiliki. Aktif dan pasif. Untuk mewujudkan ‘statement‘ tersebut maka dibutuhkan karakter Abah yang bersifat memiliki, tetapi juga dimiliki oleh keluarganya.” Dan percayalah … bahwa adegan ‘statement‘ tersebut muncul di dalam kamar. Ada Abah, Emak, Euis, dan Ara. Tanggung jawab Abah adalah menjaga dan melindungi keluarganya. “Lalu siapa yang menjaga dan melindungi Abah?” tanya Euis. Jleb!

Keluarga Cemara

Keren banget. Selamat untuk semua, filmnya sesuai dengan ekspektasi sosok itu. Hayuklah nonton film ‘Keluarga Cemara‘ mulai hari ini (Kamis, 3 Januari 2019). Ini adalah film keluarga yang bisa menjadi pengingat betapa pentingnya kekokohan sebuah keluarga bagi masing-masing anggotanya. Terima kasih Emak. Terima kasih Abah. Untuk tampil perkasa bagi kami putra putri yang siap berbakti. Sayup-sayup … lagu ‘Harta Berharga’ terus bergema di telinga dan di hati. Jika dulu dinyanyikan oleh Novia Kolopaking, kini suara merdunya digantikan oleh Bunga Citra Lestari. “Saya menaruh harapan besar bahwa film ini bisa menghadirkan rasa yang hangat dan menjadi alternatif film untuk membuka tahun 2019,” tutup Anggia.[]

2 thoughts on “Hari Ini, Keluarga Cemara Tayang di Bioskop

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s