Guha Pawon: Dulu dan Kini

Pada zaman dahulu kala, Bumi tenggelam. Entah kapan pastinya. Namun sosok itu percaya bahwa hal tersebut terjadi pada masa Nabi Nuh as. Salah satu penelitian menyebutkan bahwa hal itu terjadi pada 27-32 juta tahun yang lalu. Di Bandung, tepatnya di Cipatat, dianggap sebagai bagian laut yang dangkal. Oleh sebab gempa tektonik yang cukup besar, mengakibatkan air laut menjadi surut. Muncullah beberapa daratan yang pada kemudian hari disebut pulau.

Jauh sebelum Bumi tenggelam, pulau-pulau di Indonesia masih membentuk satu gugusan daratan besar. Pulau Sumatera masih bergabung dengan Jawa, Kalimantan, dan Benua Asia. Pulau-pulau di NTT hingga Maluku dan Papua, masih bergabung dengan Benua Australia. Dari buku IPS kelas 7, Bab II tentang “Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia”, dijelaskan bahwa masyarakat Indonesia itu konon berasal dari Yunan (daerah di Myanmar/Birma). Mereka berpindah ke Indonesia dengan berjalan kaki.

Manusia Purba Guha Pawon

Siswa SMPN 2 Cipatat mencatat penjelasan
tentang Manusia Pawon (inset) oleh Pak Hendi

Masyarakat tersebut belum mengenal tulisan sehingga disebut sebagai masyarakat pra aksara. Salah satu ciri khasnya adalah mereka hidup berpindah-pindah atau nomaden, tujuannya adalah demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka hidup pada zaman batu karena menggunakan peralatan yang terbuat dari batu. Mereka kemudian punah. Setelah gempa tektonik besar, air laut surut, dan terbentuklah Nusantara seperti yang diketahui saat ini.

Gunung batu kapur (karst) yang terdapat di Cipatat menunjukkan bahwa di sana ada bentukan terumbu karang dan fosil hewan-hewan laut seperti kerang. Bukti bahwa di sana dulunya adalah lautan dangkal. Pegunungan karst Cipatat-Rajamandala yang terletak di Desa Gunung Masigit, Kabupaten Bandung Barat, memiliki sebuah gua yang dikenal Guha Pawon. Di dalamnya hidup manusia purba Guha Pawon pada zaman mesolitikum.

banner_007

Tim penggalian Gunung Pawon dari Balai Arkeologi Bandung telah menemukan tujuh rangka manusia prasejarah di Situs Guha Pawon. Pada September 2003 ditemukan tiga kerangka manusia prasejarah berupa tulang tengkorak, bagian rahang atas dan bawah. Ketiga individu ini ditemukan di lapisan budaya berumur sekitar 5.600 tahun yang lalu. Sementara empat individu lain ditemukan di kedalaman yang berbeda dalam posisi terlipat atau flexed burial.

Kerangka lainnya kemudian ditemukan dalam kondisi yang paling utuh dengan kronologi budaya 7.300 tahun yang lalu. Sementara sekira 20 sentimeter di bawahnya, terkubur kerangka yang berusia 9.500 tahun yang lalu. Semakin dalam menggali, tim menemukan rangka manusia yang umurnya semakin tua. Pada kedalaman 235 sentimeter, ditemukan kerangka yang berumur 10 ribu tahun yang lalu. Kerangka berusia 11 ribu tahun lampau, ditemukan di kedalaman 245 sentimeter.

Gua Pawon Citatah

Berdasarkan penelitian dari gigi geliginya, Manusia Pawon termasuk Ras Mongoloid yang umur hidupnya rata-rata 30 tahun. Salah satu kerangka yang ditemukan diketahui berjenis kelamin laki-laki dan berusia di atas 20 tahun saat meninggal dunia. Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka memiliki usia harapan hidup cukup rendah jika dibandingkan manusia modern sekarang. Bisa jadi sistem imunnya masih sangat lemah.

Manusia Pawon dipercaya telah menggunakan beberapa peralatan batu yang disebut sebagai artefak. Artefak ini terbuat dari bahan batuan obsidian, andesit, rijang, dan juga batu gamping. Batu gamping digunakan sebagai perkutor (alat batu pukul) untuk memecah tulang dan mencampur beberapa ramuan. Batu obsidian ternyata banyak terdapat di Gunung Kendan, Garut. Dengan begitu Manusia Pawon pernah melakukan perjalanan jauh dari Citatah ke Garut PP.

Class Outing di Guha Pawon

Mereka pun juga telah mengenal api meski baru sebatas sebagai penghangat tubuh saat malam hari. Fosil manusia purba Guha Pawon yang dikubur dalam posisi terlipat atau flexed burial membuktikan bahwa mereka sudah mengenal budaya. Posisi mayat yang terlipat tampak seperti posisi bayi di dalam kandungan. Sebelum dikubur, mayat diberi campuran ramuan yang dilulurkan. Ini adalah bukti bahwa perkutor berkaitan erat dengan tata cara penguburan.

banner_008

Adakah suara cemara | Mendesing menderu padamu
Adakah melintas sepintas | Gemersik daunan lepas

Membaca penggalan paragraf pertama dari puisi “Adakah Suara Cemara” karya Taufiq Ismail (1972) di atas membuat sosok itu merasa bahagia. Bagaimana tidak, pada hari Rabu pagi (23/1/2019) dia sudah nongkrong di kawasan Guha Pawon menyaksikan pepohonan yang rindang. Hanya suara alam semacam gemersik dedaunan dan desahan angin, meski di kejauhan juga terdengar suara mesin-mesin berat pengambil kapur yang agak mengganggu.

Beberapa ekor ayam milik penduduk setempat bergerak mencari makanan. Hingga monyet-monyet liar yang memiliki ciri ekor panjang mendekat, mencoba berbaur. Mereka sudah terbiasa mencari makanan di sekitar rumah-rumah penduduk. Beberapa siswa SMP yang memakai seragam olahraga kabur meninggalkan remahan makanan, yang kemudian langsung diserbu oleh monyet-monyet tersebut. Sosok itu tertawa, lalu mencoba ngobrol dengan para siswa.

SMPN 2 Cipatat

“Tadi kami berjalan kaki dari sekolahan,” kata seorang siswa bercerita. “Kami angkat tabuh … eh, tadi tabuh sabaraha nya urang angkat? Oya … tabuh tujuh. Jam tujuh.” Sosok itu tersenyum. Mereka tiba di tempat parkiran Guha Pawon jam 9, berarti perjalanan yang mereka tempuh adalah dua jam. Jarak antara SMPN 2 Cipatat dan Guha Pawon adalah sekira 8,7 km dan menanjak. Perjalanan yang begitu melelahkan. Namun tetap dilakoni demi kebersamaan dan pembentukan jiwa yang sehat.

“Biasanya mereka belajar di dalam ruangan 7 x 9 meter dan duduk. Gak menarik. Membosankan. Sekarang mereka belajar di ruangan terbuka. Jalan-jalan. Konsepnya sama saja, belajar. Hanya pada dimensi yang berbeda. Terasa lebih menyegarkan, dan semoga mereka jadi lebih mengetahui tentang kehidupan pada masa pra aksara karena melihatnya secara langsung di Guha Pawon,” jelas Kepala Sekolah SMPN 2 Cipatat, Husein Yuhana, S. Pd., M. Pd.

Para peserta ‘Class Outing‘ adalah siswa-siswa Kelas 7, didampingi beberapa guru dan para pengurus OSIS. Paling tidak, acara ini bertujuan untuk mengajarkan anak-anak untuk mencintai daerahnya. Bahwa ada situs sejarah di lingkungan tempat mereka tinggal, dan situs tersebut harus dilindungi. Ibu Yetty Laelawaty A, S.Pd (Ketua Pokdarwis Guha Pawon) menegaskan bahwa fosil dan artefak yang ada di Guha Pawon adalah aset nasional, “Silakan dipelajari dan ditelaah dengan baik. Nanti ada Pak Hendi yang akan menjadi pemandu kalian.”

Guha Pawon adalah salah satu dari tempat wisata berkonsep edukasi yang ada di Kabupaten Bandung Barat. Sebagai tempat wisata, tentu ada kewajiban bagi para pengunjung, warga sekitar, dan pengelola untuk mempromosikan keberadaannya melalui media sosial (medsos). Ada beberapa titik di Guha Pawon yang sangat instagrammable, loh, sekaligus menyaksikan ratusan kelelawar yang memang tinggal di atap-atap gua. Tentu akan memberikan kesan berbeda dan sulit dilupakan.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s