ZenBook Blogger Gathering Bandung 2019

Dari Bumi-lah semua dilahirkan ke alam hidup sebagai Banda. Segala sesuatu yang berada di alam hidup adalah Banda Indung, yaitu bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia dan segala isi perut bumi. Langit yang berada di luar atmosfer adalah tempat yang menyaksikan, Nu Nga-Bandung-an. Sedangkan yang disebut sebagai Wasa atau Sang Hyang Wisesa, adalah yang berkuasa di langit tanpa batas dan seluruh alam semesta termasuk Bumi. Jadi kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa.

Bandung ada saat Herman Willem Daendels (Gubernur Jenderal Hindia Belanda) menancapkan tongkat di tepi hutan sekitar Sungai Tji Kapundung, tahun 1810. Katanya, “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota,” seusai meresmikan Jembatan Cikapundung. Bandung lahir saat surat bertanggal 25 September 1810 dikirimkan Daendels ke Raden Adipati Wiranatakusumah II (Bupati Bandung ke-6). Tempat tongkat ditancapkan itulah penanda Titik Nol Kilometer. Tugu ini berada tepat di depan Kantor Dinas Marga Kota Bandung, hampir di seberang Hotel Savoy Homann.

Namun jauh sebelum itu, Wiranatakusumah II sudah melakukan survei untuk mencari lokasi pusat kota pengganti Dayeuhkolot (Krapyak). Ia naik perahu menyisiri Sungai Tji Tarum dan kemudian masuk ke Sungai Tji Kapundung, lalu menepi. Pada saat istirahat ia menancapkan tongkat yang lubangnya ternyata mengeluarkan air. Sumbernya kemudian digali hingga menjadi sumur yang airnya tidak pernah kering meski di musim kemarau. Itulah Sumur Bandung yang lokasinya kini berada di dalam Gedung PLN, seberang Gedung Merdeka.

Blogger Gathering

Pembangunan gedung-gedung di sepanjang Jl. Asia Afrika maupun Jl. Braga membutuhkan air yang diambil dari Sumur Bandung, termasuk pembangunan Jembatan Cikapundung yang diresmikan oleh Daendels. Itulah petikan sejarah yang membersamai #BloggerBDG kemarin di acara ASUS ZenFone Blogger Gathering Bandung 2019 pada hari Sabtu, 13 April 2019. Jalan-jalan keliling Kota Bandung terasa nyaman saja meski menenteng laptop. Laptop ASUS memang terbukti enak dibawa ke mana-mana. Cocoklah buat mereka yang hobi traveling. Compact. Ringan. Dan tentu saja tahan banting karena sudah lulus uji ‘military grade‘.

Banner_026

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun … kesempurnaan bisa tercapai kalau terus-terusan ada usaha untuk mewujudkannya. Konsisten. Terus berinovasi. Sosok itu tahu sekali bahwa sebagai sebuah perusahaan, ASUS terus berinovasi untuk menciptakan produk yang baik. Produk-produk yang diusahakan mendekati titik kesempurnaan. Itulah yang terus dilakukan ASUS selama 30 tahun ini. Seri ZenBook terbaru dari ASUS, yaitu ZenBook 13, ZenBook 14, dan ZenBook 15 ada pembuktian mereka.

Ketiganya merupakan ultrabook premium yang menggunakan desain frameless NanoEdge Display yang menghadirkan bezel ultra-tipis. Bezel tersebut membuat tiga ultrabook ini dapat menghadirkan pengalaman visual tanpa batas dengan screen-to-body ratio mencapai 95%. NanoEdge Display juga membuat tiga seri laptop ini memiliki bodi yang lebih ringkas di antara laptop sekelasnya. ASUS ZenBook terbaru itu jelas bukan hanya sekadar canggih tetapi juga elegan.

Dari seri 13/14/15 itu, sosok itu jelas lebih memilih yang seri ZenBook 13. Alasannya sederhana: kecil, compact, dan ringan. Enak dibawa jalan-jalan seperti saat ZenBook Blogger Gathering di Bandung. Beberapa kelebihan dari seri ini adalah; 1) Ada numpad virtual yang bisa diaktifkan melalui tombol khusus, 2) Sudah dilengkapi dengan kamera 3D infra-merah yang terintegrasi untuk memindai wajah meski dalam kondisi gelap, 3) Ditenagai oleh prosesor Intel Core generasi ke-8 yang hemat daya sekaligus memiliki performa tinggi, 4) Memiliki bodi yang lebih kokoh dari sebelumnya dengan mengantongi sertifikasi standar militer, seperti uji ketinggian, uji suhu dan kelembapan, hingga uji banting dan getaran.

ASUS ZenBook 13

Hanya itu? Tidak, masih banyak lagi. 5) Paling kompak dan paling ringan di kelasnya karena memiliki dimensi yang paling ringkas berkat penggunaan teknologi NanoEdge Display, 6) Desain bodinya menggunakan konsep Zen dengan spun-metal finish di bagian belakang layarnya, 7) ZenBook terbaru hadir dengan fitur ErgoLift Design yang mampu mengangkat bodi laptop dengan membentuk sudut tiga derajat saat digunakan (memberikan kenyamanan saat mengetik, sistem audio yang maksimal, dan pendinginan terbaik), 8) Fitur konektivitasnya terbaru (USB 3.1 tipe A dan Gen 2 tipe C, ASUS WiFi Master Technology, serta Bluetooth 5.0), 9) Baterainya mampu bertahan hingga 14 jam, sangat cocok untuk pengguna yang tingkat mobilitasnya tinggi.

Banner_027

Tidak ada yang lebih membahagiakan bahwa sosok itu bisa hadir di acara ASUS ZenBook Blogger Gathering kemarin di Hotel Savoy Homann. Lokasinya begitu strategis karena dikelilingi oleh tempat-tempat bersejarah yang begitu akrab dengannya. ASUS kembali berinovasi, bahkan untuk sekadar tempat ngumpul. Sosok itu percaya bahwa ASUS memang selalu berinovasi dalam segala hal yang mendekati sempurna. Cucoks. Dia berharap semoga dirinya bisa berjodoh dengan salah satu produk ASUS (khususnya laptop).

Bandung yang terkenal dengan wisata heritagenya, gedung-gedung bersejarah yang masih bisa dilihat hingga sekarang, pas aja loh kalau dibuat background foto. Gak percaya? Lihat saja foto dirinya pada paragraf-paragraf sebelumnya di atas. Perasaan jadi tambah cakep deh hehehe. Itulah mengapa setelah workshop singkat tentang Laptop ASUS di hotel yang dijembatani oleh Katerina dan Anjas, kawan-kawan #BloggerBDG langsung cusss berkeliling mencari lokasi syuting … eh, tempat foto untuk bergaya.

ZenBook Blogger Gathering Bandung

Setelah kumpul semua di lobby hotel, rombongan model menyeberang jalan di depan Gedung de Vries. Proses menyeberang ini unik makanya dipotret karena harus memencet tombol pada tiang lalu-lintas (dan hanya ada dua di sepanjang Jl. Asia Afrika). Tujuan awalnya sih Titik Nol Kilometer yang terletak di depan Gedung Dinas Marga, namun beberapa blogger sudah membelot untuk ‘take picture‘ di sepanjang trotoar yang memang cantik plus pura-pura menyeberang. Seru dan rame aja. Sosok itu yang merangkap jabatan jadi guide mencoba berapi-api menceritakan sejarah berdirinya Kota Bandung, tetapi kalah oleh Bus Bandros yang tiba-tiba saja berhenti di depan mereka.

Terlalu banyak sudut menarik di sepanjang jalan di pusat kota. Kawan-kawan amat menyadarinya. Makanya menjadi hal wajar kalau tidak hanya satu dua, tetapi lebih dari 20 orang yang menghilang dari rombongan demi foto tsakep. Wisata Heritage Bandung adalah magnet yang mampu menghipnotis siapapun. Hanya beberapa yang tetap mengikutinya, mendengarkan kisah Titik Nol Kilometer, Auothandle Mascotte Bandoeng (Gd. Pikiran Rakyat) yang merupakan dealer mobil brand Morris, NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co (Apotek KF) yang terkenal menjual sediaan kulit Kina sebagai obat malaria, dan Warenhuis de Vries (OCBC NISP) yang pada zamannya disebut sebagai toko serba ada pertama di Bandung milik Andreas de Vries.

Tidak berhenti sampai di sana, sosok itu mengajak kawan-kawan #BloggerBDG melewati Hotel Wilhelmina (Hotel Ibis Style) yang katanya pernah dikunjungi Lord Louis Mountbatten (mertua Ratu Elizabeth II alias kakek Pangeran Charles). Melihat cafe di Gedung Sarinah (yang sekarang menjadi Hotel de Braga), Gedung Denis (Bank BJB) yang menjadi saksi keberanian dua pemuda yang merobek bendera Belanda, Bioskop Concordia (Majestic) yang pernah memutar film Loetoeng Kasaroeng, dan akhirnya foto bersama di depan Gedung Societeit Concordia (Gedung Merdeka alias Museum KAA).

Warenhuis de Vries

Ahhh … berbicara soal sejarah memang gak ada matinye. Dengan arsitektur bergaya Eropa, pusat Kota Bandung memang cocok dijadikan background foto. Apa saja dan siapa saja jadi cakep terlihat. Begitu unik. Laptop ASUS yang menjadi rebutan seolah-olah terus mengeluarkan pesonanya untuk disentuh, dipegang, dijinjing, atau bahkan dikekep. Menjadi primadona yang begitu sesuai dengan gedung-gedung atau jalan-jalan bersejarah di sepanjang Asia Afrika atau Braga. Buktinya banyak. Semua happy dan terus mengeluarkan pesonanya bahwa mereka juga layak menjadi model. Paling tidak model di akun instagramnya hehehe.

Banner_028

Meski melelahkan, tetapi aktivitas ini adalah capek yang menyenangkan. Perjalanan akhirnya ditutup di sekitar Alun-alun Bandung yang legendaris. Masjid Raya Bandung adalah titik eksotisnya. Para peserta ASUS ZenBook Blogger Gathering lalu melepas lelah dengan menyeruput es kelapa dan cilok telur gulung. Jajanan SD pisaaan. Saling ngobrol diselang tawa bahagia, apalagi pas adegan beberapa kawan yang begitu takut harus melewati barisan hantu di depan Gedung PLN. Beberapa kawan berhasil mengabadikan gaya uniknya saat memakai laptop ASUS di tengah-tengah hantu. Keren.

Dermaga BBQ at Garden Restaurant

Maghrib menjelang. dan keseruan belum selesai. Rombongan mantan model kemudian diminta untuk kembali ke Hotel Savoy Homann, lalu berkumpul di Garden Restaurant. Beberapa langsung melaksanakan shalat Maghrib sementara yang lain khusyuk melihat hasil foto mereka di jalan tadi. Suasana restoran begitu tenang dan mengasyikkan. Meski indoor tetapi dengan adanya beberapa pohon tinggi dan tetumbuhan hijau, kesannya jadi berada di tengah alam. Restoran indoor rasa outdoor. Bersamaan itu, datang rombongan besar yang katanya dari perwakilan Bank Indonesia. Suasana tambah ramai.

Berbagai makanan sudah tersedia di pojokan. Banyak dan lengkap. Ada babakaran ayam, bebek, seafood, berbagai salad, buah-buahan, sup ayam/jagung, pasta, dessert seperti cocktail buah cokelat dan es campur. Semuanya begitu menggoda. “Ini bukan menu biasanya,” bisik sosok itu. Dan ternyata benar. Ini adalah menu “Dermaga BBQ”. Tidak setiap hari ada, hanya khusus hari Jumat dan Sabtu malam pukul 18:00 – 22:00 saja. Wah, ini spesial sekali. Acara ASUS memang penuh dengan kejutan. Pada saat Katerina dan Anjas memberikan kejutan dengan membagi-bagikan hadiah pada pemenang Lomba IG atau Kuis, peserta menyantap makanan sampai kenyang.

Menu BBQ

Saat dicek ke salah satu waitress, ternyata semua menu all you can eat itu hanya dipatok Rp138K nett per pax saja. Murah pisan. Barbeque-an menjadi begitu romantis, apalagi malam itu adalah malam minggu yang panjang. Sebagian besar blogger begitu senang karena mendapatkan hadiah kuis maupun lomba. Sebagian sudah cukup puas dengan perut kenyang dan otak kenyang, meski otot-otot kaki mungkin tertarik sedikit karena capek berjalan hehehe. Pada akhirnya ASUS memang berhasil membuat acara yang mendekati sempurna di Bandung. Kalau misalnya acara ini diulang, kamu mau gak?[]

Advertisements

5 thoughts on “ZenBook Blogger Gathering Bandung 2019

  1. Mau banget saya diundang kalau sikonnya memungkinkan. Seru bisa keliling seputaran lokasi bersejarah di Kota Bandung. Apalagi bareng ASUS. Yag, meski saya sekarang mukim di Garut tetapi lahir, besar, sekolah, dan pernah ngerasain kerja di Bandung. Keren-keren, nih, narablog Bandung. Pasti asyik memotret panorama yang dijelajahi pakai laptop ASUS. Bisa sambil sekalian promo pada urang Bandung saya yang melihatnya, he he. Ditunggu undangannya, ya. Nuhun pisan.

  2. Tulisan kisahnya keren, sekeren menenteng ZenBook 13 di pagi hari. Bobot ringan dengan desain elegan membuat laptop terbaru ASUS ini cukup nyaman dibawa berkeliling kota Bandung. Salam kenal dari Blogger Kalimantan… 🙂

  3. Suka banget bacanya bang, mengalir indah, cerita ASUS ZenBook dan Blogger Gathering jadi enak dibaca.

    Terima kasih sudah banyak bantu selama kegiatan ya bang. Semoga ketemu lagi di lain acara. Good luck.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s