Bandung Asia African Carnival 2019

Sosok itu selalu suka dengan keramaian, apalagi yang melibatkan dengan kebudayaan daerah Jawa Barat. Makanya menjelang Bandung Asia Africa Carnival 2019, dia sudah mempersiapkan diri untuk hadir. Alhamdulillah setiap tahunnya bisa menghadiri perhelatan akbar di Kota Bandung yang sudah masuk agenda nasional ini. Beberapa kali bahkan menjadi peliput resmi.

H-1 Mang Oded selaku Walikota Bandung sudah mewanti-wanti bahwa acara ini bakal pinuh pisan. Dan memang seperti biasa, acara karnaval dengan melibatkan puluhan komunitas, selalu ramah dan padat. Lalu lintas di sekitar Jalan Asia Afrika pun terkena imbasnya dengan kemacetan yang luar biasa. Biarin sajalah, acara tahunan ini. Pagar-pagar besi pun sudah dipasang di tepian jalan utama.

Jalan Asia Afrika

Malam sebelum Hari H

Peringatan peristiwa Konferensi Asia Afrika (KAA) sudah memasuki angka ke-64. Sudah sangat lama rupanya dan untuk tahun ini, jumlah peserta delegasi dari negara Asia-Afrika terbilang paling banyak. Mang Oded pun mengingatkan agar wargi Bandung yang mau hadir mau menjaga kotanya agar tetap bersih dan menyenangkan. Beberapa sarannya adalah membawa tumbler dan kantong sampah sendiri.

Beliau ingin agar para tamu utusan negara sahabat membawa pulang oleh-oleh yang tidak akan dilupakan dari Kota Bandung, yaitu karakter masyarakatnya yang juara. Begitupula Mang Oded menekankan agar sebisa mungkin tidak membawa kendaraan bermotor pribadi ke tempat lokasi. Masyarakat bisa menggunakan jasa transportasi online yang sudah banyak di kota ini. Setuju pisan.

Banner_035

Sekadar info, Asia African Carnival (AAC) pertama kali dibuat dan diinisiasikan dalam “Calender of Event” pada tahun 2015 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Jadi, meski KAA sudah berusia 64 tahun, tetapi AAC baru 4 tahun. Bandung AAC 2019 digelar untuk mengingatkan kembali betapa eratnya solidaritas 29 negara se-Asia Afrika saat berlangsung pertama kali di Gedung Merdeka.

Momen KAA itu penting banget karena memunculkan adanya Dasasila Bandung (1955) dan kemudian menginisiasi pembentukan Gerakan Non-Blok (1961). Gak heran kalau beberapa kawan dari luar kota kepengen banget bisa hadir di acara ini. Raiyanim sampai bilang, “Waah telat tau ni infonya, pengen juga liat festivalnya.” Nyi Penengah juga bilang, “Aku jatuh cinta dengan jalan ini, Bang. Sungguh takjub (dengan) bangunannya.”

Asia African Carnival

Bandung AAC 2019 yang jatuh pada hari Sabtu, 29 Juni 2019, diikuti lebih dari 2.000 peserta. Mereka tidak hanya peserta dari mancanegara, tetapi sejumlah daerah juga ambil bagian. Khusus untuk tahun ini, ada konten khusus dukungan terhadap Palestina. Mang Oded mengharapkan agar event ini mencerminkan perdamaian antarbangsa dan terciptanya peradaban dunia yang berlandaskan demokrasi.

Event ini menjadi bukti dukungan nyata Kota Bandung, Indonesia, dan negara sahabat terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. “(Hal ini) sesuai niat awal pelaksanaan KAA 1955 silam, (yaitu) menggelorakan perdamaian dunia dan kemerdekaan bangsa yang terjajah,” kata Mang Oded. Ya, event ini dimulai saat para peserta melakukan historical walk dari Pendopo Wali Kota Bandung ke Gedung Merdeka.

Baca juga….
Mencari Pelangi di Big Bad Wolf Bandung
Kebebasan ala New Freedom agar Ramadan Makin Kuat
Memilih Villa di Ciater

Para peserta itu adalah beberapa duta besar dan delegasi dari 19 negara sahabat, serta beberapa bupati dan wali kota di Indonesia. Mereka semua berjalan di atas karpet merah yang digelar di area Palestine Walk, Jalan Alun-Alun Timur. Di ujung perjalanan, tepat di samping bola dunia, mereka kemudian melepas burung merpati sebagai simbol dukungan terhadap kebebasan dan kemerdekaan negara Palestina.

Palestine Walk

Meski harus berlari ke sana-sini demi mendapatkan momen yang hanya setahun sekali terjadi, sosok itu merasa bahagia. Apalagi kegiatan tersebut dihadiri oleh 20 duta besar atau delegasi yang berada di wilayah Asia dan Afrika. Yaitu Indonesia, Jepang, Maroko, Tunisia, Korea Utara, Aljazair, Ethiopia, Irak, Palestina, Mozambik, Nigeria, Zimbabwe, Myanmar, Libya, Laos, Afganistan, Kuwait, Guinea-Bissau, Afrika Selatan, dan Mesir.

Bandung AAC 2019 adalah event berskala Internasional yang menjadi bagian dari rangkaian Asia Africa Festival (AAF) 2019. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Ibu Kenny Dewi Kaniasari mengatakan, ini adalah kali kelima penyelenggaraan Asia Africa Carnival (AAC) sejak dimulai pertama kali pada 2015. Ia bersyukur bahwa Bandung AAC 2019 sudah masuk Top 10 CoE Wonderful Indonesia.

Bu Kenny

“Acara ini bertujuan untuk mengenalkan budaya dari negara-negara Asia Afrika. Juga untuk mempromosikan kearifan lokal dari daerah-daerah di Jawa Barat. Sebab peserta pawai adalah campuran dari nasional, regional serta dari 4-5 negara, ” ujar Bu Kenny. Dan menurutnya, AAC telah memberi dampak positif terhadap pariwisata Kota Bandung. Hotel-hotel akan terisi dan sekaligus bakal berwisata belanja.

Banner_036

Bandung AAC 2019 menampilan kebudayaan tradisional dari negara kerabat seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Arab Saudi, India, dan beberapa negara Afrika. Karnaval diawali oleh satu regu pasukan berkuda dari Batalyon Kavaleri, disusul delegasi kesenian Jepang. Lalu dari Tunisia dan negara-negara lainnya. Tak ketinggalan perwakilan dari kota dan kabupaten se-Jawa Barat serta perwakilan dari kota/kabupaten di Indonesia.

Berbagai seni budaya tradisional khas Jabar jelas tersaji pada karnaval tersebut. Semua tampak mewakili. Sosok itu saja sampai antusias saat ada bebegig dan juga Burung Garuda dari Tasikmalaya. Begitu juga ada tarian perang ala Suku Dayak yang begitu gagah perkasa. Semua berpadu padan bersama gemulainya para penari khas Jawa Barat. Ribuan peserta ini benar-benar merefleksikan kebersamaan negara-negara Asia Afrika.

AAC 2019

Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calender of Event (CoE), Bu Esthy Reko Astuty, mengatakan kalau Bandung AAC 2019 merupakan salah satu acara yang paling ditunggu-tunggu. “Pertunjukan (karnavalnya) digarap khusus dan dikemas secara epik dan kolosal. Pertunjukan ini pun berkolaborasi dengan beberapa negara peserta. Selain itu, melibatkan berbagai provinsi di Indonesia,” kata Bu Esthy.

Bu Esthy mengatakan kalau gelaran ini adalah bukti kepedulian Pemkot dan warga Kota Bandung terhadap perdamaian dunia. Semoga pariwisata di Kota Bandung terus maju dan berkembang. Apa yang disajikan Asia African Carnival ini sungguh luar biasa. Ada nostalgia dengan mengingat sejarah masa lalu, tetapi ada juga harapan dengan memotret masa depan, yaitu melibatkan anak-anak muda.

Eh, tahu gak kalau Bandung AAC 2019 itu masuk dalam Top 7 Wonderful Event Indonesia? Itu kata Bu Esthy loh, sehingga terus didukung oleh Kemenpar. Setiap tahun, pelaksanaannya semakin baik dari jumlah peserta maupun jumlah wisatawannya. Bandung sudah sangat memenuhi aspek 3A, yaitu atraksi, aksesibilitas, juga amenitasnya. Menpar Arief Yahya bahkan mengatakan kalau AAC bukan event sembarangan.

Travel Blogger

Bandung AAC adalah kegiatan internasional dimana negara-negara tetangga selalu antusias ambil bagian dalam event ini. “Kemasannya selalu menarik dan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Setiap digelar, kemeriahan pasti tersaji,” kata Pak Arief. Oleh karena event internasional, tidak salah kalau Mang Oded meminta wargi Bandung tidak membawa kendaraan bermotor pribadinya.

Apa pasal? Macet dan pinuh pisan, lah. Sosok itu sendiri merasakannya tiap tahun. Susah kalau mau ke sananya kecuali harus nyubuh pisan. Kalau sudah sampai lokasi, bingung cari tempat parkirnya di mana. Oleh karena itulah dia berinisiatif untuk memesan ojek online yang memang sudah tersedia secara masif di Bandung. Salah satunya adalah Grab. Gak heran kalau ada promo menarik, yaitu GRABKEUN.

Beberapa mobil dengan stiker ‘Grabkeun Weh’ terlihat wira-wiri di Pendopo, area hotel, dan beberapa ruas jalan. Mereka rupanya juga menjadi alat transportasi bagi beberapa tamu yang hadir. Para driver dengan jaket khasnya juga menjadi bagian dari peserta karnaval dengan menaiki otoped. Lucu dan seru. Itha, seorang kawan, mengatakan, “Perlu banget bawa kantong sendiri biar jalanan tetap bersih dan Bandung makin cakep.”

Grabkeun Weh

“Mantap sekali festivalnya. Menandakan (bahwa) Bandung (adalah) kota yang penting di kawasan ini,” kata Kang Arief yang juga kawan baiknya. Dan Teh Uniek juga menambahkan, “Beneeer … Grabkeun wae lah ya daripada rempong ntar menembus kemacetan. Bakalan penuh dan ramai banget nih sepanjang Jl. Asia Afrika.” Akhir kata, semoga tahun depan acaranya lebih ramai lagi deeeh. Aminnn.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s