Wakaf Sepuluh Ribu Rupiah, WakeUp!

Orang yang paling beruntung adalah dia yang sudah berhenti napasnya tetapi masih terus mengalir pahalanya ~ Bobby P. Manulang (GM Wakaf Dompet Dhuafa)

Hari sudah gelap. Hujan baru saja mengguyur Kota Bogor, begitu derasnya. Sudah tiga hari sosok itu bermukim di kota tersebut, dan sudah tiga hari pula hujan turun dengan lebatnya saat sore tiba. Cukuplah semua itu menjadi pembenaran bahwa Bogor memang layak menyandang kota hujan. Sementara di Bandung atau di Jakarta, menurut pengamatan keluarga dan kawan-kawannya, belum juga hujan. Kalaupun sudah, belum merata.

Melewati ruas tol Cikampek, arus kendaraan tersendat. Macet. Di luar sana, tiang-tiang beton terpancang dengan gagahnya. Beberapa sudah dilengkapi dengan jembatan yang begitu kokoh, namun sisanya belum terlihat. Bahkan ada beberapa tiang beton yang masih dalam bentuk kerangka. Pembangunan jalur LRT dan kereta cepat terus berlangsung. Semua itu atas nama masyarakat. Demi kemudahan transportasi dari satu kota ke kota lain.

Sosok itu menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Selalu ada pro dan kontra dalam setiap pembangunan yang dicanangkan pemerintah. Apalagi kalau pembangunannya di kemudian hari malah membuat masalah baru. Entahlah … dia bukannya tidak peduli, namun memikirkan perekonomian diri sendiri dan keluarganya saja sudah berhasil membuatnya mumet. Malam semakin larut saat dirinya sampai di Terminal Leuwipanjang Bandung.

Banner_051

Ada semangat baru yang muncul kembali saat dia menjejakkan kakinya di Bandung. Bogor yang panas pada siang hari belum bisa mengalahkan dingin dan segarnya angin di kota ini. Biarlah malam ini dia beristirahat total setelah berjibaku melakukan perjalanan tanpa henti dari kota ke kota. Bandung-Jakarta-Singapura-Jakarta-Bandung-Bogor-Bandung. Bukan kebetulan kalau esok hari dirinya bakal mendapatkan napas baru bersama kawan-kawan Blogger Bandung.

Ya, kawan-kawan blogger mau diajak Dompet Dhuafa (DD) ke Kebun Indonesia Berdaya di Subang. Apa itu DD dan ada apa di sana? DD adalah organisasi nirlaba yang didirikan pada 1993 atas dasar empati jurnalis yang ingin mengangkat martabat dan pengabdian manusia dengan memanfaatkan dana ZISWAF (zakat, infak, sadaqah, dan wakaf). DD telah memiliki jaringan pelayanan di 21 provinsi dan 5 di mancanegara (Hongkong, Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan Korea Selatan).

Dompet Dhuafa

Pak Bobby P. Manulang dan Pak Kamaludin

Jelas, DD telah menjadi organisasi filantropi Islam terbesar di Indonesia yang mampu menghimpun dana masyarakat untuk dimanfaatkan oleh para kaum dhuafa (tidak mampu). Dari dana yang hanya sebesar Rp 80 juta pada tahun pertama hingga Rp 318 miliar pada tahun 2016. Entah pada tahun ini, pastinya semakin membesar. Namun apakah DD hanya fokus memberikan ‘ikan’ kepada kaum dhuafa tersebut? Apakah ada ilmu ‘cara memancing ikan’ yang diajarkan juga?

Ternyata ada. Itulah ‘insight‘ pertama sosok itu saat pada pagi harinya sudah berdiri di depan Kantor Dompet Dhuafa Jawa Barat yang berlokasi di Jl. R.A.A. Martanegara No. 22A, Turangga, Kecamatan Lengkong, Bandung. DD ternyata telah memiliki aset wakaf yang bisa dibilang produktif, seperti rumah sakit, sekolah, kebun, gedung/ruko/rumah yang disewakan, dan termasuk masjid. Dan semua aset itu memang masuk ke dalam empat pilar program wakaf DD.

Banner_052

Apa saja? Ada Pilar Kesehatan yang tujuannya mengatasi masalah layanan kesehatan yang belum merata, khususnya pelayanan kesehatan untuk kaum dhuafa. Bagaimanapun, kaum dhuafa begitu lemah pada sektor ini. Mereka mudah sakit tetapi sulit mendapatkan akses untuk menyembuhkan penyakitnya. Untuk itulah fokus utama DD adalah pada program kesehatan dengan mendirikan rumah sakit, klinik, optik, dan apotek.

Sudah ada 7 (tujuh) rumah sakit dan 3 (tiga) klinik yang tersebar di Bogor, Lampung, Banten, Riau, Jakarta, dan Depok. Rencananya bakal ada dua rumah sakit lagi yang sedang dalam proses pembangunan, yaitu RS Haji Pasuruan dan RS Hasyim Asyari Jombang. Lalu ada Pilar Pendidikan yang tujuannya jelas mengangkat derajat kaum dhuafa, dengan memutus rantai kebodohan akibat kemiskinan. Meski demikian, tidak semua sekolah yang dibangun itu gratis.

Blogger Meet Up

Ya, pada akhirnya kalau mendengar yang ‘serba gratis’ selalu dikaitkan dengan kualitas yang tidak bagus. Padahal tidak semuanya demikian. DD selalu berusaha untuk menunjukkan bahwa aset yang mereka kelola, dijalankan dengan profesional. Ada beberapa sekolah yang berbayar dan bahkan terbilang mahal. Targetnya memang untuk mereka yang mampu. Ini pun dengan perbandingan 70% berbayar dan 30% gratis khusus untuk anak-anak dhuafa yang berprestasi.

DD juga sedang mengembangkan Khadijah Learning Center Tangerang yang semua muridnya adalah kaum perempuan. Seperti diketahui bahwa tidak semua perempuan bernasib baik dan terpaksa harus bekerja pada sektor yang jauh dari kodratnya. Tidak jarang dalam dunia kerja, selalu saja ada diskriminasi terhadap perempuan. Untuk itulah sekolah ini didirikan, agar kaum perempuan yang baru lulus SMA bisa terserap untuk bekerja dengan baik sesuai ‘grade‘ kemampuannya.

Wakaf Produktif

Ketiga, ada Pilar Sosial Budaya. Secara umum, pilar ini memang menjadi program filantropinya DD. Misalnya dengan pembangunan masjid agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Islam yang ingin beribadah. Namun masjid ini pun juga bisa dimaksimalkan agar lebih produktif, misalnya dengan menyewakan lahan untuk berdagang, membuka bisnis fotokopi, EO, desain, dll. Tujuannya agar masjid mampu mandiri dalam merawat fasilitas yang ada.

Pada pilar ini juga ada aksi kemanusiaan dan respon bencana. Ini menjadi tanggung jawab moral DD sebagai lembaga filantropi Indonesia. Terakhir, ada Pilar Ekonomi. Inilah yang coba dikenalkan DD pada Blogger Bandung. Mereka ingin menjelaskan bahwa wakaf itu tidak sekadar hanya wakaf tanah untuk pemakaman atau untuk masjid saja. Atau wakaf hanya bisa dilakukan oleh para orang kaya saja. Tidak. Ternyata wakaf bisa dilakukan oleh siapa saja.

Banner_053

DD ternyata sudah mengkampanyekan program WakeUp! Wakaf, yaitu bahwa wakaf itu sebenarnya mudah dan bisa dilakukan secara bergotong-royong. Hanya dengan nominal Rp 10 ribu, siapapun bisa berwakaf dengan mudah. Dengan nominal yang sebesar itu, artinya hanya butuh 12.500 orang untuk dapat mengumpulkan dana Rp 125 juta. Bisa dilakukan pada zaman media sosial seperti saat ini. Dan dana Rp 125 juta itu bisa membebaskan lahan satu kavling dengan luas 1 (satu) hektar.

Inilah yang disebut dengan wakaf produktif. Lahan dengan luas satu hektar itu kemudian bisa diberdayakan menjadi kebun yang benar-benar menghasilkan. Itulah yang disaksikan oleh sosok itu dan kawan-kawan blogger saat berkunjung ke Kebun Indonesia Berdaya di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang. Perjalanan dua jam menggunakan dua minibus L300 dari Bandung seolah-olah menjadi tidak begitu berarti.

Meski tempatnya berada di pelosok dengan jalan yang belum bagus, Kebun Indonesia Berdaya yang kini luasnya telah mencapai 10 hektar adalah oase yang menyejukkan di tengah-tengah padang pasir. Kebun ini berisi aneka tanaman buah seperti buah naga, nanas, pepaya, jambu kristal, dan alpukat. Di sana, para blogger disambut oleh Bapak Bobby P. Manulang (GM Wakaf Dompet Dhuafa) dan Bapak Kamaludin (Manajer Program Ekonomi Dompet Dhuafa).

Kebun Indonesia Berdaya

Tidak hanya kebun buah saja, di saja juga ada pemberdayaan peternakan kambing yang kapasitasnya mencapai 300-500 ekor. Kambing-kambing ini nantinya akan dipanen saat Idul Adha. Total ada 30 KK (kepala keluarga) yang menerima manfaat dari aset wakaf produktif ini. Jumlah ini pun akan bertambah lagi menjadi 40 KK setelah RISIN atau Rumah Industri Pengolahan Nanas selesai dibangun. Semua warga itu berasal dari 12 desa, salah satunya adalah Pak Eman.

Pak Eman mengatakan bahwa dirinya bersyukur karena ekonomi masyarakat sudah ada kemajuan semenjak adanya Kebun Indonesia Berdaya. “Dulu beratnya di modal. Ya buat bibit dan lain-lain,” katanya. “Sekarang sudah enak. Modal gak susah. Nanas belum mateng atau panen pun, saya bisa minjam dulu ke Dompet Dhuafa.” Pak Eman mengaku sudah tiga tahun bergabung dan ia tidak bingung lagi setelah panen bakal menjual nanasnya kemana karena sudah difasilitasi oleh DD.

Banner_054

Kebun Indonesia Berdaya sudah dimulai dari hanya seluas dua hektar saja. Wakaf yang terus berkelanjutan kemudian membuat kebun tersebut bertambah lagi menjadi lima hektar hingga sekarang sudah mencapai sepuluh hektar. Jika dulu wakaf memang berkesan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya, kini siapapun bisa berwakaf. Wakaf dari orang kaya memang seperti menjual mobil mewah. Hasilnya besar tetapi sulit sekali menjualnya.

Strategi pun diubah dengan menjual mobil sejuta umat. “Ini perumpamaan ya,” jelas Pak Bobby. Efeknya ternyata luar biasa. Makin banyak yang berwakaf meski hasilnya kecil. Namun ini efek domino dan mempercepat pertumbuhan luasnya kebun, apalagi kaum milenial saat ini gemar sekali bersedekah kalau momen dan caranya pas. Pembebasan lahan oleh DD juga telah menyelamatkan aset ummat agar tidak dijualbelikan oleh para spekulan tanah.

Kebun Indonesia Berdaya

Paket wakaf Rp 125 juta yang telah disebutkan di atas dimanfaatkan untuk pengolahan lahan dari awal sampai panen (Rp 50 juta) dan membangun utilitas (Rp 25 juta). Utilitas ini bisa dalam bentuk saung atau sarana jalan-jalan bagi donatur. Sedangkan Rp 50 juta sisanya bisa dikembalikan lagi dalam jangka waktu 15 tahun. Lho kok dana wakaf dikembalikan? Ini hanya sebagai opsi bagi mereka yang belum siap berwakaf secara total. Kalau tidak mau dikembalikan, ya tidak apa-apa.

WakeUp! Wakaf dimulai dengan sepuluh ribu rupiah pun bisa dicicil, misal selama 6 (enam) bulan. Semua dikembalikan pada kemampuan masing-masing. Makanya sangat cocok jika komunitas juga mau mengambil cara ini. Komunitas blogger sudah dimulai oleh ‘gaspoler’ yang didirikan oleh komunitas blogger Jabodetabek. Namun, berwakaf kebun juga pasti dirasa kurang, sehingga dengan kreativitasnya, DD juga sedang membangun RISIN atau Rumah Industri Pengolahan Nanas.

Alasannya sederhana … karena menjual buah-buahan secara apa adanya belum dianggap maksimal. Persaingan makin luar biasa. Itulah mengapa RISIN terus dikebut. Saat ini baru sampai tahap 80% saja. Mesin pun juga harus di-setting selama 2-3 bulan. Bukan waktu yang sebentar, tetapi hasilnya diharapkan akan mampu menjual dengan harga yang lebih baik lagi dan bentuk yang lebih elegan. Pabrik ekstrak buah ini nantinya akan mengolah buah-buahan menjadi selai, sirup, dll.

Pabrik ini diharapkan dapat berproduksi dengan padat karya dan menyerap tenaga kerja dari kalangan dhuafa. Inilah salah satu bentuk wakaf produktif dimana lahan dan donasi wakaf yang dihimpun DD dapat menjadi sumber ekonomi produktif yang dapat memberi manfaat ekonomi bagi kaum dhuafa. Rencananya pabrik ini akan dapat beroperasi pada 2020. Mesin tidak hanya mengolah buah nanas saja, tetapi juga bisa mengolah buah naga, cabe, bawang merah, dll.

Blogger Meet Up - Dompet Dhuafa

Sebagai penutup, Pak Bobby mengatakan bahwa setiap Muslim pasti berharap ada ‘passive income‘ ke alam kuburnya. Rasulullah saw. pun menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat, doa anak yang saleh, dan amal jariyah akan terus mengalir pada seorang Muslim meski sudah di alam kubur. Namun apakah ilmu dan anak yang saleh itu bisa menjadi jaminan selamanya? Tentu tidak. Hanya hartalah yang paling setia kalau dimanfaatkan pada jalan yang benar.

Pak Kamaludin juga menambahkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi lingkungannya. Semakin luas lahan wakaf akan semakin menambah kebutuhan SDM untuk mengolahnya, artinya penerima manfaat jelas akan bertambah dan kesejahteraan para dhuafa akan meningkat. Selain dibina menjadi petani, mereka juga diajarkan untuk proses marketingnya, termasuk dibantu membuka pasarnya. Targetnya adalah … from Mustahik move to Muzakki.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s