Mengenang Cumi Lebay, Travel Blogger yang Humble

Foto di atas di ambil di Puncak Dharma, Ciletuh

Sosok itu memandang orang di depannya sambil sesekali memasukkan sate ke dalam mulutnya. Terlihat jelas ada binar di matanya, bening. Dia tahu benar apa yang ada di dalam hati pemuda yang memiliki kumis tipis dan jenggot yang pendek itu. Bergemuruh. Masa lalunya kelam, tapi sedikit-sedikit beliau telah berubah. Meski ada beberapa bagian dari episode hidupnya belum bisa ditinggalkan, terlihat jelas bagaimana beliau memang telah bertaubat, dari kesehariannya selama ngetrip, baik itu di hotel maupun di luar. Hembusan angin malam saat itu tidak bisa mengusir panas Kota Pekanbaru. Cumi Lebay tersenyum tipis, tapi tidak bisa menyembunyikan embun yang mengembang pada kedua matanya.

“Banyak orang yang gak suka sama aku, Baaang.” Beliau menarik nafas panjang, “Tapi aku tahu … mereka suka ngomongin aku.” Sosok itu mengambil potongan lontong di depannya. Suasana warung Sate Padang di sisi jalan yang lumayan jauh dari Hotel Alpha Pekanbaru itu tidak terlalu ramai. “Tapi aku gak peduli,” lanjutnya. “Ya ngapain kita peduli sama mereka yang juga gak peduli dengan kita,” potong sosok itu. “Yang terpenting itu adalah diri kita sendiri … dan keluarga. Hanya kita sendiri yang tahu siapa kita … dan Sang Maha.” Kedua lelaki yang dipertemukan oleh hanya dua kali perjalanan itu saling bercerita tentang segala hal. Momen selepas shalat Isya berjamaah di masjid besar di sisi jalan membuka semuanya.

Adi orang baik. Bahkan saat sakaratul maut, empat orang sahabat di Jogja sedang membicarakan kebaikan-kebaikan Adi. Bagaimana para sahabat ini dipertemukan oleh Adi. Adi orang baik. Sudah dua kali dia ngetrip bareng dan sekamar dengannya. Terakhir November 2016 saat ke Pekanbaru. Beberapa kebaikannya yang selalu membekas: Adi rajin shalat berjamaah di masjid 5 waktu, rajin tilawah, rajin puasa sunnah (yang sebelumnya puasa Daud beralih ke puasa Senin-Kamis), dan rajin shalat malam.

Travel Blogger di Kawah Putih

5 Travel Blogger di Kawah Putih (Foto oleh Dudi Sugandi)

Bicara soal masjid, Adi adalah travel blogger yang selalu mencari masjid terdekat dari hotel tempatnya menginap. Selalu ada momen untuk membuat janji agar bisa ke masjid bersama-sama. Mereka berdua saling mengingatkan untuk saling membangunkan (kalau ketiduran) dan bisa shalat di masjid. Akan tetapi seringnya saat sosok itu nge-WA, “Mas, ke masjid yuuuk.” Jawabannya adalah, “Abaaang, aku sudah di masjid.” Keduluan, deh. Pernah ada kejadian unik saat pada siang hari yang panas, dia berjalan kaki dari hotel menuju sebuah masjid besar di Pekanbaru. Jaraknya sekira dua kilometer. Dia berjalan sendirian karena Adi sedang jalan-jalan memetakan mall atau plaza karena entah mengapa beliau memang suka sekali nongkrong di tempat tersebut sekadar untuk nonton atau makan. Kalau tempatnya oke beliau bisa berlama-lama, kalau tidak ya langsung balik badan.

Cuaca agak mendung setelah sebelumnya panas menyengat. Hujan pun turun perlahan saat dirinya telah sampai di masjid. Waktu masih ada setengah jam sebelum azan Ashar. Dia menyempatkan diri untuk tilawah dan setelahnya membaringkan badan. Hujan melebat. Azan berkumandang dan ritual shalat Ashar berjamaah terlaksana dengan baik. Sosok itu bertanya-tanya di masjid mana Adi shalat. Beres semuanya, dia berjalan menembus hujan yang masih ada, lalu naik angkot dan kembali ke hotel. Taklama bertemu dengan Adi dan mengobrol panjang lebar. Ternyata … Adi juga shalat Ashar di masjid yang sama. Mereka berdua sama-sama tertawa setelahnya.

Travel Blogger di Puncak Dharma

Tayang di Net TV saat di Puncak Dharma

Dia tidak terlalu lama mengenal sosok Moechamad Adi Mariyanto, tetapi dari hanya dua kali pertemuan, sekamar dan jalan bareng, telah membuka hatinya untuk mengetahui siapa beliau. Selebihnya obrolan dilanjutkan di WA atau langsung via telepon. Ada beberapa peristiwa yang tidak bisa dilupakannya tentang Adi. Salah satunya adalah saat akan berangkat ke Pekanbaru. Kebetulan sosok itu sedang menginap di salah satu hotel di daerah Sabang, jadi dia berencana mau naik Damri dari Gambir. Saat memasuki bus, satu sosok melambaikan tangannya, “Abaaang.” Tidak disangka kalau sudah ada Adi duduk di sana. Mereka pun saling sapa dan langsung larut dalam obrolan yang tidak pernah berhenti hingga tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Obrolan pun berlanjut di dalam terminal hingga siap boarding pesawat.

Adi selalu me-like IG sosok itu. Oya, dari beliaulah dia belajar banyak tentang bagaimana mengelola IG agar banyak follower dan like-nya. Ini ilmu yang tidak murah dan didapat dari seorang seleb blog. Dari pemantauannya, terakhir beliau me-like IG-nya pada 22 Februari 2017, di foto tentang aktivitas “Susur Goa” yang tinggal dua hari lagi. Asal tahu saja, sebulan sebelum acara ini, dia menghubungi beliau apakah bisa ikut serta ke Goa Buniayu Sukabumi. Jawabannya beliau hanya mengirimkan sebuah link di blognya bahwa beliau sudah pernah ke sana. Katanya, “Aku tuh kayak orang gila tahu, gak. Aku nekat sama temen-temen nyetir sendiri di bulan puasa. Jujur sebenarnya saat itu lagi gak enak badan, tapi tetap masuk goa.” Baiklah. Beliau tidak bercerita bahwa sedang sakit saat di telepon, tetapi malah memberikan alasan sudah pernah ke Goa Buniayu.

Kenangan dengan Cumi Lebay

Sesaat sebelum terbang ke Pekanbaru di Terminal 3

“Abaaang. Pokoknya ajak aku ya kalau naik pesawat.” Sosok itu tersenyum lalu mengiyakan. Ya, beliau sering sekali bercerita bahwa suka dengan naik pesawat. Adi punya target sendiri bahwa tiap bulan beliau harus naik pesawat, khususnya Garuda Indonesia. Dari Adi pula akhirnya dia dikenalkan dengan salah satu travel blogger yang kebetulan sedang ada di Terminal 3. Dari Adi pula dia dikenalkan pada Hanif, travel blogger asal Jogja, yang kemudian diajaknya bersama-sama menelusuri Geopark Ciletuh. Hanif adalah blogger yang kemudian ditemuinya saat di Yogyakarta. Selama dua hari, mereka berdua berjalan menyusuri Kota Jogja dan beberapa kali menyebut nama “Cumi Lebay”.

Jumat (3/3) pukul sembilan malam lebih sedikit sosok itu bersama Hanif berkumpul di Grip Road, kafe di SPBU Terban. Di sana sudah ada Sitam. Tidak berapa lama kemudian datanglah Aqid. Hanif bercerita bahwa ia diketemukan dengan Sitam oleh Adi. Dan dia pun tercekat … karena dia juga diketemukan dengan Hanif oleh Adi. Sepertinya selalu saja ada cerita tentang beliau diantara mereka berempat. Bahkan Sitam mengeluarkan kartu beliau yang berwarna hijau. Hanya yang mengenal beliaulah apa makna warna pada kartu-kartu namanya. Kata-kata yang diingatnya, “Mau yang warna apa? Ada merah, hijau, kuning….” Dari semua obrolan yang ngalor-ngidul itu, kesimpulannya adalah bahwa Adi orang yang baik. Orang yang telah menyimpan benih kebaikan pada hati semua orang.

Sampai di kosan Hanif, badan lelah takterkira. Dia tertidur hingga keesokan harinya. Pagi di hari Sabtu itu belum mekar, Hanif langsung melonjak karena dapat kabar bahwa Moechamad Adi Mariyanto telat meninggal dunia. Sosok itu juga langsung meloncat dari pembaringannya. Kabar selanjutnya adalah bahwa beliau wafat tadi malam, saat mereka berempat berkumpul di Road Grip. Langkah-langkah selanjutnya adalah kemurungan dan adegan menarik nafas panjang, tidak percaya bahwa Adi telah mendahului. Rencana trip ke Umbul Ponggok berjalan begitu lambat. Selalu saja ada kisah beliau saat mereka berdua ngobrol. Rencana mengirimkan foto-foto trip hari itu ke beliau sudah dipastikan gagal. Sejenak Adi terlupakan saat berenang dan menyelam. Beres memuaskan diri, mereka langsung menuju ke Masjid Agung Klaten. Beres shalat wajib, dia merasa ada yang hilang, lalu mengingat semua pesan dan kesan bersama Adi. Akhirnya dia pun mengajak Hanif untuk shalat ghaib. Mendoakan beliau adalah jalan terbaik untuk mengikhlaskannya. Doa-doa terbaik dilantunkan kepadanya.

Kopdar Blogger

Adi orang baik. Entah mengapa orang-orang baik wafat pada hari Jumat. Sosok itu tahu bagaimana ada orang-orang yang selalu mencibirnya. Namun dia hanya tersenyum. Kata-kata kebaikanlah yang meluncur dari bibirnya. Dia tidak membalas. Dia tidak membicarakan keburukan orang lain. Dia hanya membicarakan keburukannya sendiri pada masa lalu dan teramat menyesal. Adi orang baik, dan sosok itu merasa terbantu oleh kebaikannya beberapa hari lalu. Dia tidak mengeluh soal penyakitnya. Dia selalu memikirkan sahabat-sahabatnya.

Yogyakarta, 5 Maret 2017

Hidangan Imlek Ala The Trans Luxury Hotel

Bandung sedang panas-panasnya. Entahlah, cuaca saat ini begitu ekstrem. Akibatnya berbagai macam hal, salah satunya adalah air di rumah tidak bisa keluar sehingga terpaksa harus meminta pada tetangga atau membeli. Hidup memang penuh dengan perjuangan hehehe. Ngomong-ngomong soal perjuangan, sosok itu baru saja sampai di di Kawasan Terpadu Trans Studio Bandung saat matahari sedang hangat-hangatnya bertengger di atas kepala. Tidak ada yang berubah dengan tempat ini. Begitu memanjakan para shopahollic atau bagi siapa saja yang ingin cuci mata. Kalau stres dan punya uang, tidak salah untuk datang ke sini, lalu mencoba berbagai macam permainan yang menghabiskan adrenalin.

Tahun baru telah lewat, hampir semua orang berharap berbagai kebaikan. Setelah Tahun Baru Masehi, tidak berapa lama lagi juga akan ada perayaan Chinese New Year atau yang biasa dikenal dengan tahun baru Imlek. Budaya tahunan segera menanti. Kemeriahan dengan nuansa khas merah dan emas menjadi menjadi tradisi yang selalu menarik dan ditunggu-tunggu. Semua tempat keramaian atau tempat publik berusaha menampilkan sebaik mungkin untuk semua perayaan besar, termasuk The Trans Luxury Hotel Bandung. Barongsai Tonggak dan Lucky Angpao sudah menjadi atraksi standar, dan bagi hotel yang baru meraih penghargaan di ajang World Halal Tourism Awards 2016 itu, tentu aneka menu khas negeri Tirai Bambu akan menjadi sesuatu yang berbeda.

Lucky Angpao yang disediakan The Trans Luxury Hotel Bandung berhadiah luar biasa, yaitu menginap di Celebrity Suite. Siapa yang tidak mau? Caranya mudah, cukup dengan bersantap malam di The Restaurant atau The 18th Restaurant and Lounge pada hari Jumat, 27 Januari 2017, nanti. Jumlahnya? Ada 18 angpao. Jadi, selain menginap di Celebrity Suite yang sering menjadi langganan SBY saat menjabat menjadi presiden, pengunjung yang beruntung juga bisa menginap di Premier Room, mendapatkan voucher dinner di The 18th Restaurant and Lounge, hingga memperoleh voucher Dream Time Massage di The Spa. Semoga tahun Ayam Api ini memberi kebahagiaan bagi orang-orang yang beruntung. Amiiin.

Hari Raya Imlek

MENU THE 18TH RESTAURANT AND LOUNGE

Soal The Restaurant yang terletak di lantai 3, sosok itu pernah menceritakannya di blog ini. Saat itu dia bercerita tentang Babuko Basamo dan bagaimana membuat Resep Lompong Sagu. Soal tempat, dijamin bikin betah. Setelah memarkirkan sepeda kesayangannya di tempat parkir motor, dirinya langsung cus memasuki lobby hotel. Suasana merah sudah terasa meriah di halaman kawasan terpadu TSB. Seperti layaknya mengunjungi tempat yang familiar, dia pun langsung memasuki lift dan siap menuju lantai 18. Soal menu di lantai 3 yang katanya ada Baked Chicken with Sesame Seed, Braises Fish Maw and Black Mushroom, Braised Hoisom, hingga Stirfried Sea Scallops with Broccoli and Pear tidak usahlah ditulis di sini. Kalau ingin mencobanya sila saja datang pada malam Imlek, 27 Januari 2017, pukul 18.00 – 22.00 WIB. Semua menu itu akan disediakan secara buffet dengan harga Rp539.888net/dewasa dan Rp269.999net/anak di bawah 12 tahun.

Sampai di lantai 18, angin langsung menyambut dengan tiupan kencangnya. Segar. Apalagi setelah sedari tadi ditimpa dengan rasa panas yang menyengat. Sosok itu beberapa saat memanjakan matanya dengan melihat Bandung dari atas ketinggian. Ada rasa jerih, tapi indah. Tidak berapa lama, dia pun berterur sapa dengan Teh Melly dan Teh Anggia yang selalu standby di hotel, juga beberapa kawan blogger yang hanya bertemu kalau ada acara kopdar. Berdasarkan informasi, The 18th Restaurant and Lounge yang berada di lantai paling atas itu akan menghadirkan acara ‘Hong Kong Night with Shifu Tang’. Shifu Tang atau Peter Tang adalah Executive Chinese Chef asal Hong Kong yang sudah berada di Indonesia selama 10 tahun. Beliau kebetulan berencana ingin memamerkan kebolehannya memasak dua menu andalannya.

The 18th Restaurant and Lounge

Suasana balkon di The 18th Restaurant (Inset: Uji Nyali)

Dengan aksen bahasa Indonesia yang khas, Shifu Tang berusaha beramah tamah dengan para blogger dan jurnalis dari berbagai media. Beliau begitu murah senyum. Meski agak kurang jelas, paling tidak sosok itu bisa menangkap apa yang dimaksud. Misalnya mengucapkan kata ‘udang’ tetapi yang terdengar di telinga adalah ‘ujan’. Meski sudah berusia lanjut, beliau tampak cekatan memasak. Semua menu yang dimasak berbahasa Inggris, sulit untuk menghapalnya. Satu menu yang disukai sosok itu adalah daging sapi yang dimasak dengan campuran sayuran dan lada hitam. Oke, sebut saja ‘Oseng Sapi Lada Hitam’. Daging sapi yang dipakai adalah tenderloinnya, jelas mahal. Tapi harganya terbayar oleh rasanya yang pedas-pedas gimanaaa gitu. Dia suka sekali. Apalagi jika dicampur dengan nasi hainan yang khas, nasi yang ditaburi dengan bawang goreng, persis seperti nasi uduk.

Menyantap masakan khas dari negeri tirai bambu di lantai teratas hotel memberikan sensasi yang takpernah dilupakan. Angin yang berembus sudah begitu menyegarkan, sehingga tidak perlu lagi mengharapkan tiupan angin dari AC yang tidak alami. Setelah makan, sila saja langsung menuju ke tepian dan manjakan mata Anda dengan pemandangan Bandung dari atas. Kalau cuacanya lagi bagus, pemandangan pegunungan yang mengitari Bandung memberikan sensasi yang luar biasa melenakan. Apalagi kalau menunggu saat matahari terbenam. Warna merah berpendar di langit, lalu menjelang maghrib muncullah warna-warna biru yang membuat hati ini berdesir. Tidak hanya itu, di ujung sebelah kiri, ada area yang membuat adrenalin terbuang begitu saja. Bagi yang berani, sila berjalan atau berdiri di atas kaca bening, lalu pandanglah beberapa kendaraan di bawah yang tampak seperti mainan. Itulah area uji nyali berjalan di atas kaca. Sensasinya takterkatakan.

Oseng Sapi Lada Hitam

Atas: Risol isi udang. Bawah: Oseng sapi lada hitam.

DEEP FRIED PRAWN WITH SALTED EGG

Salah satu menu andalan yang disukai sosok itu adalah DFPWSE atau sila baca saja singkatannya di atas hehehe. Dia sendiri cukup menyebutnya dengan Udang Goreng Telor Asin. Ya, memang itu namanya. Kata Shifu Tang, ini adalah menu favorit yang paling ditunggu. Berpengalaman memasak di berbagai hotel, menu tersebut termasuk yang paling banyak dipesan. Bagi penggemar seafood dan telor asin, tentu akan merasakan sensasi di lidah yang berbeda saat menyantap keduanya. Dia sendiri begitu suka dengan menu ini saat mencobanya. Benar-benar enak dan asinnya telor langsung lumer bersama kegurihan daging udang yang sudah bebas kulit. Dan kalau mau tahu, dia sampai berkali-kali mengambil menu ini bersama nasi hainan. Habis, benar-benar enak.

Cara memasaknya pun mudah. Udang yang sudah dikupas kulitnya dicampurkan dengan bubuk/tepung ayam, garam, dan tepung jagung. Panaskan minyang goreng dan masak udang sampai warnanya berubah menjadi agak keemasan. Kalau minyaknya bagus, dijamin udang gorengnya akan bagus juga. Angkat dan tiriskan. Setelah itu siapkan telor asin, ambil warna kuningnya saja. Putih telurnya tidak terpakai. Patut diacungi jempol bahwa Shifu Tang membuat sendiri telor asinnya, tidak memesan ke warung sebelah atau langsung ke Brebes. Nah, kuning dari telor asin ini dioseng-oseng dengan menggunakan setengah sendok minyak beberapa saat, setelah itu baru dicampurkan dengan udang goreng ditambah bawang. Oseng-oseng secukupnya saja. Dan hidangan Imlek ala The Trans Luxury Hotel pun tersaji mengundang selera.

Udang Goreng Telor Asin

Oya, kalau mau menu lengkapnya, termasuk mencoba yee sang atau yusheng yang memang menjadi menu khas Imlek, semuanya tersaji dengan harga Rp688.999net/dewasa. Ada banyak hidangan dan semuanya enak-enak, termasuk kue risoles isi udang (dengan taburan wijen) dan onde-onde kacang merah. Bagi yang belum tahu, yee sang adalah hidangan khusus pada hari raya Imlek dan dihidangkan sebagai makanan pembuka. Biasanya dimakan pada hari ke-7 bulan pertama kalender Imlek. Nah, kata Shifu Tang, yee sang adalah masakan Tiochiu berupa salad ikan (bisa tuna atau salem) segar ditambah irisan halus sayuran seperti wortel dan lobak. Makanan ini dipercaya sebagai simbol kelimpahan dan kemakmuran bagi orang yang memakannya.

Bagi yang memiliki kartu kredit Bank Mega, bakal mendapat potongan harga spesial. Tinggal tunjukin saja kartu VIP Membership-nya, dan itu berlaku untuk seluruh paket yang ditawarkan di The Trans Luxury Hotel Bandung. Daaan … Februari kan akan segera datang, tuh, katanya dikenal sebagai bulan penuh cinta, Trans Studio Bandung rupanya mau menggelar konser tunggal salah satu band favorit. Mau tahu bandnya? Yaitu Yovie dan kawan-kawan dalam acara ‘A Night With KAHITNA’ yang akan digelar pada hari Sabtu, 4 Februari 2017, di Amphiteater TSB mulai pukul 19.00 WIB. Harga tiketnya ada dua pilihan, Rp300ribu untuk kelas Festival dan Rp750ribu untuk kelas VIP. Der ah langsung ke sana.[]

Perempuan Inspiratif NOVA 2016 dan Laskar Ciamis

Perempuan Inspiratif NOVA 2016 adalah acara yang luar biasa dan bisa menghadirinya pada Sabtu malam (26/11) di Ballroom Hotel Grand Tjokro Cihampelas telah mengubah momen itu menjadi malam yang istimewa bagi Sang Belahan Jiwa dan sosok itu. Ya, dia hadir sebagai pendamping istrinya, di sebuah acara yang dihadiri oleh para perempuat hebat. Turut hadir pula si Cinta alias Teh Atalia, istri wali kota Bandung, dan Alyssa Soebandono yang saat akhir acara dikejar oleh para undangan. Khusus untuk tulisan kali ini, dia akan fokus pada salah satu sosok perempuan inspiratif yang satu-satunya mewakili Bandung, yaitu Sidrotun Naim. Siapa dia?

Beliau adalah doktor pertama dari Indonesia di bidang penyakit udang sekaligus lulusan teladan dari Harvard University. Dalam sambutannya setelah menerima penghargaan sebagai Perempuan Inspiratif NOVA 2016 di Kategori Perempuan dan Teknologi, ia berujar, “Mungkin hanya saya yang peduli pada kesehatan udang.” Dan langsung disambut senyum dan tawa para undangan. “Percayakanlah kesehatan dan kecerdasan anak-anak dengan cara mengonsumsi udang yang sehat,” lanjutnya. Hebatnya lagi, Sidrotun Naim juga pernah menerima penghargaan ilmuwan muda tingkat dunia dari UNESCO. Penelitiannya adalah memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia.

Continue reading “Perempuan Inspiratif NOVA 2016 dan Laskar Ciamis”

Bandung Sebagai Kota Banjir

Bandung sebagai kota banjir. Miris. Siapa pun tidak akan mau kalau kotanya dicap sebagai kota yang berkonotasi negatif, termasuk predikat sebagai kota banjir. Beberapa bahkan menyebutnya dengan Bandung Lautan Air atau yang lebih negatif dari itu semua. Begitu pula dengan sosok itu. Meskipun hanya sebagai kota kedua (karena dia lahir dan besar di Jakarta), Bandung adalah kota yang begitu dicintainya. Di sinilah dia bisa menuntut ilmu di perguruan tinggi ternama. Di sinilah dia bisa mengasah dan mengembangkan keterampilannya. Di sinilah dia bisa menemukan sang belahan jiwa hingga resmi mendapatkan KTP Bandung dan status baru. Di sinilah dia bisa menyaksikan kelahiran dan membesarkan kedua putri tersayangnya. Di sinilah dia bisa dikenal dengan sebutan Bang Aswi hingga aktif di beberapa komunitas, lalu bersama-sama membangun Kota Bandung dengan kemampuan yang dia bisa.

Ya, siapa pun tidak suka kalau kotanya dijelek-jeleki. Namun kenyataan menunjukkannya. Warga Bandung dan masyarakat Indonesia sempat terkejut saat Bandung diterjang banjir yang amat parah (Senin, 24/10/2016). Mereka ngembang kadu (melongo) dan matanya ngembang cabe (melotot) saat mengetahui kalau sebagian ruas di Jln. Dr. Djundjunan (tepat di depan Bandung Trade Center) tergenang oleh air sehingga mengakibatkan lalu lintas lumpuh total. Pada saat yang sama, banjir parah juga terjadi di Jln. Pagarsih. Jalan tersebut menjelma sungai yang akhirnya menghanyutkan sebuah mobil hingga masuk ke dalam sungai Citepus. Warga Bandung hanya bisa ngembang cikur (bengong), sementara masyarakat Indonesia ngembang waluh (saling membicarakan dan bertanya) di media sosial.

jalan-54

Jln. Pagarsih (inset: Jln. Rancaekek, Kab. Bandung)

Pemkot Bandung jelas tidak tinggal diam setelahnya. Kang Emil langsung mengambil rencana dengan melakukan pembongkaran bangunan di sepanjang sungai. Katanya, “Didapati banyak rumah/hotel/kantor yang pembangunannya melanggar regulasi karena mempersempit jalan air sampai 50% sehingga air melompat ke jalanan, yang ujungnya jika curah hujan ekstrem menyebabkan banjir. Karena itu mulai minggu ini Pemkot Bandung akan membongkar bangunan/akses properti dari 2 hotel, 2 kantor, dan 15 rumah di sepanjang sungai Cianting yang menuju Jln. Dr. Djundjunan.” Salah satu aksinya adalah Pemkot Bandung akan segera membongkar jembatan yang merupakan akses masuk ke Hotel Topas. Dinding jembatan terlalu tebal sehingga menyebabkan aliran air di bawahnya terhambat.

Rabu pagi (9/11/2016), Pemkot Bandung turun tangan bersama warga setempat untuk membersihkan sungai Citepus. Aksi yang berjalan baik, namun pada siang hari hujan turun kembali dengan derasnya. Tak disangka, Jln. Pagarsih kembali menjadi sungai yang begitu deras arusnya. Menurut warga sekitar, banjir di jalan tersebut sudah berlangsung puluhan tahun, biasanya hanya datang saat awal dan penghabisan musim hujan. Sudah menjadi hal lumrah. Namun menjadi istimewa karena lagi-lagi ada 2 (dua) mobil yang hanyut hingga masuk ke sungai Citepus. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Yusri Yunus menuturkan bahwa sekira pukul 17.30 WIB, dilaporkan dua kendaraan hanyut di simpang Astanaanyar dan Pagarsih, yaitu Kijang warna merah dan Avanza warna hitam.

BANJIR BANDUNG TERJADI LAGI (DAN LAGI)

Hari ini (Minggu, 13/11/2016) sosok itu dan sang belahan jiwa tidak merasakan sesuatu yang jelek. Dia berencana di rumah saja guna mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sedangkan pasangannya sudah berniat mau ke Cicalengka menggunakan kereta guna menjenguk seorang kawan yang baru melahirkan. Panas terasa terik selepas pagi hingga kemudian geluduk menggema di kejauhan menjelang siang. Dia segera mengangkat jemuran yang sudah lumayan kering, sampai akhirnya hujan mengguyur di daerah Ciganitri. Tidak terlalu besar. Sambil mengetik ada beberapa pesan yang masuk lewat WA. Diantaranya adalah berita tentang Bandung. Banjir terjadi lagi, dan kali ini sampai menggenangi Stasiun Bandung dan RS Mata Cicendo. Bahkan di beberapa jalan ada pohon tumbang yang merusak kendaraan di bawahnya.

Kanopi BEC (Bandung Electronic Center) dikabarkan terbang oleh angin sehingga curahan hujan masuk membasahi eskalator dan sempat membuat panik para pengunjung. Hujan angin juga merusak tenda penjual (fashion craft) yang biasa ada di depan BIP (Bandung Indah Plaza). Di daerah Lembong bahkan airnya masuk ke dalam salah satu toko yang belum pernah terjadi selama puluhan tahun berjualan. Hujan yang diiringi es (menurut beberapa saksi) juga menyebabkan pohon tumbang di Jln. Otista dekat belokan stasiun selatan, Jln. Manado, dan di Jln. Serayu. Ranting pohon yang agak besar juga terlihat patah di Jln. Cihampelas. Yang menjadi perhatian sosok itu adalah banjir yang sampai menggenangi rel kereta di Stasiun Bandung karena efeknya membuat transportasi kereta jadi berhenti.

Benar saja, sang belahan jiwa jadi tertahan di Stasiun Cicalengka. Menurut Ilud Siregar, Manager Humas PT KAI Daop 2 Bandung, KRD 390 jurusan Padalarang-Cicalengka tertahan di Stasiun Ciroyom. Begitu pula dengan KRD 400 jurusan Padalarang-Cicalengka yang tertahan di Stasiun Cimindi dan KRD 381 jurusan Cicalengka-Padalarang tertahan di Stasiun Kiaracondong. Sang belahan jiwa yang seharusnya berangkat pada pukul 14:55 pada akhirnya harus menunggu bersama ratusan penumpang di Stasiun Cicalengka. Sosok itu sendiri panik menanti berita. Ada opsi mau naik jasa mobil online tetapi ada kabar jalan di depan PT Kahatex Rancaekek banjir besar sehingga memutus jalur transportasi dua arah. Dia mengecek di waze memang tidak ada ada kendaraan sama sekali di daerah itu.

jalan-55

Stasiun Bandung dan RS Mata Cicendo

Pada pukul sekira 16:00 ada berita baik, KRD yang tertahan mulai jalan kembali. Bisa jadi genangan yang terjadi di Stasiun Bandung mulai surut. Calon penumpang sudah berdesak-desakan. Beruntung rombongan sang belahan jiwa membawa anak-anak sehingga lebih didahulukan untuk bisa masuk ke dalam stasiun. Menjelang maghrib ada kereta yang masuk, ternyata itu adalah KRD yang berangkat dari Padalarang pada pukul 12. Enam jam! Ia akhirnya sampai di Stasiun Kiaracondong saat azan Isya, dan selamat sampai rumah menjelang pukul 21:00. Ada perasaan bahagia saat bisa melihat sang belahan jiwa yang tidak apa-apa, sekejap lupa dengan video banjir yang terjadi di Jln. Pasirkaliki, Jln. Sukagalih, dan foto-foto banjir di Jln. Sukajadi, Jln. Ahmad Yani, Jln. Laswi, Jln. Gatsu, dan lain sebagainya. Banjir Bandung seolah merata.

Ada yang unik dengan bertambahnya debit air sungai Cikakak, yaitu dinding sejumlah rumah jebol yang tepat berada di sisi sungai, mengakibatkan barang-barang berharga hanyut terseret arus. Kompol Reny Marthaliana, Kasubaghumas Polrestabes Bandung, menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi di enam RT di RW 5 Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo. Ketinggian air yang menerjang ke rumah warga mencapai sekitar 1,6 meter. “Berdasarkan data yang kami catat, ada 10 rumah jebol. Barang berharga yang hanyut terbawa arus antara lain berupa 11 kulkas dan satu mesin cuci,” kata Reny. Kulkas-kulkas tersebut terseret arus kuat lalu tersedot ke aliran sungai. Ada satu jembatan yang rusak karena terkena benturan kulkas.

BANDUNG BANJIR, SALAH SIAPA?

Sejumlah masyarakat menyalahkan pembangunan gorong-gorong yang sedang berlangsung di beberapa ruas jalan utama. Kalau sedang tidak hujan menimbulkan kemacetan, kalau hujan ya menimbulkan banjir. Pemkot Bandung memang sedang memperbaiki 19 ruas gorong-gorong. Perbaikan dilakukan dengan cara memperlebar luas gorong-gorong menjadi 2×2 meter. Kalau ada gorong-gorong yang kecil, itu adalah ducting kabel yang berukuran 50×50 cm. Pemkot Bandung juga mengupayakan pembangunan tol air dimana yang pertama berfungsi ada di Kecamatan Gedebage. Tol air tersebut diklaim telah efektif mengurangi banjir. Kang Emil mengatakan bahwa tol air itu akan menyedot air yang tergenang masuk ke pipa khusus yang langsung berujung di sungai (yang paling tidak berpotensi meluap) terdekat tanpa ada gangguan berupa sampah atau endapan tanah.

Berkenaan dengan banjir di Jln. Pagarsih, memunculkan sebuah artikel di beberapa grup WA. Kesimpulan dari artikel yang katanya ditulis oleh Pak Hardjono (mantan pejabat BPN) itu adalah bahwa Jln. Pagarsih tidak mungkin terjadi banjir kalau masih ada Situ Aksan atau pada saat zaman penjajahan Belanda disebut Westerpark. Dapat dipastikan, yang terjadi kemudian ada beberapa orang/kawan yang menyetujuinya (termasuk sosok itu). Ben Wirawan, seorang kawan yang juga aktif di beberapa komunitas, langsung mendebatnya. Ia tidak setuju kalau hilangnya Situ Aksan adalah penyebab dari banjir di Jln. Pagarsih. Ia pun mengumpulkan data, salah satunya adalah dari keluarganya sendiri dimana sang istri adalah salah satu cicit dari H. Mas Aksan (asal nama situ tersebut).

Ia mengutip tulisan T. Bachtiar, seorang penggiat Kelompok Riset Cekungan Bandung, yang banyak mengutip data dari Peta Topografi 1882, buku ‘Gids Van Bandoeng en Midden-Priangan‘ karya A.A. Sitsma dan W.H. Hoogland tahun 1927, Peta ‘Bandoeng Town Plan’ tahun 1933, dan wawancara dengan saksi-saksi sejarah. Simpulan dari beliau itu adalah bahwa Situ Aksan bukan situ alami yang katanya merupakan sisa-sisa dari genangan Danau Bandung Purba, tetapi berasal dari bekas galian sawah di Dunguscariang yang dijadikan bata merah demi pembangunan perumahan dan gedung-gedung di Bandung pada masa 1920-an. Air yang menggenanginya berasal dari sungai Leuwilimus, hingga beberapa tahun kemudian menjadi daerah wisata Situ Aksan. Selengkapnya bisa dibaca pada Hilangnya Situ Aksan dan Banjir Pagarsih.

jalan-56

Pada akhirnya selalu ada momen untuk menunjuk siapa yang salah. Pemkot Bandung yang salah. Kang Emil yang salah. Hujan di Bandung Utara yang menyebabkan banjir. Semuanya menunjuk pada pihak yang dianggap bertanggung jawab. Kang Emil menuturkan, banjir merupakan persoalan multidimensi. Oleh karena itu, perlu penanganan yang multidimensional pula. Selain berupaya dengan hal-hal yang telah disebutkan di atas, ia juga membuat regulasi pelarangan styrofoam dan regulasi bangunan hijau. Ia sendiri sudah meminta maaf dan siap bertanggung jawab. ”Musibah ini kita sesali tapi terus kita akan berupaya. Pemkot Bandung sudah meminta maaf terkait banjir yang terjadi,” ucapnya.

Ya, sosok itu juga merasa tidak usah lagi menunjuk siapa yang salah. Sudah saatnya semua pihak, semua masyarakat, untuk introspeksi diri. Ayo sama-sama bermuhasabah. Semua saling berkaitan. Mungkin tidak ada yang menyadari bahwa kesalahan kecil dari satu orang yang membuang sampah di satu titik akan diikuti oleh orang lain yang membuang sampah di titik yang sama. Di kemudian hari, secara bertahap, makin banyak orang lain yang ikut-ikutan membuang sampah di titik tersebut. Pada akhirnya, setahun kemudian ada sampah menumpuk yang jumlahnya takterhingga di sana. Siapa yang salah? Jangan sampai tangan kitalah yang pertama kali membuang sampah di titik itu. Ingatlah! Jika satu jari menunjuk pada orang yang dianggap salah maka ada empat jari yang menunjuk pada diri orang itu sendiri. Daripada menyalahkan orang lain, lebih baik berupaya dan bekerja sama agar Bandung menjadi kota yang tidak banjir lagi. Amin.[]

Semua Bisa Menjadi Bartender Pro

Semua bisa menjadi bartender pro, lho. Dan buktinya adalah sosok berbaju kuning itu yang sedang mendekatkan minumannya ke arah dada. Genggaman kedua tangannya menutupi hampir seluruh permukaan cangkir. Dia hanya berharap panas dari minuman itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Menghangatkan dari rasa dingin yang menyerang bertubi-tubi. Ya, dia baru saja menembus hujan yang turun tiba-tiba, membasahi sebagian pakaiannya. Hot Latte pilihannya paling tidak memang mujarab. Panasnya cangkir menjalar ke beberapa bagian tubuh yang ingin dihangatkan. Begitu pula saat dia menyeruput minumannya, kehangatan langsung mengalir ke dalam tenggorokan, lalu menjalar perlahan mengikuti aliran darah. Segar. Seolah ratusan kunang-kunang langsung bermunculan memeriahkan ruangan dimana dia duduk. Malam yang hangat. Malam yang meriah.

produk-48

Selasa, 27 September 2016. Sore hari yang agak mendung, dengan angin yang begitu kencang menerpa dari berbagai arah. Dedaunan berjatuhan dan melayang terbang, debu-debu takberbatas lagi berhamburan. Sosok itu dengan sepedanya berpacu tidak hanya dengan waktu, tetapi dengan cuaca yang tidak bersahabat. Dan benar saja, belum sampai melewati gerbang GOR Saparua, gemericik air hujan telah membasahi bumi. Sudah tidak ada waktu lagi untuk berteduh. Dia hanya berharap hujan tidak segera melebat. Kayuhannya dipercepat dan sang Spidi meluncur meliuk di jalan protokol kota Bandung. Ahhh … seandainya ada lebih banyak orang yang tahu betapa nikmatnya naik sepeda daripada kendaraan bermotor, sudah pasti mewujudkan Bandung sebagai kota sepeda semudah membalikkan tangan. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Perlu perjuangan untuk meyakinkan mayoritas warganya. Bahkan turun tangannya sang wali kota untuk membuktikan bahwa beliau bersepeda pun masih dijawab dengan komentar miring. Sudahlah.

Azan berkumandang bersamaan dengan tutupnya tirai sang matahari. Hujan makin menderas saat sosok itu sampai di sebuah kafe kecil, takjauh dari Taman Lansia. Bergegas dia menggembok sepedanya, lalu berlari kecil menaiki tangga agar tidak banyak lagi bagian tubuhnya yang dibasahi hujan. Dia tersenyum pada dua gadis yang berdiri di belakang meja. Dia tidak heran kalau keduanya memasang wajah kosong saat melihat dirinya. Saat ditanya, dia menjawab dengan senyuman manisnya, “Blogger Bandung.” Baju batik B2W Bandung warna kuning yang dikenakan menunjukkan bahwa dia adalah seorang pesepeda. Yang pasti bakal menyilaukan mata. Lalu, setelah drama saling sapa dan mengumbar senyum, sampailah dia pada titik sedang menikmati Hot Latte. Kalau saja ada biskuit dengan rasa gingerbread, tentu minuman panasnya itu makin paripurna. Oya, tahu tidak kalau dia membuat sendiri hot latte-nya? Benar, semua itu bisa terwujud dengan Nescafe Dolce Gusto, sehingga percayalah … bahwa Semua Bisa Menjadi Bartender Pro.

Produk-49.jpg

NESCAFE DOLCE GUSTO

Mayoritas orang Indonesia pasti sudah mengenal dengan brand Nescafe. Beberapa produknya memang banyak mengeluarkan sediaan kopi instan. Cara membuatnya mudah, tinggal buka kemasannya lalu tuang ke wadah gelas dan campur dengan air panas. Jadilah minuman penghangat di kala lelah. Namun manusia memang tidak pernah puas. Masih saja beberapa butuh untuk nongkrong manja di kafe atau restoran. Tujuannya bukan hanya menikmati minuman kesukaannya, tetapi karena suka dengan suasana dan sajian yang berbeda. Mengapa berbeda? Ini karena kopi buatan kafe/restoran itu lebih artistik. Adanya lapisan-lapisan di gelasnya. Adanya foam yang berbentuk lucu. Atau hiasan berupa gambar yang terbuat dari krim susu. Sebagai penikmat, mayoritas tidak bisa membuatnya. Harus menjadi bartender pro agar bisa melakukan itu semua.

Nah, di sinilah Nescafe melihat ada peluang yang terbuka lebar. Berbekal pengalaman puluhan tahun, mereka akhirnya bisa memperkenalkan sebuah alat yang portable. Alat pembuat kopi/teh yang kemampuannya membuat orang biasa menjadi bartender pro. Dan pada akhirnya … Semua Bisa Menjadi Bartender Pro. Wah! Kopi yang bernuansa seni pun bisa dibawa ke rumah masing-masing. Ya, inilah era the modern art of coffee. Alat tersebut bernama Nescafe Dolce Gusto, mesin pembuat kopi/teh yang sudah didesain sedemikian rupa sehingga menghasilkan sajian yang berkualitas dan tentu saja bernuansa seni tinggi. Tidak hanya mesinnya, tetapi juga kapsulnya yang sudah dipersiapkan dan mudah didapatkan. Sajian apapun bisa dibuat. Dari yang sederhana hingga yang paling sulit sekalipun. Mudah, praktis, nyaman, dan aman. Waktu pun tidak terbuang percuma saat ingin berleha-leha di rumah selepas bekerja.

Produk-50.jpg

Sosok itu melihat sendiri bagaimana pihak Nescafe memperkenalkan varian mesinya di malam tersebut. Ada DROP yang bentuknya mirip dengan tetesan air. Ada GENIO yang memiliki kapasitas air paling besar, yaitu 1 liter. Ada OBLO yang bentuk fisiknya kotak dan paling berbeda. Lalu ada MINI ME yang paling praktis dan termurah. Dia sendiri kebetulan membuat Hot Latte dengan menggunakan Nescafe Dolce Gusto Mini Me. Varian ini memiliki pilihan dua warna, putih abu-abu dan hitam abu-abu. Dengan berat hanya 2,1 kg dan kapasitas air 800 mL, alat ini hanya membutuhkan daya listrik maksimal 1500 watt saja. Kelebihannya? 1. Bisa digunakan 5 detik setelah level airnya diatur; 2. Bisa digunakan untuk membuat minuman panas dan dingin; 3. Bisa diatur tekanannya hingga 15 bar; 4. Otomatis akan mati sendiri setelah 5 menit kalau tidak digunakan. Sip, kan?

Mau tahu bagaimana dia membuat Hot Latte dengan Nescafe Dolce Gusto Mini Me?

  1. Masukkan air ke dalam mesinnya. Jangan lupa untuk mencolokkan kabelnya ya.
  2. Masukkan kapsul kopi Cappuccino ke dalam mesin dan segera atur airnya di level 1, tekan tombol merah ke arah kanan (panas). Air kopi akan keluar sendiri setelah 5 detik.
  3. Keluarkan kapsul sisa, lalu masukkan kapsul susu Cappuccino ke dalam mesin dan segera atur air di level 7, tekan tombol merah ke arah kanan. Air susu akan keluar sendiri.
  4. Minuman Hot Latte telah tersaji dengan baik. Sosok itu pun dengan tenang meminumnya manja.

Produk-51.jpg

CARA MENDAPATKAN KAPSUL

Bagaimana kalau kapsulnya habis? Oya, setiap pembelian Nescafe Dolce Gusto selalu mendapatkan bonus kapsul. Coba cek di kardusnya atau tanya langsung ke pegawai tokonya hehehe. Jika sudah habis, sila pergi ke beberapa toko besar di Bandung, misalnya Carrefour, Transmart, atau Yogya Junction. Beli online juga bisa lewat Lazada dan Blibli. Kalau di Jakarta mah lebih banyak lagi pilihannya, seperti Best Denki, Hero, Metro, Sogo, dan lain-lain. Kapsul dijual per box dengan harga Rp110.000 dimana bisa untuk membuat 16 gelas Espresso Intenso-Grande Intenso-Cafe Au Lait-Nestea Peach dan 8 gelas Cappuccino-Mocha-Milo-Green Tea Latte. Dah ah … cari aja langsung Nescafe Dolce Gusto yang disuka, sementara sosok itu mau bersantai dulu di rumah sambil menikmati sajian lain yang menyegarkan. Slurp.[]

Arti Persahabatan: Dongeng Komunitas [2]

Seorang anak kecil memegang dua buah apel dengan kedua tangannya. Ibunya kemudian datang mendekat, tersenyum, dan bertanya, “Sayang … boleh Mama minta satu?” Si anak memandang ibunya beberapa detik, kemudian dengan cepat menggigit kedua apelnya, bergantian. Melihat hal itu ibunya berusaha menyembunyikan kekecewaan, senyumya telah luntur dari wajahnya. Sampai kemudian si anak menyodorkan salah satu apel yang telah digigitnya tadi kepada ibunya. Dengan sukacita dan senyum ceria, ia berkata, “Ini untuk Mama, yang ini LEBIH MANIS.” Hening. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir ibunya, kecuali senyum dan bola mata yang berkaca-kaca.

Bangaswi_1

#BloggerBDG bersama Pak Wishnutama

Komunitas/ko·mu·ni·tas/ n kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban. Komunitas sastra adalah kelompok atau kumpulan orang yang meminati dan berkecimpung dalam bidang sastra; masyarakat sastra. Itulah pengertian tentang komunitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dikutip sosok itu dari KBBI Daring. Pada akhirnya, komunitas semakin mengerucut pada sekumpulan orang yang suka pada hobi atau aktivitas tertentu. Mayoritas mengerucut lagi pada hobi yang sama. Tidak ada sekat di sana. Meski dari latar belakang ekonomi atau budaya yang berbeda, semua anggota komunitas berbaur dan tertawa bersama karena memiliki hobi yang sama.

Hobi/ho·bi/ n kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Misal, melukis itu sebagai hobi saja, bukan sebagai mata pencahariannya. Untuk kata ini hampir semuanya sepakat bahwa hobi adalah aktivitas yang menyenangkan. Awalnya dikerjakan secara sendiri. Ada yang suka baca, suka nulis, suka bersepeda, suka lari, dan lain sebagainya. Hingga kemudian beberapa orang berinisiatif untuk berkumpul dan membentuk komunitas hobi. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga wajar saja kalau mereka memang cenderung lebih suka berkumpul. Dengan lahirnya komunitas, hobi seseorang semakin menggebu-gebu dan terus mengalami peningkatan yang signifikan. Jika berhubungan dengan keterampilan, dijamin keterampilannya akan bertambah. Semua itu bisa terjadi karena ada interaksi di sana. Interaksi saling berbagi.

Kalau berbicara soal hobi, tidak ada hitung-hitungan lagi di sana. Semua atas dasar senang dan suka. Dia langsung membeli produk yang mendukung hobinya sesuai dengan budget-nya. Beberapa saat kemudian dia bisa langsung meng-upgrade produk tersebut agar semakin nyaman. Apapun hobinya. Jika hobi yang ditekuni tidak ada produknya, maka dia akan mencurahkan semua perhatian dan waktunya. Berkumpul dan berjejaring, lalu membuat program acara agar semakin banyak orang yang (semoga saja) mau mengikuti jejak mereka memiliki hobi sama. Tidak ada hitung-hitungan mencari keuntungan pribadi, karena prinsip semua anggota/pengurus komunitas adalah saling berbagi. Sudah ada kepuasan di sana. Keuntungan lebih diarahkan ke kas komunitas, karena semua itu akhirnya akan dikembalikan kepada anggotanya. Hobi dan komunitas bukan ajang mencari penghasilan.

Namun dunia ini tidak seindah teori atau lukisan-lukisan pemandangan alam di beberapa rumah atau di pinggir Jln. Braga. Meski tidak banyak, ada saja orang yang menyalahgunakannya demi keuntungan pribadi semata. Akibatnya, komunitas pun menjadi tidak kondusif dan saling curiga. Tidak ada rasa percaya lagi dan hobi pun menjadi tercemar. Sosok itu sudah makan asam garam soal komunitas. Dari komunitas kepenulisan, sepeda, lari, penghijauan, pendidikan, hingga blogger. Kalau sudah ada gesekan di dalam komunitas, sulit untuk mengembangkan hobi dengan maksimal. Apalagi kalau sudah dihubungkan dengan materi. Apapun yang dikerjakan selalu dilihat dengan mata menyipit. “Pasti untuk keuntungan sendiri. Pasti keuntunganya untuk para pengurus. Pasti … pasti … pasti….” Hei! Ini komunitas, bukan perusahaan atau start up!

Fiuhhh! Tetapi itulah yang terjadi. Realitas memang terlihat lebih kejam dari teori yang ada. Semuanya menjadi rumit. Padahal ini hanyalah sekumpulan orang yang mencoba memaksimalkan hobi. Sosok itu sendiri hanya menarik nafas panjang. Betapa hobi bagi dirinya hanyalah untuk bersenang-senang, untuk meluapkan ruang kosong yang ada di kepalanya agar kehidupannya bisa berjalan dengan seimbang. Masalah rumah tangga dan masalah ekonomi adalah dua contoh kerumitan hidup manusia. Salah satu cara untuk menyeimbangkannya selain mendekat pada Sang Maha adalah dengan melakukan hobi. Nah, kalau ternyata bagian dari hobi ini mememunculkan masalah baru, tentu jalan terbaik adalah meninggalkan hobi tersebut. Itu solusi ekstrem. Paling aman, ya meninggalkan komunitas dan menjalankan hobinya (kembali) seorang diri. Tetapi … konsep dan prinsip saling berbagi akan hilang. Lenyap.

Bangaswi_2

Sosok itu di Kafe D’Jengkol (foto: Kang Goen)

Sosok itu mengeluh. Apalagi kalau dirinya sedang merenung di sudut malam. Apa jadinya jika pengurus komunitas tidak didukung oleh anggotanya? Bubar? Itu mudah sekali. Menarik diri? Jauh lebih mudah. Ingin menangis rasanya. Berteriak sekeras mungin dan menyanyikan lagu Metallica sambil melompat-lompat. Atau menengadahkan tangan dan mengadu pada Sang Maha. Komunitas jelas membutuhkan dukungan dari seluruh anggotanya, khususnya bagi yang aktif. Namun komunitas bukanlah partai yang membutuhkan banyak dukungan. Komunitas hanyalah sekumpulan orang yang memiliki hobi sama. Semua atas nama kebersamaan dan kesenangan pada hobi tersebut. Saling berbagi. Atas nama itulah, tentu keluhan di atas harus diabaikan. Waktu dan materi harus dikorbankan. Namun tidak banyak anggota yang memahami hal ini. Mereka tidak peduli.

Ada beberapa pengurus yang harus menangis di sudut malam saat pulang berkegiatan dan sukses meramaikan acara komunitas, harus berhadapan dengan keluarganya yang mengadu tidak ada beras lagi. Ada pengurus yang terus tersenyum dan memancarkan wajah bahagia selama acara komunitas melihat kegembiraan semua anggota yang mendapatkan banyak hadiah tetapi harus menangis di dalam kamar mandi karena tidak memiliki ongkos untuk pulang ke rumah. Ada pengurus yang memegang banyak voucher belanja atau voucher taksi tetapi takpernah bisa menggunakannya karena itu semua adalah hak anggota, dan kemudian ia hanya bisa menggunakan uang lusuh buat membayar angkot. Ada pengurus yang harus berjalan berkilo-kilometer demi mengirit ongkos dan menangis saat mengingat betapa anak-anaknya tidak bisa jajan hari itu, demi sebuah rapat komunitas.

Mungkinkah sudah semakin sedikit orang yang memiliki sedikit saja perhatian untuk peduli terhadap sesama. Mungkinkah sudah semakin sedikit orang yang lebih suka mengkritik secara langsung daripada mengkritiknya di media sosial. Mungkinkah telah hilang rasa kebersamaan yang pernah dipupuk bertahun-tahun lamanya, hanya karena ketidaksukaan pada satu-dua orang yang kini sama-sama berjibaku di komunitas. Mungkinkah sudah semakin banyak orang yang egois namun tidak pernah disadarinya. Sosok itu beristighfar. Dia hanya berlindung pada Sang Maha semoga itu semua bukan dirinya. Dia hanya terus berjuang untuk membesarkan komunitas dengan caranya sendiri. Cukuplah bagi dirinya dukungan dari kawan-kawan pengurus yang selalu mengingatkan agar bisa berjalan di track yang lurus. Cukuplah dukungan dari keluarga sebagai tempat berpulang yang paling istimewa sebelum ajal tiba.

BloggerBDG

Pengurus dan Anggota #BloggerBDG (foto: Kang Argun)

Alangkah indahnya jika anggota komunitas saling percaya. Alangkah indahnya jika anggota komunitas saling berpegangan tangan dan saling menguatkan. Alhamdulillah acara “Ngobrol Kece” kemarin berhasil dengan baik, dan dapat memuaskan beberapa pihak yang ikhlas membantu. Tiga hestek berhasil menjadi trending topic pada waktu yang berbeda. Semua itu jelas bukan kerja satu orang atau kerja pengurus semata. Hal itu bisa terjadi atas dukungan semua peserta yang hadir. Dan alangkah indahnya jika semua anggota komunitas ikut berjibaku. Betapa dahsyatnya hasil yang bisa dicapai jika semua itu bisa diwujudkan. Semoga sosok itu tidak sedang bermimpi. Semoga semua itu bisa dicapainya di kemudian hari, dalam waktu dekat ini. Semoga … amiiin. Hatur nuhun untuk semua pengurus di komunitas manapun yang telah mengorbankan semua waktu, ide, dan materinya. You’re the BEST!

Jangan tergesa-gesa menilai seseorang, siapapun dia. Janganlah seseorang menghakimi. Ingatlah selalu pada Allah Yang Maha Menghakimi. Berilah kesempatan kepada setiap orang untuk memberikan penjelasan dengan caranya sendiri.

Kutitip Pesan Padamu: Jagalah

Dua ekor ikan
Menutup mata
Mereka lihat tanda
Air berhenti mengalir

~ Pemandangan Senja oleh Kuntowijoyo

Pada 2055, Pete Postlethwaite hidup menyendiri. Planet Bumi saat itu begitu mengerikan. Bencana alam dan peperangan adalah dua contoh yang menyebabkan semua itu terjadi, hingga sebagian besar permukaannya hanya terisi oleh air. Ia kemudian mengambil arsip beberapa tahun ke belakang untuk merunut apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun terkejut karena membuang bungkus permen sembarangan adalah salah satu penyebabnya. Mungkinkah? Mungkin saja. Apa yang dialami oleh Pete terjadi di “The Age of Stupid”, sebuah film drama-dokumenter-animasi Inggris yang dibuat oleh Franny Armstrong pada 2009. Intinya adalah … bahwa perubahan iklim (yang ekstrem) suatu saat nanti itu hanya bisa dikendalikan oleh tindakan kita saat ini.

glacier_large
Sumber foto: Situs Discovery Kids

Continue reading “Kutitip Pesan Padamu: Jagalah”

Arti Persahabatan [1]

Blogger-01

Sahabat. Sebuah kata yang kaya manfaat. Kebahagiaan paripurna saat menyebutnya sambil memperlihatkan barisan gigi nan putih. Namun bisa berderai air mata saat takada mereka di sekeliling. Merekalah yang selalu ada dalam suka, cinta, duka, dan pedih. Genggamlah dengan erat. Rasa cinta bisa dibakar oleh api cemburu, tapi persahabatan hendaklah disiram oleh air keikhlasan. Teruslah dekat, wahai sahabat.

Continue reading “Arti Persahabatan [1]”