Bersepeda dari Banda Aceh ke Tapak Tuan

Satu hari persiapan dan empat hari perjalanan mendokumentasikan para peserta Tour de Sabang-Jakarta 3000K telah dilewati. Pada saat berangkat dari Bandung, hanya satu orang saja dikenalnya, yaitu Mas Anjar yang juga seorang blogger. Berada di tempat asing selalu menjadi tantangan bagi sosok itu agar dirinya menjadi tidak terasing. Targetnya sederhana, yaitu menciptakan persahabatan dan kebahagiaan di kampung halaman berikutnya. Tidak lagi ada istilah ‘asing’ karena inilah Indonesia. Selama masa itulah dia juga menjadi akrab dengan semua tim: Panitia Inti dari Jakarta, Panitia Lokal, dan tentu saja Peserta Pesepeda dari Jakarta, Malang, Makassar, dan Aceh.

Baca dulu rute pertama:
Tour de Sabang-Jakarta 3000k

Continue reading “Bersepeda dari Banda Aceh ke Tapak Tuan”

Advertisements

Tour de Sabang-Jakarta 3000K

Lelahnya tidak jauh berbeda dengan keletihan para pesepeda. Selama di jalan, dia harus memikirkan angle dan background foto sementara pesepeda tidak boleh terganggu. Ya, pekerjaan #TravelBlogger kali ini begitu berat. Tidak mudah menjalankannya.

Minggu pagi, 15 Oktober 2017, sosok itu telah bersiap diri di depan Asrama Haji Banda Aceh. Lima sepeda sudah dinaikkan ke atas mobil, sisanya dinaiki oleh pemiliknya masing-masing (katanya mau diboseh terlebih dahulu mampir ke Museum Tsunami). Dia menarik napas panjang. Tanpa disadari dirinya sudah berada di Tanah Rencong selama 3 (tiga) hari. Padahal baru kemarin dia melakukan perjalanan 16 jam dari Bandung ke Pulau Weh. Mulai dari naik Bus AKAP, ojek online, pesawat, kapal ferry ekspres, dan bus jemputan. Akan tetapi dia begitu menikmati setiap momen yang dijalaninya karena itulah petualangan dan kehidupan yang dipilihnya. Setiap perjalanan selalu menyisakan kenangan takterlupakan, dan kali ini juga begitu.

Baca juga:
Menuju Indonesia Bersepeda
Bersepeda Bugarkan Jantung

Continue reading “Tour de Sabang-Jakarta 3000K”

Tugas Blogger Adalah Menjaga Desa

Tugas Blogger Adalah Menjaga Desa — Benar gak ya kalimat itu? Sosok itu terdiam beberapa saat. Lahan kelapa sawit di depannya begitu rimbun meski baru berusia muda, belum siap panen. Dia berdiri dengan suasana hati yang bergemuruh di atas jembatan kayu di tengah perkebunan. Hanya beberapa meter di hadapannya terdapat bendera merah putih yang ditancapkan apa adanya di tanah. Bendera itulah yang nantinya bakal dikibarkan secara serentak pada pukul 10 waktu setempat di seluruh Nusantara keesokan harinya. 17 Agustus 2017. Bisa jadi bendera di atas tanah itu jauh lebih penting nilainya dibandingkan bendera-bendera lainnya. Bendera yang sudah lusuh itulah penanda batas negara. Sosok itu berdiri di atas tanah Indonesia, sedangkan di seberang bendera adalah tanah Malaysia.

Berbicara soal bendera akan panjang sekali. Ada nilai sejarah di sana. Merah putih tidak hanya sekadar kain yang harus dipasang di ujung tiang setiap tahun di pertengahan bulan Agustus. Merah putih tidak hanya sekadar warna yang dengan seenak udelnya bisa dibolak-balik. “Menatap merah putih adalah kebebasan yang musti dijaga dan dibela kibarannya di angkasa raya,” kata Sapardi Djoko Damono. “Kibarannya telah banyak menelan korban nyawa dan harta benda. Menatap merah putih adalah perlawanan melawan angkara murka, membinasakan penindas dari negeri tercinta Indonesia.” Sosok itu mengamini, lalu bersama penyair ternama itu mereka berdua berteriak lantang, “Berkibarlah terus merah putihku, dalam kemenangan dan kedamaian.”

Continue reading “Tugas Blogger Adalah Menjaga Desa”

Kebhinekaan di Mata Blogger

Dalam hal kemandirian sebagai bangsa tak salah bila bercermin pada kearifan masyarakat Ciptagelar, Sukabumi. Mereka tidak sepenuhnya menutup diri, namun tak membiarkan dirinya hanyut terseret perubahan. Mereka mengembangkan mikrohidro untuk menerangi kampung. Mereka membuat Cigateve untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, yang dikembangkan dari, oleh, dan untuk mereka. Mereka pun membangun lumbung padi untuk menyimpan hasil panen yang menjamin masyarakat Ciptagelar takkan kelaparan. ~ Karim Suryadi

Kebhinekaan di Mata Blogger — Sosok itu bersyukur karena dirinya telah diberikan kesempatan untuk melihat Indonesia di beberapa titik. Misalnya saja saat di Bali, dia melihat bagaimana warga Bali begitu menjaga tarian dan religiusitasnya. Hal yang sederhana sebenarnya, namun terlihat indah di mata para wisatawan. Lalu saat ke Lombok, dia melihat beberapa budaya yang tidak jauh berbeda dengan Bali, tetapi masjid tumbuh di mana-mana. Takheran kalau Lombok dikenal sebagai kota seribu masjid. Dia melihat dengan mata kepala sendiri ada orang Bali yang Muslim dan ada orang Lombok yang beragama Hindu.

Begitu pula saat di Ambon, sosok itu mengalami indahnya kebersamaan antara warga Kristen dengan Muslim. Seolah-olah tidak ada sekat di antara mereka. Yang ada hanyalah bahwa mereka tinggal di pulau yang sama, memakai alat transportasi yang sama, dan memiliki bentuk fisik yang tidak jauh berbeda. Oleh karena itulah dirinya menjadi haus akan petualangan-petualangan berikutnya untuk menjelajah Indonesia. Menuju pelosok-pelosok yang belum sempat disentuh atau dilihatnya, menyaksikan atau merasakan dengan inderanya sendiri bahwa Indonesia itu luar biasa. Indonesia itu istimewa.

Baca deh >>> Cintai Indonesia dengan Melihatnya Sendiri

Flash Blogging | Bhineka Tunggal Ika | Indonesia Kerja Bersama | Bang Aswi

MEMPERSATUKAN KEBERAGAMAN

Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si., Guru Besar Komunikasi Politik pada Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia, menjelaskan dengan sangat unik soal keberagaman ini pada acara Flash Blogging di Hotel Holiday Inn Pasteur (Selasa, 22/8/2017). Salah satunya adalah bagaimana keberagaman itu diambil dari syair Kahlil Gibran yang berjudul “Dawai-Dawai Perkawinan”. Beliau mengubahnya menjadi “Dawai-Dawai Keberagaman”. Alasannya adalah bahwa perkawinan/pernikahan pada hakikatnya adalah mempersatukan dua hal yang berbeda. Dari pernikahan itulah harusnya setiap manusia bisa belajar tentang bagaimana mempersatukan keberagaman.

Katanya lagi, Tuhan menciptakan manusia secara fisik itu sama (fungsinya) tetapi kebudayaanlah yang membuatnya menjadi berbeda. Jadi, tidak masalah kalau kebudayaan kita berbeda, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mempersatukan semua kebudayaan itu. Sosok itu pernah membaca salah satu tulisan “Melihat Indonesia” karya Pak Karim di Pikiran Rakyat (15/8/2017) yang menjelaskan bahwa Soekarno melukiskan sudut pandang keindonesiaan yang utuh melalui sajaknya “Aku Melihat Indonesia”. Dalam pandangan presiden pertama Indonesia itu, apa pun realitas yang tampak: pesawahan, pegunungan, pantai, lagu-lagu, dan lain sebagainya, itulah Indonesia.

“Kecintaan pada Indonesia harus terwujud dalam kesatuan sudut pandang yang utuh. Sudut pandang inilah yang selayaknya digunakan dalam memandang persoalan, membaca peluang, atau merancang pembangunan. Keutuhan sudut pandang ini yang memungkinkan pemerataan menjadi kenyataan, dan kesempatan memperbaiki nasib dirasakan semua orang. Indonesia merdeka dilahirkan untuk semua warga, sehingga semuanya bisa membangun jiwa dan badannya. Karena itu, akses harus terbuka bagi semua warga. Kesempatan berusaha dan berikhtiar harus dirasakan seluruh anak bangsa.”

Sudut pandang blogger sudah semestinya kembali ke arah itu. Bahwa Indonesia itu utuh, bukan terpetak-petak menjadi pulau, provinsi, atau kesukuan. Sosok itu mengamininya. Dia merasakan sendiri bahwa Indonesia itu kaya, sehingga seharusnya bisa diarahkan pada persatuan, bukan perpecahan. Dr. Hening Widiatmoko, MA, Kepala Dinas Kominfo Jabar yang baru menjabat dua minggu ini juga menyatakan dalam sambutannya bahwa blogger itu harus “Think Globally Act Locally“. Blogger harus berpikir global tetapi tetap menjaga lokalitasnya. Blogger yang baik adalah mereka yang juga memperhatikan etika yang ada.

Flash Blogging | Bhineka Tunggal Ika | Indonesia Kerja Bersama | Bang Aswi

KEBHINEKAAN DI MATA BLOGGER

Rosarita Niken Widiastuti, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, menceritakan bahwa blog itu dalam 1 menit ada 500-an tulisan. Wow! Namun kenyataan saat ini begitu pahit. Etika dan sopan santun itu seolah mengalibut, hilang. Jika di dunia nyata masih ada etikanya bagaimana orang muda berhadapan dengan orang tua, maka di dunia maya etika tersebut seperti lenyap. Konten blog atau berita yang sering muncul adalah konten negatif. Takheran kalau dalam setahun ini, Kemkominfo telah memblok/menutup 800-an situs/portal dengan alasan konten-kontennya yang menyebarkan kebencian, SARA, pornografi, dll.

Nah, di sinilah blogger berperan. Bu Rosa menekankan bahwa blogger lebih baik menuliskan hal-hal yang membangkitkan rasa kebanggaan dan kebangsaan. Jika sebelumnya ada istilah 10 to 90, yaitu ada 10% orang yang kerjaannya membuat berita-berita HOAX tetapi kemudian ada 90% yang secara tidak sadar menyebarkannya. Konsep ini harusnya dibalik. Ada 90% orang yang menulis berita positif dan biarkan saja yang 10% itu. Harapannya tentu agar yang 10% itu semakin berkurang dan semoga saja semakin hilang. Amin.

Pak Karim punya tips yang jitu soal bagaimana blogger bisa melatih agar bisa menulis konten yang bagus. “Belajarlah pada twitter,” katanya. Lho kok? Ya, twitter memberikan pelajaran bagaimana penggunanya secara tidak sadar dipaksa untuk memilih kata-kata yang tepat, kata-kata yang terseleksi, agar bisa di-posting kurang atau sama dengan 140 karakter. Dengan begitu blogger akan semakin hati-hati saat menulis kontennya. Ini sama dengan apa yang dilakukan oleh seorang pelukis saat berhadapan dengan kanvasnya. Ia harus memaksimalkan ruang kanvas yang ada di depannya agar mampu menghasilkan karya maestronya.

Sebagai penutup, Enda Nasution, Bapak Blogger Indonesia, mengatakan bahwa blog yang bagus itu harus informatif, spesifik, berguna, personal, unik/khas, dan bergaul. Bergaul ini maksudnya adalah bahwa blogger harus rajin blogwalking, jadi jangan hanya menulis saja lalu lupa jalan-jalan. Tips Enda dalam menulis blog adalah (1) Lakukan dengan cara piramida terbalik (yang penting-penting disampaikan di depan), (2) Tulislah 20 alternatif judul sampai ditemukan judul yang tepat, (3) Perhatikan bahwa mayoritas orang itu tidak membaca tetapi men-scan sehingga alangkah baiknya jika menggunakan bullet-point, teks di-bold/italic, dan (4) Gunakan pula link untuk referensi tambahan.[]

Berkenalan dengan Forex Trading

Berkenalan dengan Forex Trading — Siang itu suasana Bandung agak mendung. Sosok itu hanya bisa berdoa semoga tidak turun hujan sampai dirinya benar-benar sampai pada tempat yang ditujunya hari itu. Selasa (8/8/2017) dia ngaboseh sepedanya menembus lalu lintas di Jl. Gatot Soebroto yang tidak terlalu padat. Namun saat sampai di Simpang Lima, kepadatan terjadi dan membuat hati ini mangkel. Bisa jadi dikarenakan ada kereta yang lewat dan tentu saja volume kendaraan yang luar biasa lagi banyak. Akhirnya disabar-sabarkan hingga mendapatkan celah agar Spidi bisa lewat dan alhamdulillah sampai juga di Jl. Sunda 57. Bangunan yang unik dan bersih. Desainnya juga bagus. Setelah mengunci sepedanya, dia masuk ke dalam.

Benar saja, ruangan dalamnya sangat enak untuk nongkrong. Meski agak panjang ke belakang tetapi desainnya membuat bangunan tersebut berkesan lega. Ini dikarenakan adanya semacam ruang terbuka yang lumayan lebar. Beberapa kawan blogger sudah ada di sana, semuanya perempuan. Nasib jadi blogger cowok, yang memang jumlahnya sangat sedikit. Setelah registrasi dan memastikan bahwa dirinya sudah terdaftar sebagai peserta, sosok itu duduk santai di salah satu kursi rotan. Benar-benar nyaman tempatnya. Satu persatu anggota Blogger Bandung berdatangan dan akhirnya acara bisa dimulai. Mereka semua masuk ke dalam ruangan yang mengasyikkan. Mirip bioskop mini dengan 20 bangku berjejer rapi.

Continue reading “Berkenalan dengan Forex Trading”

Bandung Princess Cake: Kue Artis ala Syahrini

Bandung Princess Cake — Sosok itu mengernyit. Aneh saja, masa ada pembukaan toko kue di bulan Ramadhan, pagi menjelang siang pula? Lha, gimana caranya nyobainnya? Namun memang bukan Inces namanya kalau tidak membuat sensasi. Kenal Inces, kan? Itu tuh, Princess Syahrini yang dikenal sebagai artis pembuat sensasi dengan nada berbicara khas, bak perempuan mannnjah. Liburannya pun gak tanggung-tanggung, bisa berhari-hari di Benua Eropah sana atau di mana saja negara yang ia suka. Salah satunya adalah Jepang. Tamasyanya pun direkam dan dimasukkan ke media sosial, dijamin langsung viral dan bikin iri. Yah, bukan Inces namanya kalau gak bikin sensasi dan irihhh.

Di Jepang, ia melihat kue yang menurutnya enak banget. Sang adik yang juga pebisnis pun membisikkan kata-kata ajaibnya di telinga Syahrini. Matanya langsung berbinar dan ia teringat dengan mimpinya yang belum tercapai, yaitu membuat usaha di bidang pastry. Kue-kue enak ala Jepang itu kemudian direkamnya dalam pikiran lalu diterapkan dengan kue khas Indonesia. Hasilnya adalah Bandung Princess Cake yang pada hari Rabu (21/6/2017) kemarin langsung di-launching di Jl. Cihampelas. Tak ayal, ada banyak orang yang rela mengantri dari pagi demi membawa pulang 3 (tiga) kotak kuenya yang fress from the oven. Hanya tiga, agar semua calon pelanggan kebagian.

Continue reading “Bandung Princess Cake: Kue Artis ala Syahrini”

Desa Berdaya ala Rumah Zakat + Indosat

Rumah adalah sebuah kata benda yang bermakna sebagai bangunan untuk tempat tinggal atau bangunan pada umumnya. Kata ‘daya’ menurut KBBI bermakna kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak, sedangkan ‘berdaya’ artinya berkekuatan, berkemampuan, atau bertenaga. Ia juga bermakna mempunyai akal (cara dan sebagainya) untuk mengatasi sesuatu. Dengan demikian ‘Rumah Berdaya’ berarti tempat tinggal yang berfungsi tidak hanya sebagai tempat menginap saja tetapi juga mampu sebagai tempat berkumpulnya manusia yang berguna untuk mengatasi sesuatu. Desa Berdaya cakupannya jelas lebih luas lagi dari sekadar ‘rumah’ karena di sana ada lebih banyak lagi manusia dan lahan yang juga lebih lebar.

Desa Berdaya dengan tema “Dari Desa Membangun Negeri” merupakan salah satu bentuk kepedulian Rumah Zakat terhadap pembangunan di pedesaan dengan tujuan untuk menumbuhkan semangat pemberdayaan masyarakat yang tinggal dan menetap di desa. Menurut CEO Rumah Zakat, Nur Efendi, ini adalah program intervensi Rumah Zakat kepada masyarakat di sebuah wilayah melalui program-program pemberdayaan di bidang ekonomi (senyum ekonomi), pendidikan (senyum juara), kesehatan (senyum sehat), dan lingkungan (senyum lestari) sesuai dengan potensinya masing-masing. Semua bidang itu biasa disebut dengan empat rumpun senyum. Tujuan dibentuknya Desa Berdaya adalah untuk menciptakan perbaikan secara terukur di desa yang dimaksud.

Continue reading “Desa Berdaya ala Rumah Zakat + Indosat”

Asian Africa Carnival 2017 yang Spektakuler

BANDUNG – Siang itu begitu terik, tangan-tangan terangkat ke atas, menutupi sebagian wajah. Beberapa orang lebih memilih mencari bayang-bayang terdekat. Pepohonan, bangunan, atau bahkan bus Bandros yang terparkir tepat di depan Hotel Grand Preanger. Meski begitu, mayoritas peserta Asian Africa Carnival 2017 tetap menunjukkan sikap semangat dan murah senyum saat beberapa kamera mengarah pada mereka. Termasuk bocah kecil berusia tujuh tahun dengan pakaian khas tradisional Jawa dengan simbol Pakualaman di dadanya, tetap semangat dan murah senyum menyapa siapa pun yang ditemuinya. Termasuk tidak sungkan diajak foto bersama di bawah matahari yang sinarnya begitu panas menyengat kulit.

Continue reading “Asian Africa Carnival 2017 yang Spektakuler”