Mabal atau Bolos

Bisa jadi ini adalah salah satu bentuk protes dari sang kancil. Bisa jadi ini adalah salah satu bentuk ketidakpedulian hewan itu sebagai anggota keluarga hutan dimana ia tinggal. Bisa jadi inilah salah satu bentuk paripurna akan kekecewaan sang kancil kepada pejabat hutan dan jajarannya. Ya, inilah puncak kemarahan dari sang kancil.

Apakah tindakan sang kancil itu dibenarkan? Tidak. Tindakan hewan itu sudah jelas adalah salah. Apa yang ia lakukan jangan dijadikan contoh atau bahkan sebuah keteladanan. Apabila kamu adalah hewan yang tinggal dan masih membutuhkan makanan yang ada di hutan itu, jangan pernah dan mencoba-coba untuk meniru atau mengikuti jejak langkah sang kancil. Jangan!

Continue reading “Mabal atau Bolos”

Raja Bunglon dan Ratu Semut

Raja Bunglon terkekeh. Berkat keajaiban kulitnya, tanah tempat dia berpijak pun menjadi daerah kekuasaannya. Semua hewan yang ada di kawasan itu tahu bagaimana hebatnya sang raja itu. Musuh-musuh pemburu mengangkat tangan tanda menyerah untuk mencari jejak sang raja. Seolah-olah dia menghilang ditelan bumi.

Pernah serigala haus darah mengejar Raja Bunglon di tengah-tengah lebatnya semak-semak. Namun di tengah pengejaran itu sang serigala kehilangan jejak. Si haus darah pun menyerah meninggalkan Raja Bunglon yang sebenarnya berdiri di sebelahnya, menyerupai semak-semak. Dan itulah yang menjadi senjata berbahaya sang raja hingga mampu menguasai tanah itu.

Continue reading “Raja Bunglon dan Ratu Semut”

Humor-Humor Tertua

Sosok itu tersenyum. Apalagi ketika melihat tampilan blog lamanya di My Flexiland dan juga beberapa tulisannya yang sudah lama tidak dibacanya. Selain tulisan juara, yaitu Kabayan Melancong ke Bogota, yang membuat dirinya dikenal di kalangan blogger Kota Bandung, ada pula tulisan unik tentang dunia humor. Oya, tulisan tentang Bogota juga bisa kawan-kawan baca di sini, di sini, dan di sini.

Continue reading “Humor-Humor Tertua”

Misteri Batu Bercahaya

Barry Tikus memiliki tampang bodoh. Telinganya terlalu kecil untuk dapat menangkap kata-kata bijak ayahnya. Meski begitu, hatinya seluas mangkuk susu. Perbandingan yang pantas jika dilihat dari tubuh kecilnya. Dan Barry Tikus adalah malaikat yang diturunkan Sang Maha kepada kedua orangtuanya. Ini pengakuan sang ibu.

Di sanalah langkah Barry Tikus terhenti. Seonggok batu bercahaya menghadang perjalanannya. Korek api yang dijadikan penerang di lorong gelap pun seolah tak bermakna. Barry Tikus segera mematikan api koreknya. Pada saat itulah mata Barry Tikus membelalak! Asap yang mengepul dari batang korek tersedot oleh batu bercahaya. Semuanya.

Suara. Terdengar suara bijak di kepala Barry Tikus. Seperti suara yang terdengar pada prolog atau epilog film futuristik kesukaan Pak Jimmy—sosok manusia yang rumahnya ditempati oleh keluarga Barry Tikus. Suara tanpa wujud. Barry Tikus pun berkata, “Aku ingin memiliki penciuman yang tajam.” Batu bercahaya makin bercahaya. Entah mengapa, Barry Tikus langsung dapat mengendus keju kesukaannya. Di dapur Pak Jimmy.

Greg Tikus Besar heran. Dialah tikus pelacak yang disegani. Bagaimana mungkin Barry Tikus bisa menemukan keju segar di dalam lemari dapur yang tersembunyi di balik toples tertutup rapat? Barry Tikus bercerita. Lorong gelap itulah rahasianya. Batu bercahaya kuncinya. Dan di sanalah Greg Tikus Besar tersenyum lebar. Dia pun mendengar suara bijak saat asap koreknya tersedot batu bercahaya.

Dengan kesenangan yang meledak-ledak Greg Tikus Besar pun berkata, “Aku ingin semua tikus cewek sangat-sangat menyukaiku, mencintaiku dengan sepenuh hati. Aku ingin mereka semua terbuai oleh senyum manisku.” Greg Tikus Besar kembali tersenyum lebar sambil mengucapkan “cheeeese” membayangkan dirinya sedang difoto oleh para fotografer.

Batu bercahaya makin bercahaya. Greg Tikus Besar tiba-tiba berasap dan menghilang. Pada saat asap menghilang, sebuah keju besar berlapis coklat magnum menggoda teronggok di sana. Barry Tikus pun datang mengendus dan langsung tersenyum lebar. Tahulah ia apa yang harus dilakukan pada makanan kesukaannya itu.[]

Hikmah:
1. Untuk memperoleh hasil, berusahalah. Tak ada istilah instan untuk keberhasilan.
2. Berhati-hatilah dengan apa yang diinginkan. Lidah tak bertulang.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

Rumah Baru

“Apakah kamu suka dengan rumah baru kita ini, Nak?” tanya Induk Tikus pada anaknya. “Tentu saja, Bu,” jawab Anak Tikus dengan wajah sumringah. “Jauh lebih baik dari rumah kita yang dulu.”

“Tapi, Nak,” ujar Induk Tikus menghentikan aktivitas meruncingkan taringnya, “kamu harus hati-hati saat keluar nanti.” Anak Tikus mengangkat kepalanya. “Kamu tentu ingat apa yang terjadi pada bapakmu.” Mata Induk Tikus berkaca-kaca, lalu dia merangkul anaknya.

Continue reading “Rumah Baru”