Anak Kecil di Puncak Carstensz

Minggu siang itu, sosok itu menatap bocah yang duduk di depan. Sekilas, tidak ada yang istimewa dengan dirinya. Ia seperti anak-anak kebanyakan, cenderung pendiam dan memiliki sifat yang susah diajak bicara. Namun dibanding saat pertama kali melihatnya tiga tahun lalu, tubuhnya sudah jangkung. Hampir saja sosok itu tidak mengenalinya yang begitu santai dengan kaos abu-abu bercorak batik. Untung saja dia begitu kenal dengan sosok ayah dan ibunya yang beberapa kali pernah lari bersama, baik itu di Bandung maupun di Bekasi. Satu hal yang dia tangkap dari Matthew Tandioputra (11 tahun), bocah tersebut, adalah semangat pantang menyerah yang akan disajikan pada cerita di bawah ini.

Continue reading “Anak Kecil di Puncak Carstensz”

Outbond Seru Ala Trizara Resorts Lembang

Adalah petualangan … yang memacu adrenalin
Adalah angin, adalah debu, adalah rerimbunan pohon
Takada lagi sekat bagi mereka yang selalu ada sana
Karena mereka adalah para pemburu kebahagiaan

Outbond Seru Ala Trizara Resorts Lembang — Kembali lagi sosok itu menjejakkan kaki di sebuah tempat kemping mewah. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda jadi GLAMorous camPING atau GLAMPING. Dia pernah bercerita soal tempat ini dalam tulisan Camping Mewah di Trizara Resorts Lembang. Di sana dituliskan bahwa tempat ini membuat pengunjungnya harus membuang semua aktivitas perkotaan yang serba begitu mudah dan instant. Jauhkan segala perangkat elektronik dan sila nikmati pemandangan alam yang dipadupadankan dengan aktivitas outdoor. Sekali lagi … ada pegunungan, ada hawa dingin, ada pemandangan menakjubkan, ada kabut, ada embun, ada waktu menunggu sunrise atau sunset. Mau?

Hari Minggu (8/1/2017) begitu cerah, secerah hatinya yang begitu asyik memandang alam yang dilewatinya. Mbak Al asyik mengendarai Gliv miliknya, sementara di samping ada Desi (Ibu Jerapah) begitu setia menemani ngobrol. Di baris kedua ada sosok itu dan Kang Edo, sementara di belakang ada Mas Ali yang ikut-ikutan nyempil hihihi. Obrolan mengalir hangat sambil satu-satu menyuapkan surabi khas Sunda (dengan oncom telornya) ke dalam mulut. Nikmat sekali. Setelah berkumpul di depan Borma Kiaracondong, mereka semua bergegas menuju daerah Parongpong. Lebih tepatnya lagi ke Jl. Kolonel Masturi, melewati Terminal Ledeng dan Jl. Sersan Bajuri.

Continue reading “Outbond Seru Ala Trizara Resorts Lembang”

Ketika Kakak Kangen

Selasa, 25 April 2017

Tau gak? Kakak pengen kembali lagi (jadi) kecil. Jadi bisa di rumah lagi bareng-bareng kalian lagi. Kangen masakan Ummi. Kangen omelan Ummi dan Abi. Kangen dibangunin sama Ummi dan Abi. Kangen dianterin ke sekolah. Kangen dijemput. Kangen nonton TV. Kangen makan bareng. Pokoknya kangen semua. Pengen pulang tapi impossible kalau sekarang. Oh iya lupa, kangen naik motor berempat! Tapi udah mustahil kalau sekarang soalnya Kakak dan Adik udah gede. Pengen gitu setiap hari ada Ummi dan Abi di samping Kakak, yang selalu ngebantuin ngerjain PR kalau gak bisa.

Malam hari dengan hujan deras. Beberapa kali ada petir, mati lampu, nyala lagi, lampu mati. Dan kebetulannya, tadi Kakak sama temen-temen lagi cerita film horor ‘Danur’. Waktu teman Kakak bilang, “Terus siapa yang matinya?” Jlebb! Lampunya mati. Kita langsung keluar dari kelas (soalnya kita lagi di dalam kelas). Ya Allah. Terus yang kedua kalinya pas-pasan teman Kakak lagi bilang, “Nanti ah mau bikin film hantu, tapi lagunya Manuk Dadali.” Dan jlebb! Mati lampu lagi. Sebelll ih.

Continue reading “Ketika Kakak Kangen”

The Lodge Maribaya: Sensasi Hot Air Balloon dan Bukber di Omah Bamboo

The Lodge Maribaya | Hot Air Balloon | Omah Bamboo — Akhirnya kembali lagi deh ke Kampung Babakan Gentong, Desa Cibodas. Pertama kali ke sini tepat setahun lalu, sedangkan untuk kedua kalinya terjadi pada awal bulan ini, dan keduanya pas di bulan Ramadhan. Bulan yang berkah. Otomatis penghujung acaranya adalah buka bersama (bukber) dengan menu-menu khas The Lodge Maribaya. Jika tahun lalu dia mencoba menu di Dapur Hawu dan sempat juga mencoba Memanah Cinta, maka tahun ini dia bakal mencoba menu di Omah Bamboo. Menarik.

Selama bulan Ramadhan, apalagi sudah memasuki pertengahan bulan, ada baiknya selalu memilih bukan jalan utama dan berangkatnya jangan terlalu mepet dengan waktu berbuka. Mayoritas warga Bandung sudah mulai berbondong-bondong mengadakan bukber di tempat makan favorit dan hampir semuanya akan melewati jalan utama. Jadi, yang paling penting adalah menghindari Jl. Setiabudi dan jangan berangkat setelah Ashar. Sosok itu kemudian mengambil jalur alternatif melewati Jl. Cigadung dan diteruskan ke Jl. Dago Giri. Alhamdulillah bagi yang belum pernah melewatinya, akan mendapatkan sensasi takterlupakan karena jalur yang berkelak-kelok dan naik-turun. Lumayan membuat hormon adrenalin semakin bertambah di dalam tubuh.

Continue reading “The Lodge Maribaya: Sensasi Hot Air Balloon dan Bukber di Omah Bamboo”

Asian Africa Carnival 2017 yang Spektakuler

BANDUNG – Siang itu begitu terik, tangan-tangan terangkat ke atas, menutupi sebagian wajah. Beberapa orang lebih memilih mencari bayang-bayang terdekat. Pepohonan, bangunan, atau bahkan bus Bandros yang terparkir tepat di depan Hotel Grand Preanger. Meski begitu, mayoritas peserta Asian Africa Carnival 2017 tetap menunjukkan sikap semangat dan murah senyum saat beberapa kamera mengarah pada mereka. Termasuk bocah kecil berusia tujuh tahun dengan pakaian khas tradisional Jawa dengan simbol Pakualaman di dadanya, tetap semangat dan murah senyum menyapa siapa pun yang ditemuinya. Termasuk tidak sungkan diajak foto bersama di bawah matahari yang sinarnya begitu panas menyengat kulit.

Continue reading “Asian Africa Carnival 2017 yang Spektakuler”

Yuk, Santai di Pantai Ambon (Tulisan 1)

Takpernah terlintas dalam pikiran bahwa sosok itu akan bisa menjejakkan kaki di Indonesia bagian timur. Mungkin belum sampai berdiri di ujung paling timur, tetapi paling tidak Pulau Ambon adalah titik pertama saya bisa menyesap udara di pulau yang pertama kali melihat matahari terbit, dua jam sebelum akhirnya bisa disaksikan oleh warga Jawa Barat.

Mengenal Ambon sudah pasti harus mengenal Maluku. Mengenal Maluku, tentu harus mengenal salah satu pahlawannya yang terpampang pada pecahan uang seribu rupiah. Di luar pro kontra agamanya apa, Kapiten Pattimura adalah pahlawan nasional yang berhasil mengusir penjajah dari Pulau Ambon, jauh sebelum pertempuran dahsyat di Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Menurut cerita seorang kawan di Ambon, Pattimura bahkan membuat penjajah tidak bisa merapatkan kapalnya di pantai. Hampir seluruh kapalnya karam dan meninggalkan warna laut yang berubah menjadi merah karena darah. Beliau hanya menyisakan anak-anak dan perempuan untuk tetap hidup.

Mengapa Maluku begitu membuat banyak penjelajah dunia terkesima sehingga bersusah payah untuk didatangi? Tidak hanya penjajah dari Eropa, para pedagang Gujarat pun sering mampir. Hal itu tidak lain karena rempah-rempahnya yang begitu melegenda. Sebut saja cengkeh, pala, dan lada hingga Maluku dikenal sebagai ‘spice of islands’. Rempah telah menjadi saksi perkembangan dan pasang surut peradaban bangsa Indonesia, khususnya Maluku. Kuliner, pengobatan, ritual, dan bahkan bahan pengawet menggunakan rempah-rempah. Bisa jadi, inilah yang menyebabkan Ambon tidak memiliki kuliner yang kaya rempah karena hasil buminya tidak boleh dikonsumsi secara pribadi dan langsung diambil oleh orang luar.

Meski begitu, Ambon tetap layak menjadi tujuan wisata. Papeda, ikan asap, maupun sukun goreng dengan sambal khasnya selalu dirindukan oleh para wisatawan. Kekayaan baharinya jangan ditanya. Sosok itu meski saat ini berdomisili di Bandung namun masa kecilnya dihabiskan di tepi pantai Jakarta. Dia sering bermain dengan anak-anak nelayan dan karena itulah kulitnya makin menghitam sehingga berbeda dengan mayoritas saudara-saudara kandungnya. Jadi kalau ke Ambon, jangan lewatkan wisata baharinya. Namun kalau waktunya sekejap dan dananya terbatas, buang jauh-jauh rencana wisata ke Pantai Ora, Sawai, atau Banda Neira yang letaknya memang jauh dari Bandara Pattimura plus berbiaya mahal. Cukuplah berkeliling di Pulau Ambon dan sila menikmati keindahan pantai yang sudah jarang ditemukan di Pulau Jawa dengan harga yang masih bersahabat dan tidak terlalu jauh dari bandara.

GENERASI PESONA INDONESIA

Berbicara soal Ambon, sudah pasti akan bersinggungan dengan beberapa artis penyanyi yang memiliki darah sana. Jumlahnya pun tidak bisa dibilang sedikit. Harvey Malaiholo, Ruth Sahanaya, Glenn Fredly, dan lain-lain hingga amat wajar kalau kota Ambon pun memiliki julukan sebagai City of Music. Tulisan raksasa itulah yang menyambut sosok itu di Negeri Hatiwe Besar setelah keluar dari bandara, lalu menyisir Teluk Ambon melewati Jl. Dr. J. Leimena dan Jl. Ir. M Putuhena hingga akhirnya bertemu dengan Jembatan Merah Putih. Jembatan yang diresmikan pada April 2016 ini telah menjadi ikon kota Ambon dan mempersingkat perjalanannya dari Bandara Pattimura menuju pusat kota Ambon. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, dia meminta izin pada sopir untuk berhenti sejenak dan berfoto sejenak di atas jembatan.

Julukan kota musik memang tepat karena sopir mobil yang dinaiki langsung memutarkan beberapa lagu khas Ambon dengan bangga. Di beberapa jalan kota juga sering ditemui karaoke dan restoran/kafe yang menyajikan pertunjukan musik. Kalau ditanya pada warga Ambon, pasti mayoritas akan menjawab, “Beta paling suka menyanyi.” Pantas saja. Oya, perlu diketahui bahwa Ambon adalah kota yang panas, dengan banyak jalan satu arah dan diisi oleh angkot, becak, dan tentu saja motor. Sosok itu menyempatkan diri untuk naik becak, paling tidak merasakan suasana kotanya. Tempat pertama yang dituju adalah sudah pasti penginapan yang telah di-booking jauh-jauh hari sebelumnya, minimal buat menyimpan barang berat, meluruskan badan, dan menyegarkan badan setelah penerbangan jauh plus melelahkan.

Beres dari Hotel Ammans alias Ambon Manise, sosok itu langsung bergegas ke Hotel Amaris karena di sanalah calon-calon kawan baru dari Maluku akan bersua. Siang hingga malam adalah acara teoretis tentang dunia pariwisata. Jujur, sejak berkenalan dengan orang-orang Kementerian Pariwisata dirinya makin cinta pada Indonesia. Ada banyak hal yang awalnya tidak tahu jadi lebih tahu bahwa pariwisata itu harus begini dan begitu. Paling tidak sekarang jadi lebih aware untuk memajukan pariwisata Indonesa dan mengajak sebanyak-banyaknya kawan untuk mencintai dunia traveling. Dia kemudian semakin dekat dengan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) yang menurutnya bisa juga berarti Gerakan Nasional (untuk) Pariwisata Indonesia. Dan malam itu, terpilihlah secara voting Koordinator GenPI Maluku, yaiu Glenn Huibb Wattimury.

Keesokan harinya bertemulah (kembali) sosok itu dengan kawan-kawan baru dari Maluku di Lapangan Merdeka Ambon yang sedang berlangsung pameran sebagai bagian dari Hari Pers Nasional 2017. Ada banyak stand di sana dan berisi banyak informasi berharga tentang Ambon dan Maluku. Di sana pula dia bisa bertemu Mas Didik, blogger paling aktif dari Bojonegoro, termasuk berfoto bersama dengan kawan-kawan Kompasianer Amboina. Saat siang bergeraklah rombongan kawan-kawan baru menuju Kole-Kole, sebuah tempat makan yang tidak terlalu jauh dari Lapangan Merdeka. Di sanalah dia bisa merasakan sukun goreng yang dicocol sambal setelah sebelumnya mencicipi pisang goreng dicocol sambal semalam. Unik. Menu lainnya yang dicoba adalah Mie Kuah Cakalang dan Sate Tuna. Semuanya serba ikan. Yummy!

Perut kenyang, sosok itu bersama lima orang kawan bersiap naik 3 motor. Dia bersama Frenda, Olnes bersama Makmur (GenPI Aceh), dan Rey bersama Mbak Jhe (GenPI Lombok Sumbawa). Yang disebutkan paling belakang adalah yang dibonceng. Tiga motor langsung meninggalkan Kole-Kole, melaju ke arah barat menembus jalan beraspal yang masih mulus. Pertama menyusuri Jl. Dr. GA Siwabessy dan Jl. Nona Saar Sopacua yang masih terbilang padat karena masih bagian dari kota Ambon, setelahnya memasuki Jl. Dr. Malaihollo yang mulai sepi. Petualangan pertama bersama kawan-kawan Ambon akan segera dimulai, dan tempat pertama yang dituju adalah Pintu Kota.

MENYESAP SUNYI DI PINTU KOTA

Bagi yang sudah tahu, tentu amat mengenal Museum Negeri Siwalima, sebuah museum yang tidak boleh dilewatkan kalau berkunjung ke Ambon. Selain peninggalan budaya, museum ini juga menampilkan rangka ikan paus berbagai ukuran. Nah, rombongan pun melewati museum tersebut di ujung Jl. Dr. Malaihollo, tepatnya di Taman Makmur, Negeri Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, yang berjarak sekira 5 km dari pusat kota. Setelah itu barulah mereka menyisir pantai Teluk Ambon di Jl. Amanhuse, sampai kemudian bertemu dengan jalan berkelak-kelok, naik-turun, karena melewati perbukitan ke arah selatan. Pintu Kota terpampang di pantai selatan Pulau Ambon yang langsung berhadapan dengan Laut Banda, tepatnya di Negeri Airlouw, Kecamatan Nusaniwe.

Pintu Kota memiliki keunikan berupa karang besar yang memiliki lubang besar di tengahnya. Lubang itulah yang dianggap sebagai ‘pintu’ oleh warga sekitar. Pantainya sendiri juga memiliki banyak karang sehingga setiap pengunjung harus berjalan berhati-hati. Bagi yang belum menyadari, posisi tempat parkir motor berada tepat di atas pintu tersebut sehingga pengunjung harus bersusah payah menuruni tangga yang curam. Sudah dapat dibayangkan bagaimana melelahkan saat pulangnya nanti. Meski begitu, kondisi Pintu Kota yang sepi memberikan nuansa yang menenangkan. Para pecinta sunyi akan betah berlama-lama di sini, apalagi jika didukung oleh cuaca yang cerah. Dari tempat parkir saja, dia sudah disuguhi oleh pemandangan Laut Banda yang begitu luas. Sedangkan bagi yang suka menyelam, ada spot bagus dengan pemandangan terumbu karang yang luar biasa. Perjalanan normal selama satu jam dan biaya parkir sebesar Rp10.000 per motor seolah-olah tergantikan dengan lunas.

Hujan gerimis turun begitu saja, memaksa mereka yang sedang asyik berfoto di Pintu Kota langsung bergegas meninggalkan pantai dan berteduh di sebuah saung yang memang ada. Sambil menunggu, mereka memesan kelapa muda yang perbutirnya dihargai Rp12.000 sambil makan dodol Garut yang memang sengaja dibawa dari Bandung. Pastinya Olnes, Rey, dan Frenda merasa exciting bisa merasakan makanan khas Jawa Barat. Taklama Olnes turun ke laut dan menyelam, bukan snorkeling karena ombaknya tidak tenang. Penasaran dengan apa yang ada di bawah laut di Pintu Kota, sosok itu turut serta menyusul. Ada banyak karang tajam dan ombaknya besar. Ada rasa jerih di awal dan sempat ragu, namun rasa itu menghilang bak pasir ditiup angin hanya karena rasa penasaran yang begitu besar. Dia pun langsung berenang dan akhirnya setelah di tengah langsung menyelam. Indah. Luar biasa. Pengalaman yang takakan pernah dilupakan. Meski ombaknya besar, dia merasa puas dan sekaligus belajar bagaimana menyelam yang baik di lautan.[]

Baca juga tulisan keduanya ya…. ^_^

Tour de Petjinan van Bandoeng

Pagi belum beranjak terlalu jauh, bulan pun masih tampak jelas. Sosok itu sempat berdiri mematung di sebelah timur Alun-alun, memandang Masjid Agung Bandung, membelakangi sebuah gedung yang katanya bakal dijadikan perpustakan, gedung yang bertuliskan kata ‘BANDUNG’ di tiang-tiang dinding. Selasa, 24 Januari 2017, pukul 6:45, beberapa warga sudah asyik duduk di bangku merah, berdiskusi dengan rekannya atau asyik menunggu kawannya yang belum datang sambil menyikukan tangannya di meja merah. Ada dua orang anak yang asyik berlari ke sana-sini mengejar bola plastik di tengah Alun-alun. Cuaca Bandung kali ini masih panas, pagi tidak lagi menyegarkan, sinar mentari sudah mulai agak menyengat. Dia kemudian menyandarkan sepedanya di salah satu bangku batu dan kemudian mengabadikannya dengan latar masjid.

Ingatan sosok itu masih segar tentang Alun-alun karena pada 24 Desember 2016 dia pernah mengadakan acara ‘Mapah ka Bandung’ bersama Kompasiana. Salah satunya belajar tentang sejarah tempat tersebut. Pikirannya pun segera berlari menuju 200+ tahun yang lalu saat Raden Adipati Wiranatakusumah II, Bupati Bandung ke-6, berlayar di atas Sungai Ci Tarum, lalu masuk ke Sungai Ci Kapundung. Di sebuah tempat, beliau turun dan menancapkan tongkatnya. Prajuritnya kemudian mendirikan tenda-tenda. Saat R.A. Wiranatakusumah II mencabut tongkatnya, keluarlah mata air yang jernih. Itulah cikal bakal Sumur Bandung yang berada di dalam Gedung PLN. Beliau memutuskan tempat tersebut sebagai ibukota Bandung. Tempat dimana tenda-tenda prajurit berdiri, dibangun sebuah bangunan yang menjadi cikal bakal Pendopo.

Format arsitektur Alun-alun Bandung mengikuti percampuran masa Kerajaan Majapahit dan kerajaan Islam setelahnya. Format tersebut hampir sama di seluruh Pulau Jawa dan sekitarnya. Biasanya terdapat lapangan atau alun-alun di tengahnya plus dua pohon beringin yang tumbuh. Di sebelah barat dibangun sebuah masjid besar, lalu dibangun pula pusat pemerintahan dan pasar rakyat. Tujuannya tidak lain agar masyarakat dapat berkumpul, bertemu dengan pemimpinnya, dapat berniaga, namun taklupa beribadah kepada Sang Maha. Kota Bandung kemudian mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman oleh pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dengan mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810, namun baru memiliki pasar pada 1812. Namanya Pasar Ciguriang dan berlokasi di kawasan jalan Kepatihan. (Baca juga tentang Pasar Cihapit)

Peserta Tour de Petjinan

PASAR CIGURIANG DAN PASAR BARU

Pasar Ciguriang berkembang pesat, mengundang banyak orang dengan latar etnis berbeda untuk berniaga di sana. Tidak hanya orang Sunda, tetapi juga para pendatang seperti dari Jawa, Palembang, termasuk dari India dan Arab. Apalagi ditambah dengan semakin ramainya jalan Raya Pos (De Grotepostweg) yang kini bernama Jl. Asia Afrika sebagai jalan utama membuat orang-orang yang baru datang dari luar kota untuk mampir dan menghidupkan Pasar Ciguriang. Peristiwa Perang Diponegoro (1825-1830) secara tidak langsung juga berdampak dengan datangnya orang-orang Tionghoa dari Jawa melalui Cirebon. Versi lainnya adalah didatangkan Belanda untuk membangun jalan Raya Pos. Beberapa dipaksa menjadi tukang perkayuan karena mereka memang memiliki keahlian. Mereka kemudian bermukim tidak jauh dari Alun-alun dan terbentuklah Kampung Suniaraja atau disebut juga sebagai kawasan Pecinan (batasnya adalah Jl. Asia Afrika, Banceuy, Suniaraja, dan Otista) yang hanya diisi oleh 13 keluarga. Proses inilah yang juga membentuk Kampung Jawa di sekitar Stasiun Kiaracondong.

Pada bulan November 1845, Pasar Ciguriang ludes terbakar. Ada kabar bahwa kebakaran itu disengaja sebagai umpan untuk membunuh Asisten Residen Priangan dan Bupati Bandung. Pembunuhnya bernama Munada yang sakit hati pada bekas atasannya, Asisten Residen bernama Nagel. Akibatnya perlu dicarikan tempat baru untuk menampung para pedagang. Pada 1884 dipilihlah sebuah tempat di sebelah barat Kampung Suniaraja sebagai pusat perdagangan, hingga di kemudian hari dikenal sebagai kawasan Pasar Baru. Pasar ini pun langsung berkembang pesat hingga pada 1906 didirikanlah bangunan baru yang semipermanen, termasuk dua buah pos yang mengapit jalan masuknya. Bagian depan diisi oleh jajaran pertokoan sedangkan di bagian belakang diisi oleh los-los pedagang. Pada 1935, Pasar Baru mendapat predikat sebagai pasar terbersih dan paling teratur se-Hindia Belanda. Namun bangunan asli pada masa itu hilang setelah perombakan pada 1970-an.

heritage-06

Atas: Kawasan Pecinan Lama (ilustrasi Pasar Ciguriang). Bawah: Pasar Baru

Nah, ada banyak kisah menarik di balik Pasar Baru ini. Semua itu memang berpusat pada beberapa saudagar yang berhasil berniaga di sana. Salah satunya adalah saudagar batik Solo yang menjadi pelopor perdagangan batik di Pasar Baru, yaitu keluarga Tan Djin Gie. Kiprah keluarga tersebut terekam dengan baik dalam roman ‘Rasia Bandoeng’ karya Chanbanneau (1918). Roman ini begitu terkenal karena menceritakan kisah nyata hubungan cinta terlarang sesama marga Tionghoa. Tan Djin Gie pula yang mendirikan ‘landhuis‘ di Jl. Kebon Jati pada 1884, yang di kemudian hari diubah menjadi Hotel Surabaya. Hotel ini selalu ramai oleh pengunjung setelah pembukaan jalur kereta dari Batavia ke Bandung. Saat ini, bagian belakang hotel sudah tidak ada lagi dan tergantikan oleh Hotel Gino Feruci.

Pasar Baru Bandung

Saudagar-saudagar kaya lainnya dari Pasar Baru yang terkenal adalah Asep Berlian yang berasal dari Palembang. Tidak diketahui siapa nama aslinya karena nama ‘asep’ disematkan padanya sebagai penghormatan dari warga Sunda, sedangkan berlian disematkan karena beliau sering membawa keris yang hulunya terdapat berlian sebesar biji jagung. Peristiwa paling menghebohkan pada dirinya terjadi saat salah satu istrinya dibunuh oleh pembantunya sendiri, sehingga saat itu terkenal istilah ‘Guyur Bandung‘. Namanya kemudian diabadikan pada sebuah jalan di daerah Cicadas. Nama-nama saudagar lainnya yang kemudian diabadikan menjadi nama jalan adalah Dulatip, Tamim, Encek Azis, Mayor Sunarya, Pahrurodji, Durasyid, dan Yakub. Orang Tionghoa yang diabadikan menjadi nama jalan adalah Babah Tam Long (Jl. Tamblong) yang dulunya adalah seorang tukang kayu terkenal.

PENGUSAHA TIONGHOA DI PECINAN LAMA

Sosok itu mendapatkan semua informasi di atas setelah diajak berkeliling dalam acara ‘Tour de Petjinan van Bandoeng‘. Tour ini digagas oleh Komunitas Aleut dengan Best Western Premier La Grande Hotel yang melibatkan para Hakko Ako dan Amoy Bandung, Koko Cici Jakarta, Mojang Jajaka Bandung, dan para awak media. Dia sendiri mewakili Blogger Bandung bersama Efi dan Mbak Alaika. Program ini dibuat dalam rangka perayaan hari raya Imlek 2568. Nah, Kampung Suniaraja yang telah disebutkan kemudian makin padat oleh warganya yang terus bertambah. Untuk mengatasi hal tersebut, pemukiman orang-orang Tionghoa kemudian dipindahkan ke sebelah barat, yaitu di belakang Pasar Baru. Itulah mengapa Kampung Suniaraja sekarang disebut sebagai kawasan Pecinan Lama. Dan cerita tentang kawasan ini tidak bisa dilepaskan dengan para pengusaha asal Tionghoa yang legendaris.

Ya, bercerita tentang Bandung tidak akan menarik kalau tidak melibatkan unsur kuliner di dalamnya. Kota ini sudah terkenal sebagai pusat kulinernya. Siapa pun yang ke Bandung, selalu diselipkan kisah berburu kuliner. Kuliner yang pertama didatangi dan dekat dengan Alun-alun adalah Kopi Purnama di jalan Alkateri. Patokannya adalah Hotel Golden Flower di Jl. Asia Afrika. Warung ini telah berdiri sejak 1930 tetapi dengan nama Chang Chong Se, artinya ‘selamat mencoba’. Pendirinya adalah Tong A Thong yang hijrah dari kota Medan dan membawa tradisi Kopi Tiam. Istilah kopi tiam sendiri merupakan pengembangan dari kata ‘Yam Cha’ di Tiongkok yang berarti ‘sarapan sambil minum teh’. Oleh kaum peranakan Tionghoa di daerah Melayu (termasuk Medan), kebiasaan minum teh ini diganti dengan minum kopi. Pada tahun 1966, warung Chang Chong Se berganti nama menjadi Kopi Purnama. Saat ini, yang mengelola Warung Kopi Purnama adalah generasi ke-4 dari Tong A Thong.

Kopi Aroma Bandung

Kopi Aroma Bandung (Inset: Kopi Purnama)

Perjalanan tour kemudian diarahkan ke Jl. Banceuy, menuju pojokan Jl. Pecinan Lama. Di sana terdapat pabrik kopi yang legendaris dan sampai sekarang ramai oleh antrian yang ingin membeli Kopi Aroma. Mengapa terkenal? Ini dikarenakan proses pembuatannya yang alami dan sampai sekarang masih menggunakan mesin yang sama saat pertama kali dibuka. Inilah yang membuat Kopi Aroma sebagai penghasil kopi terbaik dan unik. Pendirinya adalah Tan Houw Sian pada 1930. Beliau dulunya bekerja di perusahaan kopi milik Belanda hingga kemudian memutuskan untuk berhenti dan mendirikan usaha di bidang kopi. Saat ini Kopi Aroma dikelola oleh generasi ke-2 Tan Houw Sian, yaitu Widyapratama. Oya, kalau di Kopi Purnama para pengunjung bisa duduk santai menikmati kopi tiam maka di Kopi Aroma hanya bisa membeli kopi saja.

heritage-07

Toko Jamu Babah Kuya dan Mojang Jajaka Bandung

Peserta tour kemudian diajak berjalan kaki menuju Pasar Baru, meniti jembatan penyebarangan yang sudah tua kondisinya, kemudian masuk ke Jl. Pasar Selatan. Di sana ada Jl. Tamim yang dikenal sebagai pusat penjualan kain denim/jeans. Daripada membeli jeans mahal yang sudah jadi, sebagai alternatif ada baiknya berburu kain jeans di sini. Setelah memilih jenis kainnya, lalu tinggal dijahit oleh para penjahit profesional di sana, hasilnya adalah jeans yang lebih murah 2-3 kali lipat dengan ukuran yang pas. Kalau mau dipasang brand terkenal juga bisa. Perjalanan ‘Tour de Petjinan’ kemudian berhenti di pojokan jalan. Di sana ada toko Babah Kuya, sebuah toko jamu tradisional yang menyediakan banyak rempah-rempah lokal maupun impor. Tempat ini menjadi rujukan para Sinshe, peramu pengobatan tradisional Nusantara, dan dokter modern. Babah Kuya didirikan oleh Tan Sioe How pada 1800-an yang terkenal dengan hobinya memelihara kura-kura. Kura-kura yang telah mati kemudian diawetkan dan digantung di dinding tokonya.

Hotel Surabaya

Sisa bangunan Hotel Surabaya (Kanan: Hakka Ako & Amoy + Koko Cici Jakarta)

Tour berakhir di Cakue Osin, Hotel Surabaya, dan Kelenteng Satya Budhi. Cakue Osin terletak di jalan Babatan No. 64A (belakang pasar), dekat dengan lapangan dan kantor RW 03 Kel. Kebon Jeruk Kec. Andir. Dulunya bernama Lie Tjay Tat karena didirikan oleh beliau yang fokus pada kuliner khas Tionghoa. Osin sendiri adalah putra dari Lie Tjay Tat. Di sana ada cakue, bapia, kompia, kue tambang, kue cinsoko, pangsit kuah, dan bubur kacang tanah. Namun harus hati-hati bagi kaum Muslim karena beberapa menggunakan unsur B2. Yang aman dan halal hanya kue tambang, cakue, dan bubur kacang tanah karena proses pembuatannya terpisah. Dengan harga Rp5ribu, makan cakue di sini dijamin kenyang. Kelenteng Satya Budhi terletak di Jl. Kelenteng dan dibangun dari hasil sumbangan warga Tionghoa yang diprakarsai oleh Letnan Tionghoa Tan Djoen Liong. Pada awalnya kelenteng ini bernama Kuil Giap Thian Khong (Istana Para Dewa) karena pemujaannya ditujukan pada Dewa Perang Koan Kong (206-25 SM).[]

Heritage-08.jpg

Kelenteng Satya Budhi dan Dewa Perang Koan Kong

Hidangan Imlek Ala The Trans Luxury Hotel

Bandung sedang panas-panasnya. Entahlah, cuaca saat ini begitu ekstrem. Akibatnya berbagai macam hal, salah satunya adalah air di rumah tidak bisa keluar sehingga terpaksa harus meminta pada tetangga atau membeli. Hidup memang penuh dengan perjuangan hehehe. Ngomong-ngomong soal perjuangan, sosok itu baru saja sampai di di Kawasan Terpadu Trans Studio Bandung saat matahari sedang hangat-hangatnya bertengger di atas kepala. Tidak ada yang berubah dengan tempat ini. Begitu memanjakan para shopahollic atau bagi siapa saja yang ingin cuci mata. Kalau stres dan punya uang, tidak salah untuk datang ke sini, lalu mencoba berbagai macam permainan yang menghabiskan adrenalin.

Tahun baru telah lewat, hampir semua orang berharap berbagai kebaikan. Setelah Tahun Baru Masehi, tidak berapa lama lagi juga akan ada perayaan Chinese New Year atau yang biasa dikenal dengan tahun baru Imlek. Budaya tahunan segera menanti. Kemeriahan dengan nuansa khas merah dan emas menjadi menjadi tradisi yang selalu menarik dan ditunggu-tunggu. Semua tempat keramaian atau tempat publik berusaha menampilkan sebaik mungkin untuk semua perayaan besar, termasuk The Trans Luxury Hotel Bandung. Barongsai Tonggak dan Lucky Angpao sudah menjadi atraksi standar, dan bagi hotel yang baru meraih penghargaan di ajang World Halal Tourism Awards 2016 itu, tentu aneka menu khas negeri Tirai Bambu akan menjadi sesuatu yang berbeda.

Lucky Angpao yang disediakan The Trans Luxury Hotel Bandung berhadiah luar biasa, yaitu menginap di Celebrity Suite. Siapa yang tidak mau? Caranya mudah, cukup dengan bersantap malam di The Restaurant atau The 18th Restaurant and Lounge pada hari Jumat, 27 Januari 2017, nanti. Jumlahnya? Ada 18 angpao. Jadi, selain menginap di Celebrity Suite yang sering menjadi langganan SBY saat menjabat menjadi presiden, pengunjung yang beruntung juga bisa menginap di Premier Room, mendapatkan voucher dinner di The 18th Restaurant and Lounge, hingga memperoleh voucher Dream Time Massage di The Spa. Semoga tahun Ayam Api ini memberi kebahagiaan bagi orang-orang yang beruntung. Amiiin.

Hari Raya Imlek

MENU THE 18TH RESTAURANT AND LOUNGE

Soal The Restaurant yang terletak di lantai 3, sosok itu pernah menceritakannya di blog ini. Saat itu dia bercerita tentang Babuko Basamo dan bagaimana membuat Resep Lompong Sagu. Soal tempat, dijamin bikin betah. Setelah memarkirkan sepeda kesayangannya di tempat parkir motor, dirinya langsung cus memasuki lobby hotel. Suasana merah sudah terasa meriah di halaman kawasan terpadu TSB. Seperti layaknya mengunjungi tempat yang familiar, dia pun langsung memasuki lift dan siap menuju lantai 18. Soal menu di lantai 3 yang katanya ada Baked Chicken with Sesame Seed, Braises Fish Maw and Black Mushroom, Braised Hoisom, hingga Stirfried Sea Scallops with Broccoli and Pear tidak usahlah ditulis di sini. Kalau ingin mencobanya sila saja datang pada malam Imlek, 27 Januari 2017, pukul 18.00 – 22.00 WIB. Semua menu itu akan disediakan secara buffet dengan harga Rp539.888net/dewasa dan Rp269.999net/anak di bawah 12 tahun.

Sampai di lantai 18, angin langsung menyambut dengan tiupan kencangnya. Segar. Apalagi setelah sedari tadi ditimpa dengan rasa panas yang menyengat. Sosok itu beberapa saat memanjakan matanya dengan melihat Bandung dari atas ketinggian. Ada rasa jerih, tapi indah. Tidak berapa lama, dia pun berterur sapa dengan Teh Melly dan Teh Anggia yang selalu standby di hotel, juga beberapa kawan blogger yang hanya bertemu kalau ada acara kopdar. Berdasarkan informasi, The 18th Restaurant and Lounge yang berada di lantai paling atas itu akan menghadirkan acara ‘Hong Kong Night with Shifu Tang’. Shifu Tang atau Peter Tang adalah Executive Chinese Chef asal Hong Kong yang sudah berada di Indonesia selama 10 tahun. Beliau kebetulan berencana ingin memamerkan kebolehannya memasak dua menu andalannya.

The 18th Restaurant and Lounge

Suasana balkon di The 18th Restaurant (Inset: Uji Nyali)

Dengan aksen bahasa Indonesia yang khas, Shifu Tang berusaha beramah tamah dengan para blogger dan jurnalis dari berbagai media. Beliau begitu murah senyum. Meski agak kurang jelas, paling tidak sosok itu bisa menangkap apa yang dimaksud. Misalnya mengucapkan kata ‘udang’ tetapi yang terdengar di telinga adalah ‘ujan’. Meski sudah berusia lanjut, beliau tampak cekatan memasak. Semua menu yang dimasak berbahasa Inggris, sulit untuk menghapalnya. Satu menu yang disukai sosok itu adalah daging sapi yang dimasak dengan campuran sayuran dan lada hitam. Oke, sebut saja ‘Oseng Sapi Lada Hitam’. Daging sapi yang dipakai adalah tenderloinnya, jelas mahal. Tapi harganya terbayar oleh rasanya yang pedas-pedas gimanaaa gitu. Dia suka sekali. Apalagi jika dicampur dengan nasi hainan yang khas, nasi yang ditaburi dengan bawang goreng, persis seperti nasi uduk.

Menyantap masakan khas dari negeri tirai bambu di lantai teratas hotel memberikan sensasi yang takpernah dilupakan. Angin yang berembus sudah begitu menyegarkan, sehingga tidak perlu lagi mengharapkan tiupan angin dari AC yang tidak alami. Setelah makan, sila saja langsung menuju ke tepian dan manjakan mata Anda dengan pemandangan Bandung dari atas. Kalau cuacanya lagi bagus, pemandangan pegunungan yang mengitari Bandung memberikan sensasi yang luar biasa melenakan. Apalagi kalau menunggu saat matahari terbenam. Warna merah berpendar di langit, lalu menjelang maghrib muncullah warna-warna biru yang membuat hati ini berdesir. Tidak hanya itu, di ujung sebelah kiri, ada area yang membuat adrenalin terbuang begitu saja. Bagi yang berani, sila berjalan atau berdiri di atas kaca bening, lalu pandanglah beberapa kendaraan di bawah yang tampak seperti mainan. Itulah area uji nyali berjalan di atas kaca. Sensasinya takterkatakan.

Oseng Sapi Lada Hitam

Atas: Risol isi udang. Bawah: Oseng sapi lada hitam.

DEEP FRIED PRAWN WITH SALTED EGG

Salah satu menu andalan yang disukai sosok itu adalah DFPWSE atau sila baca saja singkatannya di atas hehehe. Dia sendiri cukup menyebutnya dengan Udang Goreng Telor Asin. Ya, memang itu namanya. Kata Shifu Tang, ini adalah menu favorit yang paling ditunggu. Berpengalaman memasak di berbagai hotel, menu tersebut termasuk yang paling banyak dipesan. Bagi penggemar seafood dan telor asin, tentu akan merasakan sensasi di lidah yang berbeda saat menyantap keduanya. Dia sendiri begitu suka dengan menu ini saat mencobanya. Benar-benar enak dan asinnya telor langsung lumer bersama kegurihan daging udang yang sudah bebas kulit. Dan kalau mau tahu, dia sampai berkali-kali mengambil menu ini bersama nasi hainan. Habis, benar-benar enak.

Cara memasaknya pun mudah. Udang yang sudah dikupas kulitnya dicampurkan dengan bubuk/tepung ayam, garam, dan tepung jagung. Panaskan minyang goreng dan masak udang sampai warnanya berubah menjadi agak keemasan. Kalau minyaknya bagus, dijamin udang gorengnya akan bagus juga. Angkat dan tiriskan. Setelah itu siapkan telor asin, ambil warna kuningnya saja. Putih telurnya tidak terpakai. Patut diacungi jempol bahwa Shifu Tang membuat sendiri telor asinnya, tidak memesan ke warung sebelah atau langsung ke Brebes. Nah, kuning dari telor asin ini dioseng-oseng dengan menggunakan setengah sendok minyak beberapa saat, setelah itu baru dicampurkan dengan udang goreng ditambah bawang. Oseng-oseng secukupnya saja. Dan hidangan Imlek ala The Trans Luxury Hotel pun tersaji mengundang selera.

Udang Goreng Telor Asin

Oya, kalau mau menu lengkapnya, termasuk mencoba yee sang atau yusheng yang memang menjadi menu khas Imlek, semuanya tersaji dengan harga Rp688.999net/dewasa. Ada banyak hidangan dan semuanya enak-enak, termasuk kue risoles isi udang (dengan taburan wijen) dan onde-onde kacang merah. Bagi yang belum tahu, yee sang adalah hidangan khusus pada hari raya Imlek dan dihidangkan sebagai makanan pembuka. Biasanya dimakan pada hari ke-7 bulan pertama kalender Imlek. Nah, kata Shifu Tang, yee sang adalah masakan Tiochiu berupa salad ikan (bisa tuna atau salem) segar ditambah irisan halus sayuran seperti wortel dan lobak. Makanan ini dipercaya sebagai simbol kelimpahan dan kemakmuran bagi orang yang memakannya.

Bagi yang memiliki kartu kredit Bank Mega, bakal mendapat potongan harga spesial. Tinggal tunjukin saja kartu VIP Membership-nya, dan itu berlaku untuk seluruh paket yang ditawarkan di The Trans Luxury Hotel Bandung. Daaan … Februari kan akan segera datang, tuh, katanya dikenal sebagai bulan penuh cinta, Trans Studio Bandung rupanya mau menggelar konser tunggal salah satu band favorit. Mau tahu bandnya? Yaitu Yovie dan kawan-kawan dalam acara ‘A Night With KAHITNA’ yang akan digelar pada hari Sabtu, 4 Februari 2017, di Amphiteater TSB mulai pukul 19.00 WIB. Harga tiketnya ada dua pilihan, Rp300ribu untuk kelas Festival dan Rp750ribu untuk kelas VIP. Der ah langsung ke sana.[]