Asian Africa Carnival 2017 yang Spektakuler

BANDUNG – Siang itu begitu terik, tangan-tangan terangkat ke atas, menutupi sebagian wajah. Beberapa orang lebih memilih mencari bayang-bayang terdekat. Pepohonan, bangunan, atau bahkan bus Bandros yang terparkir tepat di depan Hotel Grand Preanger. Meski begitu, mayoritas peserta Asian Africa Carnival 2017 tetap menunjukkan sikap semangat dan murah senyum saat beberapa kamera mengarah pada mereka. Termasuk bocah kecil berusia tujuh tahun dengan pakaian khas tradisional Jawa dengan simbol Pakualaman di dadanya, tetap semangat dan murah senyum menyapa siapa pun yang ditemuinya. Termasuk tidak sungkan diajak foto bersama di bawah matahari yang sinarnya begitu panas menyengat kulit.

Continue reading “Asian Africa Carnival 2017 yang Spektakuler”

Yuk, Santai di Pantai Ambon (Tulisan 1)

Takpernah terlintas dalam pikiran bahwa sosok itu akan bisa menjejakkan kaki di Indonesia bagian timur. Mungkin belum sampai berdiri di ujung paling timur, tetapi paling tidak Pulau Ambon adalah titik pertama saya bisa menyesap udara di pulau yang pertama kali melihat matahari terbit, dua jam sebelum akhirnya bisa disaksikan oleh warga Jawa Barat.

Mengenal Ambon sudah pasti harus mengenal Maluku. Mengenal Maluku, tentu harus mengenal salah satu pahlawannya yang terpampang pada pecahan uang seribu rupiah. Di luar pro kontra agamanya apa, Kapiten Pattimura adalah pahlawan nasional yang berhasil mengusir penjajah dari Pulau Ambon, jauh sebelum pertempuran dahsyat di Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Menurut cerita seorang kawan di Ambon, Pattimura bahkan membuat penjajah tidak bisa merapatkan kapalnya di pantai. Hampir seluruh kapalnya karam dan meninggalkan warna laut yang berubah menjadi merah karena darah. Beliau hanya menyisakan anak-anak dan perempuan untuk tetap hidup.

Mengapa Maluku begitu membuat banyak penjelajah dunia terkesima sehingga bersusah payah untuk didatangi? Tidak hanya penjajah dari Eropa, para pedagang Gujarat pun sering mampir. Hal itu tidak lain karena rempah-rempahnya yang begitu melegenda. Sebut saja cengkeh, pala, dan lada hingga Maluku dikenal sebagai ‘spice of islands’. Rempah telah menjadi saksi perkembangan dan pasang surut peradaban bangsa Indonesia, khususnya Maluku. Kuliner, pengobatan, ritual, dan bahkan bahan pengawet menggunakan rempah-rempah. Bisa jadi, inilah yang menyebabkan Ambon tidak memiliki kuliner yang kaya rempah karena hasil buminya tidak boleh dikonsumsi secara pribadi dan langsung diambil oleh orang luar.

Meski begitu, Ambon tetap layak menjadi tujuan wisata. Papeda, ikan asap, maupun sukun goreng dengan sambal khasnya selalu dirindukan oleh para wisatawan. Kekayaan baharinya jangan ditanya. Sosok itu meski saat ini berdomisili di Bandung namun masa kecilnya dihabiskan di tepi pantai Jakarta. Dia sering bermain dengan anak-anak nelayan dan karena itulah kulitnya makin menghitam sehingga berbeda dengan mayoritas saudara-saudara kandungnya. Jadi kalau ke Ambon, jangan lewatkan wisata baharinya. Namun kalau waktunya sekejap dan dananya terbatas, buang jauh-jauh rencana wisata ke Pantai Ora, Sawai, atau Banda Neira yang letaknya memang jauh dari Bandara Pattimura plus berbiaya mahal. Cukuplah berkeliling di Pulau Ambon dan sila menikmati keindahan pantai yang sudah jarang ditemukan di Pulau Jawa dengan harga yang masih bersahabat dan tidak terlalu jauh dari bandara.

GENERASI PESONA INDONESIA

Berbicara soal Ambon, sudah pasti akan bersinggungan dengan beberapa artis penyanyi yang memiliki darah sana. Jumlahnya pun tidak bisa dibilang sedikit. Harvey Malaiholo, Ruth Sahanaya, Glenn Fredly, dan lain-lain hingga amat wajar kalau kota Ambon pun memiliki julukan sebagai City of Music. Tulisan raksasa itulah yang menyambut sosok itu di Negeri Hatiwe Besar setelah keluar dari bandara, lalu menyisir Teluk Ambon melewati Jl. Dr. J. Leimena dan Jl. Ir. M Putuhena hingga akhirnya bertemu dengan Jembatan Merah Putih. Jembatan yang diresmikan pada April 2016 ini telah menjadi ikon kota Ambon dan mempersingkat perjalanannya dari Bandara Pattimura menuju pusat kota Ambon. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, dia meminta izin pada sopir untuk berhenti sejenak dan berfoto sejenak di atas jembatan.

Julukan kota musik memang tepat karena sopir mobil yang dinaiki langsung memutarkan beberapa lagu khas Ambon dengan bangga. Di beberapa jalan kota juga sering ditemui karaoke dan restoran/kafe yang menyajikan pertunjukan musik. Kalau ditanya pada warga Ambon, pasti mayoritas akan menjawab, “Beta paling suka menyanyi.” Pantas saja. Oya, perlu diketahui bahwa Ambon adalah kota yang panas, dengan banyak jalan satu arah dan diisi oleh angkot, becak, dan tentu saja motor. Sosok itu menyempatkan diri untuk naik becak, paling tidak merasakan suasana kotanya. Tempat pertama yang dituju adalah sudah pasti penginapan yang telah di-booking jauh-jauh hari sebelumnya, minimal buat menyimpan barang berat, meluruskan badan, dan menyegarkan badan setelah penerbangan jauh plus melelahkan.

Beres dari Hotel Ammans alias Ambon Manise, sosok itu langsung bergegas ke Hotel Amaris karena di sanalah calon-calon kawan baru dari Maluku akan bersua. Siang hingga malam adalah acara teoretis tentang dunia pariwisata. Jujur, sejak berkenalan dengan orang-orang Kementerian Pariwisata dirinya makin cinta pada Indonesia. Ada banyak hal yang awalnya tidak tahu jadi lebih tahu bahwa pariwisata itu harus begini dan begitu. Paling tidak sekarang jadi lebih aware untuk memajukan pariwisata Indonesa dan mengajak sebanyak-banyaknya kawan untuk mencintai dunia traveling. Dia kemudian semakin dekat dengan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) yang menurutnya bisa juga berarti Gerakan Nasional (untuk) Pariwisata Indonesia. Dan malam itu, terpilihlah secara voting Koordinator GenPI Maluku, yaiu Glenn Huibb Wattimury.

Keesokan harinya bertemulah (kembali) sosok itu dengan kawan-kawan baru dari Maluku di Lapangan Merdeka Ambon yang sedang berlangsung pameran sebagai bagian dari Hari Pers Nasional 2017. Ada banyak stand di sana dan berisi banyak informasi berharga tentang Ambon dan Maluku. Di sana pula dia bisa bertemu Mas Didik, blogger paling aktif dari Bojonegoro, termasuk berfoto bersama dengan kawan-kawan Kompasianer Amboina. Saat siang bergeraklah rombongan kawan-kawan baru menuju Kole-Kole, sebuah tempat makan yang tidak terlalu jauh dari Lapangan Merdeka. Di sanalah dia bisa merasakan sukun goreng yang dicocol sambal setelah sebelumnya mencicipi pisang goreng dicocol sambal semalam. Unik. Menu lainnya yang dicoba adalah Mie Kuah Cakalang dan Sate Tuna. Semuanya serba ikan. Yummy!

Perut kenyang, sosok itu bersama lima orang kawan bersiap naik 3 motor. Dia bersama Frenda, Olnes bersama Makmur (GenPI Aceh), dan Rey bersama Mbak Jhe (GenPI Lombok Sumbawa). Yang disebutkan paling belakang adalah yang dibonceng. Tiga motor langsung meninggalkan Kole-Kole, melaju ke arah barat menembus jalan beraspal yang masih mulus. Pertama menyusuri Jl. Dr. GA Siwabessy dan Jl. Nona Saar Sopacua yang masih terbilang padat karena masih bagian dari kota Ambon, setelahnya memasuki Jl. Dr. Malaihollo yang mulai sepi. Petualangan pertama bersama kawan-kawan Ambon akan segera dimulai, dan tempat pertama yang dituju adalah Pintu Kota.

MENYESAP SUNYI DI PINTU KOTA

Bagi yang sudah tahu, tentu amat mengenal Museum Negeri Siwalima, sebuah museum yang tidak boleh dilewatkan kalau berkunjung ke Ambon. Selain peninggalan budaya, museum ini juga menampilkan rangka ikan paus berbagai ukuran. Nah, rombongan pun melewati museum tersebut di ujung Jl. Dr. Malaihollo, tepatnya di Taman Makmur, Negeri Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, yang berjarak sekira 5 km dari pusat kota. Setelah itu barulah mereka menyisir pantai Teluk Ambon di Jl. Amanhuse, sampai kemudian bertemu dengan jalan berkelak-kelok, naik-turun, karena melewati perbukitan ke arah selatan. Pintu Kota terpampang di pantai selatan Pulau Ambon yang langsung berhadapan dengan Laut Banda, tepatnya di Negeri Airlouw, Kecamatan Nusaniwe.

Pintu Kota memiliki keunikan berupa karang besar yang memiliki lubang besar di tengahnya. Lubang itulah yang dianggap sebagai ‘pintu’ oleh warga sekitar. Pantainya sendiri juga memiliki banyak karang sehingga setiap pengunjung harus berjalan berhati-hati. Bagi yang belum menyadari, posisi tempat parkir motor berada tepat di atas pintu tersebut sehingga pengunjung harus bersusah payah menuruni tangga yang curam. Sudah dapat dibayangkan bagaimana melelahkan saat pulangnya nanti. Meski begitu, kondisi Pintu Kota yang sepi memberikan nuansa yang menenangkan. Para pecinta sunyi akan betah berlama-lama di sini, apalagi jika didukung oleh cuaca yang cerah. Dari tempat parkir saja, dia sudah disuguhi oleh pemandangan Laut Banda yang begitu luas. Sedangkan bagi yang suka menyelam, ada spot bagus dengan pemandangan terumbu karang yang luar biasa. Perjalanan normal selama satu jam dan biaya parkir sebesar Rp10.000 per motor seolah-olah tergantikan dengan lunas.

Hujan gerimis turun begitu saja, memaksa mereka yang sedang asyik berfoto di Pintu Kota langsung bergegas meninggalkan pantai dan berteduh di sebuah saung yang memang ada. Sambil menunggu, mereka memesan kelapa muda yang perbutirnya dihargai Rp12.000 sambil makan dodol Garut yang memang sengaja dibawa dari Bandung. Pastinya Olnes, Rey, dan Frenda merasa exciting bisa merasakan makanan khas Jawa Barat. Taklama Olnes turun ke laut dan menyelam, bukan snorkeling karena ombaknya tidak tenang. Penasaran dengan apa yang ada di bawah laut di Pintu Kota, sosok itu turut serta menyusul. Ada banyak karang tajam dan ombaknya besar. Ada rasa jerih di awal dan sempat ragu, namun rasa itu menghilang bak pasir ditiup angin hanya karena rasa penasaran yang begitu besar. Dia pun langsung berenang dan akhirnya setelah di tengah langsung menyelam. Indah. Luar biasa. Pengalaman yang takakan pernah dilupakan. Meski ombaknya besar, dia merasa puas dan sekaligus belajar bagaimana menyelam yang baik di lautan.[]

Baca juga tulisan keduanya ya…. ^_^

Tour de Petjinan van Bandoeng

Pagi belum beranjak terlalu jauh, bulan pun masih tampak jelas. Sosok itu sempat berdiri mematung di sebelah timur Alun-alun, memandang Masjid Agung Bandung, membelakangi sebuah gedung yang katanya bakal dijadikan perpustakan, gedung yang bertuliskan kata ‘BANDUNG’ di tiang-tiang dinding. Selasa, 24 Januari 2017, pukul 6:45, beberapa warga sudah asyik duduk di bangku merah, berdiskusi dengan rekannya atau asyik menunggu kawannya yang belum datang sambil menyikukan tangannya di meja merah. Ada dua orang anak yang asyik berlari ke sana-sini mengejar bola plastik di tengah Alun-alun. Cuaca Bandung kali ini masih panas, pagi tidak lagi menyegarkan, sinar mentari sudah mulai agak menyengat. Dia kemudian menyandarkan sepedanya di salah satu bangku batu dan kemudian mengabadikannya dengan latar masjid.

Ingatan sosok itu masih segar tentang Alun-alun karena pada 24 Desember 2016 dia pernah mengadakan acara ‘Mapah ka Bandung’ bersama Kompasiana. Salah satunya belajar tentang sejarah tempat tersebut. Pikirannya pun segera berlari menuju 200+ tahun yang lalu saat Raden Adipati Wiranatakusumah II, Bupati Bandung ke-6, berlayar di atas Sungai Ci Tarum, lalu masuk ke Sungai Ci Kapundung. Di sebuah tempat, beliau turun dan menancapkan tongkatnya. Prajuritnya kemudian mendirikan tenda-tenda. Saat R.A. Wiranatakusumah II mencabut tongkatnya, keluarlah mata air yang jernih. Itulah cikal bakal Sumur Bandung yang berada di dalam Gedung PLN. Beliau memutuskan tempat tersebut sebagai ibukota Bandung. Tempat dimana tenda-tenda prajurit berdiri, dibangun sebuah bangunan yang menjadi cikal bakal Pendopo.

Format arsitektur Alun-alun Bandung mengikuti percampuran masa Kerajaan Majapahit dan kerajaan Islam setelahnya. Format tersebut hampir sama di seluruh Pulau Jawa dan sekitarnya. Biasanya terdapat lapangan atau alun-alun di tengahnya plus dua pohon beringin yang tumbuh. Di sebelah barat dibangun sebuah masjid besar, lalu dibangun pula pusat pemerintahan dan pasar rakyat. Tujuannya tidak lain agar masyarakat dapat berkumpul, bertemu dengan pemimpinnya, dapat berniaga, namun taklupa beribadah kepada Sang Maha. Kota Bandung kemudian mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman oleh pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dengan mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810, namun baru memiliki pasar pada 1812. Namanya Pasar Ciguriang dan berlokasi di kawasan jalan Kepatihan. (Baca juga tentang Pasar Cihapit)

Peserta Tour de Petjinan

PASAR CIGURIANG DAN PASAR BARU

Pasar Ciguriang berkembang pesat, mengundang banyak orang dengan latar etnis berbeda untuk berniaga di sana. Tidak hanya orang Sunda, tetapi juga para pendatang seperti dari Jawa, Palembang, termasuk dari India dan Arab. Apalagi ditambah dengan semakin ramainya jalan Raya Pos (De Grotepostweg) yang kini bernama Jl. Asia Afrika sebagai jalan utama membuat orang-orang yang baru datang dari luar kota untuk mampir dan menghidupkan Pasar Ciguriang. Peristiwa Perang Diponegoro (1825-1830) secara tidak langsung juga berdampak dengan datangnya orang-orang Tionghoa dari Jawa melalui Cirebon. Versi lainnya adalah didatangkan Belanda untuk membangun jalan Raya Pos. Beberapa dipaksa menjadi tukang perkayuan karena mereka memang memiliki keahlian. Mereka kemudian bermukim tidak jauh dari Alun-alun dan terbentuklah Kampung Suniaraja atau disebut juga sebagai kawasan Pecinan (batasnya adalah Jl. Asia Afrika, Banceuy, Suniaraja, dan Otista) yang hanya diisi oleh 13 keluarga. Proses inilah yang juga membentuk Kampung Jawa di sekitar Stasiun Kiaracondong.

Pada bulan November 1845, Pasar Ciguriang ludes terbakar. Ada kabar bahwa kebakaran itu disengaja sebagai umpan untuk membunuh Asisten Residen Priangan dan Bupati Bandung. Pembunuhnya bernama Munada yang sakit hati pada bekas atasannya, Asisten Residen bernama Nagel. Akibatnya perlu dicarikan tempat baru untuk menampung para pedagang. Pada 1884 dipilihlah sebuah tempat di sebelah barat Kampung Suniaraja sebagai pusat perdagangan, hingga di kemudian hari dikenal sebagai kawasan Pasar Baru. Pasar ini pun langsung berkembang pesat hingga pada 1906 didirikanlah bangunan baru yang semipermanen, termasuk dua buah pos yang mengapit jalan masuknya. Bagian depan diisi oleh jajaran pertokoan sedangkan di bagian belakang diisi oleh los-los pedagang. Pada 1935, Pasar Baru mendapat predikat sebagai pasar terbersih dan paling teratur se-Hindia Belanda. Namun bangunan asli pada masa itu hilang setelah perombakan pada 1970-an.

heritage-06

Atas: Kawasan Pecinan Lama (ilustrasi Pasar Ciguriang). Bawah: Pasar Baru

Nah, ada banyak kisah menarik di balik Pasar Baru ini. Semua itu memang berpusat pada beberapa saudagar yang berhasil berniaga di sana. Salah satunya adalah saudagar batik Solo yang menjadi pelopor perdagangan batik di Pasar Baru, yaitu keluarga Tan Djin Gie. Kiprah keluarga tersebut terekam dengan baik dalam roman ‘Rasia Bandoeng’ karya Chanbanneau (1918). Roman ini begitu terkenal karena menceritakan kisah nyata hubungan cinta terlarang sesama marga Tionghoa. Tan Djin Gie pula yang mendirikan ‘landhuis‘ di Jl. Kebon Jati pada 1884, yang di kemudian hari diubah menjadi Hotel Surabaya. Hotel ini selalu ramai oleh pengunjung setelah pembukaan jalur kereta dari Batavia ke Bandung. Saat ini, bagian belakang hotel sudah tidak ada lagi dan tergantikan oleh Hotel Gino Feruci.

Pasar Baru Bandung

Saudagar-saudagar kaya lainnya dari Pasar Baru yang terkenal adalah Asep Berlian yang berasal dari Palembang. Tidak diketahui siapa nama aslinya karena nama ‘asep’ disematkan padanya sebagai penghormatan dari warga Sunda, sedangkan berlian disematkan karena beliau sering membawa keris yang hulunya terdapat berlian sebesar biji jagung. Peristiwa paling menghebohkan pada dirinya terjadi saat salah satu istrinya dibunuh oleh pembantunya sendiri, sehingga saat itu terkenal istilah ‘Guyur Bandung‘. Namanya kemudian diabadikan pada sebuah jalan di daerah Cicadas. Nama-nama saudagar lainnya yang kemudian diabadikan menjadi nama jalan adalah Dulatip, Tamim, Encek Azis, Mayor Sunarya, Pahrurodji, Durasyid, dan Yakub. Orang Tionghoa yang diabadikan menjadi nama jalan adalah Babah Tam Long (Jl. Tamblong) yang dulunya adalah seorang tukang kayu terkenal.

PENGUSAHA TIONGHOA DI PECINAN LAMA

Sosok itu mendapatkan semua informasi di atas setelah diajak berkeliling dalam acara ‘Tour de Petjinan van Bandoeng‘. Tour ini digagas oleh Komunitas Aleut dengan Best Western Premier La Grande Hotel yang melibatkan para Hakko Ako dan Amoy Bandung, Koko Cici Jakarta, Mojang Jajaka Bandung, dan para awak media. Dia sendiri mewakili Blogger Bandung bersama Efi dan Mbak Alaika. Program ini dibuat dalam rangka perayaan hari raya Imlek 2568. Nah, Kampung Suniaraja yang telah disebutkan kemudian makin padat oleh warganya yang terus bertambah. Untuk mengatasi hal tersebut, pemukiman orang-orang Tionghoa kemudian dipindahkan ke sebelah barat, yaitu di belakang Pasar Baru. Itulah mengapa Kampung Suniaraja sekarang disebut sebagai kawasan Pecinan Lama. Dan cerita tentang kawasan ini tidak bisa dilepaskan dengan para pengusaha asal Tionghoa yang legendaris.

Ya, bercerita tentang Bandung tidak akan menarik kalau tidak melibatkan unsur kuliner di dalamnya. Kota ini sudah terkenal sebagai pusat kulinernya. Siapa pun yang ke Bandung, selalu diselipkan kisah berburu kuliner. Kuliner yang pertama didatangi dan dekat dengan Alun-alun adalah Kopi Purnama di jalan Alkateri. Patokannya adalah Hotel Golden Flower di Jl. Asia Afrika. Warung ini telah berdiri sejak 1930 tetapi dengan nama Chang Chong Se, artinya ‘selamat mencoba’. Pendirinya adalah Tong A Thong yang hijrah dari kota Medan dan membawa tradisi Kopi Tiam. Istilah kopi tiam sendiri merupakan pengembangan dari kata ‘Yam Cha’ di Tiongkok yang berarti ‘sarapan sambil minum teh’. Oleh kaum peranakan Tionghoa di daerah Melayu (termasuk Medan), kebiasaan minum teh ini diganti dengan minum kopi. Pada tahun 1966, warung Chang Chong Se berganti nama menjadi Kopi Purnama. Saat ini, yang mengelola Warung Kopi Purnama adalah generasi ke-4 dari Tong A Thong.

Kopi Aroma Bandung

Kopi Aroma Bandung (Inset: Kopi Purnama)

Perjalanan tour kemudian diarahkan ke Jl. Banceuy, menuju pojokan Jl. Pecinan Lama. Di sana terdapat pabrik kopi yang legendaris dan sampai sekarang ramai oleh antrian yang ingin membeli Kopi Aroma. Mengapa terkenal? Ini dikarenakan proses pembuatannya yang alami dan sampai sekarang masih menggunakan mesin yang sama saat pertama kali dibuka. Inilah yang membuat Kopi Aroma sebagai penghasil kopi terbaik dan unik. Pendirinya adalah Tan Houw Sian pada 1930. Beliau dulunya bekerja di perusahaan kopi milik Belanda hingga kemudian memutuskan untuk berhenti dan mendirikan usaha di bidang kopi. Saat ini Kopi Aroma dikelola oleh generasi ke-2 Tan Houw Sian, yaitu Widyapratama. Oya, kalau di Kopi Purnama para pengunjung bisa duduk santai menikmati kopi tiam maka di Kopi Aroma hanya bisa membeli kopi saja.

heritage-07

Toko Jamu Babah Kuya dan Mojang Jajaka Bandung

Peserta tour kemudian diajak berjalan kaki menuju Pasar Baru, meniti jembatan penyebarangan yang sudah tua kondisinya, kemudian masuk ke Jl. Pasar Selatan. Di sana ada Jl. Tamim yang dikenal sebagai pusat penjualan kain denim/jeans. Daripada membeli jeans mahal yang sudah jadi, sebagai alternatif ada baiknya berburu kain jeans di sini. Setelah memilih jenis kainnya, lalu tinggal dijahit oleh para penjahit profesional di sana, hasilnya adalah jeans yang lebih murah 2-3 kali lipat dengan ukuran yang pas. Kalau mau dipasang brand terkenal juga bisa. Perjalanan ‘Tour de Petjinan’ kemudian berhenti di pojokan jalan. Di sana ada toko Babah Kuya, sebuah toko jamu tradisional yang menyediakan banyak rempah-rempah lokal maupun impor. Tempat ini menjadi rujukan para Sinshe, peramu pengobatan tradisional Nusantara, dan dokter modern. Babah Kuya didirikan oleh Tan Sioe How pada 1800-an yang terkenal dengan hobinya memelihara kura-kura. Kura-kura yang telah mati kemudian diawetkan dan digantung di dinding tokonya.

Hotel Surabaya

Sisa bangunan Hotel Surabaya (Kanan: Hakka Ako & Amoy + Koko Cici Jakarta)

Tour berakhir di Cakue Osin, Hotel Surabaya, dan Kelenteng Satya Budhi. Cakue Osin terletak di jalan Babatan No. 64A (belakang pasar), dekat dengan lapangan dan kantor RW 03 Kel. Kebon Jeruk Kec. Andir. Dulunya bernama Lie Tjay Tat karena didirikan oleh beliau yang fokus pada kuliner khas Tionghoa. Osin sendiri adalah putra dari Lie Tjay Tat. Di sana ada cakue, bapia, kompia, kue tambang, kue cinsoko, pangsit kuah, dan bubur kacang tanah. Namun harus hati-hati bagi kaum Muslim karena beberapa menggunakan unsur B2. Yang aman dan halal hanya kue tambang, cakue, dan bubur kacang tanah karena proses pembuatannya terpisah. Dengan harga Rp5ribu, makan cakue di sini dijamin kenyang. Kelenteng Satya Budhi terletak di Jl. Kelenteng dan dibangun dari hasil sumbangan warga Tionghoa yang diprakarsai oleh Letnan Tionghoa Tan Djoen Liong. Pada awalnya kelenteng ini bernama Kuil Giap Thian Khong (Istana Para Dewa) karena pemujaannya ditujukan pada Dewa Perang Koan Kong (206-25 SM).[]

Heritage-08.jpg

Kelenteng Satya Budhi dan Dewa Perang Koan Kong

Hidangan Imlek Ala The Trans Luxury Hotel

Bandung sedang panas-panasnya. Entahlah, cuaca saat ini begitu ekstrem. Akibatnya berbagai macam hal, salah satunya adalah air di rumah tidak bisa keluar sehingga terpaksa harus meminta pada tetangga atau membeli. Hidup memang penuh dengan perjuangan hehehe. Ngomong-ngomong soal perjuangan, sosok itu baru saja sampai di di Kawasan Terpadu Trans Studio Bandung saat matahari sedang hangat-hangatnya bertengger di atas kepala. Tidak ada yang berubah dengan tempat ini. Begitu memanjakan para shopahollic atau bagi siapa saja yang ingin cuci mata. Kalau stres dan punya uang, tidak salah untuk datang ke sini, lalu mencoba berbagai macam permainan yang menghabiskan adrenalin.

Tahun baru telah lewat, hampir semua orang berharap berbagai kebaikan. Setelah Tahun Baru Masehi, tidak berapa lama lagi juga akan ada perayaan Chinese New Year atau yang biasa dikenal dengan tahun baru Imlek. Budaya tahunan segera menanti. Kemeriahan dengan nuansa khas merah dan emas menjadi menjadi tradisi yang selalu menarik dan ditunggu-tunggu. Semua tempat keramaian atau tempat publik berusaha menampilkan sebaik mungkin untuk semua perayaan besar, termasuk The Trans Luxury Hotel Bandung. Barongsai Tonggak dan Lucky Angpao sudah menjadi atraksi standar, dan bagi hotel yang baru meraih penghargaan di ajang World Halal Tourism Awards 2016 itu, tentu aneka menu khas negeri Tirai Bambu akan menjadi sesuatu yang berbeda.

Lucky Angpao yang disediakan The Trans Luxury Hotel Bandung berhadiah luar biasa, yaitu menginap di Celebrity Suite. Siapa yang tidak mau? Caranya mudah, cukup dengan bersantap malam di The Restaurant atau The 18th Restaurant and Lounge pada hari Jumat, 27 Januari 2017, nanti. Jumlahnya? Ada 18 angpao. Jadi, selain menginap di Celebrity Suite yang sering menjadi langganan SBY saat menjabat menjadi presiden, pengunjung yang beruntung juga bisa menginap di Premier Room, mendapatkan voucher dinner di The 18th Restaurant and Lounge, hingga memperoleh voucher Dream Time Massage di The Spa. Semoga tahun Ayam Api ini memberi kebahagiaan bagi orang-orang yang beruntung. Amiiin.

Hari Raya Imlek

MENU THE 18TH RESTAURANT AND LOUNGE

Soal The Restaurant yang terletak di lantai 3, sosok itu pernah menceritakannya di blog ini. Saat itu dia bercerita tentang Babuko Basamo dan bagaimana membuat Resep Lompong Sagu. Soal tempat, dijamin bikin betah. Setelah memarkirkan sepeda kesayangannya di tempat parkir motor, dirinya langsung cus memasuki lobby hotel. Suasana merah sudah terasa meriah di halaman kawasan terpadu TSB. Seperti layaknya mengunjungi tempat yang familiar, dia pun langsung memasuki lift dan siap menuju lantai 18. Soal menu di lantai 3 yang katanya ada Baked Chicken with Sesame Seed, Braises Fish Maw and Black Mushroom, Braised Hoisom, hingga Stirfried Sea Scallops with Broccoli and Pear tidak usahlah ditulis di sini. Kalau ingin mencobanya sila saja datang pada malam Imlek, 27 Januari 2017, pukul 18.00 – 22.00 WIB. Semua menu itu akan disediakan secara buffet dengan harga Rp539.888net/dewasa dan Rp269.999net/anak di bawah 12 tahun.

Sampai di lantai 18, angin langsung menyambut dengan tiupan kencangnya. Segar. Apalagi setelah sedari tadi ditimpa dengan rasa panas yang menyengat. Sosok itu beberapa saat memanjakan matanya dengan melihat Bandung dari atas ketinggian. Ada rasa jerih, tapi indah. Tidak berapa lama, dia pun berterur sapa dengan Teh Melly dan Teh Anggia yang selalu standby di hotel, juga beberapa kawan blogger yang hanya bertemu kalau ada acara kopdar. Berdasarkan informasi, The 18th Restaurant and Lounge yang berada di lantai paling atas itu akan menghadirkan acara ‘Hong Kong Night with Shifu Tang’. Shifu Tang atau Peter Tang adalah Executive Chinese Chef asal Hong Kong yang sudah berada di Indonesia selama 10 tahun. Beliau kebetulan berencana ingin memamerkan kebolehannya memasak dua menu andalannya.

The 18th Restaurant and Lounge

Suasana balkon di The 18th Restaurant (Inset: Uji Nyali)

Dengan aksen bahasa Indonesia yang khas, Shifu Tang berusaha beramah tamah dengan para blogger dan jurnalis dari berbagai media. Beliau begitu murah senyum. Meski agak kurang jelas, paling tidak sosok itu bisa menangkap apa yang dimaksud. Misalnya mengucapkan kata ‘udang’ tetapi yang terdengar di telinga adalah ‘ujan’. Meski sudah berusia lanjut, beliau tampak cekatan memasak. Semua menu yang dimasak berbahasa Inggris, sulit untuk menghapalnya. Satu menu yang disukai sosok itu adalah daging sapi yang dimasak dengan campuran sayuran dan lada hitam. Oke, sebut saja ‘Oseng Sapi Lada Hitam’. Daging sapi yang dipakai adalah tenderloinnya, jelas mahal. Tapi harganya terbayar oleh rasanya yang pedas-pedas gimanaaa gitu. Dia suka sekali. Apalagi jika dicampur dengan nasi hainan yang khas, nasi yang ditaburi dengan bawang goreng, persis seperti nasi uduk.

Menyantap masakan khas dari negeri tirai bambu di lantai teratas hotel memberikan sensasi yang takpernah dilupakan. Angin yang berembus sudah begitu menyegarkan, sehingga tidak perlu lagi mengharapkan tiupan angin dari AC yang tidak alami. Setelah makan, sila saja langsung menuju ke tepian dan manjakan mata Anda dengan pemandangan Bandung dari atas. Kalau cuacanya lagi bagus, pemandangan pegunungan yang mengitari Bandung memberikan sensasi yang luar biasa melenakan. Apalagi kalau menunggu saat matahari terbenam. Warna merah berpendar di langit, lalu menjelang maghrib muncullah warna-warna biru yang membuat hati ini berdesir. Tidak hanya itu, di ujung sebelah kiri, ada area yang membuat adrenalin terbuang begitu saja. Bagi yang berani, sila berjalan atau berdiri di atas kaca bening, lalu pandanglah beberapa kendaraan di bawah yang tampak seperti mainan. Itulah area uji nyali berjalan di atas kaca. Sensasinya takterkatakan.

Oseng Sapi Lada Hitam

Atas: Risol isi udang. Bawah: Oseng sapi lada hitam.

DEEP FRIED PRAWN WITH SALTED EGG

Salah satu menu andalan yang disukai sosok itu adalah DFPWSE atau sila baca saja singkatannya di atas hehehe. Dia sendiri cukup menyebutnya dengan Udang Goreng Telor Asin. Ya, memang itu namanya. Kata Shifu Tang, ini adalah menu favorit yang paling ditunggu. Berpengalaman memasak di berbagai hotel, menu tersebut termasuk yang paling banyak dipesan. Bagi penggemar seafood dan telor asin, tentu akan merasakan sensasi di lidah yang berbeda saat menyantap keduanya. Dia sendiri begitu suka dengan menu ini saat mencobanya. Benar-benar enak dan asinnya telor langsung lumer bersama kegurihan daging udang yang sudah bebas kulit. Dan kalau mau tahu, dia sampai berkali-kali mengambil menu ini bersama nasi hainan. Habis, benar-benar enak.

Cara memasaknya pun mudah. Udang yang sudah dikupas kulitnya dicampurkan dengan bubuk/tepung ayam, garam, dan tepung jagung. Panaskan minyang goreng dan masak udang sampai warnanya berubah menjadi agak keemasan. Kalau minyaknya bagus, dijamin udang gorengnya akan bagus juga. Angkat dan tiriskan. Setelah itu siapkan telor asin, ambil warna kuningnya saja. Putih telurnya tidak terpakai. Patut diacungi jempol bahwa Shifu Tang membuat sendiri telor asinnya, tidak memesan ke warung sebelah atau langsung ke Brebes. Nah, kuning dari telor asin ini dioseng-oseng dengan menggunakan setengah sendok minyak beberapa saat, setelah itu baru dicampurkan dengan udang goreng ditambah bawang. Oseng-oseng secukupnya saja. Dan hidangan Imlek ala The Trans Luxury Hotel pun tersaji mengundang selera.

Udang Goreng Telor Asin

Oya, kalau mau menu lengkapnya, termasuk mencoba yee sang atau yusheng yang memang menjadi menu khas Imlek, semuanya tersaji dengan harga Rp688.999net/dewasa. Ada banyak hidangan dan semuanya enak-enak, termasuk kue risoles isi udang (dengan taburan wijen) dan onde-onde kacang merah. Bagi yang belum tahu, yee sang adalah hidangan khusus pada hari raya Imlek dan dihidangkan sebagai makanan pembuka. Biasanya dimakan pada hari ke-7 bulan pertama kalender Imlek. Nah, kata Shifu Tang, yee sang adalah masakan Tiochiu berupa salad ikan (bisa tuna atau salem) segar ditambah irisan halus sayuran seperti wortel dan lobak. Makanan ini dipercaya sebagai simbol kelimpahan dan kemakmuran bagi orang yang memakannya.

Bagi yang memiliki kartu kredit Bank Mega, bakal mendapat potongan harga spesial. Tinggal tunjukin saja kartu VIP Membership-nya, dan itu berlaku untuk seluruh paket yang ditawarkan di The Trans Luxury Hotel Bandung. Daaan … Februari kan akan segera datang, tuh, katanya dikenal sebagai bulan penuh cinta, Trans Studio Bandung rupanya mau menggelar konser tunggal salah satu band favorit. Mau tahu bandnya? Yaitu Yovie dan kawan-kawan dalam acara ‘A Night With KAHITNA’ yang akan digelar pada hari Sabtu, 4 Februari 2017, di Amphiteater TSB mulai pukul 19.00 WIB. Harga tiketnya ada dua pilihan, Rp300ribu untuk kelas Festival dan Rp750ribu untuk kelas VIP. Der ah langsung ke sana.[]

Konservasi Elang Jawa Bukti Kepedulian Pertamina Mendukung Keanekaragaman Hayati

Konservasi Elang Jawa bukti kepedulian Pertamina mendukung keanekaragaman hayati yang ada di kawasan Kamojang. Hal ini menjadi perhatian utama karena kawasan pegunungan seperti Guntur, Halimun, Salak, Papandayan, Talaga Bodas, dan termasuk Kamojang memiliki lanskap yang menjadi titik favorit bagi para elang untuk bermigrasi. Ada 22,5% jenis elang dari total 311 elang di dunia yang tinggal di Indonesia. Elang Jawa unik, karena secara fisik dianggap sebagai burung yang mirip dengan lambang negara Indonesia, yaitu Garuda. Kalau diperhatikan detailnya, kemiripan itu ada pada kepala dan kakinya yang berbulu hingga sampai pangkal cakar. Garuda adalah hewan yang menjadi tunggangan Batara Wisnu, di dalam mitos kebudayaan Hindu.

Sabtu siang (12/11) yang terik. Setelah bersantap makan siang dengan menu yang menggugah selera sehingga berkeinginan untuk tidur sejenak, sosok itu diminta untuk segera beberes. Itu adalah hari terakhir dirinya bisa menikmati udara Kamojang yang sejuk. Kamojang adalah nama sebuah gunung yang dikenal juga dengan nama gunung Guntur. Kawasan ini terkenal dengan aktivitas panas buminya karena di sanalah terdapat PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) yang dikelola oleh Pertamina dan sebagian uap panasnya dijual ke Indonesia Power. Gunung Kamojang termasuk jenis stratovolcano yang berada pada ketinggian 1.730 meter dan sungguh beruntung sosok itu bisa mengunjunginya kembali setelah berpuluh tahun kemudian. Selain aktivitas kawahnya yang sampai saat ini menjadi tujuan wisata, dia juga ingin melihat Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK).

Continue reading “Konservasi Elang Jawa Bukti Kepedulian Pertamina Mendukung Keanekaragaman Hayati”

4 Wisata Edukatif di Pontianak

Ada beberapa keinginan yang belum tercapai bagi sosok itu. Salah satunya adalah ke Pulau Kalimantan. Bisa berkeliling Indonesia minimal ke pulau-pulau besarnya tentu amat menyenangkan. Alhamdulillah dirinya sudah pernah ke Pulau Sulawesi dan Sumatera. Tinggal Kalimantan dan Papua yang masih masuk ke dalam ‘plan list‘. Nah, kota pertama yang ingin dikunjungi di Pulau Borneo itu adalah Pontianak. Mengapa? Indonesia adalah negara tropis karena dilewati oleh sebuah garis maya bernama Khatulistiwa. Pontianak adalah satu-satunya kota besar yang dilewati garis ini sehingga dikenal sebagai Kota Khatulistiwa. Jangan ditanya soal suhunya. Katanya, sih, lebih panas. Wow!

Kota Pontianak telah ada sejak 1771 dan ibukota provinsi Kalimantan Barat ini memang hanya berjarak sekira 700 km dari Jakarta, tetapi harus menyeberangi lautan. Perlu waktu lama untuk ke sana dengan menggunakan kapal laut, terkecuali punya waktu yang panjang. Alternatif lainnya bisa menggunakan moda pesawat yang sudah pasti mahal. Namun ada beberapa maskapai penerbangan bertarif murah di Indonesia ini. Salah satunya adalah Aviastar Air. Hanya butuh waktu sekira 1 jam untuk dapat terbang bersama Aviastar Air dengan lama penerbangan sekitar 1 jam. Meski dicap sebagai kota yang bertemperatur lebih panas sehingga terasa terik, bukan berarti kota ini takmenarik. Sosok itu ingin sekali mengajak keluarga kecilnya berjalan-jalan menikmati 4 Wisata Edukatif di Pontianak.

1. TUGU KHATULISTIWA

jalan-39

Sebagai Kota Khatulistiwa, tentu Pontianak memiliki ikon wisata yang khas, yaitu tugu khatulistiwa. Dengan ketinggian 3,05 meter, tugu ini telah berdiri sejak 1928 di Siantan. Bagi sosok itu, jelas menjadi agenda wajib kalau nanti berkunjung ke Pontianak harus berselfie ria di tugu tersebut. Oya, dalam setahun ada dua fenomena alam yang tidak boleh dilewatkan, yaitu titik kulminasi matahari alias peristiwa saat matahari berada persis di atas garis khatulistiwa. Fenomena tersebut hanya terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Mengapa hal ini menarik? Ini karena pada tengah hari, semua bayangan di sekitar tugu akan menghilang. Wahhh, jelas momen yang tidak boleh dilewatkan.

2. MUSEUM KALIMANTAN BARAT

Jalan-40.jpg

Setelah mempelajari ilmu pengetahuan alam, kini saatnya bagi sosok itu untuk mempelajari kebudayaan. Di Pontianak jelas ada, tepatnya di Museum Kalimantan Barat yang terletak di Jln. Jendral Ahmad Yani. Ada yang sudah pernah ke sana? Katanya, museum ini terbagi menjadi 3 zona dengan koleksi yang beraneka ragam. Semua itu bisa disaksikan oleh siapa saja pada setiap hari Selasa hingga Kamis. Di museum yang berdiri sejak 1974, dia ingin sekali mempelajari sejarah Kota Pontianak. Melihat peta-peta zaman dahulu, memperhatikan jenis bebatuannya, peninggalan kerajaan, atau menatap takjub keramik dan barang-barang pecah belah peninggalan Cina, Eropa, Jepang plus Vietnam. Replika atau miniatur beberapa bangunan bersejarah juga ada, lho. Dengan mempelajari budayanya, percayalah bahwa siapapun bisa belajar banyak.

3. HUTAN KOTA

jalan-41

Sosok itu suka dengan pemandangan alam. Setelah puas belajar IPA dan Budaya, tentu akan lebih enak kalau melepas kepenatan di alam terbuka. Setelah puas berkeliling Kota Pontianak, ada baiknya langsung ke Kompleks Universitas Tanjungpura. Ya, di sana ada hutan kota yang menyejukkan. Dengan luas 3,2 hektar, hutan ini menampung beragam koleksi tanaman yang membuat mata melek dan menyegarkan. Bisa buat menghilangkan stres. Bagi yang suka anggrek, sila melipir ke mari. Ada juga bungor, mensira, kantong semar, dan tanaman lainnya yang mungkin belum pernah dilihat. Sosok itu jelas amat menyukainya. Belum menyaksikan berbagai jenis satwa seperti keluarga primata, burung-burung, atau hewan melatanya. Jalan setapaknya memudahkan siapa pun untuk mengaksesnya. Kalau capek, ada beberapa gazebo sebagai tempat istirahat. Suara gemericik air yang mengalir deras di Sungai Pawan jelas akan menyempurnakan wisata alam ini.

4. TAMAN BUKIT BOUGENVILLE

Jalan-42.jpg

Ingin wisata alam yang berbeda? Cus ah ke kaki bukit Gunung Pasi, Desa Sijangkung, yaitu ke Taman Bukit Bougenville. Meski buatan, tetapi nuansa alamnya begitu menyegarkan, apalagi bagi yang menyebut dirinya sebagai pecinta bunga. Jelas sosok itu akan terpana melihat hamparan bunga di tempat ini. Dengan luas 1,5 hektar siapapun akan merasa betah. Bayangkan, ada 46 jenis bunga Bougenville, sri rejeki, atau anggrek bisa dinikmati sepuasnya. Semua itu bisa dinikmati hanya dengan tiga jam perjalanan dari pusat kota Pontianak. Eh, di sana juga ada tanaman buahnya yang terbilang lengkap. Kira-kira, buah-buahannya bisa dimakan gak ya? Aduhhh … semoga dia masih berkesempatan mengunjunginya dalam waktu dekat ini dan tidak perlu bertanya-tanya lagi.

4 Wisata Edukatif di Pontianak tersebut jelas menjadi prioritas utama kalau sosok itu diberi rezeki untuk ke sana. Kalau kamu … iya kamu, apakah ada spot menarik lainnya yang bakal didatangi? Kalau ada, kasih tahu ya. Saling tukar informasi lah. Siapa tahu jodoh bisa jalan-jalan bareng. Amiiin.[]

Semua Demi Jakarta Marathon

Subuh. Waktu seakan-akan bergerak begitu lambat. Tetiba semua yang ada di sekitarnya lenyap. Menghilang tanpa bekas. Sorak-sorai menguap begitu saja. Hanya ada suara nafas dirinya. Dia berusaha mengaturnya agar tidak putus di tengah jalan. Oksigen yang dihirup harus sesuai hitungannya dengan karbondioksida yang dikeluarkannya. Bergerak teratur. Langkah kakinya dijaga agar tetap stabil. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Bergerak mengikuti irama yang telah dilatihnya beberapa kali. Udara diusahakan menyatu dengan dirinya. Menjadi energi yang menstimulasi kerja otot tubuhnya. Angin tersenyum. Dedaunan menstimulasi kebahagiaan. Bangunan tua mengedip. Ini hari istimewa baginya.

Meski pernah mengikuti acara lari dengan jarak yang lebih jauh (baru pertama kali dan terbilang nekat plus banyak jalannya), namun baginya ajang lari kali ini begitu berbeda. Gaungnya mendunia. Apalagi melewati jalan utama metropolitan yang sehari-harinya padat dengan kendaraan bermotor. Polusi di mana-mana. Berjubel di dalam bus bercap Transjakarta kalau harus pergi ke suatu tempat yang melewati Harmoni. Namun hari itu istimewa. Kota seolah-olah ingin memberinya semangat dengan memberi ruang lebih bagi dirinya untuk berlari dengan nyaman. Sosok itu bahagia. Jakarta Marathon telah memberinya secuil kebahagiaan pada pagi itu. Takpeduli dengan catatan waktunya nanti. Takpeduli dengan orang lain yang berlari lebih cepat sehingga kerap mendahului. Baginya sudah cukup. Ada keluarga tercinta yang mendukung. Ada kawan-kawan yang turut bersemangat di hari yang sama.

Awal start yang serabutan. Dia sendiri tidak yakin apakah benar telah mengikuti titik start yang sesuai dengan kategorinya. Subuh itu terlalu crowded. Terlalu cepat dari sejak shalat Subuh hingga harus melepas Sang Belahan Jiwa bersama Adik Anin yang tidak bisa masuk ke area lomba. Tetabuhan musik begitu keras bergema. Sosok itu hanya tahu, dia agak terlambat start karena dari beberapa pembicaraan dan melihat beberapa orang di sebelahnya hanya ada BIB kategori 5K. Kalaupun ada yang berkategori sama, itu hanya beberapa. Maka dia pun berpacu dengan cepat, meski yakin bahwa ada mesin pencatat otomatis dari start hingga finish. Dia berlari zigzag karena kerumunan di titik start itu tidak menyenangkan, apalagi beberapa pelari langsung berjalan padahal 1K saja belum sampai. Budaya untuk saling menghargai antarpelari belum sepenuhnya tercipta. Selepas 2K barulah dia bisa bernafas lega karena sudah keluar dari kerumunan. Paling tidak pace-nya sudah teratur dan terjaga.

Jalan-44.jpg

Dari awal memulai lari sebagai bagian dari hobinya, dia memang tidak memedulikan kecepatan. Faktor yang terpenting harus dijaga … adalah kenyamanan. Nafas yang teratur, dan bagaimana bisa ‘finish strong‘ tanpa harus berjalan sama sekali. Target yang tidak muluk-muluk. Meski kesal karena ada beberapa peserta yang ‘cheating‘ dengan memotong jalan, dia terus berlari dengan ‘enjoy‘. Menikmati air pemuas dahaga di beberapa water station sambil memperhatikan sampah bekas minuman. Bertegur sapa dengan Kak Maria/Ari dan sempat wefie, lalu berpisah karena pace yang berbeda. Tidak masalah. Apalagi saat detik-detik menjelang finish. Semua seolah gempita menyambutnya. Larinya bertambah kencang. Sorak-sorai membahana. Nafas memburu dengan jantung yang terus bergerak begitu cepat. Hingga akhirnya … dia mengangkat tangan sebagai bukti kepuasan yang paripurna. Finish mengikuti ajang Jakarta Marathon 2014 untuk kategori 10K. Ajang internasional pertamanya meski belum pernah mendapatkan medali 5K sekalipun dengan catatan waktu 01:34:13 dan pace 6,4. Hari itu, 26 Oktober 2014, padahal dia baru memulai ikutan ajang lari akhir September 2014. Baru sebulan!

MENEMPUH BANDUNG-JAKARTA DENGAN MOTOR

Mungkin dia termasuk orang-orang yang terbilang nekat. Beberapa mengatakan, “Gila!” Bukan masalah larinya dengan memilih kategori 10K, sementara dirinya belum pernah ikut ajang lari 5K. Akan tetapi bagaimana prosesnya hingga dia memutuskan untuk ikutan JakMar, lalu kembali memutuskan untuk naik motor Bandung-Jakarta PP bersama anak dan istrinya. Semua itu … terbilang nekat. 30 September 2014 adalah titik awalnya. Berbincang sesaat dengan seorang kawan betapa keinginannya bisa mengikuti ajang lari untuk kali pertama. Gayung bersambut. JakMar dijadikan pilihan. Hanya satu bulan kurang buat persiapan. 1 Oktober 2014 ada kabar bahwa namanya sudah didaftarkan. Ini ajang pertama. Jadi wajar kalau dia pun bertanya terus bagaimana proses setelahnya. “Pokoknya harus ambil racepack dulu pada tanggal yang sudah ditentukan.” Oke, dia baru tahu istilah racepack.

Hampir setiap hari dia berlari. Sekuatnya. Untuk detailnya bagaimana dia lari sila baca postingan Siliwangi 10K. Namun selama itu, dia belum pernah bisa lari sejauh 10K. Hingga akhirnya kegembiraan menghampirinya. 2 Oktober 2014, bertepatan dengan Hari Batik Sedunia dan adzan maghrib, dia berhasil berlari dengan jarak 10K untuk pertama kalinya. Catatan waktunya adalah 01:43:10. Lumayan. Ada rasa optimis bahwa dia mampu untuk mengikuti JakMar. Latihan tinggal digeber agak santai, yang penting otot kakinya tidak kaget saat hari H. Selanjutnya adalah memikirkan bagaimana caranya bisa ke Jakarta dan kembali lagi ke Bandung. Ini perjuangan yang tidak mudah. Apalagi saat Sang Belahan Jiwa memutuskan untuk turut serta. Itu artinya kedua puterinya atau salah satunya juga harus ikut. Glek!

Jalan-45.jpg

Bismillah. Persiapan dilakukan seadanya. Motor pun tidak sempat diservis karena dana kurang, dan jadinya hanya Adik Anin yang diajak, sehingga harus izin untuk tidak masuk sekolah. Setelah semua persiapan beres, Sabtu pagi pada 25 Oktober, mereka bertiga berangkat menaiki Honda Fit-S. Motor jadoel yang masih mumpuni. Menyapa matahari yang makin memanas dan menembus kemacetan di daerah Cibeureum hingga Padalarang. Menikmati setiap momen sepanjang Citatah dan Ciranjang, hingga akhirnya memutuskan berhenti di Cianjur. Sarapan bubur ayam demi menjaga agar perut tidak kosong. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Cipanas yang menanjak dan semakin terjal hingga ke Puncak. Lalu kembali beristirahat sambil menunaikan Shalat Dzuhur jama’ Ashar di Masjid At-Ta’awun yang membuat hati jadi adem. Gerimis mengundang. Setelah makan kue gemblong yang banyak dijajakan, perjalanan dilanjutkan melewati Bogor ke arah Depok.

Jalan lurus yang bikin bete, seperti takusai-usai. Belum disambut hujan yang makin menderas. Satu-satunya jalan adalah melipir sejenak di halaman sebuah minimart sambil menikmati minuman penyegar dan cemilan seadanya. Jas hujan ada, tetapi lebih nyaman beristirahat sejenak. Kasihan Adik Anin kalau harus hujan-hujanan. Motor hitam dinyalakan kembali saat hujan mereda. Sempat tersasar di Depok, hingga akhirnya selamat sampai di Tanjung Barat. Mampir sejenak di rumah saudara pada sekira Ashar. Adik pun bersenang-senang dengan kucing peliharaan yang berbulu indah. Memaksimalkan waktu untuk ngobrol dengan semua anggota keluarga. Lewat setengah jam, saatnya jalan kembali ke tengah kota metropolitan bernama Jakarta. Untunglah tidak terlalu macet, hingga akhirnya sampai di Senayan menjelang maghrib. Tempat pengambilan racepack. Bertemu dengan beberapa kawan pelari dari Bandung, termasuk Pak Surachman yang menjadi komandan saat Independence Run 2014 beberapa bulan sebelumnya. Sebelumnya dia juga pernah menemani beberapa pelari Bandung ke Jakarta di ajang Long Run for Leukemia.

Jalan-46.jpg

Antri saat racepack itu pengalaman takterlupakan, sama dengan pengalaman di atas saat menjadi marshal pesepeda. Termasuk saat cek kesehatan yang ternyata badannya belum terbilang ideal. Racepack yang dimaksud ternyata banyak, selain kaos dan nomor dada, juga ada beberapa produk sponsor plus petunjuk area lomba. Setelah mengobrol asyik dengan Pak Surachman dan istri sambil lesehan, kembali mereka bertiga melanjutkan perjalanan motornya ke arah Kelapa Gading selepas maghrib. Itulah rumah orangtua terkasih sebagai tempat berlabuh. Adik Anin tentu senang bertemu dengan Mbah Ti dan Mbah Kung-nya. Ajang lari bisa dimanfaatkan untuk silaturahmi dengan keluarga tercinta. Meski sebentar, semua disambangi dengan hati terbuka. Malam itu menjadi malam bahagia bagi semuanya, dan akhirnya harus istirahat di awal malam untuk menyimpan banyak tenaga setelah lebih dari 12 jam di atas motor. Sekira pukul 03.00 dini hari sosok itu telah bersiap-siap, begitu pula dengan Sang Belahan Jiwa dan Adik Anin. Setelahnya, motor hitam kembali melaju di jalanan Jakarta yang sepi, menuju Monas. Sekira pukul 04.00 motor telah diparkir di area Gambir, dilanjut persiapan untuk shalat Subuh. Mayoritas jamaah di Masjid At-Tanwir adalah para pelari. Subhanallah.

Jalan-47.jpg

SERU-SERUAN NAIK MOTOR JAKARTA-BANDUNG

Sosok itu akhirnya ‘finish strong‘, tanpa harus beradegan jalan kaki. Kalaupun berhenti, hanya untuk wefie atau untuk mengambil air minum di WS. Dan saat finish, semua terasa begitu indah. Ibarat film kartun, tetiba bermunculan berbagai aneka kembang api bersamaan dengan mekarnya jutaan bunga di sepanjang jalan. Semesta berteriak senang. Dia pun berhak mendapatkan medali 10K pertamanya, lalu diberikan pisang dan air isotonis dari produk kenamaan. Waktunya terbilang lumayan untuk seorang ‘newbie‘. 1 jam 34 menit 13 detik. Setelah mengobrol sebentar dan wefie dengan Arie yang sama-sama blogger, dia pun taksabar untuk bertemu dengan keluarga kecilnya. Adik Anin begitu sumringah dengan abinya. Ia pun meminta medali tersebut untuk bisa dipakainya dengan bangga, apalagi ia memang sudah memakai kaos larinya. Sosok itu cukup dengan kaos CKS. Sang Belahan Jiwa pun bercerita betapa dirinya panik saat Adik Anin sempat menghilang saat sosok itu lari. Untunglah berhasil bertemu kembali pada waktunya. Semua bahagia.

Jalan-48.jpg

Sempat jalan-jalan sebentar di area lomba melihat beberapa jajanan, mereka bertiga kemudian memutuskan untuk pulang ke Kelapa Gading. Panas sang surya semakin menyengat. Lahan parkir yang tadi subuh masih sepi, ternyata telah berubah menjadi lautan motor. Antri yang begitu panjang dan lama. Kemudian ditambah dengan kemacetan khas Jakarta setelahnya. Sampai di Kelapa Gading, cerita pun mengalir agar tersampaikan dengan baik kepada Mbah Ti dan Mbah Kung. Istirahat sejenak menghilangkan penat, dan tidak bisa tidur, akhirnya mereka harus berpamitan pulang. Meninggalkan Jakarta untuk kembali ke Bandung, tepat setelah Ashar. Jalanan yang padat, berkejar-kejaran dengan cuaca yang tidak bersahabat. Benar saja, belum sampai Bogor hujan turun dengan derasnya, memaksa sosok itu untuk menepikan motornya, berteduh di sebuah warung kecil. Mie rebus menjadi penghangat tubuh mereka yang mulai membasah. Adzan maghrib berkumandang. Setelah hujan mereda, mereka berjalan lagi memasuki kota Bogor, hujan lagi, berhenti lagi, reda lagi, jalan lagi hingga dia merasa ban depan motornya bermasalah. Menyempatkan diri mampir ke bengkel yang masih buka, ternyata batang as roda depan harus diganti. Disetujui meski sisa dana tinggal Rp5ribu.

Setelah beres, motor hitam digeber lagi menembus Bogor yang tiba-tiba saja macet luar biasa di Jl. Pajajaran. Lumayan lama. Belum lalu lintas yang dipaksa untuk satu arah, dan memaksa semua pengendara motor untuk memutar jauh melewati terowongan gelap dan akhirnya bisa ke jalur Puncak. Malam gelap. Dingin. Dan tetiba hujan turun dengan derasnya. Mereka bertiga terpaksa berteduh di toko kecil yang tutup. Gelap. Lama sekali. Hujan mereda setelah hampir dua jam, perjalanan dilanjutkan dan sempat mampir di Pom Bensin Puncak untuk shalat Maghrib dijama’ Isya dengan kondisi pakaian rada basah. Sampai Puncak, sudah tengah malam dan kabut yang tebal. Dingin menusuk. Sosok itu memacu motornya dengan hati-hati. Beberapa bagian jalan terasa gelap dan sepi. Adik Anin dan Sang Belahan Jiwa mungkin sudah terlelap. Sebelum sampai Citatah, dia merasa letih. Matanya sudah tidak bisa ditahan lagi, akhirnya mampir ke SPBU Citatah dan langsung tidur di terasnya. Begitu pula dengan dua anggota keluarganya. Tidak sampai setengah jam dirinya merasa segar. Adik Anin bangun sempoyongan dan hampir jatuh. Terasa lucu, namun juga kasihan. Nggak lagi-lagi mengajak Adik dengan kondisi seperti itu.

Jalan-49.png

Jalanan sepi. Malam menebarkan aroma dingin yang menusuk. Sosok itu sempat teringat pada episode ke belakang saat bersepeda sendirian di tengah malam, pada wilayah yang sama. Ada yang memanggil dari sebuah rumah tua. Tidak ada orang. Tidak ada siapa-siapa. Bulu kuduknya sempat meremang, namun dia tetap melanjutkan kayuhannya dengan kecepatan stabil. Dia tersenyum. Motornya dipacu lagi lebih cepat, hingga akhirnya menemui sedikit keramaian saat memasuki Padalarang. Bandung pun masih sepi. Alhamdulillah cuaca begitu cerah, tidak seperti saat di Bogor. Tanpa terasa mereka bertiga sampai dengan selamat di rumahnya di daerah Ciganitri, terusan Buah Batu. Dia melihat jam dinding, pukul tiga dini hari lebih sedikit. Masih ada waktu barang sejenak sebelum memulai aktivitasnya di hari Senin pagi. Seperti seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dua hari ini. Sang Belahan Jiwa bekerja kembali di instansi kesehatan. Sosok itu tetap mengetik di rumah sambil menemani Adik Anin yang tertidur pulas di kasurnya. Biarlah ia istirahat dan izin kembali tidak masuk sekolah. Kasihan. Dia mengetik sambil memandang medali 10K yang berbentuk baju.[]

Amazing Race My Blue Bird

Amazing Race My Blue Bird memang beda. Ini serius. Sosok itu sudah beberapa kali mengikuti acara berkonsep ‘amazing race‘ dan baru kemarin merasakan aura yang berbeda. Kalau mengerjakan tugas-tugasnya sih tidak jauh berbeda, berfoto di tempat tertentu, mengirimkan data lokasi kalau memang benar-benar sudah di lokasi, posting di media sosial, dan tentu saja berkejaran dengan waktu. Perbedaannya tentu saja karena menggunakan aplikasi pemesanan taksi, maka proses memesan dan menunggu taksi adalah sesuatu yang menyenangkan … sekaligus mendebarkan. Dan dia hanya bisa tersenyum karenanya. Melelahkan. Emosi diaduk secara paksa. Berusaha besinergi dengan baik bersama kawan-kawan satu tim, menembus jalanan kota Bandung sambil berusaha menertawai kehidupan.

Blogger-46.jpg

Langit biru, dengan hiasan beberapa awan yang bergerak amat perlahan. Angin berhembus sedikit, bahkan tidak ada. Matahari pun sudah garang bersinar. Sesaat dia termenung. “Secapek apapun aktivitas ini, kalau dijalankan bersama kawan-kawan jadi tidak terasa. Bahkan menyenangkan sekali.” Sosok itu tersenyum, lalu memperhatikan sekelilingnya. Gita, Efi, Nchie, dan Evi (GENE) beradu kepala bersamanya. Berbaring di tengah track lari warna biru sambil tersenyum atau tertawa. Sementara beberapa kamera dan ponsel mengabadikan aksi mereka. Takada keluh kesah dari bibir mereka semua selama berjalan kaki (plus sedikit lari kecil) dari Taman Jomblo ke Gasibu. Sementara tangan dan pandangan mereka tidak pernah lepas dari ponselnya untuk berstatus di medsos. Bisa jadi … ada ratusan pandangan yang berasal dari para pejalan kaki atau pengendara kendaraan bermotor yang melewatinya.

Yup, Sosok itu bersama GENE bersatupadu di Kelompok Silver Bird sedang mengikuti Amazing Race ala Blue Bird. Ada lima kelompok lainnya yang menjadi saingan. Perbedaannya jelas, kelompok mereka paling terakhir berangkat karena bermasalah dengan gawainya dan paling banyak. Tidak masalah, dibawa senang saja dan dibawa gokil. Itu semua bisa dilihat dari foto-foto yang berseliweran di medsos. Amazing Race ini melibatkan lima pos. Satu pos berfungsi sebagai titik start dan finish, yaitu di NuArt Sculpture Park. Pos 1 di Taman Jomblo, Pos 2 di Gasibu, Pos 3 di Museum Geologi, dan Pos 4 di Monumen Perjuangan. Semua pos itu harus dilewati secara berurutan dengan tugas utama di masing-masing pos adalah berfoto/bervideo, mengirimkan lokasi ke admin, dan tentu saja posting di medsos. Hal biasa itu mah, cuma masalahnya harus berkompetisi dengan waktu. Tidak bisa lengah. Diberi waktu 90 menit. Dan yang terpenting, selalu menggunakan aplikasi My Blue Bird pada saat pergi dan pulang.

Blogger-47.jpg

MY BLUE BIRD DENGAN FITUR BARU

Aplikasi My Blue Bird bukan barang baru, karena telah diluncurkan secara resmi pada 16 Desember 2015 untuk area Metro Bandung Raya. Kebetulan sosok itu diundang dan bertemu dengan Ayah Pidi Baiq sebagai pembicara. Lucu juga waktu itu mendengarkan pengalamannya saat naik taksi. “Aku tuh suka nanya ke Pak Sopir, boleh gak kita gantian, aku jadi sopirnya dan bapak jadi penumpangnya. Dan sampai sekarang aku gak pernah berhasil,” kata Pidi. “Jujur, aku gak pernah mesen atau ngeberhentiin Blue Bird, tau-tau tuh taksi biru udah ada di depanku. Owh ternyata dipesenin sama asistenku.”

Kini, saat menjalani ‘amazing race‘ itu betapa aplikasi My Blue Bird sudah semakin paripurna. Kalau dulu hanya bisa melacak keberadaan taksi yang dipesan, kini semua taksi sudah terlihat jelas di peta. Jadi bisa terlihat dengan jelas beberapa taksi yang paling dekat dengan lokasi. Begitu pula dengan perkiraan ongkos sudah tertera sehingga memudahkan calon pelanggan mempersiapkan dananya. Hanya itu? Tidak. Masih ada fitur baru yang makin memudahkan pelanggan. Salah satunya adalah adanya sistem pembayaran Non-Tunai (cashless). Bayarnya cukup dengan menggunakan eVoucher, kartu kredit, atau kartu debit. Untuk mempermudah jalannya ‘amazing race‘ kemarin, semua kelompok diberikan eVoucher sehingga tidak perlu mengeluarkan uang tunai. Pesan, taksi datang, masukkan passcode, jalan. Mudah.

Passcode itu adalah bagian dari sistem keamanan. Pelanggan tidak perlu khawatir kalau misalnya taksi yang dipesan diserobot oleh orang lain. Tanpa adanya passcode, kartu kredit dijamin aman. Penjelasannya begini … setelah memesan taksi melalui aplikasi My Blue Bird dan ada tanggapan siapa sopirnya dan apa nomor taksinya, secara otomatis pelanggan mendapatkan passcode yang hanya dua digit. Taksi datang dan pelanggan masuk, maka passcode tadi di-enter oleh sopir dan argo pun bisa dinyalakan. Harga yang tertera di argo saat turun akan langsung memotong anggaran di eVoucher, kartu kredit, atau kartu debit. Selesai. Tidak ada transaksi uang tunai atau harus memberikan tip. Ucapan terima kasih dijamin akan membuat sang sopir tersenyum bahagia. Dan pengalaman ini benar-benar dirasakan oleh Kelompok Silver Bird meski start dan finish paling terakhir hehehe.
Sigit P. Djokosoetono, Direktur PT Blue Bird Tbk, menjelaskan bahwa fitur pembayaran non-tunai merupakan jawaban dari berbagai masukan pelanggan. “Dengan pilihan pembayaran yang beragam di My Blue Bird, kami berharap dapat memberikan pengalaman yang lebih baik untuk masyarakat,” jelasnya. Sementara ini, eVoucher hanya cocok untuk pelanggan korporat, yaitu memungkinkan mereka mengelola kebutuhan transportasi karyawannya dengan mudah. Bahkan penggunaannya bisa dimonitor. Sedangkan khusus pengguna kartu kredit, semua kartu yang berlogo Mastercard dan Mandiri akan mendapatkan diskon hingga Rp20.000 selama periode promo. Caranya, cukup dengan memasukkan kode promo MBBPROMO saat memesan taksi. Sementara promo ini hanya berlaku untuk 5 (lima) kali perjalanan dan di kota Jabodetabek, Surabaya, Bandung, dan Bali. Tertarik?

Blogger-48.jpg

PENGALAMAN LUCU SAAT AMAZING RACE

Setiap peristiwa, baik sendirian atau beramai-ramai, selalu saja ada kejadian lucu. Silver Bird adalah kelompok yang imajinatif. Semua dijalani dengan tawa dan canda. Memarahi anggotanya yang telat saja tetap ditanggapi dengan senyuman. Heh, jadi kepengen ngulek sambel #eh. Namun dari semua kejadian seperti foto yang diambil dengan angle atau gaya yang tidak biasanya hingga perasaan sosok itu bak Jaka Tarub yang mencuri selendang bidadari hingga dikejar oleh empat bidadari dari Priangan (ehm), ada dua kejadian menyebalkan sekaligus membuat tertawa kalau mengingatnya kembali. Pertama, sebagai kelompok terakhir di Pos 4, tugas utamanya adalah wefie di depan Monju. Apa daya hujan turun dengan derasnya sementara di sana adalah tempat tanpa bangunan. Demi tanggung jawab, jadilah wefie basah-basahan yang beberapa kali gagal karena tabletnya terkena hujan. Sambil kedinginan dan mengelap sang gadget dengan kaos atau jilbab sambil ditatap heran oleh sekelompok satpam penunggu pos, tiap anggota Silver Bird tetap rajin memposting status di media sosial. Duh ya … sampai segitunya.

Kedua, saat taksi tiba. Setelah berlama-lama menunggu taksi yang sudah dipesan bersama para tukang ojek di pos ojek (karena memang hujan masih turun dengan deras dan sambil ngemil bala-bala), sebuah taksi melaju tanpa dosa. Bukannya berhenti malah masuk ke dalam Gang Haur Pancuh. Ya Allah … tega-teganya. Panik karena tablet yang diberikan panitia tanpa pulsa dan setiap ditelpon pakai gadget lain malah dimatikan, untunglah ada nada merdu beberapa menit kemudian. Langsung saja, “Pak, punten. Kami ada di depan gang lagi berteduh di tenda yang entah akan bertahan berapa lama. Mobil Bapak tadi lewat dan malah masuk gang. Mau beli bubur kacang ijo kah?” Sebenarnya gak tega menceritakannya, tapi sang bapak menjawab, “Aduh maaf, Jang. Kalau begitu saya putar balik dulu ya….” Drama tidak berhenti sampai di sini saja. Apalagi taksi yang dipesan adalah sedan Limo, bukan Mobilio, karena terburu-buru. Empat bidadari langsung diuyel-uyel ke dalam taksi kecil di bagian belakang.

Blogger-49.jpg

Taksi berhenti di mulut gang. “Berapa passcode-nya?” tanya sang sopir yang bernama Pak Asep. “53,” jawab sosok itu. Passcode dimasukkan, namun saat dipijit OK malah jadi 533. “Aduh, kok, gak bisa ya?” Panik. Coba diulang, bismillah. Tetap gak bisa. “Pak, punten, mungkin jalan sedikit ke depan, taksinya nutupin jalan,” kata sosok itu. Taksi berjalan, lalu kembali mencoba memasukkan passcode. Gagal maning. Pak Asep tampak panik. Ada suara operator masuk, “Ada masalah, Pak?” Pak Asep mengangkat ponselnya, “Iya, Pak. Ini passcode-nya gak bisa masuk, padahal mijitnya dah bener.” Sosok itu menghela nafas panjang, “Pak, suaranya dari radio itu, bukan dari ponsel.” Pak Asep jadi tengsin, tapi dia langsung mendekatkan bibirnya ke radio. “Pak, saya telepon ya biar lebih jelas,” kata sang operator. Nada dering bergema. “Iya, Pak. Ini gimana ya? Saya mijitnya dah bener lho. Kok, keluarnya malah tiga angka?” Pak Asep masih terlihat panik, mengadu pada ponselnya. Sosok itu kembali menghela nafas panjang, “Pak Aseeep, itu ponselnya belum dipijit oke. Gimana operatornya mau denger?” Pak Asep kembali tengsin.

GENE asyik saja tertawa di belakang sambil mengunyah bala-bala dan gehu. “Sabar, Pak. Jangan panik. Santai aja. Kami gak buru-buru, kok.” Hingga akhirnya … setelah pesanan pertama dibatalkan lalu memesan taksi lagi dan mendapat passcode baru. Bismillah. Pak Asep memijit passcode-nya dengan hati-hati. Setelah dua digit selesai, tombol ‘down’ dipijit beberapa kali sehingga kotak panah menuju ke kata ‘OK’. Pak Asep memijit OK. Alhamdulillah berhasil. Argo pun langsung dinyalakan. Kelompok Silver Bird langsung bergemuruh bertepuk tangan. Horeee! Perjalanan pulang dari Monju ke NuArt Sculpture Park terasa begitu membahagiakan, sementara di luar hujan masih saja menderas. Meski kelompok mereka tidak menang dan bahkan berbonus basah, makan siang setelah sampai terasa begitu nikmat. Kebersamaan tercipta dengan mesranya. Paling tidak, Amazing Race My Blue Bird telah membuktikan bahwa aplikasi tersebut telah benar-benar siap. Ada perasaan nyaman saat bisa naik taksi tanpa harus mengeluarkan uang tunai. Mau coba gak?[]