Kisah Baju Batik Berwarna Cokelat

Lelaki tua itu menatap wajah istrinya dengan lembut. Menunggu.

“Maaf, mungkin pertanyaan ini terlalu telat. Tapi aku penasaran.”

“Soal apa, Bu?”

“Soal baju itu. Baju batik yang sering kaukenakan untuk mengisi ceramah di berbagai tempat itu. Kenapa baju itu yang sering kaukenakan. Bukankah masih banyak baju lain yang lebih bagus dan lebih layak?”

Continue reading “Kisah Baju Batik Berwarna Cokelat”

Resep Lompong Sagu ala The Trans

Sebelumnya sosok itu pernah menulis tentang menu asyik khas Minang, yaitu Babuko Basamo yang diselenggarakan oleh The Trans Luxury Hotel Bandung. Kalau diperhatikan di bagian foto, terdapat makanan yang mirip banget dengan otak-otak. Apa benar itu adalah otak-otak khas Palembang? Bukan. Bahkan jauh dari yang namanya asin dan pedas. Bentuknya mirip, tetapi rasanya manis. Itulah yang disebut dengan Lompong Sagu, hidangan khas Sumatera Barat yang dikenal sebagai cemilan saat berbuka.

Cara membuatnya ternyata mudah dan chef hotel memeragakannya bersama Uni Reno. Beruntung sekali sosok itu bisa menyaksikannya secara langsung. Mohon maaf kalau di bulan Ramadhan ini malah diberikan resep yang menggugah iman. Maklum saja, dia mendapatkannya pas sebelum puasa. Bagi yang merupakan warga asli tentu akan menjadi kenangan tersendiri terhadap Lompong Sagu ini. Sedangkan bagi warga lainnya, tentu tidak ada salahnya untuk mencoba dan mempraktikkannya di dapur sendiri. Siap?

Continue reading “Resep Lompong Sagu ala The Trans”

Sudah Jelas, Dilarang Masuk!

Hujan. Basah. Kedinginan. Komplit. Itulah yang terjadi pada hari Selasa lalu, 9 Februari 2016. Sosok itu harus berkejaran dengan waktu menembus hujan yang seolah terus mengerahkan pasukannya untuk menyerangnya dari atas. Kuyup sudah. Tapi janji harus ditepati. Alhamdulillah dia tepat sampai di tempat pakir sebelum pukul 15.00. Dia pun berjalan ke lantai paling atas BTC Mall dengan rasa tidak nyaman pada sepatu dan celananya. Apa daya, semuanya basah. Sampai di Lobby XXI, sudah banyak x-banner tentang film yang akan ditontonnya. Beberapa kru juga hilir mudik dengan kaos hitam bergambar poster film. Sosok itu akhirnya menyapa dan tersenyum pada Raja Lubis, kawan yang mengundangnya.

Dingin yang menusuk dari pakaiannya seperti berkomplot dengan AC ruangan di dalam bioskop, menyerang bertubi-tubi pada dirinya. Film “Dilarang Masuk” persis seperti yang diprediksikan. Semakin membuat dirinya tidak nyaman. Alur yang datar. Kejutan-kejutan munculnya para hantu yang mudah ditebak. Efeknya sederhana saja … cukup dengan hentakan musik. Hingga cerita yang terlalu mengada-ada. Semua (kembali) seperti berkomplot untuk menyerang rasa ‘fun‘ pada sosok itu yang sudah dari awalnya serba menyebalkan. Belum waktu yang diundur dari rencana pukul 15.00 menjadi pukul 16.30. Semua yang ada di film horor inilah yang menyebabkan mengapa dia tidak terlalu suka dengan genre satu itu. Tidak menyenangkan sama sekali.

Continue reading “Sudah Jelas, Dilarang Masuk!”

Inilah Juara 1 Lomba Cerita Rakyat 2015

“Nangis bahagia saya sebagai guru bisa jabat tangan sama Pak Anis Baswedan.”

Lomba-29Itulah kalimat pertama S. Gegge Mappangewa di grup WA khusus pengurus pusat Forum Lingkar Pena (FLP). Kalimat itu hadir bersama sebuah piagam penghargaan yang menyatakan bahwa Sabir didaulat sebagai Juara 1 Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tahun 2015 Kategori Umum/Dewasa. Di bawahnya tertera tanda tangan Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tak berapa lama kemudian, status FB-nya mengatakan, “Alhamdulillah. Juara I Lomba Penulisan Cerita Rakyat Kategori Umum Kemendikbud 2015. Judul cerita: Nenek Mallomo, Lelaki Itu dan Sepotong Kayu yang Bersandar.”

Continue reading “Inilah Juara 1 Lomba Cerita Rakyat 2015”

Tips Menulis Review Produk

Menulis memang membebaskan
Menulis memang menggairahkan
Namun yang terpenting dari semua itu
Siapa di balik sang pena!

Blogger-22Senin, 3 November 2014. Jakarta siang itu masih terik. Belum mengeluarkan Spidi, tubuhnya sudah mengeluarkan keringat. Berangkat hampir pukul 14:00 dari Kelapa Gading menuju FX Lifestyle X’nter dengan bersepeda tentulah bukan perkara mudah. Sinar matahari merupakan salah satu kendalanya. Belum kemacetan, yang memang terjadi di sepanjang perjalanan, apalagi saat memasuki Benhil. Fiuh! Sosok itu pantang ke belakang. Minuman dingin yang dibekalnya cepat memanas. Satu-dua teguk dilakukannya saat ada kesempatan berhenti. Untunglah hawa segar AC di FX Lifestyle X’nter lumayan terasa. Meski hanya segelintir orang yang hadir dan agak mundur dari jadwal, acara pelatihan Menulis Review Produk berjalan dengan baik.

Continue reading “Tips Menulis Review Produk”

Ngeblog Ala Story Telling

Berceritalah | Tertawa dan menangislah
Luapkan semua perasaan … apa adanya

Awal 2000-an gelombang penulis melanda Indonesia, khususnya fiksi islami. Forum Lingkar Pena atau FLP adalah gerbong lokomotifnya dengan beberapa masinis yang saat itu amat dikenal. Salah satunya adalah Helvy Tiana Rosa. Para penulis muda itu menulis banyak hal tentang dunia nyata keislaman, baik yang bernuansa lokal maupun internasional. Dari yang apa adanya, sampai yang tergagap menerjemahkan budaya luar. Sebagian kecil terbilang berhasil dan mulai dikenal, namun sebagian besarnya gagal dan lambat laun hilang ditelan lautan. Habiburrahman El Shirazy adalah satu penulis yang berhasil dikenal hingga karyanya meluas sampai ke layar bioskop. Sosok itu sendiri juga ikut-ikutan, tetapi masalah tenggelam atau terapung bergantung dari pendapat kawan-kawan semua. Dia tidak bisa menyimpulkannya.

Mengapa banyak yang tenggelam? Kalau mau jujur, sosok itu menilai karena ada ‘jarak’ antara penulis dengan karyanya. Penulis tidak melebur bersama karyanya. Dunia penulis adalah dunia A, sedang karyanya adalah dunia X. Tidak pernah bersatu. Pada akhirnya memunculkan opini bahwa karya-karya FLP selalu mengagungkan makna simbolis seperti ucapan salam, gerakan shalat, panggilan ala Arab, dan sejenisnya. Esensi dari karyanya tidak ada. Beberapa penulis memaksakan bercerita apa yang terjadi di Palestina. Dialognya berbahasa Arab tetapi esensi ceritanya gagal. Adanya ‘jarak’ itu memang disebabkan oleh tidak adanya pengalaman pribadi penulis. Adakah penulis yang pernah tinggal atau mampir di Timur Tengah? Kalaupun ada penulis yang berhasil, itu karena penulisnya mau bersusah payah melakukan riset, chat atau berkirim email dengan salah satu warga di sana, dan akhirnya cek-ricek hasilnya.

Continue reading “Ngeblog Ala Story Telling”

Menjejak Sang Patriot

Lomba-14

Apa hubungan Mbak Irma Devita dengan blogger-blogger Jember? Itulah pertanyaan pertama yang terlintas saat mengetahui para blogger Jember mengadakan giveaway berkenaan dengan buku terbaru Mbak Irma. Oke, mungkin sama-sama blogger yang sudah lama saling kenal. Itu alasan sederhana yang bisa dipahami. Sampai kemudian Zuhanna Priit menghubungi sosok itu untuk menanyakan alamat rumahnya. Kemudian, sampailah ‘Sang Patriot’ dengan selamat dan sosok itu pun bisa membacanya. Dan di dalam novel—bukan buku—itulah jawabannya ditemukan, terutama di bagian ‘Sekapur Sirih’. Salam takjub untuk semua yang terlibat.

Continue reading “Menjejak Sang Patriot”

Bos Badir Meradang (2)

Sambungan dari Bos Badir Meradang (1)

Negara Paman Sam boleh berang terhadap Osama. Namun keberangan itu haruslah disesuaikan dengan bukti-bukti yang ada. Janganlah menjadikan keberangan itu menimbulkan kerugian yang akan menambah masalah baru bagi insan-insan yang tidak berdosa. Insan-insan yang hanya mengetahui perjuangan hidup untuk dapat makan sehari-hari dan penghidupan yang layak. Ya, hidup yang layak seperti aku. Tidak menjadi masalah bila kepolisian menuduhku sebagai otak di belakang kasus pengeboman BEJ dan Atrium Senen. Tetapi sekali lagi, apakah layak jika tuduhan itu berlebihan dan memporak-porandakan kehidupanku? Tidak!

“Bagaimana dengan penyelidikan yang kamu lakukan selama ini, Paijo?” tanyaku sambil menuangkan scotch ke dalam sloki.
“Hampir berhasil, Bos.”
“Hampir berhasil bagaimana!?” hardikku.

Continue reading “Bos Badir Meradang (2)”