Bersepeda dari Tapaktuan ke Tebing Tinggi

Perjuangan tidak pernah berhenti.
Setiap perjalanan selalu menyisakan pengalaman yang berbeda.
Meski rute dan treknya rada mirip,
selalu saja ada kejadian unik dan tentu saja pemandangan berbeda.

Sosok itu menarik napas panjang lagi. Ingatannya dipertajam tentang apa yang sudah dilakukan selama seminggu menjelajah Bumi Serambi Mekah hingga ke Sumatera Utara. Momen-momen indah bisa meliuk-liuk di sepanjang jalan Lintas Barat Sumatera adalah kebahagiaan takterkira. Meski tidak bisa ngagowes bersama para peserta Tour de Sabang-Jakarta 3000K, tetapi menyaksikan mereka dan turut membantu tim logistik plus merekam gambar, seolah-olah dirinya juga turut bersepeda. Frekuensi emosinya sama. Kalau ada yang lambat, turut menjaga. Kalau ada yang bermasalah di jalan, langsung berhenti dan mencari tahu ada apa. Yang pasti, dia berusaha agar tidak ada yang tertinggal dan finish bersama-sama.

Baca dulu deh tulisan sebelumnya:
Tour de Sabang-Jakarta 3000K
Bersepeda dari Banda Aceh ke Tapaktuan

Continue reading “Bersepeda dari Tapaktuan ke Tebing Tinggi”

Advertisements

Bersepeda dari Banda Aceh ke Tapak Tuan

Satu hari persiapan dan empat hari perjalanan mendokumentasikan para peserta Tour de Sabang-Jakarta 3000K telah dilewati. Pada saat berangkat dari Bandung, hanya satu orang saja dikenalnya, yaitu Mas Anjar yang juga seorang blogger. Berada di tempat asing selalu menjadi tantangan bagi sosok itu agar dirinya menjadi tidak terasing. Targetnya sederhana, yaitu menciptakan persahabatan dan kebahagiaan di kampung halaman berikutnya. Tidak lagi ada istilah ‘asing’ karena inilah Indonesia. Selama masa itulah dia juga menjadi akrab dengan semua tim: Panitia Inti dari Jakarta, Panitia Lokal, dan tentu saja Peserta Pesepeda dari Jakarta, Malang, Makassar, dan Aceh.

Baca dulu rute pertama:
Tour de Sabang-Jakarta 3000k

Continue reading “Bersepeda dari Banda Aceh ke Tapak Tuan”

Tour de Sabang-Jakarta 3000K

Lelahnya tidak jauh berbeda dengan keletihan para pesepeda. Selama di jalan, dia harus memikirkan angle dan background foto sementara pesepeda tidak boleh terganggu. Ya, pekerjaan #TravelBlogger kali ini begitu berat. Tidak mudah menjalankannya.

Minggu pagi, 15 Oktober 2017, sosok itu telah bersiap diri di depan Asrama Haji Banda Aceh. Lima sepeda sudah dinaikkan ke atas mobil, sisanya dinaiki oleh pemiliknya masing-masing (katanya mau diboseh terlebih dahulu mampir ke Museum Tsunami). Dia menarik napas panjang. Tanpa disadari dirinya sudah berada di Tanah Rencong selama 3 (tiga) hari. Padahal baru kemarin dia melakukan perjalanan 16 jam dari Bandung ke Pulau Weh. Mulai dari naik Bus AKAP, ojek online, pesawat, kapal ferry ekspres, dan bus jemputan. Akan tetapi dia begitu menikmati setiap momen yang dijalaninya karena itulah petualangan dan kehidupan yang dipilihnya. Setiap perjalanan selalu menyisakan kenangan takterlupakan, dan kali ini juga begitu.

Baca juga:
Menuju Indonesia Bersepeda
Bersepeda Bugarkan Jantung

Continue reading “Tour de Sabang-Jakarta 3000K”

Menuju Indonesia Bersepeda

Sepoi angin dan burung nan riang
Barisan gigi nan rapi dan mata nan hangat
Manusia mencoba berbaur dalam keharmonisan
Kesempurnaan hidup adalah tujuannya

Cantik adalah dambaan setiap perempuan, meski pada dasarnya semua perempuan itu sudah dilahirkan cantik. Ya, Sang Maha adalah Maha Sempurna. Kesempurnaan hakiki yang tidak perlu lagi diragukan. Tidak perlu lagi dipertanyakan. Paling tidak, percayalah bahwa setiap perempuan itu cantik bagi orangtua dan pasangannya. Atau bagi pengagum rahasia yang belum diketahui keberadaannya. Namun manusia adalah gudangnya ketidakpuasan. Meski ada hati yang selalu menjaga manusia setiap saat, mereka dikaruniai nafsu yang sering tidak bisa dibelenggu. Mereka selalu ingin lebih, selalu ingin diperhatikan. Selalu ingin memenuhi mangkuknya yang sebetulnya sudah penuh.

Ummi menarik nafas sejenak di depan rumahnya. Subuh baru saja beranjak. Langit masih gelap, tetapi ufuknya sudah menampakkan kemerahan yang makin merona. Pagi telah tiba. “Dan semoga saja pagi ini juga cantik,” bisiknya tersenyum. Kecantikan alam yang coba dipadupadankan dengan kecantikan hidupnya. Cantik adalah dambaan setiap perempuan, begitu pula bagi ibu dari dua anak itu. Berbagai cara ditempuh agar dirinya tetap terlihat cantik setiap hari, salah satunya adalah dengan aktivitas bersepeda. Aktivitas berkeringat sebagai penyeimbang hidup. Itulah yang dipahaminya sebagai seorang perawat dan juga pegiat sepeda sejak tujuh tahun lalu.

Continue reading “Menuju Indonesia Bersepeda”

Semua Demi Jakarta Marathon

Subuh. Waktu seakan-akan bergerak begitu lambat. Tetiba semua yang ada di sekitarnya lenyap. Menghilang tanpa bekas. Sorak-sorai menguap begitu saja. Hanya ada suara nafas dirinya. Dia berusaha mengaturnya agar tidak putus di tengah jalan. Oksigen yang dihirup harus sesuai hitungannya dengan karbondioksida yang dikeluarkannya. Bergerak teratur. Langkah kakinya dijaga agar tetap stabil. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Bergerak mengikuti irama yang telah dilatihnya beberapa kali. Udara diusahakan menyatu dengan dirinya. Menjadi energi yang menstimulasi kerja otot tubuhnya. Angin tersenyum. Dedaunan menstimulasi kebahagiaan. Bangunan tua mengedip. Ini hari istimewa baginya.

Meski pernah mengikuti acara lari dengan jarak yang lebih jauh (baru pertama kali dan terbilang nekat plus banyak jalannya), namun baginya ajang lari kali ini begitu berbeda. Gaungnya mendunia. Apalagi melewati jalan utama metropolitan yang sehari-harinya padat dengan kendaraan bermotor. Polusi di mana-mana. Berjubel di dalam bus bercap Transjakarta kalau harus pergi ke suatu tempat yang melewati Harmoni. Namun hari itu istimewa. Kota seolah-olah ingin memberinya semangat dengan memberi ruang lebih bagi dirinya untuk berlari dengan nyaman. Sosok itu bahagia. Jakarta Marathon telah memberinya secuil kebahagiaan pada pagi itu. Takpeduli dengan catatan waktunya nanti. Takpeduli dengan orang lain yang berlari lebih cepat sehingga kerap mendahului. Baginya sudah cukup. Ada keluarga tercinta yang mendukung. Ada kawan-kawan yang turut bersemangat di hari yang sama.

Continue reading “Semua Demi Jakarta Marathon”

Save The Children di Jalan Raya

Anak-anak masihlah dekat dengan dunia ‘unjuk gigi’
Emosinya masih labil dan penuh gengsi
Sangat mudah ‘panasan’ dan tidak bisa menerima
Wajarlah kalau kemudian ada istilah ‘senggol bacok’

Event-75Rabu kemarin (8/10/2014), alhamdulillah sosok itu dapat menghadiri sebuah acara penting yang seharusnya diketahui oleh semua orangtua. Seminar “Keselamatan Berlalu Lintas Berbasis Sekolah dan Sosialisasi Program Selamat Save The Children di Indonesia” berlangsung di Hotel Santika dengan menghadir beberapa pembicara yang mumpuni. Ada psikolog, polisi, pendidik, pihak PKK, dan bahkan termasuk antropolog. Ini semua demi anak-anak kita, terutama selama di jalan raya. Jangan sampai ada korban anak-anak di jalan raya. Salah satunya adalah penegasan aturan tidak bolehnya anak-anak berkendaraan bermotor.

Continue reading “Save The Children di Jalan Raya”

Bersepeda Bugarkan Jantung

Pengguna sepeda untuk berbagai kegiatan, terutama menuju tempat kerja, telah semakin banyak di sekitar perkotaan. Mereka bukanlah orang tak punya, justru sebagian dari mereka adalah para pengusaha muda. Jadi, mereka pun sebenarnya memiliki sepeda motor dan bahkan mobil di rumahnya. Tapi mengapa bersepeda?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), salah satu badan PBB yang bergerak di bidang kesehatan menyebutkan, bersepeda merupakan aktivitas fisik yang murah dan cocok untuk menjaga kesehatan yang bisa dilakukan untuk tujuan kerja, sekolah, dan lainnya. Bahkan studi di Denmark pada tahun 2000 pun mengungkapkan, kegiatan bersepeda ke kantor bisa menurunkan angka kematian sampai 40 persen! Tidak usah diragukan juga kalau sepeda pun telah menjadi salah satu cabang olahraga yang terus dipertandingkan hingga ke tingkat dunia.

Continue reading “Bersepeda Bugarkan Jantung”

Ngaboseh di IDR 2014

Sepeda-26

Sosok itu tidak pernah menyangka bahwa pada hari Sabtu itu (30/8) harus beristirahat di empat masjid yang berbeda hanya dalam satu trip ngaboseh dari Cianjur menuju Bandung. Pertama di Masjid Besar Darussalam, kedua di Masjid Muhammadiyah Rajamandala, ketiga di Mushala SPBU Cipatat, dan yang keempat di Masjid Cibabat, Cimahi. Makna istirahat ini adalah makna yang sebenarnya karena saya saat itu benar-benar harus tidur untuk memulihkan stamina yang memang sudah ngedrop.

Ada dua alasan utama mengapa harus memaksakan diri tidur sementara dia pernah melakukan trip yang sama dari Jakarta ke Bandung dan tidak sampai seperti itu. Satu, sosok itu bersepeda seorang diri. Dua, sebelumnya dia telah menempuh perjalanan 17 jam nonstop. Ya, perjalanan ngaboseh yang melelahkan meski dalam jarak yang tidak terlalu jauh dalam dunia persepedaan. Sangat melelahkan karena selama 17 jam itu dia harus mengayuh dengan kecepatan seorang pelari normal, yaitu hanya 5-7 km/jam. Sebuah trip yang pernah dilakukannya saat menjadi Pesepeda Marshal dalam rangka Long Run for Leukemia pada 13-15 Juni 2014 (PR, 6/7/2014).

Continue reading “Ngaboseh di IDR 2014”