94nesha Berlari di ITB Ultra Marathon 170K

Tiga hari yang bikin tegang, lelah, sekaligus membahagiakan (di ujungnya). Tiga hari yang membuat diri ini lupa bahwa sebenarnya ada kehidupan lain di luar sana. Akan tetapi memang (entah mengapa) semua itu hilang. Hanya menyisakan dialog yang terus saja jalan tanpa henti di dua WAG 94nesha ITB. Kata-kata ‘lari’, ’94nesha’, ‘Ultra Marathon’, ‘leg’, ‘WS’, dan ‘ITB’ terus berputar-putar di pikirannya, termasuk kata-kata turunannya. Seolah-olah gak ada dunia lain selain itu. Padahal ada WA dari Sang Belahan Jiwa yang terus menanyakan, “Sekarang Abi di mana?”, “Pemanasan dulu, Bi”, “Abiii … berapa jam larinya?”, “Masih ada yang lari?”, “Sehat ya, Bi”, “Trus gimana?”, “Abiii, baju meni gak ganti2”, dan seterusnya. Alhamdulillah dia beruntung memiliki istri yang salehah dan begitu perhatian. Wahai para Alumni ITB yang kemarin jadi ‘gila’ gara-gara ITB Ultra Marathon 170K, ingatlah bahwa ada dunia di luar sana selain ITB-ITB-ITB.

Ya, euforia itu terus berlanjut hingga kini dan gilanya … WAG yang sebelumnya berangka 2018 per hari ini sudah berganti jadi angka 2019. Obrolan pun berlanjut pada persiapan menghadapi ITB Ultra Marathon tahun depan. Waduh, istirahat dulu napa? Puncaknya memang tiga hari selama 12-14 Oktober 2018. Tiga hari keramat. The 3 D-Days! Namun sebenarnya ketegangan dan keriuhan itu sudah berlangsung jauh-jauh hari. Sosok itu sendiri baru dijebloskan satu hari setelah Pocari Sweat Bandung Marathon 2018, tepatnya di bulan Juli. Gak tahu kenapa dia jadi ikut-ikutan ‘gila’. Tapi gak papa, ini ‘gila’ yang menyehatkan. Kalau istilah di dunia lari: Racun Sehat. Sama halnya dengan keinginan dia untuk tetap sehat demi keluarga tercinta. Dan buktinya adalah hasil spirometri yang baru diterimanya tadi malam. Berat tubuhnya berkurang dari 80kg menjadi 75kg. FVC-nya naik dari 53,3 menjadi 86,5. FVC adalah kemampuan paru-paru menghirup oksigen. Paru-paru lebih sehat dan berat badan menuju ideal hanya dengan lari selama 3 (tiga) bulan ini.

Continue reading “94nesha Berlari di ITB Ultra Marathon 170K”

Advertisements

We Are Big Family of 94nesha

Sudah H-2 saja nih, menuju #ITBUltraMarathon170K dan sosok itu kebagian di Tim 3 #Relay16 94nesha Runner. Fiuh. Deg-degan? Gak usah ditanya. Apalagi bagi dirinya yang baru pertama kali mengikuti Ultra Marathon. Jujur, bukan jarak total yang dikhawatirkan atau hanya sekadar 10K rute yang bakal ditempuh. Bukan. Jarak segitu nantinya bakal biasa dengan rutin latihan meski dengan pace lambat, kalau sendirian. Justru yang dikhawatirkan adalah ini kerja tim. Kerja 16 pelari. Bahkan kerja banyak orang kalau ditambahi dengan tim support.

Tidak mudah mengumpulkan 16 orang yang mau lari saling estafet dari Jakarta ke Bandung. 16 alumni ITB yang bisa jadi tidak saling kenal, dan kalau pun kenal hanya tahu muka atau nama saja. Dari ke-16 orang itu, apa semuanya pelari tulen? Atau sederhananya menjadikan lari sebagai hobi? Dia kira tidak. Paling hanya 1% atau taruhlah 10% saja yang benar-benar senang lari. Sisanya … hanya sekumpulan alumni yang begitu senang bisa kumpul bareng setelah lebih dari 20 tahun, baru pertama kali lari, kembali merasakan semangat “We Shall Overcome Someday” sehingga “Gaudeamus Igitur” (karenanya marilah kita bergembira).

Continue reading “We Are Big Family of 94nesha”

7.3K dan 17.8K untuk Indonesia

Lari. Sosok itu pernah tersenyum saat mendengar aktivitas yang terdiri atas empat huruf itu. Bisakah dia melakukannya pada usia yang tidak terbilang muda? Hingga kemudian pada 2013-2014 dia terus bergaul dengan kawan-kawan pelari. Mulai dari Aki Niaki (Blogger senior pendiri Batagor) yang tiba-tiba senang lelarian, hingga anak-anak IndoRunners Bandung dan Bandung Explorer. Keterlibatannya di dunia lari dimulai pada Desember 2013 saat bisa ikut acara Outlive Coast to Coast di Ujung Kulon. Dia hanya penggembira sedangkan peserta lainnya adalah pelari tulen. Hingga kemudian dia baru berani lari di ajang Siliwangi 10K pada Mei 2014, ambil yang 5K. Itu pun gak dapat medali finisher karena hanya mampu lari 4K dan peraturan yang memang membingungkan.

Setelah menemani kawan-kawan pelari dari Bandung ke Jakarta di ajang Long Run Bandung-Jakarta for Leukemia dengan bersepeda pada Juni 2014, barulah dia tergerak untuk lari rutin. Beberapa event lari mulai diikutinya, namun dipilih berdasarkan jarak yang berbeda untuk satu medali finisher. Mulai dari ajang “League Grip The Road 2014” untuk kategori 15K, “Jakarta Marathon 2014” untuk kategori 10K, “Super Ball Run 2014” untuk kategori 5K, dan “Hilly We Run 2015” untuk kategori 21K. Setelah itu … siiiiing, kosong. Entahlah, bisa jadi karena faktor pekerjaan yang lumayan menyita waktu, bermain bersama keluarga, dan 1001 macam alasan yang pada akhirnya membuat sosok itu malas untuk berlari lagi.

Continue reading “7.3K dan 17.8K untuk Indonesia”

Bersepeda dari Tapaktuan ke Tebing Tinggi

Perjuangan tidak pernah berhenti.
Setiap perjalanan selalu menyisakan pengalaman yang berbeda.
Meski rute dan treknya rada mirip,
selalu saja ada kejadian unik dan tentu saja pemandangan berbeda.

Sosok itu menarik napas panjang lagi. Ingatannya dipertajam tentang apa yang sudah dilakukan selama seminggu menjelajah Bumi Serambi Mekah hingga ke Sumatera Utara. Momen-momen indah bisa meliuk-liuk di sepanjang jalan Lintas Barat Sumatera adalah kebahagiaan takterkira. Meski tidak bisa ngagowes bersama para peserta Tour de Sabang-Jakarta 3000K, tetapi menyaksikan mereka dan turut membantu tim logistik plus merekam gambar, seolah-olah dirinya juga turut bersepeda. Frekuensi emosinya sama. Kalau ada yang lambat, turut menjaga. Kalau ada yang bermasalah di jalan, langsung berhenti dan mencari tahu ada apa. Yang pasti, dia berusaha agar tidak ada yang tertinggal dan finish bersama-sama.

Baca dulu deh tulisan sebelumnya:
Tour de Sabang-Jakarta 3000K
Bersepeda dari Banda Aceh ke Tapaktuan

Continue reading “Bersepeda dari Tapaktuan ke Tebing Tinggi”

Bersepeda dari Banda Aceh ke Tapak Tuan

Satu hari persiapan dan empat hari perjalanan mendokumentasikan para peserta Tour de Sabang-Jakarta 3000K telah dilewati. Pada saat berangkat dari Bandung, hanya satu orang saja dikenalnya, yaitu Mas Anjar yang juga seorang blogger. Berada di tempat asing selalu menjadi tantangan bagi sosok itu agar dirinya menjadi tidak terasing. Targetnya sederhana, yaitu menciptakan persahabatan dan kebahagiaan di kampung halaman berikutnya. Tidak lagi ada istilah ‘asing’ karena inilah Indonesia. Selama masa itulah dia juga menjadi akrab dengan semua tim: Panitia Inti dari Jakarta, Panitia Lokal, dan tentu saja Peserta Pesepeda dari Jakarta, Malang, Makassar, dan Aceh.

Baca dulu rute pertama:
Tour de Sabang-Jakarta 3000k

Continue reading “Bersepeda dari Banda Aceh ke Tapak Tuan”

Tour de Sabang-Jakarta 3000K

Lelahnya tidak jauh berbeda dengan keletihan para pesepeda. Selama di jalan, dia harus memikirkan angle dan background foto sementara pesepeda tidak boleh terganggu. Ya, pekerjaan #TravelBlogger kali ini begitu berat. Tidak mudah menjalankannya.

Minggu pagi, 15 Oktober 2017, sosok itu telah bersiap diri di depan Asrama Haji Banda Aceh. Lima sepeda sudah dinaikkan ke atas mobil, sisanya dinaiki oleh pemiliknya masing-masing (katanya mau diboseh terlebih dahulu mampir ke Museum Tsunami). Dia menarik napas panjang. Tanpa disadari dirinya sudah berada di Tanah Rencong selama 3 (tiga) hari. Padahal baru kemarin dia melakukan perjalanan 16 jam dari Bandung ke Pulau Weh. Mulai dari naik Bus AKAP, ojek online, pesawat, kapal ferry ekspres, dan bus jemputan. Akan tetapi dia begitu menikmati setiap momen yang dijalaninya karena itulah petualangan dan kehidupan yang dipilihnya. Setiap perjalanan selalu menyisakan kenangan takterlupakan, dan kali ini juga begitu.

Baca juga:
Menuju Indonesia Bersepeda
Bersepeda Bugarkan Jantung

Continue reading “Tour de Sabang-Jakarta 3000K”

Menuju Indonesia Bersepeda

Sepoi angin dan burung nan riang
Barisan gigi nan rapi dan mata nan hangat
Manusia mencoba berbaur dalam keharmonisan
Kesempurnaan hidup adalah tujuannya

Cantik adalah dambaan setiap perempuan, meski pada dasarnya semua perempuan itu sudah dilahirkan cantik. Ya, Sang Maha adalah Maha Sempurna. Kesempurnaan hakiki yang tidak perlu lagi diragukan. Tidak perlu lagi dipertanyakan. Paling tidak, percayalah bahwa setiap perempuan itu cantik bagi orangtua dan pasangannya. Atau bagi pengagum rahasia yang belum diketahui keberadaannya. Namun manusia adalah gudangnya ketidakpuasan. Meski ada hati yang selalu menjaga manusia setiap saat, mereka dikaruniai nafsu yang sering tidak bisa dibelenggu. Mereka selalu ingin lebih, selalu ingin diperhatikan. Selalu ingin memenuhi mangkuknya yang sebetulnya sudah penuh.

Ummi menarik nafas sejenak di depan rumahnya. Subuh baru saja beranjak. Langit masih gelap, tetapi ufuknya sudah menampakkan kemerahan yang makin merona. Pagi telah tiba. “Dan semoga saja pagi ini juga cantik,” bisiknya tersenyum. Kecantikan alam yang coba dipadupadankan dengan kecantikan hidupnya. Cantik adalah dambaan setiap perempuan, begitu pula bagi ibu dari dua anak itu. Berbagai cara ditempuh agar dirinya tetap terlihat cantik setiap hari, salah satunya adalah dengan aktivitas bersepeda. Aktivitas berkeringat sebagai penyeimbang hidup. Itulah yang dipahaminya sebagai seorang perawat dan juga pegiat sepeda sejak tujuh tahun lalu.

Continue reading “Menuju Indonesia Bersepeda”

Semua Demi Jakarta Marathon

Subuh. Waktu seakan-akan bergerak begitu lambat. Tetiba semua yang ada di sekitarnya lenyap. Menghilang tanpa bekas. Sorak-sorai menguap begitu saja. Hanya ada suara nafas dirinya. Dia berusaha mengaturnya agar tidak putus di tengah jalan. Oksigen yang dihirup harus sesuai hitungannya dengan karbondioksida yang dikeluarkannya. Bergerak teratur. Langkah kakinya dijaga agar tetap stabil. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Bergerak mengikuti irama yang telah dilatihnya beberapa kali. Udara diusahakan menyatu dengan dirinya. Menjadi energi yang menstimulasi kerja otot tubuhnya. Angin tersenyum. Dedaunan menstimulasi kebahagiaan. Bangunan tua mengedip. Ini hari istimewa baginya.

Meski pernah mengikuti acara lari dengan jarak yang lebih jauh (baru pertama kali dan terbilang nekat plus banyak jalannya), namun baginya ajang lari kali ini begitu berbeda. Gaungnya mendunia. Apalagi melewati jalan utama metropolitan yang sehari-harinya padat dengan kendaraan bermotor. Polusi di mana-mana. Berjubel di dalam bus bercap Transjakarta kalau harus pergi ke suatu tempat yang melewati Harmoni. Namun hari itu istimewa. Kota seolah-olah ingin memberinya semangat dengan memberi ruang lebih bagi dirinya untuk berlari dengan nyaman. Sosok itu bahagia. Jakarta Marathon telah memberinya secuil kebahagiaan pada pagi itu. Takpeduli dengan catatan waktunya nanti. Takpeduli dengan orang lain yang berlari lebih cepat sehingga kerap mendahului. Baginya sudah cukup. Ada keluarga tercinta yang mendukung. Ada kawan-kawan yang turut bersemangat di hari yang sama.

Continue reading “Semua Demi Jakarta Marathon”