Quality Time yang Romantis/Murah di Pangandaran

Quality time yang romantis/murah di Pangandaran sebenarnya sudah sering dilakukan oleh sosok itu dan sang belahan jiwa. Setiap ada liburan yang diadakan oleh RS Muhammadiyah Bandung, mereka sudah dipastikan akan pergi ke Pangandaran. Pergi bersama seluruh keluarga, sudah pasti. Dan selalu ada momen-momen penting dimana dia menghabiskan waktu bersama Ummi Bindya. Rasa sayang kepada pasangan harus selalu dijaga. Menghabiskan quality time bersama pun menjadi hal yang wajib. Kalau disuruh memilih, maka dia lebih memilih untuk melakukan aktivitas ke tempat wisata yang romantis, meski juga bisa dilakukan di rumah.

Nah, untuk pilihan pertama itu, mereka berdua sudah sering melakukannya di Pangandaran. Sering juga mereka bermotor jarak jauh hanya berdua saja, yaitu saat pergi ke Singaparna sambil nengokin Kakak Bibin. Pengen juga sih ke tempat wisata seperti Pangandaran. Dijamin, yang ada di pikirannya saat itu adalah liburan romantis bersama pasangan. Wuihhh. Liburan ke Pangandaran jelas akan ada banyak tempat yang bisa dikunjungi, secara memang di sana begitu beragam lokasi wisata yang tentunya berbau romantis. Sebelumnya sosok itu sudah dua kali ke Green Valley atau Citumang dan menginap di kontainer yang beraroma hotel mewah.

Continue reading “Quality Time yang Romantis/Murah di Pangandaran”

Advertisements

KRL Akhirnya Sampai ke Cikarang

Mengenal kereta berarti mengenal sejarah manusia itu sendiri. Bagi sosok itu, kereta telah menjadi bagian kehidupannya dari kecil hingga saat ini. Meski seperti layar yang buram, dia masih mengingat jelas beberapa bagian dari masa kecilnya menaiki kereta, terutama kereta jarak jauh dengan rute Jakarta-Madiun PP. Pada saat itu yang paling diingat adalah begitu banyaknya penumpang sehingga harus berlomba-lomba masuk. Kalau mengantuk, bapak atau ibu langsung menggelar koran di bawah bangku dan dia pun tidur dengan lelap di sana. Bangkunya saat itu masih berupa anyaman rotan. Hingga kemudian dia pun merasakan nikmatnya naik kereta Argo Parahyangan saat jadi mahasiswa di Bandung, meski mahal. Dan saat ini, dia sudah wara-wiri naik kereta ke beberapa tempat di Pulau Jawa, dari kelas ekonomi sampai kelas eksekutif.

Sadar atau tidak, kereta telah menjadi kebutuhan pokok manusia di mana saja. Saat dirinya berkesempatan pergi ke Jepang, satu hal yang disesalinya adalah tidak bisa berkesempatan naik kereta cepat Shinkasen. Melihat kondisi lalu lintas sekarang dari Bandung ke Jakarta atau sebaliknya, sosok itu lebih memilih naik kereta daripada harus menggunakan bus atau travel. Begitu pula saat dirinya ditawari naik pesawat dari Semarang ke Bandung, dia malah lebih memilih naik kereta. Entahlah, ada rasa nyaman saat melakukan perjalanan menggunakan kereta. Bisa jadi, salah satu alasannya adalah perjalanan yang tidak berkelak-kelok alias cenderung lurus. Bagi dirinya yang sejak kecil begitu gampang mabok kalau naik mobil/bus, tentu kereta adalah yang paling disukainya. Itulah mengapa dia berharap sekali jalur kereta Bandung-Ciwidey atau jalur Pangandaran dibuka kembali, termasuk tambahan ke arah Ujung Genteng, Ciletuh, dan Palabuhanratu.

Continue reading “KRL Akhirnya Sampai ke Cikarang”

Keseruan Travel Blogger Gathering di Atas Kereta

Keseruan travel blogger gathering di atas kereta kali ini benar-benar akan terjadi. Bukan hanya di tempat tujuan, tetapi juga pada perjalanan menuju ke sananya. Ya, setiap perjalanan adalah pengalaman yang amat berarti. Semakin sulit perjalanannya, tentu pengalaman yang didapatkan akan semakin menarik. Tingkat kesulitan biasanya dihubungkan dengan fasilitas atau difasilitasi dan perjuangan sendiri untuk mencapai titik mepo (meeting point). Sebagai blogger yang ditunjuk untuk membantu, sosok itu memiliki ide berbeda agar peserta gathering mendapatkan pengalaman tersendiri, khususnya dalam perjalanan. Tidak menggunakan mobil sewaan (seperti biasanya), para peserta diminta untuk naik kereta menuju mepo.

Rabu (13/9) siang itu, dia sendiri telah sampai di Stasiun Kiaracondong, tepat pukul 11:00. Rencananya sosok itu akan berangkat naik kereta menuju Stasiun Banjar. Ada beberapa blogger yang akan turut serta dari stasiun yang sama. Total ada delapan orang. Sedangkan dari Jakarta, Bogor, dan Purwakarta, ada lima blogger yang akan menggunakan kereta yang sama, Serayu Pagi. Dari kota lain, juga ada beberapa blogger yang berangkat menuju mepo, seperti Garut, Semarang, dan Jogja. Total, bakal ada 20 blogger yang mengikuti Travel Blogger Gathering di HAU Citumang. Sudah kebayang, kan, gimana serunya nanti?

Continue reading “Keseruan Travel Blogger Gathering di Atas Kereta”

Diari Anin: Pengalaman Membuat Pizza

Pagi itu aku bahagia sekali. Di atas motor, aku dan Arvi tertawa dan terus bercerita. Meski perjalanannya jauh dari Binong ke Cihampelas, aku senang-senang saja karena nanti bakalan bisa berenang di sebuah hotel. Iya, sejak beberapa hari yang lalu Abi memang menjanjikan aku untuk bisa berlibur di hotel. Padahal saat itu aku lagi gak enak badan. Katanya, “Adik harus sembuh ya … nanti kalau sembuh Abi akan ajak Adik berenang di hotel hari Sabtu.” Aku pun langsung bersemangat dan berkata, “Iyes!” Dan pagi itu, di hari Sabtu yang dijanjikan, akhirnya aku dan Arvi benar-benar diajak pergi. Aku senang Abi menepati janjinya. Oya, Arvi adalah sepupuku yang masih duduk di kelas 2 SD, di sekolah yang sama di SDN Karang Pawulang.

Continue reading “Diari Anin: Pengalaman Membuat Pizza”

Bukit Pamoyanan Nan Cantik

Bukit Pamoyanan Nan Cantik terus memperelok Jawa Barat. Dunia pariwisata bumi Pasundan makin berkembang. Sosok itu sebagai bagian dari warga Bandung dan Jawa Barat patut berbangga. Pembenahan dan perbaikan terjadi di berbagai sektor, salah satunya adalah di tingkat desa. Meski belakangan ini kabar tidak enak terjadi karena adanya oknum kepala desa yang menyabotase dana desa, namun peran masyarakat luas bisa mencegah hal tersebut. Blogger pun juga tidak ketinggalan. Sebagai orang-orang yang paham dengan dunia tulisan di internet dan menyebarkan informasi bermanfaat plus pamer jalan-jalan, tugas blogger adalah menjaga desa, lho. Caranya ya bisa dibaca tulisan pada link tersebut.

Hari Sabtu kemarin (26/8) sosok itu menjadi saksi bagaimana Bukit Alam Endah Pamoyanan terus berbenah agar menjadi tujuan wisata baru yang menjanjikan. Selepas lebaran tahun ini, makin banyak orang yang berduyun-duyun mendatanginya. Tujuan mereka hanya dua, yaitu menikmati keindahan kota Subang dari ketinggian dan berfoto sendiri (selfie) atau bersama kawan/saudara. Tidak ada yang lebih nikmat dari kedua hal tersebut. Padahal sebelumnya, bukit yang berpunggung rata itu hanya dikenal oleh beberapa kelompok pecinta alam yang suka berkemah. Hingga kemudian para pemuda Desa Kawungluwuk yang berada di bawah payung karang taruna berinisiatif membangun dua menara bambu. Hasilnya fantastis. Diperkirakan ada 2000-an pengunjung yang datang setiap minggunya.

Continue reading “Bukit Pamoyanan Nan Cantik”

Tugas Blogger Adalah Menjaga Desa

Tugas Blogger Adalah Menjaga Desa — Benar gak ya kalimat itu? Sosok itu terdiam beberapa saat. Lahan kelapa sawit di depannya begitu rimbun meski baru berusia muda, belum siap panen. Dia berdiri dengan suasana hati yang bergemuruh di atas jembatan kayu di tengah perkebunan. Hanya beberapa meter di hadapannya terdapat bendera merah putih yang ditancapkan apa adanya di tanah. Bendera itulah yang nantinya bakal dikibarkan secara serentak pada pukul 10 waktu setempat di seluruh Nusantara keesokan harinya. 17 Agustus 2017. Bisa jadi bendera di atas tanah itu jauh lebih penting nilainya dibandingkan bendera-bendera lainnya. Bendera yang sudah lusuh itulah penanda batas negara. Sosok itu berdiri di atas tanah Indonesia, sedangkan di seberang bendera adalah tanah Malaysia.

Berbicara soal bendera akan panjang sekali. Ada nilai sejarah di sana. Merah putih tidak hanya sekadar kain yang harus dipasang di ujung tiang setiap tahun di pertengahan bulan Agustus. Merah putih tidak hanya sekadar warna yang dengan seenak udelnya bisa dibolak-balik. “Menatap merah putih adalah kebebasan yang musti dijaga dan dibela kibarannya di angkasa raya,” kata Sapardi Djoko Damono. “Kibarannya telah banyak menelan korban nyawa dan harta benda. Menatap merah putih adalah perlawanan melawan angkara murka, membinasakan penindas dari negeri tercinta Indonesia.” Sosok itu mengamini, lalu bersama penyair ternama itu mereka berdua berteriak lantang, “Berkibarlah terus merah putihku, dalam kemenangan dan kedamaian.”

Continue reading “Tugas Blogger Adalah Menjaga Desa”

Merayakan Hari Kemerdekaan di Tapal Batas

Merayakan hari Kemerdekaan di tapal batas memang menjadi pengalaman istimewa bagi sosok itu. Pengalaman yang membuka matanya bahwa dunia ini berbatas, meski memang bahwa Bumi itu bulat. Indonesia dengan ribuan pulau dan laut yang begitu luas, ternyata tetaplah ada batasnya. Okelah dia tidak bisa melihat mana batas negara di atas laut, namun saat melihat dengan mata kepala sendiri bahwa daratan Indonesia itu juga berbatas, dia takjub. Pulau Sebatik adalah salah satu pulau yang berbatas itu: sebelah utara sudah masuk ke wilayah Malaysia sedangkan sebelah selatan milik Indonesia. Bahkan ada salah satu rumah di sana yang halaman depannya berada di Indonesia sementara halaman belakangnya berada di Malaysia. Butuh paspor gak ya untuk bisa menyeberanginya?

Keberangkatannya ke ujung utara Indonesia itu juga unik dan takdinyana. Selepas diundang sebagai pembicara di Aula Janaka Purwakarta, dia langsung diajak oleh Pak Fajar Tri Suprapto, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Kemendes PDTT, untuk melihat langsung kehidupan masyarakat desa di Pulau Sebatik. Katanya, “Akan ada ribuan paskibra yang siap mengibarkan bendera merah putih di sana dan bakal memecahkan rekor MURI.” Sosok itu langsung mengiyakan. Selaku blogger yang secara nurani memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan informasi bermanfaat, tentu kesempatan langka itu tidak boleh diabaikan. Harus cepat diambil keputusan.

Continue reading “Merayakan Hari Kemerdekaan di Tapal Batas”

Menunggu Sunset di Puncak Darma

Foto oleh Kang Djeproet, kawan wartawan

Cahaya itu kembali menggoda
Waktu yang berbeda, situasa yang berbeda
Aku tidak lagi terengah-engah memburunya
Hanya menunggu … langit di atas langit

Menunggu Sunset di Puncak Darma — Bisa dibilang hari itu adalah hari yang hectic. Bahkan semuanya dimulai pada hari sebelumnya. Sosok itu takbisa menolak. “Ini tantangan,” bisiknya. Toh selama ini, dia selalu siap menghadapi segala macam tantangan yang makin membuatnya takpernah berpikir dua kali. Sebagai contoh, alat kebersihan dan kesehatan selalu siap dibawa pergi, meski kabar baru beberapa jam sebelumnya. Kesigapan dan kematangan mengambil keputusan memang kadang ditentukan hanya sekejap saja. Persiapan dimulai sejak pukul 23:00 di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat (Disparbud Jabar) pada malam sebelumnya, dan akhirnya berangkat menggunakan dua mobil kecil dan satu elf pada pukul 01:00 dini hari.

Ya, Disparbud Jabar pada hari Kamis itu (3/8/2017) kembali mengadakan Famtrip 2017 bersama para travel blogger, GenPI Jabar, dan kru media massa. Tujuannya adalah Ciletuh-Palabuhanratu Geopark yang rencananya akan dibagi menjadi tiga trip. Ini dikarenakan betapa luasnya area yang akan dikunjungi dan waktu yang kurang. Satu tempat saja, misalnya di Geoarea Ciletuh, terasa kurang jika hanya tiga hari. Seminggu juga sepertinya tidak cukup. Belum perjalanan jauh yang bakal ditempuh. Buktinya adalah rombongan Famtrip baru sampai di Palabuhanratu pada pukul 07:00 guna sarapan di pinggir jalan yang memang khas. Di sana ada lontong kari, nasi kuning, dan lauk-pauknya. Tinggal pilih.

BACA deh >>> Mengenal Geopark Ciletuh-Palabuhanratu

Continue reading “Menunggu Sunset di Puncak Darma”