Sudah Bersyukurkah Kamu Hari Ini?

“Bi, kapan atuh kita lebaran ke Jakarta?”

Entah sosok itu harus menjawab apa atas pertanyaan Adik Anin itu. Sepertinya mudah saja tinggal menjawab, “Insya Allah, Dek. Mudah-mudahan Abi ada rezeki.” Atau jawaban lain yang jauh lebih mudah seperti, “Kemarin kan sudah bertemu dengan semua keluarga di Serang.” Namun itu semua tidak akan memuaskannya. Ya, bagi seorang anak, lebaran itu bukan bermakna hanya sekadar bisa berkumpul dengan keluarga besar. Bukan. Bisa jadi ia lebih berharap akan banyaknya uang lebaran dari pakde, pakle, atau mbah-mbahnya yang memang banyak tinggal di sana. Bisa jadi. Hati anak siapa yang tahu meski orangtua sudah bisa menebak yang (katanya) betul. Wallahu’alam.

Continue reading “Sudah Bersyukurkah Kamu Hari Ini?”

Advertisements

OMRON Nebulizer, Sang Penyelamat

Anak kecil itu asyik bermain kelereng di salah satu lapang yang takjauh dari rumahnya. Satu dua kawannya sudah mulai mundur dan tidak berani lagi meneruskan permainan dengannya. Untuk ukuran anak seusianya, dia terlalu jago. Hampir semua kawan-kawan sebayanya sudah menyerah duluan saat tahu akan berhadapan dengan siapa. Dia tidak kidal, dan semua jari kanannya bisa digunakan sebagai senjata yang ampuh saat bermain kelereng. Tangan kirinya? Jago juga, tapi tidak seperti kehebatan tangan kanannya. Orang yang berani melawannya bermain kelereng hanyalah yang lebih tua dan juga punya kemampuan seimbang. Dengan kehebatannya itu, anak kecil tersebut bisa memiliki kelereng satu kaleng dari hanya 2 kelereng di awal, dalam waktu singkat.

Di sana, anak kecil itu sedang mengincar satu kelereng bercorak planet yang berjarak dua meteran. Tidak mudah, tetapi berdasarkan latihan yang setiap hari dilakukannya, pasti kena. Belum sempat dia melepas tembakannya, satu suara yang khas memanggilnya. Dia menoleh dan menghentikan bidikannya, lalu berdiri. “Gus, kamu pulang dan langsung mandi. Ibu mau melayat. Teman kamu….” Anak kecil itu tidak terlalu jelas mendengar lanjutannya. Dia hanya tahu kawan satu angkatannya di SDN 01 Pagi Tanjung Priok baru saja meninggal. Kawannya itu memang beda kelas tetapi sama-sama duduk di kelas 4. Dan penyebab meninggalnya … sakit asma. Penyakit yang sama diderita Agus. Sebuah penyakit gangguan pernapasan.

Sakit AsmaWaktu berkelebat cepat, bertahun-tahun kemudian, menuju malam yang tidak ada bintang. Agus atau yang kini dikenal dengan sosok itu berusaha menarik napas. Terputus-putus. Susah sekali mengambil napas hanya dengan satu kali tarikan. Dadanya sakit. Perasaan kesal bercampur aduk, ingin menangis tetapi tidak bisa. Dia lelah tapi tidak bisa berbaring. Serba salah. Tidak berapa lama bapaknya datang berlari dari arah luar, “Ayo berangkat! Itu mobilnya sudah ada.” Sosok itu lalu digandeng oleh ibunya meninggalkan rumah. Di luar, beberapa rumah sudah hancur, beberapa belum tapi sudah tidak ada penghuninya. Sebagian warganya memang sudah harus pindah mengingat tempat tersebut harus rata dengan tanah demi perluasan PLTU Tg. Priok. Dia yang baru duduk di kelas 1 SMA akhirnya dibawa oleh mobil kantor menuju RS Koja. Di sana, dia disuntik lalu diberikan nebulizer sampai akhirnya bisa bernapas dengan lega.

Berpuluh tahun kemudian, semua kejadian itu seolah berulang kembali. Seorang anak bersusah payah menarik napas, satu persatu. Begitu susahnya menarik napas panjang agar bisa mendapatkan udara bagi paru-parunya. Sang Belahan Jiwa memeluknya erat sambil terus mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Sosok itu terus memacu motornya dengan cepat, sambil berhati-hati agar tidak celaka. Dia tahu benar bagaimana rasanya susah bernapas hanya karena ada saluran yang menyempit di jalur pernapasannya. Dan kini asma itu menurun pada anak keduanya. Cobaan yang berat. Sampai akhirnya mereka bertiga sampai di RS Muhammadiyah Bandung. Mereka masuk UGD dan kemudian, Adik Anin mendapatkan pertolongan pertama dengan cara di-nebulizer. Lambat laun, pernapasannya sudah kembali normal.

OMRON NEBULIZER, TERAPI PERNAPASAN TERBAIK

“Asmanya sudah dari sejak lahir?” tanya petugas kesehatan kepadanya. Sosok itu mengangguk. “Iya, menurun dari saya. Saya pun dari lahir mengidap asma.” Yang bertanya mengangguk. “Kalau Bapak bagaimana? Sering mendapatkan serangan?” Sosok itu tersenyum, “Alhamdulillah sudah jarang. Dalam setahun ini paling cuma sekali. Saya sudah terapi gangguan pernapasan dengan menggunakan obat kontroler. Itu … resep dari dr. Herudian. Selain itu, saya juga mulai rajin berolahraga.” Sang petugas kesehatan mengangguk, “Ya, itu bagus. Tapi kalau buat anak susah. Belum bisa dikontrol.” Sosok itu menanti pernyataan berikutnya. “Ada baiknya sih di rumah ada nebulizer, buat jaga-jaga aja. Kalau mau bagus dan lumayan murah, coba Omron Nebulizer.”

NebulizerSosok itu mengangguk. Hatinya mengiyakan. Dia sudah sering melihat merek Omron di rumah sakit. Nebulizer yang pernah dipakai pun pasti ada nama Omron-nya. Kebetulan yang dipakai Adik Anin malam itu juga bermerek Omron. Dari hasil berselancar di dunia maya, dia jadi tahu bahwa alat itu diproduksi oleh Omron Healthcare Co. yang berpusat di di Kyoto, Jepang. Tidak hanya nebulizer, perusahaan tersebut juga memproduksi beberapa alat kesehatan lainnya seperti digital tensimeter, termometer, atau bahkan alat pijat (massager). Dari banyaknya rumah sakit atau orang yang memakai Omron nebulizer, tampaknya alat tersebut sangat efektif sebagai alat terapi pernapasan terbaik. Ya, Omron nebulizer adalah partner terbaik untuk mempermudah terapi gangguan pernapasan. Namun bagi sosok itu, kendalanya masih di keuangan.

“Ahhh … kapan saya bisa memiliki alat tersebut?” tanya hati sosok itu. Sudah sedari kecil dia begitu akrab dengan alat tersebut, dan karena Omron Nebulizer-lah yang membuat hidupnya masih bertahan hingga kini. Sampai dirinya bisa menikah dan menghasilkan keturunan dua putri yang cantik. Namun penyakit asma juga menurun pada anak keduanya. Anak pertamanya juga punya asma, tapi alhamdulillah menghilang seiring kedewasaan dirinya. Meski di rumah ada alat semprot, itu pun obat kontroler, yang hanya efektif agar penyakitnya tidak kambuh. Kalau sudah kambuh, tentu harus ada nebulizer sebagai pertolongan pertama. “Ya, Allah … semoga saja nanti ada rezeki sehingga bisa membelinya,” bisiknya yakin. Amiiin.[]

Baca juga artikel yang berkaitan atau melihat daftar isi

Bandung Sebagai Kota Banjir

Bandung sebagai kota banjir. Miris. Siapa pun tidak akan mau kalau kotanya dicap sebagai kota yang berkonotasi negatif, termasuk predikat sebagai kota banjir. Beberapa bahkan menyebutnya dengan Bandung Lautan Air atau yang lebih negatif dari itu semua. Begitu pula dengan sosok itu. Meskipun hanya sebagai kota kedua (karena dia lahir dan besar di Jakarta), Bandung adalah kota yang begitu dicintainya. Di sinilah dia bisa menuntut ilmu di perguruan tinggi ternama. Di sinilah dia bisa mengasah dan mengembangkan keterampilannya. Di sinilah dia bisa menemukan sang belahan jiwa hingga resmi mendapatkan KTP Bandung dan status baru. Di sinilah dia bisa menyaksikan kelahiran dan membesarkan kedua putri tersayangnya. Di sinilah dia bisa dikenal dengan sebutan Bang Aswi hingga aktif di beberapa komunitas, lalu bersama-sama membangun Kota Bandung dengan kemampuan yang dia bisa.

Ya, siapa pun tidak suka kalau kotanya dijelek-jeleki. Namun kenyataan menunjukkannya. Warga Bandung dan masyarakat Indonesia sempat terkejut saat Bandung diterjang banjir yang amat parah (Senin, 24/10/2016). Mereka ngembang kadu (melongo) dan matanya ngembang cabe (melotot) saat mengetahui kalau sebagian ruas di Jln. Dr. Djundjunan (tepat di depan Bandung Trade Center) tergenang oleh air sehingga mengakibatkan lalu lintas lumpuh total. Pada saat yang sama, banjir parah juga terjadi di Jln. Pagarsih. Jalan tersebut menjelma sungai yang akhirnya menghanyutkan sebuah mobil hingga masuk ke dalam sungai Citepus. Warga Bandung hanya bisa ngembang cikur (bengong), sementara masyarakat Indonesia ngembang waluh (saling membicarakan dan bertanya) di media sosial.

jalan-54

Jln. Pagarsih (inset: Jln. Rancaekek, Kab. Bandung)

Pemkot Bandung jelas tidak tinggal diam setelahnya. Kang Emil langsung mengambil rencana dengan melakukan pembongkaran bangunan di sepanjang sungai. Katanya, “Didapati banyak rumah/hotel/kantor yang pembangunannya melanggar regulasi karena mempersempit jalan air sampai 50% sehingga air melompat ke jalanan, yang ujungnya jika curah hujan ekstrem menyebabkan banjir. Karena itu mulai minggu ini Pemkot Bandung akan membongkar bangunan/akses properti dari 2 hotel, 2 kantor, dan 15 rumah di sepanjang sungai Cianting yang menuju Jln. Dr. Djundjunan.” Salah satu aksinya adalah Pemkot Bandung akan segera membongkar jembatan yang merupakan akses masuk ke Hotel Topas. Dinding jembatan terlalu tebal sehingga menyebabkan aliran air di bawahnya terhambat.

Rabu pagi (9/11/2016), Pemkot Bandung turun tangan bersama warga setempat untuk membersihkan sungai Citepus. Aksi yang berjalan baik, namun pada siang hari hujan turun kembali dengan derasnya. Tak disangka, Jln. Pagarsih kembali menjadi sungai yang begitu deras arusnya. Menurut warga sekitar, banjir di jalan tersebut sudah berlangsung puluhan tahun, biasanya hanya datang saat awal dan penghabisan musim hujan. Sudah menjadi hal lumrah. Namun menjadi istimewa karena lagi-lagi ada 2 (dua) mobil yang hanyut hingga masuk ke sungai Citepus. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Yusri Yunus menuturkan bahwa sekira pukul 17.30 WIB, dilaporkan dua kendaraan hanyut di simpang Astanaanyar dan Pagarsih, yaitu Kijang warna merah dan Avanza warna hitam.

BANJIR BANDUNG TERJADI LAGI (DAN LAGI)

Hari ini (Minggu, 13/11/2016) sosok itu dan sang belahan jiwa tidak merasakan sesuatu yang jelek. Dia berencana di rumah saja guna mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sedangkan pasangannya sudah berniat mau ke Cicalengka menggunakan kereta guna menjenguk seorang kawan yang baru melahirkan. Panas terasa terik selepas pagi hingga kemudian geluduk menggema di kejauhan menjelang siang. Dia segera mengangkat jemuran yang sudah lumayan kering, sampai akhirnya hujan mengguyur di daerah Ciganitri. Tidak terlalu besar. Sambil mengetik ada beberapa pesan yang masuk lewat WA. Diantaranya adalah berita tentang Bandung. Banjir terjadi lagi, dan kali ini sampai menggenangi Stasiun Bandung dan RS Mata Cicendo. Bahkan di beberapa jalan ada pohon tumbang yang merusak kendaraan di bawahnya.

Kanopi BEC (Bandung Electronic Center) dikabarkan terbang oleh angin sehingga curahan hujan masuk membasahi eskalator dan sempat membuat panik para pengunjung. Hujan angin juga merusak tenda penjual (fashion craft) yang biasa ada di depan BIP (Bandung Indah Plaza). Di daerah Lembong bahkan airnya masuk ke dalam salah satu toko yang belum pernah terjadi selama puluhan tahun berjualan. Hujan yang diiringi es (menurut beberapa saksi) juga menyebabkan pohon tumbang di Jln. Otista dekat belokan stasiun selatan, Jln. Manado, dan di Jln. Serayu. Ranting pohon yang agak besar juga terlihat patah di Jln. Cihampelas. Yang menjadi perhatian sosok itu adalah banjir yang sampai menggenangi rel kereta di Stasiun Bandung karena efeknya membuat transportasi kereta jadi berhenti.

Benar saja, sang belahan jiwa jadi tertahan di Stasiun Cicalengka. Menurut Ilud Siregar, Manager Humas PT KAI Daop 2 Bandung, KRD 390 jurusan Padalarang-Cicalengka tertahan di Stasiun Ciroyom. Begitu pula dengan KRD 400 jurusan Padalarang-Cicalengka yang tertahan di Stasiun Cimindi dan KRD 381 jurusan Cicalengka-Padalarang tertahan di Stasiun Kiaracondong. Sang belahan jiwa yang seharusnya berangkat pada pukul 14:55 pada akhirnya harus menunggu bersama ratusan penumpang di Stasiun Cicalengka. Sosok itu sendiri panik menanti berita. Ada opsi mau naik jasa mobil online tetapi ada kabar jalan di depan PT Kahatex Rancaekek banjir besar sehingga memutus jalur transportasi dua arah. Dia mengecek di waze memang tidak ada ada kendaraan sama sekali di daerah itu.

jalan-55

Stasiun Bandung dan RS Mata Cicendo

Pada pukul sekira 16:00 ada berita baik, KRD yang tertahan mulai jalan kembali. Bisa jadi genangan yang terjadi di Stasiun Bandung mulai surut. Calon penumpang sudah berdesak-desakan. Beruntung rombongan sang belahan jiwa membawa anak-anak sehingga lebih didahulukan untuk bisa masuk ke dalam stasiun. Menjelang maghrib ada kereta yang masuk, ternyata itu adalah KRD yang berangkat dari Padalarang pada pukul 12. Enam jam! Ia akhirnya sampai di Stasiun Kiaracondong saat azan Isya, dan selamat sampai rumah menjelang pukul 21:00. Ada perasaan bahagia saat bisa melihat sang belahan jiwa yang tidak apa-apa, sekejap lupa dengan video banjir yang terjadi di Jln. Pasirkaliki, Jln. Sukagalih, dan foto-foto banjir di Jln. Sukajadi, Jln. Ahmad Yani, Jln. Laswi, Jln. Gatsu, dan lain sebagainya. Banjir Bandung seolah merata.

Ada yang unik dengan bertambahnya debit air sungai Cikakak, yaitu dinding sejumlah rumah jebol yang tepat berada di sisi sungai, mengakibatkan barang-barang berharga hanyut terseret arus. Kompol Reny Marthaliana, Kasubaghumas Polrestabes Bandung, menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi di enam RT di RW 5 Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo. Ketinggian air yang menerjang ke rumah warga mencapai sekitar 1,6 meter. “Berdasarkan data yang kami catat, ada 10 rumah jebol. Barang berharga yang hanyut terbawa arus antara lain berupa 11 kulkas dan satu mesin cuci,” kata Reny. Kulkas-kulkas tersebut terseret arus kuat lalu tersedot ke aliran sungai. Ada satu jembatan yang rusak karena terkena benturan kulkas.

BANDUNG BANJIR, SALAH SIAPA?

Sejumlah masyarakat menyalahkan pembangunan gorong-gorong yang sedang berlangsung di beberapa ruas jalan utama. Kalau sedang tidak hujan menimbulkan kemacetan, kalau hujan ya menimbulkan banjir. Pemkot Bandung memang sedang memperbaiki 19 ruas gorong-gorong. Perbaikan dilakukan dengan cara memperlebar luas gorong-gorong menjadi 2×2 meter. Kalau ada gorong-gorong yang kecil, itu adalah ducting kabel yang berukuran 50×50 cm. Pemkot Bandung juga mengupayakan pembangunan tol air dimana yang pertama berfungsi ada di Kecamatan Gedebage. Tol air tersebut diklaim telah efektif mengurangi banjir. Kang Emil mengatakan bahwa tol air itu akan menyedot air yang tergenang masuk ke pipa khusus yang langsung berujung di sungai (yang paling tidak berpotensi meluap) terdekat tanpa ada gangguan berupa sampah atau endapan tanah.

Berkenaan dengan banjir di Jln. Pagarsih, memunculkan sebuah artikel di beberapa grup WA. Kesimpulan dari artikel yang katanya ditulis oleh Pak Hardjono (mantan pejabat BPN) itu adalah bahwa Jln. Pagarsih tidak mungkin terjadi banjir kalau masih ada Situ Aksan atau pada saat zaman penjajahan Belanda disebut Westerpark. Dapat dipastikan, yang terjadi kemudian ada beberapa orang/kawan yang menyetujuinya (termasuk sosok itu). Ben Wirawan, seorang kawan yang juga aktif di beberapa komunitas, langsung mendebatnya. Ia tidak setuju kalau hilangnya Situ Aksan adalah penyebab dari banjir di Jln. Pagarsih. Ia pun mengumpulkan data, salah satunya adalah dari keluarganya sendiri dimana sang istri adalah salah satu cicit dari H. Mas Aksan (asal nama situ tersebut).

Ia mengutip tulisan T. Bachtiar, seorang penggiat Kelompok Riset Cekungan Bandung, yang banyak mengutip data dari Peta Topografi 1882, buku ‘Gids Van Bandoeng en Midden-Priangan‘ karya A.A. Sitsma dan W.H. Hoogland tahun 1927, Peta ‘Bandoeng Town Plan’ tahun 1933, dan wawancara dengan saksi-saksi sejarah. Simpulan dari beliau itu adalah bahwa Situ Aksan bukan situ alami yang katanya merupakan sisa-sisa dari genangan Danau Bandung Purba, tetapi berasal dari bekas galian sawah di Dunguscariang yang dijadikan bata merah demi pembangunan perumahan dan gedung-gedung di Bandung pada masa 1920-an. Air yang menggenanginya berasal dari sungai Leuwilimus, hingga beberapa tahun kemudian menjadi daerah wisata Situ Aksan. Selengkapnya bisa dibaca pada Hilangnya Situ Aksan dan Banjir Pagarsih.

jalan-56

Pada akhirnya selalu ada momen untuk menunjuk siapa yang salah. Pemkot Bandung yang salah. Kang Emil yang salah. Hujan di Bandung Utara yang menyebabkan banjir. Semuanya menunjuk pada pihak yang dianggap bertanggung jawab. Kang Emil menuturkan, banjir merupakan persoalan multidimensi. Oleh karena itu, perlu penanganan yang multidimensional pula. Selain berupaya dengan hal-hal yang telah disebutkan di atas, ia juga membuat regulasi pelarangan styrofoam dan regulasi bangunan hijau. Ia sendiri sudah meminta maaf dan siap bertanggung jawab. ”Musibah ini kita sesali tapi terus kita akan berupaya. Pemkot Bandung sudah meminta maaf terkait banjir yang terjadi,” ucapnya.

Ya, sosok itu juga merasa tidak usah lagi menunjuk siapa yang salah. Sudah saatnya semua pihak, semua masyarakat, untuk introspeksi diri. Ayo sama-sama bermuhasabah. Semua saling berkaitan. Mungkin tidak ada yang menyadari bahwa kesalahan kecil dari satu orang yang membuang sampah di satu titik akan diikuti oleh orang lain yang membuang sampah di titik yang sama. Di kemudian hari, secara bertahap, makin banyak orang lain yang ikut-ikutan membuang sampah di titik tersebut. Pada akhirnya, setahun kemudian ada sampah menumpuk yang jumlahnya takterhingga di sana. Siapa yang salah? Jangan sampai tangan kitalah yang pertama kali membuang sampah di titik itu. Ingatlah! Jika satu jari menunjuk pada orang yang dianggap salah maka ada empat jari yang menunjuk pada diri orang itu sendiri. Daripada menyalahkan orang lain, lebih baik berupaya dan bekerja sama agar Bandung menjadi kota yang tidak banjir lagi. Amin.[]

Mengenal Bandung Creative Center

Sosok itu masih teringat dengan ucapan Ridwan Kamil alias Kang Emil, “Ciri orang yang bahagia adalah temannya banyak, suka tersenyum, dan menemukan hal-hal baru setiap hari. Ini hasil penelitian ilmiah. Orang makin pintar kalau sering melihat pohon dan alam terbuka. Bandung adalah Home for Happy Minds. Saya menyemangati nilai-nilai kebahagian. Saya menyemangati nilai-nilai kedekatan kita dengan alam. Saya menyemangati mimpi Bandung menjadi juara yang dimulai dari SDM-nya. Kalau manusianya kreatif, bahagia, dan motoriknya bagus, maka nanti kotanya juga tercermin dari kegiatan-kegiatannya. Jadi sempurnakan Indonesia dengan kapasitasnya masing-masing. Siapa yang mau gabung nanti kita bikin acara-acara khas Bandung yang out of the box dan extraordinary. Mudah-mudahan maksimal. Itulah tanda cinta pada Kota Bandung. Karena dengan cinta segala kesusahan akan jadi lupa dan segala lelah akan berbuah pada keikhlasan.”

Maknanya? Kreatifitas. Untuk mewujudkan hal itu, Kang Emil pun terus berinovasi memperbanyak taman dan juga menyediakan tempat dimana semua orang bisa mencurahkan ide dan gagasannya. Salah satunya adalah pembangunan gedung Bandung Creative Center di Jl. Laswi, Bandung. Denger-denger, nilai lelangnya saja mencapai Rp50 miliar. Wow! Bandung Creative Center merupakan konsep Pemkot Bandung untuk menciptakan orang-orang kreatif. “Jadi, kita akan sediakan ruang untuk mereka berekspresi. Inilah rumus untuk memperbanyak orang-orang kreatif.” Gedung ini akan difasilitasi auditorium bioskop, perpustakaan ekonomi kreatif, toko/studio desain, studio tari, studio musik, studio fashion, studio keramik, ruang ICT, perpustakaan kreatif, dan empat ruang kelas. Plus tentu saja adanya kafe yang bisa digunakan untuk bersantai. Total, memiliki lebih dari 10 fungsi.

Kreatifitas memang harus dirangsang. Oke, orangnya sudah kreatif, dan akan makin kreatif kalau didukung oleh pemerintah setempat. Pemerintah Kota Bandung memang secara serius akan membawa Bandung menjadi Kota Kreatif. Kang Emil ingin mulai menumbuhkan semangat dan berusaha untuk mendorong hal tersebut. Hanya sendiri? Tentu tidak. Ia juga membangun jaringan dengan banyak kota, sehingga tiap-tiap kota bisa saling mendukung untuk menjadi kreatif. Hal ini diperlukan karena tiap kota memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Alhamdulillah pembangunannya sudah dimulai dan bisa dilihat sendiri di Jl. Laswi, dan semoga akhir tahun sudah beres dan bisa diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.

02_BCC

BANDUNG SEBAGAI CREATIVE CITIES NETWORK

Kreatifitas memang harus ditumbuhkan. Oleh karena itulah dirinya begitu mendukung jika Pemkot Bandung berupaya mewujudkan predikat Kota Bandung sebagai jaringan kota kreatif (Creative Cities Network) dalam UNESCO pada 2016. Tahun lalu Kang Emil mengatakan, “Kita akan bikin tiga creative center sekaligus. Belum pernah dilakukan kota lain di Indonesia. Lokasi pertama di Jalan Laswi. Yang kedua menggunakan fasilitas gedung Perusahaan Gas Negara (PGN) di Jalan Braga. Satu lagi di Jalan Anyar Kiaracondong dengan luas 7 hektar. Itu tanah PGN juga. Di sana namanya Innovation Center, bakal ada mesin laser untuk motong besi dan mesin-mesin mahal yang tidak mungkin bisa dibeli individu. Jadi bisa buat prototipe apa saja di sana.”

Pembangunan Bandung Creative Center sendiri akan dimandori langsung oleh Kang Emil. Hal ini dikarenakan desain bangunannya yang cukup rumit. Ada banyak komponen bangunan berbentuk poligon, jelas desain seperti ini konon belum pernah ada di Indonesia sebelumnya. Targetnya adalah tepat waktu dan hemat biaya. Pemkot Bandung ingin membuktikan kalau proyek pemerintah dapat diwujudkan dengan kualitas bagus dan anggaran yang wajar tanpa pengurangan spesifikasi. Kalau proyek ini selesai, diharapkan standar pembangunan gedung di Kota Bandung akan mengacu kepada standar yang diterapkan pada bangunan Bandung Creative Center ini.

“Bangunan BCC bukan bangunan biasa. Kalau secara logika membangunnya seperti bangunan lain, saya khawatir hasilnya biasa-biasa saja. Ini percontohan bangunan unik yang harus jadi istimewa. Saya membangun kemana-mana, masa di negeri sendiri tidak diawasi,” jelas Kang Emil. “Sehingga kalau ada turis kita arahkan melihat contoh terbaik ke sana. Ada juga bioskop kecil untuk ruang seminar dan menonton karya film atau TV dari anak-anak Bandung.”

Thailand Creative & Design Center (TCDC) | Sumber: makinteriors

Pada paragraf tiga di atas dijelaskan bahwa Bandung Creative Center inginnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Mengapa? Karena bangunan ini akan menjadi sebuah Creative Center Pertama di Indonesia. Kalau di tingkat ASEAN, sudah ada Creativity Center di Thailand, namanya Thailand Creative & Design Center (TCDC). “Di ASEAN, hanya Thailand yang punya. Jadi kalau kita bangun, kita yang kedua. Di Thailand hasilnya memang luar biasa, bisa mengakselerasi ekonomi kreatif. Kita punya harapan mengakselesrasi ekonomi kreatif Bandung dengan hadirnya bangunan ini.” Kang Emil berkeinginan, pusat industri kreatif tersebut mampu menginspirasi kota lain agar ekonomi kreatif ini lahir atas kontribusi dan inovasi dari pemerintah. Saat ini, kemajuan pembangunan Bandung Creative Center baru sekitar 15 persen. “Minggu depan, mulai persiapan untuk berkomunikasi dengan komunitas kreatif Bandung-nya karena nanti ada ruang-ruang yang harus dikelola,” tutup Kang Emil.[]

Menjadi Tim Nusantara Sehat

Blogger-23Pagi itu cerah. Matahari sudah tidak sungkan lagi menampakkan diri dengan gagahnya di sebelah timur. Burung-burung pun dengan sombong memamerkan suara indahnya, bersahut-sahutan. Sosok itu baru selesai sarapan nasi goreng yang telah disiapkan sang tuan rumah. Kawan-kawan yang tinggal seatap sudah asyik kongkow-kongkow di teras rumah. Sebuah rumah panggung kayu khas pedesaan. Sudah tiga hari dia di Desa Palilinggihan, Jatiluhur, dalam rangka Farmasi Pedesaan (FarDes). Dia sendiri asyik menulis catatan harian tentang pengalamannya selama dua hari kemarin. Suara gemerisik daun kelapa terdengar jelas. Ada banyak pohon kelapa yang tumbuh mengelilingi rumah panggung tersebut.

Ada sekira 7 (tujuh) mahasiswa farmasi yang ditempatkan di Desa Palilinggihan, empat perempuan dan tiga laki-laki. Mereka sedang menunggu 14 (empat belas) mahasiswa lainnya yang ditempatkan di Desa Curug Apu dan Juntikerak. Hari itu bertepatan dengan hari kemerdekaan, 17 Agustus 1998. Mereka semua akan menuju ke sebuah lapangan luas guna melaksanakan upacara sekaligus menjadi panitia akan kegiatan cerdas cermat dengan peserta anak-anak SD. Kebetulan letak lapangan tersebut memang dekat dengan Desa Palilinggihan. Hingga … suara keriuhan terdengar di kejauhan. Rombongan mahasiswa dari desa tetangga sudah terlihat. Namun ada yang aneh.

Beberapa orang tampak berjalan dengan cara dipapah. Mereka tampak kepayahan. Ada apakah? Tidak mungkin kalau hanya karena alasan jauh meski memang jarak antardesa bisa sampai belasan kilometer dan harus berjalan kaki. Tanpa perlu waktu lama akhirnya mereka bisa beristirahat dan menceritakan apa yang terjadi. Dan … ternyata mereka keracunan! Sumbernya diduga dari nasi goreng yang disantap saat sarapan. Nasinya kemungkinan sudah basi. Tanpa berpikir panjang, sosok itu langsung berlari ke salah satu pohon kelapa dan memanjatnya dengan cepat. Beberapa buah kelapa yang masih muda dijatuhkan. Mudah naik, ternyata agak sulit juga saat mau turun. Tapi tidak apa, yang penting pertolongan pertama harus disegerakan. Air kelapa muda memang dipercaya mampu menetralkan racun di dalam tubuh.

Alhamdulillah … setelah satu jam beristirahat, beberapa orang yang keracunan sudah mulai pulih dan tampak segar. Mereka kemudian mulai melanjutkan perjalanan menuju lapangan untuk menyusul kawan-kawannya yang sudah lebih dahulu ke sana. Selama di perjalanan, sosok itu juga teringat dengan kejadian semalam. Kejadian yang menegangkan karena melibatkan seorang bayi yang mengalami panas tinggi (step). Persediaan obat yang dibawa tidak ada yang dikhususkan untuk mereka yang baru berusia beberapa bulan. Fiuh! Semua mahasiswa Farmasi yang ada berembug, bagaimana baiknya. Sosok itu melihat di sana ada tablet parasetamol untuk dewasa. Dia pun teringat cara menghitung dosis obat berdasarkan Rumus Fried dan Rumus Clark, lalu meminta persetujuan semua kawan-kawannya.

Blogger-24

Sosok itu saat memantau kawasan banjir di Cieunteung, Bandung

RUMUS DOSIS OBAT DAN FARDES

Rumus Fried adalah perhitungan dosis obat berdasarkan usia, dan memang dikhususkan untuk bayi di bawah 1 (satu) tahun. Caranya dengan rumus usia (bulan)/150 x dosis dewasa. Sedangkan Rumus Clark adalah perhitungan dosis berdasarkan berat badan, meski untuk cara ini juga ada metode Rumus Thermich dan Rumus Black. Rumus Clark adalah berat badan (kg)/68 x dosis dewasa. Setelah disepakati, tablet parasetamol itu digerus dengan menggunakan dua sendok karena tidak ada mortar. Lalu dosis yang sudah sesuai langsung diberikan pada sang bayi. Harap-harap cemas pada proses menunggu menjalari semua mahasiswa, termasuk sosok itu. Hingga akhirnya tidak sampai satu jam, demam pada bayi tersebut berangsur-angsur berkurang. Alhamdulillah. Semua akhirnya bisa pulang dengan tenang. Sosok itu mendapatkan pengalaman berharga yang tidak pernah bisa dilupakan.

Oya hampir lupa dijelaskan, FarDes atau Farmasi Pedesaan adalah kegiatan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Farmasi (HMF) “Ars Praeparandi” ITB secara rutin dan kontinyu setiap dua tahun sekali sejak 1984. FarDes di Jatiluhur tersebut adalah kegiatan yang sudah ke-8 kalinya. Ada beberapa program yang biasa mereka lakukan di tempat tujuan, yaitu pengenalan tanaman obat keluarga (TOGA), kesehatan lingkungan (sanitasi), dan pengobatan gratis. Sosok itu bersyukur pernah menjadi bagian dari program itu. Dia juga berpengalaman pernah melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 1 (satu) bulan di Desa Wonoharjo, Pangandaran, yang kegiatannya tidak jauh berbeda hanya saja melibatkan mahasiswa ITB dari berbagai jurusan. Di sana, dia melakukan penyuluhan kesehatan bersama bidan desa #ehm.

Dan sekarang sudah ada program ‘Nusantara Sehat’. Jujur, dia ingin sekali bisa terlibat di sana meski kali ini adalah sebagai blogger. Nah, sebagai seorang Blogger Bandung, tentu dia bisa membantu pemerintah dengan memberikan kabar bagaimana realitas yang sebenarnya terjadi, khususnya di Pulau Belakangpadang, Batam.

APA ITU NUSANTARA SEHAT?

Blogger-25Sehat itu penting. Mayoritas masyarakat juga tahu betapa pentingnya sehat. Hanya saja … masih banyak yang tidak mengetahui bagaimana cara agar mereka tetap sehat. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan dan juga bisa jadi karena faktor ekonomi. Ada banyak faktor di sana. Permasalahan kesehatan pun muncul, seperti angka kematian ibu dan bayi yang tinggi, angka gizi buruk, serta angka harapan hidup yang rendah. Inilah yang kemudian menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes). Tak heran jika untuk periode 2015–2019 ini, mereka mengeluarkan kebijakan berupa penguatan Pelayanan Kesehatan (Yankes) Primer. Cakupannya adalah berupa pembenahan infrastruktur (fisik), pembenahan fasilitas (sarana), dan penguatan tenaga kesehatan (sumber daya manusia).

Nusantara Sehat merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dicanangkan oleh Kemenkes dalam upaya mewujudkan fokus kebijakan tersebut. Program ini dirancang untuk mendukung pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang sehat. Caranya bisa dengan menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan, menggerakan pemberdayaan masyarakat, dan memberikan pelayanan kesehatan yang terintegrasi. Perlu diingat bahwa Nusantara Sehat bukanlah melulu kegiatan kuratif tetapi juga promotif dan preventif untuk mengamankan kesehatan masyarakat (public health), khususnya di daerah terpencil.

Duh, semoga penjelasan dua paragraf di atas tidak membingungkan. Baiklah, sosok itu akan menjelaskan secara gamblang dan dengan bahasa sederhana ya. Dia tidak akan membahas soal pembenahan infrastruktur dan fasilitas, tetapi akan difokuskan pada sumber daya manusia. Pemerintah akan memilih beberapa tenaga kesehatan yang memenuhi persyaratan. Mereka terdiri atas dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga ahli teknologi laboratorium medik, tenaga gizi, dan tenaga kefarmasian. Alhamdulillah, sosok itu juga termasuk meski umurnya sudah tidak masuk lagi hehehe. Mengapa tidak masuk? Karena usia maksimal sebagai persyaratan adalah 35 tahun untuk dokter umum/gigi dan 30 tahun untuk tenaga kesehatan lainnya.

Tenaga kesehatan itulah yang kemudian oleh pemerintah diterjunkan ke beberapa daerah yang ditunjuk dan siap mengabdikan dirinya untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di sana. Agar siap, mereka juga sudah dibekali berupa materi bela negara, keahlian medis/non-medis, dan pengetahuan tentang program-program kesehatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan. Hanya itu? Tidak. Mereka juga diberikan pemahaman terhadap budaya-budaya lokal agar nantinya dapat berinteraksi dengan petugas kesehatan setempat dan masyarakat sekitar di daerah penempatan. Untuk 2016 ini, Kemenkes sudah mempersiapkan dua periode pengiriman. Periode I (Mei 2016) akan diterjunkan sebanyak 630 tenaga kesehatan ke 70 Puskesmas. Sedangkan Periode II (Oktober 2016) akan diterjunkan sebanyak 540 tenaga kesehatan ke 60 Puskesmas.

Blogger-26

Sosok itu bersama anak-anak Kelas VI SD Miftahul Iman, Bandung

Kamu mau? Kalau sosok itu jelas mau banget. Asli! Apalagi dia memiliki pengalaman saat Fardes 1998. Insya Allah pengetahuannya soal obat-obatan masih tersimpan baik di dalam memorinya. Plus dengan keahliannya merekam momen demi momen dengan foto dan goresan penanya di blog. Bismillah.[]

Arti Persahabatan: Dongeng Komunitas [2]

Seorang anak kecil memegang dua buah apel dengan kedua tangannya. Ibunya kemudian datang mendekat, tersenyum, dan bertanya, “Sayang … boleh Mama minta satu?” Si anak memandang ibunya beberapa detik, kemudian dengan cepat menggigit kedua apelnya, bergantian. Melihat hal itu ibunya berusaha menyembunyikan kekecewaan, senyumya telah luntur dari wajahnya. Sampai kemudian si anak menyodorkan salah satu apel yang telah digigitnya tadi kepada ibunya. Dengan sukacita dan senyum ceria, ia berkata, “Ini untuk Mama, yang ini LEBIH MANIS.” Hening. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir ibunya, kecuali senyum dan bola mata yang berkaca-kaca.

Bangaswi_1

#BloggerBDG bersama Pak Wishnutama

Komunitas/ko·mu·ni·tas/ n kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban. Komunitas sastra adalah kelompok atau kumpulan orang yang meminati dan berkecimpung dalam bidang sastra; masyarakat sastra. Itulah pengertian tentang komunitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dikutip sosok itu dari KBBI Daring. Pada akhirnya, komunitas semakin mengerucut pada sekumpulan orang yang suka pada hobi atau aktivitas tertentu. Mayoritas mengerucut lagi pada hobi yang sama. Tidak ada sekat di sana. Meski dari latar belakang ekonomi atau budaya yang berbeda, semua anggota komunitas berbaur dan tertawa bersama karena memiliki hobi yang sama.

Hobi/ho·bi/ n kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Misal, melukis itu sebagai hobi saja, bukan sebagai mata pencahariannya. Untuk kata ini hampir semuanya sepakat bahwa hobi adalah aktivitas yang menyenangkan. Awalnya dikerjakan secara sendiri. Ada yang suka baca, suka nulis, suka bersepeda, suka lari, dan lain sebagainya. Hingga kemudian beberapa orang berinisiatif untuk berkumpul dan membentuk komunitas hobi. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga wajar saja kalau mereka memang cenderung lebih suka berkumpul. Dengan lahirnya komunitas, hobi seseorang semakin menggebu-gebu dan terus mengalami peningkatan yang signifikan. Jika berhubungan dengan keterampilan, dijamin keterampilannya akan bertambah. Semua itu bisa terjadi karena ada interaksi di sana. Interaksi saling berbagi.

Kalau berbicara soal hobi, tidak ada hitung-hitungan lagi di sana. Semua atas dasar senang dan suka. Dia langsung membeli produk yang mendukung hobinya sesuai dengan budget-nya. Beberapa saat kemudian dia bisa langsung meng-upgrade produk tersebut agar semakin nyaman. Apapun hobinya. Jika hobi yang ditekuni tidak ada produknya, maka dia akan mencurahkan semua perhatian dan waktunya. Berkumpul dan berjejaring, lalu membuat program acara agar semakin banyak orang yang (semoga saja) mau mengikuti jejak mereka memiliki hobi sama. Tidak ada hitung-hitungan mencari keuntungan pribadi, karena prinsip semua anggota/pengurus komunitas adalah saling berbagi. Sudah ada kepuasan di sana. Keuntungan lebih diarahkan ke kas komunitas, karena semua itu akhirnya akan dikembalikan kepada anggotanya. Hobi dan komunitas bukan ajang mencari penghasilan.

Namun dunia ini tidak seindah teori atau lukisan-lukisan pemandangan alam di beberapa rumah atau di pinggir Jln. Braga. Meski tidak banyak, ada saja orang yang menyalahgunakannya demi keuntungan pribadi semata. Akibatnya, komunitas pun menjadi tidak kondusif dan saling curiga. Tidak ada rasa percaya lagi dan hobi pun menjadi tercemar. Sosok itu sudah makan asam garam soal komunitas. Dari komunitas kepenulisan, sepeda, lari, penghijauan, pendidikan, hingga blogger. Kalau sudah ada gesekan di dalam komunitas, sulit untuk mengembangkan hobi dengan maksimal. Apalagi kalau sudah dihubungkan dengan materi. Apapun yang dikerjakan selalu dilihat dengan mata menyipit. “Pasti untuk keuntungan sendiri. Pasti keuntunganya untuk para pengurus. Pasti … pasti … pasti….” Hei! Ini komunitas, bukan perusahaan atau start up!

Fiuhhh! Tetapi itulah yang terjadi. Realitas memang terlihat lebih kejam dari teori yang ada. Semuanya menjadi rumit. Padahal ini hanyalah sekumpulan orang yang mencoba memaksimalkan hobi. Sosok itu sendiri hanya menarik nafas panjang. Betapa hobi bagi dirinya hanyalah untuk bersenang-senang, untuk meluapkan ruang kosong yang ada di kepalanya agar kehidupannya bisa berjalan dengan seimbang. Masalah rumah tangga dan masalah ekonomi adalah dua contoh kerumitan hidup manusia. Salah satu cara untuk menyeimbangkannya selain mendekat pada Sang Maha adalah dengan melakukan hobi. Nah, kalau ternyata bagian dari hobi ini mememunculkan masalah baru, tentu jalan terbaik adalah meninggalkan hobi tersebut. Itu solusi ekstrem. Paling aman, ya meninggalkan komunitas dan menjalankan hobinya (kembali) seorang diri. Tetapi … konsep dan prinsip saling berbagi akan hilang. Lenyap.

Bangaswi_2

Sosok itu di Kafe D’Jengkol (foto: Kang Goen)

Sosok itu mengeluh. Apalagi kalau dirinya sedang merenung di sudut malam. Apa jadinya jika pengurus komunitas tidak didukung oleh anggotanya? Bubar? Itu mudah sekali. Menarik diri? Jauh lebih mudah. Ingin menangis rasanya. Berteriak sekeras mungin dan menyanyikan lagu Metallica sambil melompat-lompat. Atau menengadahkan tangan dan mengadu pada Sang Maha. Komunitas jelas membutuhkan dukungan dari seluruh anggotanya, khususnya bagi yang aktif. Namun komunitas bukanlah partai yang membutuhkan banyak dukungan. Komunitas hanyalah sekumpulan orang yang memiliki hobi sama. Semua atas nama kebersamaan dan kesenangan pada hobi tersebut. Saling berbagi. Atas nama itulah, tentu keluhan di atas harus diabaikan. Waktu dan materi harus dikorbankan. Namun tidak banyak anggota yang memahami hal ini. Mereka tidak peduli.

Ada beberapa pengurus yang harus menangis di sudut malam saat pulang berkegiatan dan sukses meramaikan acara komunitas, harus berhadapan dengan keluarganya yang mengadu tidak ada beras lagi. Ada pengurus yang terus tersenyum dan memancarkan wajah bahagia selama acara komunitas melihat kegembiraan semua anggota yang mendapatkan banyak hadiah tetapi harus menangis di dalam kamar mandi karena tidak memiliki ongkos untuk pulang ke rumah. Ada pengurus yang memegang banyak voucher belanja atau voucher taksi tetapi takpernah bisa menggunakannya karena itu semua adalah hak anggota, dan kemudian ia hanya bisa menggunakan uang lusuh buat membayar angkot. Ada pengurus yang harus berjalan berkilo-kilometer demi mengirit ongkos dan menangis saat mengingat betapa anak-anaknya tidak bisa jajan hari itu, demi sebuah rapat komunitas.

Mungkinkah sudah semakin sedikit orang yang memiliki sedikit saja perhatian untuk peduli terhadap sesama. Mungkinkah sudah semakin sedikit orang yang lebih suka mengkritik secara langsung daripada mengkritiknya di media sosial. Mungkinkah telah hilang rasa kebersamaan yang pernah dipupuk bertahun-tahun lamanya, hanya karena ketidaksukaan pada satu-dua orang yang kini sama-sama berjibaku di komunitas. Mungkinkah sudah semakin banyak orang yang egois namun tidak pernah disadarinya. Sosok itu beristighfar. Dia hanya berlindung pada Sang Maha semoga itu semua bukan dirinya. Dia hanya terus berjuang untuk membesarkan komunitas dengan caranya sendiri. Cukuplah bagi dirinya dukungan dari kawan-kawan pengurus yang selalu mengingatkan agar bisa berjalan di track yang lurus. Cukuplah dukungan dari keluarga sebagai tempat berpulang yang paling istimewa sebelum ajal tiba.

BloggerBDG

Pengurus dan Anggota #BloggerBDG (foto: Kang Argun)

Alangkah indahnya jika anggota komunitas saling percaya. Alangkah indahnya jika anggota komunitas saling berpegangan tangan dan saling menguatkan. Alhamdulillah acara “Ngobrol Kece” kemarin berhasil dengan baik, dan dapat memuaskan beberapa pihak yang ikhlas membantu. Tiga hestek berhasil menjadi trending topic pada waktu yang berbeda. Semua itu jelas bukan kerja satu orang atau kerja pengurus semata. Hal itu bisa terjadi atas dukungan semua peserta yang hadir. Dan alangkah indahnya jika semua anggota komunitas ikut berjibaku. Betapa dahsyatnya hasil yang bisa dicapai jika semua itu bisa diwujudkan. Semoga sosok itu tidak sedang bermimpi. Semoga semua itu bisa dicapainya di kemudian hari, dalam waktu dekat ini. Semoga … amiiin. Hatur nuhun untuk semua pengurus di komunitas manapun yang telah mengorbankan semua waktu, ide, dan materinya. You’re the BEST!

Jangan tergesa-gesa menilai seseorang, siapapun dia. Janganlah seseorang menghakimi. Ingatlah selalu pada Allah Yang Maha Menghakimi. Berilah kesempatan kepada setiap orang untuk memberikan penjelasan dengan caranya sendiri.

Foto Biasa Jadi Luar Biasa dengan Huawei Honor 4C

Lagi-lagi foto … memang sukar dilepaskan
Semua (masih) tentang keindahan
Yang dihentikan agar lebih bertahan lama

Honor4C_1

Hasil kamera Huawei Honor 4C dengan fitur All Focus

Ya, berbicara tentang produk bernama foto, adalah berbicara tentang sejarah. Sejarah dari foto itu sendiri maupun tentang sejarah sosok itu. Foto terus bertransformasi menuju ke arah teknologi yang semakin maju. Dari mulai menggunakan sistem cuci foto yang manual di kamar gelap, proses foto polaroid yang mengandalkan cahaya matahari, hingga akhirnya tiba di era foto digital. Akibatnya kamera pun ikut bertransformasi. Dari mulai betapa kamera itu istimewa dan mahal, kini sudah bertengger manis di beberapa gadget bernama smartphone. Istilah pun bergeser dari photography ke smartphonetography. Akan tetapi ini memang istilah dia sendiri sebagai penggemar dunia fotografi.

Sedangkan sejarah sosok itu sendiri dengan dunia fotografi begitu panjang prosesnya dan sering melewati tebing tinggi. Ujung-ujungnya, dia sampai saat ini terus berusaha belajar menghasilkan foto yang keren, dengan kamera atau smartphone yang ada. Pengembaraannya tidak pernah berhenti. Intinya cuma satu … menghasilkan foto biasa jadi luar biasa. Nah, salah satu brand smartphone yang menarik perhatiannya adalah Huawei. Tahu kan dengan brand ini? Huawei didirikan pada 1987 di Shenzhen yang awalnya sebagai sales agent untuk salah satu perusahaan di Hong Kong yang memproduksi switch Private Branch Exchange (PBX). Sebuah perusahaan yang hanya bermodalkan USD 5.680 hingga menjadi perusahaan global dengan omset lebih dari USD 39 milyar. Wow!

Honor4C_2

KAMERA HUAWEI HONOR 4C

Salah satu tipe dari smartphone Huawei yang membuat sosok itu tertarik adalah Huawei Honor 4C. Mengapa? Dia tidak akan membahas desainnya yang elegan karena menggunakan frame metal dan memiliki layar dengan resolusi HD 720p. Atau bahkan membahas detail spesifikasi hardware-nya yang memang wow. Biarkan itu dibahas oleh banyak blog atau situs berbau teknologi lainnya. Di sini, sosok itu hanya akan membahas kameranya yang memang menjadi sorotannya dalam memilih sebuah smartphone. Yup, hampir semua kawannya sudah tahu kalau dirinya memang seorang smartphonetographer. Beberapa karyanya bisa dilihat melalui akun @bangaswi di instagram.

Honor 4C sudah dibekali dengan kamera beresolusi tinggi, yaitu 13 MP sebagai kamera utama. Kalau kamera depannya yang biasa digunakan untuk selfie masih 5 MP. Sebagai penunjang, Honor 4C sudah dilengkapi dengan LED Flash, termasuk kapasitas penyimpanan bawaan yang mencapai 8 GB. Bikin mupeng, gak? Di luar itu juga masih ada filter autofocus, geo-tagging, touch focus, face detection, panorama, dan HDR. Namun, yang paling disuka oleh sosok itu dari teknologi smartphone saat ini adalah aperture-nya yang rendah. Honor 4C bahkan berani mengeluarkan di angka F2.0, artinya bahwa kameranya mampu memotret dengan baik meski berada di tempat gelap. Angka ini juga bisa memaksimalkan fokus dan membuat foto yang bokeh (blur di bagian belakang).

Honor4C_3

Foto atas dengan fitur Smart Beauty. Foto bawah dengan fitur Selfie Panorama

Fitur-fiturnya begitu lengkap. Misalnya saja ada Smart Beauty yang membuat siapapun menjadi ketagihan selfie dengan tingkat kebeningan yang bikin PD. Lalu ada All Focus yang berfungsi mengatur titik fokus meski setelah mengambil gambar. Kemudian ada Audio Foto agar siapapun bisa mengirim foto dengan rekaman suaranya sekaligus. Masih kurang? Masih ada Ultra-fast Snapshot yang memungkinkan seseorang bisa mengambil objek foto yang pergerakannya cepat. Hasilnya pun dijamin tajam. Dan terakhir ada Selfie Panorama yang jelas membuat pengalaman selfie menjadi tidak terlupakan. Rombongan dengan banyak orang bisa dilakukan dengan format foto panorama. Ini seriusan. Benar-benar bisa.[]

Kutitip Pesan Padamu: Jagalah

Dua ekor ikan
Menutup mata
Mereka lihat tanda
Air berhenti mengalir

~ Pemandangan Senja oleh Kuntowijoyo

Pada 2055, Pete Postlethwaite hidup menyendiri. Planet Bumi saat itu begitu mengerikan. Bencana alam dan peperangan adalah dua contoh yang menyebabkan semua itu terjadi, hingga sebagian besar permukaannya hanya terisi oleh air. Ia kemudian mengambil arsip beberapa tahun ke belakang untuk merunut apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun terkejut karena membuang bungkus permen sembarangan adalah salah satu penyebabnya. Mungkinkah? Mungkin saja. Apa yang dialami oleh Pete terjadi di “The Age of Stupid”, sebuah film drama-dokumenter-animasi Inggris yang dibuat oleh Franny Armstrong pada 2009. Intinya adalah … bahwa perubahan iklim (yang ekstrem) suatu saat nanti itu hanya bisa dikendalikan oleh tindakan kita saat ini.

glacier_large
Sumber foto: Situs Discovery Kids

Continue reading “Kutitip Pesan Padamu: Jagalah”