Kebhinekaan di Mata Blogger

Dalam hal kemandirian sebagai bangsa tak salah bila bercermin pada kearifan masyarakat Ciptagelar, Sukabumi. Mereka tidak sepenuhnya menutup diri, namun tak membiarkan dirinya hanyut terseret perubahan. Mereka mengembangkan mikrohidro untuk menerangi kampung. Mereka membuat Cigateve untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, yang dikembangkan dari, oleh, dan untuk mereka. Mereka pun membangun lumbung padi untuk menyimpan hasil panen yang menjamin masyarakat Ciptagelar takkan kelaparan. ~ Karim Suryadi

Kebhinekaan di Mata Blogger — Sosok itu bersyukur karena dirinya telah diberikan kesempatan untuk melihat Indonesia di beberapa titik. Misalnya saja saat di Bali, dia melihat bagaimana warga Bali begitu menjaga tarian dan religiusitasnya. Hal yang sederhana sebenarnya, namun terlihat indah di mata para wisatawan. Lalu saat ke Lombok, dia melihat beberapa budaya yang tidak jauh berbeda dengan Bali, tetapi masjid tumbuh di mana-mana. Takheran kalau Lombok dikenal sebagai kota seribu masjid. Dia melihat dengan mata kepala sendiri ada orang Bali yang Muslim dan ada orang Lombok yang beragama Hindu.

Begitu pula saat di Ambon, sosok itu mengalami indahnya kebersamaan antara warga Kristen dengan Muslim. Seolah-olah tidak ada sekat di antara mereka. Yang ada hanyalah bahwa mereka tinggal di pulau yang sama, memakai alat transportasi yang sama, dan memiliki bentuk fisik yang tidak jauh berbeda. Oleh karena itulah dirinya menjadi haus akan petualangan-petualangan berikutnya untuk menjelajah Indonesia. Menuju pelosok-pelosok yang belum sempat disentuh atau dilihatnya, menyaksikan atau merasakan dengan inderanya sendiri bahwa Indonesia itu luar biasa. Indonesia itu istimewa.

Continue reading “Kebhinekaan di Mata Blogger”

Advertisements

Ketika Kakak Kangen

Selasa, 25 April 2017

Tau gak? Kakak pengen kembali lagi (jadi) kecil. Jadi bisa di rumah lagi bareng-bareng kalian lagi. Kangen masakan Ummi. Kangen omelan Ummi dan Abi. Kangen dibangunin sama Ummi dan Abi. Kangen dianterin ke sekolah. Kangen dijemput. Kangen nonton TV. Kangen makan bareng. Pokoknya kangen semua. Pengen pulang tapi impossible kalau sekarang. Oh iya lupa, kangen naik motor berempat! Tapi udah mustahil kalau sekarang soalnya Kakak dan Adik udah gede. Pengen gitu setiap hari ada Ummi dan Abi di samping Kakak, yang selalu ngebantuin ngerjain PR kalau gak bisa.

Malam hari dengan hujan deras. Beberapa kali ada petir, mati lampu, nyala lagi, lampu mati. Dan kebetulannya, tadi Kakak sama temen-temen lagi cerita film horor ‘Danur’. Waktu teman Kakak bilang, “Terus siapa yang matinya?” Jlebb! Lampunya mati. Kita langsung keluar dari kelas (soalnya kita lagi di dalam kelas). Ya Allah. Terus yang kedua kalinya pas-pasan teman Kakak lagi bilang, “Nanti ah mau bikin film hantu, tapi lagunya Manuk Dadali.” Dan jlebb! Mati lampu lagi. Sebelll ih.

Continue reading “Ketika Kakak Kangen”

Catatan Kakak di Pesantren (2)

Sabtu, 20/8/2016

Umi tau gak ih, selama di sini Kk minumnya sedikit terus. Sering minum 1 botol sehari. Kadang2 juga minumnya cuman setengah dari setengah botol. Jadi gimana ya? Oh gini….

Jadi minumnya itu setengah dari setengah botol.

Makannya juga kadang habis, kadang gak habis. Seringnya ga habis. Soalnya kaya gak laper gitu. Kaka seringnya minta minum ke Zahra, soalnya kalau minta ke yg lain pasti jawabannya sedikit lagi.

Continue reading “Catatan Kakak di Pesantren (2)”

Catatan Kakak di Pesantren (1)

Sabtu, 23/7/2016

Ade, Kakak kangen Ade. Maafin Kakak ya kalau salah.

Kamis, 4/8/2016

Abi, Umi, Kakak di sini meuni ga punya temen. Kemana2 teh sendiri, makan sendiri. Yg lain mah pada ngumpul, tapi pas Kakak nyamperin merekanya malah pergi. Ada juga yg ga pergi, tapi pas udah selesai makannya, langsung pergi gitu aja. Kalau Kakak abis duluan, suka disuruh tungguin. Terus ke sekolah teh sendiri, ngerjain PR sendiri. Kalau yang lain nanya ka Ka Bibin tentang PR teh suka Ka Bibin jawab. Tapi kalau Kakak tanya caranya/apalah itu suka gak dijawab. Bilangnya teh gak tahu, padahal Kk liat mah udah pada dijawab.

Continue reading “Catatan Kakak di Pesantren (1)”

Kisah Baju Batik Berwarna Cokelat

Lelaki tua itu menatap wajah istrinya dengan lembut. Menunggu.

“Maaf, mungkin pertanyaan ini terlalu telat. Tapi aku penasaran.”

“Soal apa, Bu?”

“Soal baju itu. Baju batik yang sering kaukenakan untuk mengisi ceramah di berbagai tempat itu. Kenapa baju itu yang sering kaukenakan. Bukankah masih banyak baju lain yang lebih bagus dan lebih layak?”

Continue reading “Kisah Baju Batik Berwarna Cokelat”

Resep Lompong Sagu ala The Trans

Sebelumnya sosok itu pernah menulis tentang menu asyik khas Minang, yaitu Babuko Basamo yang diselenggarakan oleh The Trans Luxury Hotel Bandung. Kalau diperhatikan di bagian foto, terdapat makanan yang mirip banget dengan otak-otak. Apa benar itu adalah otak-otak khas Palembang? Bukan. Bahkan jauh dari yang namanya asin dan pedas. Bentuknya mirip, tetapi rasanya manis. Itulah yang disebut dengan Lompong Sagu, hidangan khas Sumatera Barat yang dikenal sebagai cemilan saat berbuka.

Cara membuatnya ternyata mudah dan chef hotel memeragakannya bersama Uni Reno. Beruntung sekali sosok itu bisa menyaksikannya secara langsung. Mohon maaf kalau di bulan Ramadhan ini malah diberikan resep yang menggugah iman. Maklum saja, dia mendapatkannya pas sebelum puasa. Bagi yang merupakan warga asli tentu akan menjadi kenangan tersendiri terhadap Lompong Sagu ini. Sedangkan bagi warga lainnya, tentu tidak ada salahnya untuk mencoba dan mempraktikkannya di dapur sendiri. Siap?

Continue reading “Resep Lompong Sagu ala The Trans”

Sudah Jelas, Dilarang Masuk!

Hujan. Basah. Kedinginan. Komplit. Itulah yang terjadi pada hari Selasa lalu, 9 Februari 2016. Sosok itu harus berkejaran dengan waktu menembus hujan yang seolah terus mengerahkan pasukannya untuk menyerangnya dari atas. Kuyup sudah. Tapi janji harus ditepati. Alhamdulillah dia tepat sampai di tempat pakir sebelum pukul 15.00. Dia pun berjalan ke lantai paling atas BTC Mall dengan rasa tidak nyaman pada sepatu dan celananya. Apa daya, semuanya basah. Sampai di Lobby XXI, sudah banyak x-banner tentang film yang akan ditontonnya. Beberapa kru juga hilir mudik dengan kaos hitam bergambar poster film. Sosok itu akhirnya menyapa dan tersenyum pada Raja Lubis, kawan yang mengundangnya.

Dingin yang menusuk dari pakaiannya seperti berkomplot dengan AC ruangan di dalam bioskop, menyerang bertubi-tubi pada dirinya. Film “Dilarang Masuk” persis seperti yang diprediksikan. Semakin membuat dirinya tidak nyaman. Alur yang datar. Kejutan-kejutan munculnya para hantu yang mudah ditebak. Efeknya sederhana saja … cukup dengan hentakan musik. Hingga cerita yang terlalu mengada-ada. Semua (kembali) seperti berkomplot untuk menyerang rasa ‘fun‘ pada sosok itu yang sudah dari awalnya serba menyebalkan. Belum waktu yang diundur dari rencana pukul 15.00 menjadi pukul 16.30. Semua yang ada di film horor inilah yang menyebabkan mengapa dia tidak terlalu suka dengan genre satu itu. Tidak menyenangkan sama sekali.

Continue reading “Sudah Jelas, Dilarang Masuk!”

Inilah Juara 1 Lomba Cerita Rakyat 2015

“Nangis bahagia saya sebagai guru bisa jabat tangan sama Pak Anis Baswedan.”

Lomba-29Itulah kalimat pertama S. Gegge Mappangewa di grup WA khusus pengurus pusat Forum Lingkar Pena (FLP). Kalimat itu hadir bersama sebuah piagam penghargaan yang menyatakan bahwa Sabir didaulat sebagai Juara 1 Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tahun 2015 Kategori Umum/Dewasa. Di bawahnya tertera tanda tangan Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tak berapa lama kemudian, status FB-nya mengatakan, “Alhamdulillah. Juara I Lomba Penulisan Cerita Rakyat Kategori Umum Kemendikbud 2015. Judul cerita: Nenek Mallomo, Lelaki Itu dan Sepotong Kayu yang Bersandar.”

Continue reading “Inilah Juara 1 Lomba Cerita Rakyat 2015”