7.3K dan 17.8K untuk Indonesia

Lari. Sosok itu pernah tersenyum saat mendengar aktivitas yang terdiri atas empat huruf itu. Bisakah dia melakukannya pada usia yang tidak terbilang muda? Hingga kemudian pada 2013-2014 dia terus bergaul dengan kawan-kawan pelari. Mulai dari Aki Niaki (Blogger senior pendiri Batagor) yang tiba-tiba senang lelarian, hingga anak-anak IndoRunners Bandung dan Bandung Explorer. Keterlibatannya di dunia lari dimulai pada Desember 2013 saat bisa ikut acara Outlive Coast to Coast di Ujung Kulon. Dia hanya penggembira sedangkan peserta lainnya adalah pelari tulen. Hingga kemudian dia baru berani lari di ajang Siliwangi 10K pada Mei 2014, ambil yang 5K. Itu pun gak dapat medali finisher karena hanya mampu lari 4K dan peraturan yang memang membingungkan.

Setelah menemani kawan-kawan pelari dari Bandung ke Jakarta di ajang Long Run Bandung-Jakarta for Leukemia dengan bersepeda pada Juni 2014, barulah dia tergerak untuk lari rutin. Beberapa event lari mulai diikutinya, namun dipilih berdasarkan jarak yang berbeda untuk satu medali finisher. Mulai dari ajang “League Grip The Road 2014” untuk kategori 15K, “Jakarta Marathon 2014” untuk kategori 10K, “Super Ball Run 2014” untuk kategori 5K, dan “Hilly We Run 2015” untuk kategori 21K. Setelah itu … siiiiing, kosong. Entahlah, bisa jadi karena faktor pekerjaan yang lumayan menyita waktu, bermain bersama keluarga, dan 1001 macam alasan yang pada akhirnya membuat sosok itu malas untuk berlari lagi.

Continue reading “7.3K dan 17.8K untuk Indonesia”

Advertisements