Story Pudding : Diari Ummi

Pertama kenal Abang karena faktor teman dekat dan bertemunya di Masjid Salman ITB. Setelah berkali-kali ia berusaha mengenalkan kami berdua, dengan beribu alasan juga Ummi menolak. “Nggak ah, takut jelek. Takut item. Takut suka he he he….” Dan kata yang keluar ketika pertama ketemu, “Betul, Dek, item dan rambutnya rancung. Masa yang kayak gini mau dijodohin ke aku.”

Beberapa bulan kemudian, Juli 2001 adalah saat pertama kali Abang telepon ke rumah pas acara lamaran kakak Ummi. Nah, kita janjian ketemu untuk kedua kalinya. Lalu disusul dengan pertemuan berikutnya meskipun bisa dihitung dengan jari. Sampai kemudian Abang dengan polosnya mengajak Ummi menikah dan dengan polos juga Ummi menjawab, “Abang udah siap menikah?” Abang mengangguk disusul jawaban Ummi, “Ntar Ummi kenalin Abang ke teman yang udah siap juga.” Pada saat itu Abang hanya diam tertunduk. Meski begitu, Abanglah laki-laki pertama yang Ummi ajak main ke rumah dan dikenalkan kepada orang tua.

Continue reading “Story Pudding : Diari Ummi”

Surat Sakit

Dada ini terasa sakit sekali, jalur pernafasanku satu-satunya tersumbat.
Mata dan tubuh sudah terasa letih, namun sesuatu yang menyesakkan telah membuatku terjaga.

Rabb, akankah aku sanggup menghadapi cobaan-Mu ini?
Mungkinkah ini ajalku? Aku tidak yakin siap jika ini takdir-Mu.
Hutangku masih banyak. Janjiku belum terpenuhi semua.

Dan Umi … akankah aku bisa berdampingan dengannya–pada saat hari H nanti. Akankah ia menjadi pendamping surgaku, ataukah hanya sebuah angan yang tak terlaksana?

Dinda … maafkan Abang!
Uuh…! Dada ini sakit sekali

Cisitu Lama, 22 Juni 2002, Pukul 01.15

NB: Saya menemukan catatan ini di buku lama. Subhanallah, kita memang hanya bisa berharap dan berusaha. Di tengah malam itu saya terkena serangan Asma dan sempat berpikir bahwa hidup saya tak akan lama lagi. Alhamdulillah, 3 bulan kemudian saya bisa menikah dengan Umi. Asma memang merepotkan karena itu baca juga … Bersepeda for Better Health.