Diari Ummi: Mereka Begitu Peka

Takhentinya mereka memandang dari balik guling dan Panda kesayangan, melihat umminya pulang bekerja dengan muka murung. Mereka terdiam, tidak ada rengekan seperti biasa, hening….

Pun ketika umminya berbaring di samping mereka. Hanya ada diam … sampai ada suara dari mulut umminya. “Sini, Ummi peluk…” Berlomba-lomba mereka mendekati umminya.

Continue reading “Diari Ummi: Mereka Begitu Peka”

Celengan Baru

Membiasakan anak untuk menabung memang mengasyikkan. Kelihatannya sulit, tetapi jika sudah diupayakan segalanya jadi terlihat mudah dan menyenangkan. Hal inilah yang coba dilakukan oleh sosok itu dan sang belahan jiwa. Lingkungan pergaulan Kakak Bintan dan Adek Anin memang unik dan membuat hati terus merasa was-was. Bagaimana tidak? Dalam radius 50 meter sudah ada 3 (tiga) warung dengan sajian menggoda bagi mata anak-anak. Setiap hari, berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk mereka jajan. Belum masalah kesehatan.

Atas dasar itulah sang belahan jiwa membelikan celengan untuk mereka berdua. Sosok itu sudah lupa, tetapi beberapa bulan yang lalu celengan dari tanah liat berbentuk ayam akhirnya menempati kamar tidur mereka. Setiap hari, tiap ada sisa uang, baik berupa kepingan koin ataupun uang kertas pasti dimasukkan ke dalam celengan ayam itu. Kadang, sosok itu maupun sang belahan jiwa juga memberikan uang lebih khusus untuk ditabungkan. Makin lama, celengan ayam itu pun bertambah berat. Kakak Bibin yang paling bahagia karena celengannya lebih berat daripada milik Adek Anin.

Continue reading “Celengan Baru”

Hadiah Takterduga

Milad yang menyenangkan. Siapa pun pasti akan senang saat merayakan hari ulang tahunnya, apalagi bagi Adek Anin yang baru menjajaki usia 5 (lima) tahunnya. Pesta sederhana yang diadakan pada malam milad kemarin begitu menyenangkan dan tentu akan sangat berharga baginya. Takpernah terbersit bahwa malam berikutnya akan menjadi malam yang takbisa dilupakannya begitu saja. Sebuah kejadian besar, baik bagi dirinya maupun bagi sosok itu dan sang belahan jiwa.

Pada malam hari tertanggal 4 September 2011, maghrib baru saja usai. Pertandingan sepak bola babak kualifikasi Pra Piala Dunia antara Indonesia dan Iran baru akan dimulai. Sosok itu dan Adek Anin sedang asyik makan makaroni kering sambil berbincang-bincang ringan. Dan ketika pertandingan sepak bola sudah akan dimulai, sosok itu begitu antusias duduk di depan TV. Sementara sang belahan jiwa sedang mengolesi tubuh Kakak Bibin yang sedang terkena cacar di kamar atas. Tanpa disadari, Adek Anin telah main ke luar rumah.

Continue reading “Hadiah Takterduga”

Ultah Adek Anin

Alhamdulillah, tepat pada lebaran kemarin adalah bukan saja hari yang berbahagia bagi seluruh umat Muslim (di luar konteks ada yang lebaran pada hari Selasa, 30 Agustus 2011) tetapi juga hari pengingat bagi sosok itu. Ya, tepat 1 Syawal 1432 H (mengikuti keputusan pemerintah RI) kemarin adalah peringatan milad sosok itu yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Tanda bahwa dirinya sudah semakin berkurang usia hidupnya dan makin mendekati ke tanah. Sebuah teguran untuk dirinya.

Dan hari ini, adalah hari kebahagiaan juga bagi sosok itu. Taklain adalah putri keduanya, Nindya Rahmani alias Adek Anin, juga memperingati miladnya yang ke-5. Tidak ada acara khusus untuk ulang tahunnya kali ini seperti mengadakan sebuah pesta dan semacamnya tetapi demi menghibur dia yang sudah pasti akan “sueneng buanget” maka sosok itu dan sang belahan jiwa pun pergi ke toko kue. Ya, apalagi kalau bukan untuk membeli kue ulang tahun. Meski membelinya pada sore hari tertanggal 3 September 2011.

Continue reading “Ultah Adek Anin”

Adek Anin yang Jeli

Adek Anin memiliki banyak keunggulan pada usianya yang masih muda. Terlahir pada 4 September 2006 menunjukkan bahwa perkembangan jauh dari yang dibayangkan sosok itu. Selain ketomboyannya yang kadang membuat sosok itu menggeleng-gelengkan kepalanya, ternyata Adek Anin memiliki keterampilan tersembunyi dalam menangkap gambar tertentu. Ya, tentu saja menangkap gambar dengan kamera.

Sejak memiliki HP SE K530i—yang kebetulan sama dengan milik Sang Belahan Jiwa—, sosok itu jadi lebih mudah menangkap beberapa momen dengan kameranya. Hasil 2MP kameranya terbilang cukup bagus pada siang hari (outdoor) meski tidak terlalu untuk indoor. Adek Anin pun menikmati fasilitas HP ini saat meminjam milik sosok itu dan paling sering meminjam milik Umminya.

Continue reading “Adek Anin yang Jeli”

Adek Anin yang Metal

Tahu apa kebiasaan Adek Anin belakangan ini? Dia suka sekali mengepres (baca: mendirikan) rambut tengah bagian depan, apalagi kalau kondisi rambutnya sedang basah atau sengaja dibasahkan sambil berujar, “Metal!” Duh! Tuh anak ketularan juga dengan istilah yang terkenal pada konsep musik keras di masa 1970-1980. Musik kesukaan sosok itu semasa SMP-SMA sambil sesekali mengikuti festival band atau manggung di acara sekolah dan Agustusan.

Ya, istilah metal memang dipopulerkan oleh grup musik yang mengandalkan instrumen dan kecepatan mencabik gitar. Istilah itu sendiri diperkenalkan oleh Steppenwolf (1960-an) dan makin terkenal oleh Black Sabbath (1970-an). Pada masa akhir SMP (1980-an), sosok itu dan mungkin remaja di perkotaan Indonesia juga diperkenalkan dengan sebuah produk Sampo Metal. Katanya, dengan memakai produk itu kecepatan pertumbuhan rambut kita akan luar biasa. Entah benar atau tidak, yang pasti produk itu merajalela dan menjadi panutan remaja laki-laki dalam bersampo ria.

Continue reading “Adek Anin yang Metal”

Adek Anin dan Kisahnya

Bercerita dengan menggunakan media foto itu mengasyikkan. Inilah kolase foto yang sepertinya mulai ramai lagi. Sewaktu masih belajar fotografi, sosok itu pun pernah beberapa kali mencoba teknik bercerita via foto. Dan rasa rindu untuk memegang kamera setiap hari terus menderanya, apalagi saat melihat orang lain yang memegang kamera. Namun semua itu masih berupa mimpi yang dikejarnya sejak kamera kesayangannya dijual demi kebutuhan mendesak.

Beberapa hari yang lalu saya pernah membuat tulisan tentang seorang kawan bernama Ulu yang merayakan syukuran pernikahanya di Saung Aki samping balong. Jamuan di sana pun menyuguhkan kegiatan memancing bersama Adek Anin yang tentu menambah pengalamannya. Di sana pula sosok itu bertemu dengan kawan maya lainnya yang baru bisa bertemu muka dan hobi memicingkan matanya di belakang kamera. Namanya Ayu dan entah mengapa sering dipanggil dengan Kuke.

Continue reading “Adek Anin dan Kisahnya”