Kapak Ibrahim: Merayakan Perdamaian

“Dan saya minta kepada Tuan-tuan, janganlah hendaknya melihat kolonialisme dalam bentuk klasiknya saja, seperti yang kita di Indonesia dan saudara-saudara kita di berbagai wilayah Asia-Afrika mengenalnya. Kolonialisme mempunyai juga baju modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektuil, penguasaan materiil yang nyata, dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal di tengah rakyat…. Di mana, bilamana, dan bagaimana pun ia muncul, kolonialisme adalah hal yang jahat, yang harus dilenyapkan dari muka bumi.” (Pidato Pembukaan Konperensi Asia Afrika, 18 April 1955, di Gedung Merdeka)

Itulah petikan pidato Bung Karno yang mengawali album kecil Adew Habtsa & Kapak Ibrahim, bertajuk “Merayakan Perdamaian”. Album musikalisasi puisi ini terdiri atas tujuh lagu dan tiga petikan pidato Bung Karno. Noel Saga juga turut membacakan puisi di “Kepada Cak Roes” dan “Istana Bogor”. Adapun petikan pidato yang kedua terpapar jelas pada bagian akhir lagu “Bandung” yang ingin menjelaskan bagaimana spirit Bandung belumlah mati dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa-bangsa kulit berwarna dari penjajahan. Sangat wajar jika PM Nehru menyebut kota Bandung sebagai kota Asia Afrika. Bahkan, salah satu pidato Bung Karno ketika Indonesia merdeka masih dalam benak, jauh sebelum tercetus adanya Konperensi Bandung, telah begitu memusuhi kolonialisme.

Continue reading “Kapak Ibrahim: Merayakan Perdamaian”

Advertisements