Legenda Kembali ke Alam

Alam telah mengajari
banyak hal tentang harmonisasi dan nada
dari sanalah kita harus belajar
karena dari sanalah kita akan kembali

Sudah beberapa hari ini (kurang dari seminggu) sosok itu sedang giat lagi membaca komik. Di ruang kerja rumahnya ada 6 (enam) jilid komik New Kungfu Boy. Memang sudah lama tetapi dia takbosan untuk melihat gambar maupun menikmati bagian-bagian dari cerita dan filosofinya. Kini sosok itu sedang tergila-gila kembali pada komik Legenda Naga yang pernah diminatinya pada masa berstatus mahasiswa. Namun kali ini tidak dalam bentuk buku sebenarnya, melainkan kumpulan gambar yang tersimpan rapi dalam folder komiknya.

Continue reading “Legenda Kembali ke Alam”

Bercengkerama dengan Alam

Sosok itu mencintai kotanya. Meski lahir di Jakarta, dia begitu mencintai Bandung. Kota keduanya dan tempatnya memadu kasih. Kota terindah yang pernah dijejakinya. Pohon-pohon berusia ratusan tahun. Kontur tanah yang takrata macam pebukitan bergelombang. Masyarakatnya yang ramah. Belum udara segar dan ajibnya bisa menyaksikan hawa nafas di pagi hari. Tapi itu dulu.

Kini Bandung panas. Asap-asap buangan tampak begitu jelas di atas kota. Berkumpul dan semakin banyak, tanpa bisa bergerak kemana-mana. Cekungan danau purba yang mematikan. Emisi gas buang kendaraan telah mencapai 18% di atmosfer. Kualitas udara Bandung sudah tergolong buruk. Masyarakatnya diharuskan mengisap udara yang berbahaya. Selama 55 hari di sepanjang tahun. Belum suhu kota yang bertambah 0,3 derajat celcius setiap tahunnya.

Continue reading “Bercengkerama dengan Alam”

Kembali pada Alam

Dua hari terakhir ini, saya mencoba mengembalikan kehidupan yang lebih alami lagi, khususnya pada asupan yang akan mengisi tubuh saya. Jujur, saya pun ‘ngeri’ melihat perkembangan tubuh yang luar biasa. Terakhir menimbang, yaitu seminggu yang lalu, berat badan saya telah mencapai 76 kg. Bandingkan dengan ketinggian tubuh saya yang hanya 170 cm. Idealnya, tubuh saya memiliki berat maksimal 70 kg.

Bersepeda ke kantor sudah saya lakoni sejak 2005, bahkan bersepedanya sendiri sudah dilakukan jauh sebelum itu. Hanya saja, mungkin saya kurang ‘ngotot’ bersepeda agar lemak yang ada di tubuh bisa terbakar. Mungkin faktor keluarga yang membuat saya merasa tenang dan tentram sehingga makan pun menjadi tak bermasalah dan nikmat-nikmat saja. Mungkin juga faktor usia yang membuat tubuh begitu mudahnya mencipta lemak yang pada akhirnya enggan untuk pergi. Mungkin juga faktor kesibukan sehingga saya tidak begitu memperhatikan kondisi tubuh. Wallahu’alam. Tampaknya saya harus berolahraga lebih giat lagi. Mungkin harus ditambah dengan renang tiap minggu agar pernafasan saya makin membaik.

Continue reading “Kembali pada Alam”