Kopdar Teawalk dan Kebersamaan

Mengingatkan kembali bahwa akan diadakan Kopdar yang bertemakan teawalk alias jalan-jalan menyusuri Perkebunan Teh Sukawana yang terletak di daerah Parongpong, Lembang. Tempat berkumpulnya adalah di kediaman Teh Dey yang bertetanggaan dengan Perkebunan Teh Sukawana. Selain bersilaturahmi antarblogger di Kota Bandung dan sekitarnya, tentunya acara ini juga dapat dijadikan ajang tamasya bagi anggota keluarga lainnya. Tidak lupa ada botram (makan bersama) sehingga makin menambah keakraban dan kebersamaan blogger yang hadir.

Continue reading “Kopdar Teawalk dan Kebersamaan”

Anak dan Dunianya

Berbicara tentang dunia anak memang tidak pernah ada habisnya. Selalu saja ada yang menarik untuk diulas. Apalagi kalau membaca beberapa cerita para blogger yang notabene adalah ibu-ibu. Mereka dengan sangat antusias menceritakan tentang anak-anaknya. Meskipun apa adanya, cerita mereka selalu menarik untuk disimak. Ya, dunia anak-anak itu seperti kotak tukang sulap yang selalu menarik untuk dibuka. Bukan hanya kelinci atau merpati putih yang keluar, tetapi bisa jadi ada badut atau bahkan bunga yang berwarna-warni. Pastinya … seru!

Kali ini, sosok itu akan bercerita tentang permainan pada dunia sang kurcaci. Dan tentu saja sosok itu sangat berantusias jika yang dibicarakan adalah permainan tradisional atau berbau alam, bukan elektronik yang belum pada waktunya diperkenalkan kepada mereka. Okelah perkenalan pertama pada game elektronik dimunculkan agar mereka mengerti tentang perkembangan teknologi yang semakin modern, tetapi tetap saja harus dibatasi. Pada waktunya, mereka akan paham tentang dunia teknologi itu dengan ilmu dasar yang tentunya sudah mereka kuasai (yang didapatkan dari orang tua maupun lingkungan belajar di sekolah).

Continue reading “Anak dan Dunianya”

Kitab Berbohong #3

Minggu pagi yang cerah, keesokan harinya. Burung-burung pagi asyik berterbangan dengan lincahnya, meliuk melewati dahan-dahan pepohonan. Angin bertiup perlahan, sementara awan juga sedikit bergerak ke arah utara. Sinar matahari belum menyengat. Beberapa warga sedang membersihkan halamannya. Beberapa juga terlihat sedang membersihkan selokan dan jalan yang terletak tepat di depan rumahnya. Ada ibu yang sedang bergegas pulang dari berbelanja, namun ada juga yang sebaliknya, baru berangkat berbelanja. Juga terlihat beberapa ibu muda sedang menggendong anak-anaknya yang masih kecil sambil menyuapkan bubur sarapannya. Pagi yang indah untuk bersosialisasi.

Continue reading “Kitab Berbohong #3”

Kitab Berbohong #2

Malam telah turun. Bintang gemintang mulai bermunculan satu persatu mengerlipkan cahayanya, sementara bulan sudah maujud sejak sore tadi. Cahaya bulan telah penuh menyinari permukaan bumi, namun terasa kurang bagi manusia hingga menambahkan cahaya lampu di tiap-tiap rumah dan beberapa jalan.

Riki, anak lelaki berusia delapan tahun merasa cemas. Rumah orangtuanya yang berlokasi di Blok F dan bernomor 13 terasa lengang. Kedua orangtuanya sedang pergi. Riki cemas karena sebuah guci kesayangan ibunya telah pecah. Tanpa ia sadari, Riki telah menyenggol guci itu ketika asyik bermain kapal-kapalan yang terbuat dari kertas. Serpihan-serpihan keramik dari yang besar hingga yang kecil telah berserakan di berbagai tempat. Riki tersedu. Apalagi jika mengingat kemarahan ibunya yang sangat ringan mulut dan ringan tangan itu. Sakit sekali.

Continue reading “Kitab Berbohong #2”

Kitab Berbohong #1

Seekor burung melayang rendah melewati sebuah rumah di Blok C bernomor 17. Tanaman pagar berdiri kokoh melindungi halaman rumah itu dari serbuan debu jalanan, selebihnya tidak ada tanaman lain yang ditanam di tanah pekarangannya. Hanya lima buah pot tanaman anggrek yang tergantung rapi. Satu jemuran praktis yang sudah terlipat teronggok di samping rumah, dengan beberapa kain bekas. Pintu depannya terbuka penuh, memperlihatkan seorang anak lelaki berusia lima tahun yang sedang asyik bermain di tengah serakan mainannya yang berlainan jenis.

“Dede…, mandi yuk. Sebentar lagi bapak pulang,” terdengar suara sang ibu. Anak lelaki itu menoleh ke arah belakang. Matanya yang bening seolah mencoba memaknai ucapan ibunya barusan. Tak lama ia kembali me-ngeeeng-kan mobil ambulansnya menabraki mainan lainnya.

Continue reading “Kitab Berbohong #1”

Dunia Pelangi di Mata Anak

Kebersamaan. Keseragaman. Ketidakadaperbedaan. Kata kuncinya adalah sama. Bersama-sama mencicipi kegembiraan. Bersama-sama melalui proses kesenangan. Tanpa kecuali. Dan inilah bentuk atau makna istirahat bagi sosok itu setelah bekerja seharian, enam hari seminggu. Takada keceriaan atau kebahagiaan kecuali melihat dunia pelangi di mata anak-anak. Anak-anak masa depan. Penggantinya kelak.

Continue reading “Dunia Pelangi di Mata Anak”

Horror Chronicles

Asli! Hidup gue makin paripurna setelah mendapatkan dua putri yang macan, alias manis dan cantik. Bibing (7 tahun) berambut keriting alias ikal sedangkan Ninin (4 tahun) berambut lurus. Yang pasti, keduanya lumayan bageur untuk ukuran anak sebayanya (emangnya sepatu, pake ukuran segala!). Sudah banyak ulah yang mereka kerjakan sehingga keduanya mendapat beberapa ‘hak paten’ berupa luka-luka, apalagi Ninin kendati usianya lebih muda.

Seperti pada malam itu, saat semua anak-anak tetangga tak terdengar lagi suaranya karena diperkirakan tidur. Ye, meneketehe kele mereke pede teder ete belem. Ah ngaco! Jam di tembok udah menunjukkan angka sembilan lebih sedikit, tapi Bibing dan Ninin masih asyik loncat-loncatan di atas ‘bed’ yang benar-benar ‘spring’. Belum lagi beberapa baju, boneka, mainan, yang letaknya bagai kurva tak beraturan. Di mana-mana?! Nah, apalagi bokin tercinta sedang dines malem di rumah sakit yang artinya: berangkat jam 8.30 malem dan pulangnya jam 9 pagi besok!

Continue reading “Horror Chronicles”

Anak: Mutiara Kehidupan

Malam sudah mendekati larut. Sosok itu pun memasuki lorong yang sempit dan gelap. Hanya keheningan yang tercipta. Benar-benar kosong. Tak lama, pintu pagar pun berdecit karena usia yang memang membuatnya berkarat. Suara anak-anak kecil pun bergema. “Itu abi. Abi pulang.” Sosok itu pun tahu bahwa anak-anak belum tidur. Mereka sudah pasti menunggunya pulang.

Menjelang larut malam, sosok itu tersenyum lega. Si bungsu mendekapnya erat. Tangannya seolah tak mau lepas dari pelukan sang sosok. Beberapa kali ia menciuminya sementara mata peradabannya terpejam. Sang sulung pun sudah bergelung dengan gulingnya. Tangannya bergerak saat sosok itu tidak menge-‘mpok-mpok’ pantatnya. Ritual tiap menjelang tidur setelah membaca doa dan berharap dapat bermimpi indah serta dijauhkan dari mimpi buruk.

Ya, anak adalah mutiara. Mutiara kehidupan. Orangtua harusnya bersyukur saat dianugerahi anak. Kehidupannya tidak boleh disiakan. Apabila ada waktu lima menit, manfaatkanlah untuk bersentuhan dengan mereka. Apabila ada waktu satu menit, pergunakan untuk mengenal mereka. Bermainlah dengan anak-anak meski sempit sekali waktunya. Tersenyum dan berimajinasilah dengan mereka.

Sungguh beruntung sosok itu begitu dekat dengan anak-anaknya, Bibin dan Anin. Naif sekali jika ada orangtua yang menganggap bahwa anak-anak harus dekat dengan sang ibu saja. Itu (memang) keharusan. Akan tetapi sang bapak juga harus dekat dengan mereka. Keduanya harus dapat bekerjasama mengurus anak-anak. Berbagi kerja. Menata rumah tangga sebagaimana rekan kerja. Ego harus dibuang jauh-jauh. Yang ada hanyalah keikhlasan dan kasih sayang. Itu pun cukup.[]

We are guilty of many errors and faults, but our worst crime is abandoning our children, neglecting the fountain of life. Many of the things we need can wait. The child can not. Right now is the time his bones are being formed, his blood is being made and his senses are being developed. To him we can not answer “tomorrow”. His name is “today”. ~ Gabriela Mistral (Nobel Sastra 1945)

Banyak kekhilafan dan kesalahan yang kita perbuat, namun kejahatan kita yang paling nista adalah kejahatan mengabaikan anak-anak kita, melalaikan mata air hayat kita. Kita bisa tunda berbagai kebutuhan kita. (Tetapi) kebutuhan anak kita, tak bisa ditunda. Pada saat ini tulang belulangnya sedang dibentuk, darahnya dibuat, dan susunan syarafnya tengah disusun. Kepadanya kita tak bisa berkata “esok”. Namanya adalah “kini”. ~ Taufiq Ismail