Jangan Banyak Berteori: Just Write!

Sudah delapan hari ini saya tidak meng-update blog ini. Artinya, ada keterlambatan enam hari dimana saya tidak menulis apa-apa selain menikmati hidup ini dengan berbagai aktivitas yang menguras tenaga dan waktu. Mengurus keluarga, mengurus diri sendiri, menjaga silaturahmi, memenuhi kewajiban, dan menambah ilmu. Semuanya berjalan harus dengan konsep dan alhamdulillah … saya menikmati hal itu semua. Dan subhanallah, selama dua hari ke belakang saya bisa berbincang-bincang langsung (kendati hanya lewat jaringan telepon) dengan rekan sesama penulis beda bangsa dan bahasa, membicarakan tentang banyak hal. Ada keunikan tersendiri saat saya harus memaksakan diri berbahasa ala Upin dan Ipin.

Sebelumnya, tepat sebelum saya terus berkampanye tentang penggunaan sepeda setiap hari di jalan raya (sampai empat postingan), saya terus berkampanye tentang menulis. Ya, saya lebih banyak berteori tentang kepenulisan. Bagaimana bisa begini, bagaimana bisa begitu, dan sebagainya. Padahal … menulis adalah pekerjaan aktual, pekerjaan nyata, pekerjaan yang membutuhkan energi luar biasa, bukan hanya sekadar berteori. Okelah saya bisa mengelak karena profesi saya lainnya adalah sebagai pengajar tetap tentang media kreatif (salah satunya kepenulisan) di SMPIT Baitul Anshor, termasuk diundang sebagai pemateri untuk bidang kepenulisan. Akan tetapi, tidak banyak yang tahu kalau saya bisa jadi jarang menulis kecuali hanya menulis catatan ringan di blog ini. Sekali lagi: hanya catatan ringan! Namun, saya juga meng-appreciate mereka yang baru hanya bisa menulis diari atau hanya sekadar menulis tentang dunia pelajaran di kelasnya. Semuanya berproses dan kita harus menghargai semua proses itu.

Continue reading “Jangan Banyak Berteori: Just Write!”