Bersepeda for Better Health (Penderita Asma Harus Berolahraga!)

Sosok itu merenung. Sudah takdir bahwa saat pertama kali menghirup udara bumi dirinya dicap sebagai penderita asma. Ingatannya kembali membuka pada sekira tahun 80-an, saat dirinya yang masih SD terserang asma hebat di malam yang larut. Kedua orang tuanya pun panik dan langsung mencari mobil agar bisa membawanya ke rumah sakit. Alhamdulillah, setelah mendapatkan perawatan yang memadai dengan disuntik dan dioksigen kesehatannya pun berangsur membaik. Itulah kebahagiaan yang luar biasa setelah terbebas dari perasaan tertekan tak bisa menghirup udara bumi, ditambah setelahnya belanja makanan kecil menjelang subuh. Ada semacam ketakutan pada dirinya bahwa hidupnya tidak akan lama mengingat teman sepermainannya yang juga penderita asma, meninggal dunia saat mereka berdua duduk di kelas 5 SD.

Serangan asma yang menghebat juga pernah dialami sosok itu saat duduk di bangku SMA. Akibatnya, dia pun kembali harus ke rumah sakit dan harus menjalani terapi suntik dan oksigen. Pada saat itulah dia pun diperkenalkan pada obat inhaler atau semprot bermerek ventolin. Bisa jadi, karena ini obat praktis, dia pun menjadi ketergantungan pada saat-saat awal. Alhamdulillah bahwa sosok itu tidak terlalu tergantung pada ventolin pada saat harus berhijrah ke Bandung untuk menjalani hidup sebatang kara sebagai mahasiswa. Apalagi konsep perkuliahan di ITB yang memadukan konsep otak dan tubuh, sehingga dia pun terbiasa berolahraga dengan mudah karena sarana yang lengkap. Sebut saja bulutangkis, tenis meja, volley, basket, sepak bola, renang, dan sepeda dijalaninya dengan teratur. Bahkan, pada wilayah jurusan kuliahnya, sosok itu selalu mengambil bagian sebagai tim inti setiap ada pertandingan penting pada semua cabang olahraga itu. Banyak kawan-kawannya yang tak menyadari dan tak tahu kalau dirinya adalah sosok penderita asma yang hebat.

Continue reading “Bersepeda for Better Health (Penderita Asma Harus Berolahraga!)”