Q&A tentang Dunia Menulis (1)

Alen: Katanya, kan, menulis itu diawali dgn membaca, bacaan seperti apa yg cpt menstimulasi untuk menulis? Apa setiap bacaan? Bagaimana membuat tulisan yg dpt membuat pembaca menyukai tulisan kite? Gtu aj deh….

Bang Aswi: Bacaan apa saja. Pada saat membaca, buang keegoisan kita untuk membaca karya tertentu. Tapi bacalah semua bacaan itu tanpa membanding-bandingkan. Di sinilah kita harus memposisikan diri kita sebagai pembaca. Itulah kenapa saya sudah menjelaskan di awal bahwa kita harus menganggap pembaca itu cerdas. Setelah tulisan kita selesai, bacalah dan jadilah diri kita sebagai pembaca, bukan sebagai penulis lagi. Artinya, kalau ada tulisan kita yang kurang sreg, jangan sungkan2 untuk menghapus dan mengeditnya. Kita harus menjadi ratu tega untuk membersihkan kesalahan mungkin seperti itu. Mudah2an Teh Alen bisa memahami, ya.

Continue reading “Q&A tentang Dunia Menulis (1)”

Menjadi Penulis Cap Opor

Siapa sih yang tidak mau menjadi penulis seperti Habiburrahman El-Shirazy atau Andrea Hirata? Dengan menulis buku Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi saja, mereka berdua sudah menghasilkan royalti hingga miliaran rupiah. Tak heran kalau saat ini keduanya pun sudah memiliki ladang bisnis baru. Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman) telah memiliki pesantren, penerbitan, dan sekolah/kursus menulis. Moamar Emka (penulis buku bestseller Jakarta Undercover yang juga menikmati royalti raksasa) pun telah mendirikan Agro Media dan akan menyusul sekolah menulisnya. Dan kalau mau ditambahkan, ada seorang penulis cilik yang tergabung dalam Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) Mizan telah mendapatkan royalti 19 juta tiap bulannya. LUAR BIASA!

Continue reading “Menjadi Penulis Cap Opor”

W R I T I N G

Waktu

  • Sebagai salah satu makhluk yang diciptakan Allah, manusia (walau telah dimuliakan dengan nikmat akal dan hati) tetap saja mempunyai keterbatasan. Dan salah satu faktor yang membatasi manusia adalah waktu. Oleh waktu, manusia dilahirkan. Oleh waktu pula, kelak manusia akan menghadapi kematian. Karena dengan keterbatasan itulah, manusia harus cerdas dan pandai dalam mengelola waktu.
  • Waktu berkaitan erat dengan pengalaman. Waktu yang telah lalu, telah menjelma pengalaman. Manusia tidak bisa membalikkan waktu, tetapi manusia bisa belajar dari masa lalu. Manusia bisa belajar dari pengalaman. Bukan hanya pengalaman dirinya sendiri, tetapi juga pengalaman orang lain. Pengalaman orang-orang terdahulu. Pengalaman yang tersurat maupun yang tersirat.
  • Dalam menulis, manusia akan lebih mudah menulis yang sudah pernah dialaminya. Menulis pengalamannya sendiri. “Hanya ada satu sumber yang tersedia sebagai bahan fiksi (tulisan) Anda. Sumber tersebut adalah pengalaman Anda sendiri, kehidupan Anda sendiri, kenangan Anda sendiri, mimpi Anda sendiri, dan imajinasi Anda sendiri,” kata Carmel Bird.

Continue reading “W R I T I N G”

Ingin Jadi Penulis? Bacalah!

Pujian terbesar untuk karya saya tertuju kepada imajinasi,
padahal sebenarnya tidak satu pun baris dalam semua karya saya
yang tidak berpijak pada kenyataan.
(Gabriel Garcia Marquez)

Konon, pada zaman dahulu di negeri Cina, orang yang ingin menjadi pelukis akan diberi sebuah lukisan yang sudah jadi dan baik, biasanya yang dibuat oleh seorang master, yaitu seorang ahli melukis atau pelukis terkenal. Sang calon pelukis disuruh meniru lukisan master tadi, sampai sebisa-bisanya, dan semirip mungkin. Sesudah berpuluh-puluh kali mencoba, sang murid akan mendapat sebuah lukisan master baru yang lain lagi untuk ditiru. Begitulah seterusnya sampai sang calon pelukis itu bisa melukis sendiri, dan mulai menemukan bentuk khas yang sesuai dengan kepribadiannya. Metode ini dinamakan copy the master, yang artinya meniru lukisan seorang ahli.

Continue reading “Ingin Jadi Penulis? Bacalah!”

Bacalah! Agar Anda Siap Menjadi Penulis

Pujian terbesar untuk karya saya tertuju kepada imajinasi,
padahal sebenarnya tidak satu pun baris dalam semua karya saya
yang tidak berpijak pada kenyataan.
(Gabriel Garcia Marquez)

Konon, pada zaman dahulu di negeri Cina, orang yang ingin menjadi pelukis akan diberi sebuah lukisan yang sudah jadi dan baik, biasanya yang dibuat oleh seorang master, yaitu seorang ahli melukis atau pelukis terkenal. Sang calon pelukis disuruh meniru lukisan master tadi, sampai sebisa-bisanya, dan semirip mungkin. Sesudah berpuluh-puluh kali mencoba, sang murid akan mendapat sebuah lukisan master baru yang lain lagi untuk ditiru. Begitulah seterusnya sampai sang calon pelukis itu bisa melukis sendiri, dan mulai menemukan bentuk khas yang sesuai dengan kepribadiannya. Metode ini dinamakan copy the master, yang artinya meniru lukisan seorang ahli.

Continue reading “Bacalah! Agar Anda Siap Menjadi Penulis”