Bandung Bike Babes

“The next time you come to Bandung, contact us and we’ll go for a ride around town or maybe even further. There are only women in this group. So, if you say ‘No’, there’s something wrong with you!” one of the members of Nu Gareulis Ngagowes (NGN) cheekily told us guys. Needless to say, we’ll definitely hook up with them in our next trip to Bandung. Yeah, NGN (loosely translated from Sunda dialect: ‘pretty ones cycling’) consists of avid female cyclists who love the freedom on unmotorised two wheelers. Founded ini January last year, it now has about 150 members, and is growing. The youngest member is eight years old while the most senior ones are their 60s. NGN leader, Dewi Gilang Kurnia said the idea was formed after she and a few female cycling enthusiast friends decided to form a group to (safely) do outdoor recreational activities together. “Many of our members ride bicycles to their respective workplaces. I do it too, sometimes… a 20km journey, one way,” she proudly proclaimed. Respect!

Continue reading “Bandung Bike Babes”

Sepeda: Saksi Bisu Sejarah

Membicarakan sejarah sepeda di Indonesia berarti kembali membuka lembaran kelam bangsa ini, penderitaan yang seakan tidak pernah berakhir bagi penduduk di masa kolonial bangsa asing di Indonesia. Sepeda dibawa masuk ke Indonesia oleh kolonial Belanda. Sebagai teknologi baru, sepeda segera saja menjadi primadona bagi priyayi pribumi, kolonial Belanda, serta kaum elite pedagang.

“Hal ini dibuktikan dengan tumbuh suburnya toko-toko sepeda di Hindia Belanda taklama sejak ditemukannya model transportasi ini. Dokumen berupa iklan di media cetak pada 1950 tentang Toko Sepeda NV Handel-Maatschappij ‘Lim Tjoei Keng’ menyebutkan bahwa toko tersebut sudah berdiri sejak 100 tahun sebelumnya, atau berarti tahun 1851. Iklan ini juga menerangkan toko tersebut memiliki cabang di ‘antero Java’ seperti Batavia, Bandoeng, Cheribon, Pekalongan, Tegal, Solo, Djogja, Semarang, dan Soerabaia.” [Kompas.com]

Continue reading “Sepeda: Saksi Bisu Sejarah”

Hemingway dan Sepeda

It is by riding a bicycle that you learn the contours of a country best, since you have to sweat up the hills and coast down them.  Thus you remember them as they actually are, while in a motor car only a high hill impresses you, and you have no such accurate remembrance of country you have driven through as you gain by riding a bicycle.” ~ Ernest Hemingway

Bisa jadi masyarakat Indonesia banyak yang tidak tahu bahwa Ernest Hemingway adalah penggila olahraga sama seperti sosok itu. Sebut saja tinju, memancing, berburu, adu banteng, hingga termasuk bersepeda.

“Hem sangat tergila-gila pada balap sepeda,” kata John Dos Passos—salah seorang penulis yang juga kawan baik Hemingway—setelah bertemu dengannya di Paris pada 1924. “Dia selalu memacu sepedanya begitu cepat layaknya peserta Tour de France untuk mengelilingi boulevards.”

Continue reading “Hemingway dan Sepeda”