Wajah Secerah Pelangi

Tahukah kau apa itu pelangi?
Itulah senyum alam selepas rinai
Dan di sanalah wajahmu menyembul
Berbinar meski mendung kadang muncul

Continue reading “Wajah Secerah Pelangi”

Penyakit Cacar

Aku pernah kena cacar, rasanya gatal sekali. Cacarnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kalau digaruk rasanya perih sekali. Ummi menyalepiku setiap hari supaya aku sembuh. Keesokan harinya aku masih sakit. Sakitku 12 hari. Makin lama aku sembuh dan bersekolah. Aku senang bersekolah dan ketemu teman-teman lagi.

Ditulis oleh Bintan [25 Oktober 2011]

Continue reading “Penyakit Cacar”

Mengantar Bibin

Ini juga masih dengan kisah lalu, tetapi berkaitan dengan Bintan Fathikhansa alias Bibin yang kini telah berusia 7 tahun 7 bulan dan duduk di kelas 2 SDN Karang Pawulang 3. Pada saat itu Bibin mendapatkan undangan ulang tahun dari salah seorang kawannya, Alya, di salah satu tempat makan ala Jepang, Hoka-Hoka Bento. Kebetulan sang belahan jiwa tidak dapat menemaninya karena dinas yang tidak mungkin ditinggal, sehingga sosok itu harus menggantikannya. Terbayang, sosok laki-laki diantara para ibu. Ditambah, dia sama sekali belum mengenal ibunda Alya. Khawatir salah tegur. Hiyyy!

Continue reading “Mengantar Bibin”

Es Krim Membawa Nikmat

Tulisan ini memang tidak bercerita tentang sosok itu. Bukan tentang abiku yang biasa menulis di sini. Akan tetapi tentang aku. Perkenalkan namaku Bintan Fathikhansa. Teman-temanku biasa memanggilku dengan sebutan Bintan tetapi orang-orang di rumah sering memanggilku dengan Kakak Bibing. Aku sekarang masih kelas 1 di SDN Karang Pawulang 3. Aku pun mengikuti kursus sempoa agar bisa mempelajari hitung-hitungan dengan mudah. Aku suka menggambar dan mewarnai tetapi aku lebih suka bercerita daripada menulis. O ya, aku suka sekali dengan cerita para putri-putri.

Continue reading “Es Krim Membawa Nikmat”

Tiga Bidadari

Keluarga adalah bingkai terindah yang selalu menjaga sisi kehidupan kita. Ia menjaga kita agar tidak terlalu berkecil hati ataupun terlalu bersemangat. Ia selalu menjaga kita agar tetap seimbang; selalu berada di tengah-tengah, sehingga kita bisa mencari waktu yang tepat kapan kita berada di puncak atau istirahat di rerumputan yang sejuk.

Tiga bidadariku adalah neraca kehidupanku.

Continue reading “Tiga Bidadari”

Bibing: Diakui sebagai Ayah

Hari masih gelap. Sosok itu dan pasangan jiwanya sudah berdiri di sisi jalan yang sepi. Apabila hari telah terang, tak terbayang padatnya jalan itu, sampai-sampai para penyeberang jalan harus sabar. Sebuah angkot datang, dan mereka berdua pun naik. Sosok itu memandang perut pasangan jiwanya yang besar dan keras. Ada sebuah rasa dan asa. Di sana.

Belum jauh berjalan, sang sopir meminta izin berbelok ke arah yang bukan rutenya. Menjemput penumpang yang sakit parah katanya. Sosok itu hanya mengangguk kendati pasangan jiwanya juga membutuhkan pertolongan cepat. Lama menunggu di depan rumah calon penumpang yang katanya tidak bisa berjalan, tak ada sapa di sana. Hingga hari pun terang. Setengah jam menunggu hingga angkot pun terpaksa jalan. Mau naik taksi katanya.

Sekali lagi, sampai di rumah sakit sang jabang bayi belum mau keluar. Pembukaan sudah besar, tetapi plasentanya pendek. Itu kata bidan. Sama halnya dengan kejadian beberapa minggu lalu. Meski sudah pembukaan empat, sang jabang bayi masih betah di sana. Agar persalinan berjalan normal, nantinya, sang pasangan jiwa pun berjalan-jalan. Mengitari rumah sakit dan menengok ruang kerjanya di belakang sana.

Wajah cantiknya bercahaya. Sosok itu memandang pasangan jiwanya. Tanpa lelah, ia menyeterika beberapa kain yang dipersiapkan untuk sang jabang bayi. Masih sempat-sempatnya. Setengah jam berlalu, dan keduanya pun kembali berjalan ke arah ruang persalinan. Sampai di sana, alhamdulillah pergerakan pun terjadi. Bidan pun bersiaga. Para bidan bahkan. Ini ajaib, karena sang pasangan jiwa sangat dikenal. Sosok itu berdiri di sampingnya. Begitu pula sang ibu mertua, almarhumah.

Pengalaman pertama. Subhanallah. Dimarahi. Diteriaki. Menjerit. Dorong. Nafas panjang. Angkat kepalanya. Dipaksa. Ngeden. Allah Mahatahu apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Sosok kecil itu pun keluar dengan sempurna. Menangis. Meronta. Disedot. Tak sadar airmata mengalir. Hati berdebur begitu kencang. Sosok itu dan pasangan jiwanya berpelukan. Semua sehat. Sakit 15 bulan lalu menjadi hilang, saat janin pertama harus gugur.

Diciumnya sosok kecil itu. Masih bau plasenta, tapi begitu harum. Azan pun berkumandang di telinga kanannya dan iqomat di telinga kirinya. Tak lama setelah dibersihkan. Bintan Fathikhansa. Itulah sebutan sosok kecil itu. Sebelumnya Khansa Bintan Fathiya. Bintan adalah nama pulau tempat mertua sedang merantau. Perempuan yang meraih kemenangan. Siang yang indah. Siang yang cemerlang. Siang yang fantastis. Tepat tujuh tahun yang lalu. Tanpa terasa.[]

Si Manyun dan Si Ingusan (Bintan – 6,5 tahun)

“Kenalkan, namaku Si Manyun. Kamu tahu kenapa aku dipanggil Si Manyun? Karena aku selalu manyun. Kalau diam aku selalu manyun, kalau bicara aku juga manyun, setelah tertawa pun aku juga suka manyun.”

“Kenalkan, namaku Si Ingusan. Kamu tahu kenapa aku dipanggil Si Ingusan? Karena aku selalu ingusan. Suara sentrap-sentrupnya pasti bikin jijik, ya? Maafin, ya. Habis mau gimana lagi?”

Si Manyun dan Si Ingusan pun bermain bersama. Mereka berdua bermain petak umpet. Si Ingusan kesal sekali, karena dia selalu saja kalah. Tempat persembunyiannya selalu saja berhasil ditemukan Si Manyun.

“Kenapa ya, aku selalu ketahuan?” tanyanya heran.

“Karena kamu ingusan,” jawab Si Manyun. “Suara ingusmu kedengaran, jadi aku tahu tempat persembunyianmu.”[]

Diceritakan oleh Bintan Fathikhansa di depan Anindya Rahmakhansa
Ditulis oleh Bang Aswi [16 April 2010]