Nenek Mallomo, Lelaki Itu, dan Sepotong Kayu yang Bersandar

Kerajaan Sidenreng yang dikenal sebagai kerajaan yang sangat subur tiba-tiba tandus karena kemarau berkepanjangan. Tanah retak menganga menunggu curahan hujan, hewan ternak kurus kering, rakyat nelangsa tak berpenghasilan. Raja La Patiroi kemudian memanggil Nenek Mallomo sebagai penasihat kerajaan Sidenreng. Nenek Mallomo adalah gelar dari nama aslinya La Pagala. Sesuai dengan namanya, Mallomo berarti memudahkan. Segala urusan akan terasa mudah jika Nenek Mallomo turun tangan.

Segala urusan? Ternyata tidak! Untuk kemarau, itu adalah urusan langit. Secerdas apapun Nenek Mallomo, dia tak bisa menurunkan hujan dari langit. Tapi sebagai penasihat kerajaan dia harus menemukan solusi untuk rakyatnya yang semakin menderita karena kekeringan. Pertemuannya dengan Raja La Patiroi kemudian membuahkan kesimpulan bahwa kerajaan dilanda kemarau panjang karena ada rakyat yang tidak jujur ataupun mengambil hak orang lain. Nenek Mallomo sebagai penasihat kerajaan yang saat itu posisinya sejajar dengan hakim, akhirnya memutuskan bahwa hukuman setimpal untuk orang yang menjadi penyebab kemarau itu adalah hukuman mati.

Continue reading “Nenek Mallomo, Lelaki Itu, dan Sepotong Kayu yang Bersandar”

Advertisements

Inilah Juara 1 Lomba Cerita Rakyat 2015

“Nangis bahagia saya sebagai guru bisa jabat tangan sama Pak Anis Baswedan.”

Lomba-29Itulah kalimat pertama S. Gegge Mappangewa di grup WA khusus pengurus pusat Forum Lingkar Pena (FLP). Kalimat itu hadir bersama sebuah piagam penghargaan yang menyatakan bahwa Sabir didaulat sebagai Juara 1 Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tahun 2015 Kategori Umum/Dewasa. Di bawahnya tertera tanda tangan Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tak berapa lama kemudian, status FB-nya mengatakan, “Alhamdulillah. Juara I Lomba Penulisan Cerita Rakyat Kategori Umum Kemendikbud 2015. Judul cerita: Nenek Mallomo, Lelaki Itu dan Sepotong Kayu yang Bersandar.”

Continue reading “Inilah Juara 1 Lomba Cerita Rakyat 2015”