Misteri Batu Bercahaya

Barry Tikus memiliki tampang bodoh. Telinganya terlalu kecil untuk dapat menangkap kata-kata bijak ayahnya. Meski begitu, hatinya seluas mangkuk susu. Perbandingan yang pantas jika dilihat dari tubuh kecilnya. Dan Barry Tikus adalah malaikat yang diturunkan Sang Maha kepada kedua orangtuanya. Ini pengakuan sang ibu.

Di sanalah langkah Barry Tikus terhenti. Seonggok batu bercahaya menghadang perjalanannya. Korek api yang dijadikan penerang di lorong gelap pun seolah tak bermakna. Barry Tikus segera mematikan api koreknya. Pada saat itulah mata Barry Tikus membelalak! Asap yang mengepul dari batang korek tersedot oleh batu bercahaya. Semuanya.

Suara. Terdengar suara bijak di kepala Barry Tikus. Seperti suara yang terdengar pada prolog atau epilog film futuristik kesukaan Pak Jimmy—sosok manusia yang rumahnya ditempati oleh keluarga Barry Tikus. Suara tanpa wujud. Barry Tikus pun berkata, “Aku ingin memiliki penciuman yang tajam.” Batu bercahaya makin bercahaya. Entah mengapa, Barry Tikus langsung dapat mengendus keju kesukaannya. Di dapur Pak Jimmy.

Greg Tikus Besar heran. Dialah tikus pelacak yang disegani. Bagaimana mungkin Barry Tikus bisa menemukan keju segar di dalam lemari dapur yang tersembunyi di balik toples tertutup rapat? Barry Tikus bercerita. Lorong gelap itulah rahasianya. Batu bercahaya kuncinya. Dan di sanalah Greg Tikus Besar tersenyum lebar. Dia pun mendengar suara bijak saat asap koreknya tersedot batu bercahaya.

Dengan kesenangan yang meledak-ledak Greg Tikus Besar pun berkata, “Aku ingin semua tikus cewek sangat-sangat menyukaiku, mencintaiku dengan sepenuh hati. Aku ingin mereka semua terbuai oleh senyum manisku.” Greg Tikus Besar kembali tersenyum lebar sambil mengucapkan “cheeeese” membayangkan dirinya sedang difoto oleh para fotografer.

Batu bercahaya makin bercahaya. Greg Tikus Besar tiba-tiba berasap dan menghilang. Pada saat asap menghilang, sebuah keju besar berlapis coklat magnum menggoda teronggok di sana. Barry Tikus pun datang mengendus dan langsung tersenyum lebar. Tahulah ia apa yang harus dilakukan pada makanan kesukaannya itu.[]

Hikmah:
1. Untuk memperoleh hasil, berusahalah. Tak ada istilah instan untuk keberhasilan.
2. Berhati-hatilah dengan apa yang diinginkan. Lidah tak bertulang.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

Advertisements