Mengenang Cumi Lebay, Travel Blogger yang Humble

Foto di atas di ambil di Puncak Dharma, Ciletuh

Sosok itu memandang orang di depannya sambil sesekali memasukkan sate ke dalam mulutnya. Terlihat jelas ada binar di matanya, bening. Dia tahu benar apa yang ada di dalam hati pemuda yang memiliki kumis tipis dan jenggot yang pendek itu. Bergemuruh. Masa lalunya kelam, tapi sedikit-sedikit beliau telah berubah. Meski ada beberapa bagian dari episode hidupnya belum bisa ditinggalkan, terlihat jelas bagaimana beliau memang telah bertaubat, dari kesehariannya selama ngetrip, baik itu di hotel maupun di luar. Hembusan angin malam saat itu tidak bisa mengusir panas Kota Pekanbaru. Cumi Lebay tersenyum tipis, tapi tidak bisa menyembunyikan embun yang mengembang pada kedua matanya.

“Banyak orang yang gak suka sama aku, Baaang.” Beliau menarik nafas panjang, “Tapi aku tahu … mereka suka ngomongin aku.” Sosok itu mengambil potongan lontong di depannya. Suasana warung Sate Padang di sisi jalan yang lumayan jauh dari Hotel Alpha Pekanbaru itu tidak terlalu ramai. “Tapi aku gak peduli,” lanjutnya. “Ya ngapain kita peduli sama mereka yang juga gak peduli dengan kita,” potong sosok itu. “Yang terpenting itu adalah diri kita sendiri … dan keluarga. Hanya kita sendiri yang tahu siapa kita … dan Sang Maha.” Kedua lelaki yang dipertemukan oleh hanya dua kali perjalanan itu saling bercerita tentang segala hal. Momen selepas shalat Isya berjamaah di masjid besar di sisi jalan membuka semuanya.

Adi orang baik. Bahkan saat sakaratul maut, empat orang sahabat di Jogja sedang membicarakan kebaikan-kebaikan Adi. Bagaimana para sahabat ini dipertemukan oleh Adi. Adi orang baik. Sudah dua kali dia ngetrip bareng dan sekamar dengannya. Terakhir November 2016 saat ke Pekanbaru. Beberapa kebaikannya yang selalu membekas: Adi rajin shalat berjamaah di masjid 5 waktu, rajin tilawah, rajin puasa sunnah (yang sebelumnya puasa Daud beralih ke puasa Senin-Kamis), dan rajin shalat malam.

Travel Blogger di Kawah Putih

5 Travel Blogger di Kawah Putih (Foto oleh Dudi Sugandi)

Bicara soal masjid, Adi adalah travel blogger yang selalu mencari masjid terdekat dari hotel tempatnya menginap. Selalu ada momen untuk membuat janji agar bisa ke masjid bersama-sama. Mereka berdua saling mengingatkan untuk saling membangunkan (kalau ketiduran) dan bisa shalat di masjid. Akan tetapi seringnya saat sosok itu nge-WA, “Mas, ke masjid yuuuk.” Jawabannya adalah, “Abaaang, aku sudah di masjid.” Keduluan, deh. Pernah ada kejadian unik saat pada siang hari yang panas, dia berjalan kaki dari hotel menuju sebuah masjid besar di Pekanbaru. Jaraknya sekira dua kilometer. Dia berjalan sendirian karena Adi sedang jalan-jalan memetakan mall atau plaza karena entah mengapa beliau memang suka sekali nongkrong di tempat tersebut sekadar untuk nonton atau makan. Kalau tempatnya oke beliau bisa berlama-lama, kalau tidak ya langsung balik badan.

Cuaca agak mendung setelah sebelumnya panas menyengat. Hujan pun turun perlahan saat dirinya telah sampai di masjid. Waktu masih ada setengah jam sebelum azan Ashar. Dia menyempatkan diri untuk tilawah dan setelahnya membaringkan badan. Hujan melebat. Azan berkumandang dan ritual shalat Ashar berjamaah terlaksana dengan baik. Sosok itu bertanya-tanya di masjid mana Adi shalat. Beres semuanya, dia berjalan menembus hujan yang masih ada, lalu naik angkot dan kembali ke hotel. Taklama bertemu dengan Adi dan mengobrol panjang lebar. Ternyata … Adi juga shalat Ashar di masjid yang sama. Mereka berdua sama-sama tertawa setelahnya.

Travel Blogger di Puncak Dharma

Tayang di Net TV saat di Puncak Dharma

Dia tidak terlalu lama mengenal sosok Moechamad Adi Mariyanto, tetapi dari hanya dua kali pertemuan, sekamar dan jalan bareng, telah membuka hatinya untuk mengetahui siapa beliau. Selebihnya obrolan dilanjutkan di WA atau langsung via telepon. Ada beberapa peristiwa yang tidak bisa dilupakannya tentang Adi. Salah satunya adalah saat akan berangkat ke Pekanbaru. Kebetulan sosok itu sedang menginap di salah satu hotel di daerah Sabang, jadi dia berencana mau naik Damri dari Gambir. Saat memasuki bus, satu sosok melambaikan tangannya, “Abaaang.” Tidak disangka kalau sudah ada Adi duduk di sana. Mereka pun saling sapa dan langsung larut dalam obrolan yang tidak pernah berhenti hingga tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Obrolan pun berlanjut di dalam terminal hingga siap boarding pesawat.

Adi selalu me-like IG sosok itu. Oya, dari beliaulah dia belajar banyak tentang bagaimana mengelola IG agar banyak follower dan like-nya. Ini ilmu yang tidak murah dan didapat dari seorang seleb blog. Dari pemantauannya, terakhir beliau me-like IG-nya pada 22 Februari 2017, di foto tentang aktivitas “Susur Goa” yang tinggal dua hari lagi. Asal tahu saja, sebulan sebelum acara ini, dia menghubungi beliau apakah bisa ikut serta ke Goa Buniayu Sukabumi. Jawabannya beliau hanya mengirimkan sebuah link di blognya bahwa beliau sudah pernah ke sana. Katanya, “Aku tuh kayak orang gila tahu, gak. Aku nekat sama temen-temen nyetir sendiri di bulan puasa. Jujur sebenarnya saat itu lagi gak enak badan, tapi tetap masuk goa.” Baiklah. Beliau tidak bercerita bahwa sedang sakit saat di telepon, tetapi malah memberikan alasan sudah pernah ke Goa Buniayu.

Kenangan dengan Cumi Lebay

Sesaat sebelum terbang ke Pekanbaru di Terminal 3

“Abaaang. Pokoknya ajak aku ya kalau naik pesawat.” Sosok itu tersenyum lalu mengiyakan. Ya, beliau sering sekali bercerita bahwa suka dengan naik pesawat. Adi punya target sendiri bahwa tiap bulan beliau harus naik pesawat, khususnya Garuda Indonesia. Dari Adi pula akhirnya dia dikenalkan dengan salah satu travel blogger yang kebetulan sedang ada di Terminal 3. Dari Adi pula dia dikenalkan pada Hanif, travel blogger asal Jogja, yang kemudian diajaknya bersama-sama menelusuri Geopark Ciletuh. Hanif adalah blogger yang kemudian ditemuinya saat di Yogyakarta. Selama dua hari, mereka berdua berjalan menyusuri Kota Jogja dan beberapa kali menyebut nama “Cumi Lebay”.

Jumat (3/3) pukul sembilan malam lebih sedikit sosok itu bersama Hanif berkumpul di Grip Road, kafe di SPBU Terban. Di sana sudah ada Sitam. Tidak berapa lama kemudian datanglah Aqid. Hanif bercerita bahwa ia diketemukan dengan Sitam oleh Adi. Dan dia pun tercekat … karena dia juga diketemukan dengan Hanif oleh Adi. Sepertinya selalu saja ada cerita tentang beliau diantara mereka berempat. Bahkan Sitam mengeluarkan kartu beliau yang berwarna hijau. Hanya yang mengenal beliaulah apa makna warna pada kartu-kartu namanya. Kata-kata yang diingatnya, “Mau yang warna apa? Ada merah, hijau, kuning….” Dari semua obrolan yang ngalor-ngidul itu, kesimpulannya adalah bahwa Adi orang yang baik. Orang yang telah menyimpan benih kebaikan pada hati semua orang.

Sampai di kosan Hanif, badan lelah takterkira. Dia tertidur hingga keesokan harinya. Pagi di hari Sabtu itu belum mekar, Hanif langsung melonjak karena dapat kabar bahwa Moechamad Adi Mariyanto telat meninggal dunia. Sosok itu juga langsung meloncat dari pembaringannya. Kabar selanjutnya adalah bahwa beliau wafat tadi malam, saat mereka berempat berkumpul di Road Grip. Langkah-langkah selanjutnya adalah kemurungan dan adegan menarik nafas panjang, tidak percaya bahwa Adi telah mendahului. Rencana trip ke Umbul Ponggok berjalan begitu lambat. Selalu saja ada kisah beliau saat mereka berdua ngobrol. Rencana mengirimkan foto-foto trip hari itu ke beliau sudah dipastikan gagal. Sejenak Adi terlupakan saat berenang dan menyelam. Beres memuaskan diri, mereka langsung menuju ke Masjid Agung Klaten. Beres shalat wajib, dia merasa ada yang hilang, lalu mengingat semua pesan dan kesan bersama Adi. Akhirnya dia pun mengajak Hanif untuk shalat ghaib. Mendoakan beliau adalah jalan terbaik untuk mengikhlaskannya. Doa-doa terbaik dilantunkan kepadanya.

Kopdar Blogger

Adi orang baik. Entah mengapa orang-orang baik wafat pada hari Jumat. Sosok itu tahu bagaimana ada orang-orang yang selalu mencibirnya. Namun dia hanya tersenyum. Kata-kata kebaikanlah yang meluncur dari bibirnya. Dia tidak membalas. Dia tidak membicarakan keburukan orang lain. Dia hanya membicarakan keburukannya sendiri pada masa lalu dan teramat menyesal. Adi orang baik, dan sosok itu merasa terbantu oleh kebaikannya beberapa hari lalu. Dia tidak mengeluh soal penyakitnya. Dia selalu memikirkan sahabat-sahabatnya.

Yogyakarta, 5 Maret 2017

Advertisements