Q&A tentang Dunia Menulis (3)

Wika: Mau tanya tulisan yg menggurui bukan mencerahkan itu spt apa maksudnya, terus gimana triknya jika nulis cerita diawal sama akhir dapet, tapi tengah2nya mentok. Terus terang aku ga suka nulis dalam bentuk banyak dialog, seneng lebih menceritakan [spt tulisan curhat ke diary].

Bang Aswi: Tulisan menggurui itu biasanya banyak terdapat pada bacaan anak2. Misalnya saja ketika cerita sudah mengalir dengan baik, ujug2 ada tulisan yang mengutip dari ayat2 tertentu dalam AlQuran atau hadits2 nabi. Artinya, Teh Wika sebenarnya bisa menebak apakah sebuah tulisan itu menggurui hanya dengan membacanya saja. Kalau sudah tahu tulisan yang menggurui itu seperti apa, cobalah untuk menghindarinya.

Continue reading “Q&A tentang Dunia Menulis (3)”

Advertisements

Lomba: Mengasah Kemampuan

Beberapa tidak suka dengan kompetisi. Mereka langsung tiarap atau menggeleng saat mendengar istilah lomba. Entah di benak mereka. Padahal hidup itu adalah berkompetisi. Kita adalah produk kemenangan mutlak satu sperma dari berjuta-juta sperma. Kita menjadi seperti yang sekarang ini pun adalah proses dari kompetisi yang berkelanjutan, disadari atau tidak. Dan sosok itu adalah fans dari kompetisi.

Sosok itu dibentuk oleh beberapa lomba. Paling diingat adalah saat perayaan hari kemerdekaan negara ini saat sosok itu masih berseragam putih merah. Meski bangun kesiangan, ia berlari dan mengikuti lomba memasukkan pensil ke dalam botol (pensil digantungkan di belakang celana dan memasukkannya dengan cara seperti orang yang BAB). Lomba baru dimulai sementara lomba-lomba yang lain sudah selesai. Dan ternyata, sosok itu berhasil meraih juara pertama.

Continue reading “Lomba: Mengasah Kemampuan”

Menjadi Penulis Idealisme

Sudah saatnya saya kembali menuliskan tentang dunia kepenulisan. Mohon maaf kepada sobat baraya yang telah menunggu lama hal ini. Jujur, kesibukan saya di kantor baru sedikit membuat mata saya terbuka lebar, khususnya dunia manajemen. Jika sebelumnya saya terlalu asyik dengan dunia bebas bernama freelance dan karyawan suruhan, sekarang saya lebih mencoba belajar bagaimana mengurus banyak orang, baik yang berada di lingkungan kantor maupun yang berada di luar.

Ini dunia baru, resminya. Artinya, saya pernah mengalami hal ini saat menjadi burung yang terbang bebas, tapi itu pun sedikit terkendala saat berhubungan dengan vendor di luar. Dari situ, saya belajar bahwa saat berhubungan dengan siapa pun, ada etika dan timbal-baliknya. Bukan hanya itu, juga sistem perjanjian hitam di atas putih yang HARUS ada. Meskipun yang berhubungan dengan kita adalah teman dekat, hitam di atas putih ini menjadi mutlak agar posisi kita tidak lemah saat meminta hak kita, selama kewajiban telah dilaksanakan. Ini pun sudah digariskan jauh-jauh hari oleh Allah Swt. betapa pentingnya sebuah akad dan dua orang saksi.

Continue reading “Menjadi Penulis Idealisme”